
Kereta yang ditumpangi Naja terasa melambat. Subuh bahkan belum menggelar panggilan. Namun, stasiun utama kota ini sudah ramai dengan hiruk pikuk kegiatan manusia. Naja turun dari kereta dengan tangan sibuk mendial nomor Tara. Seharusnya Tara menghubunginya terlebih dahulu, seperti yang telah di janjikan sore tadi.
Celingukan, sambil terus mencoba menghubungi Tara.
“Tunggu Na, aku segera sampai ...,” sahut Tara setelah panggilan itu terhubung.
“Oke ... aku tunggu di depan stasiun aja ya!” Naja sudah menurunkan ponselnya, tetapi urung ketika Tara berteriak diujung sana.
“Jangan ... aku sudah sampai di depan stasiun. Kamu tunggu aku aja.” Titah Tara dengan suara yang masih meninggi.
“Oke-oke, aku tunggu aja di dalam." Naja segera mematikan sambungan telepon.
Naja mendaratkan tubuhnya di bangku yang tersedia di sana, setelah meregangkan tubuhnya sejenak. Memang, dia nyaris tak memejamkan mata sepanjang perjalanan, selain karena pemandangan malam yang begitu menakjubkan juga pikirannya berputar akan kertas yang masih tertinggal di saku seragam kerjanya. Sayang juga, Naja sudah mengoper bajunya tersebut ke laundry sesuai saran Lisa.
“Apa aku menghubungi Lisa saja ya?” gumam Naja. Tangannya sudah setengah jalan menggulir daftar kontak dimana nama Lisa tertera. Tetapi, Naja segera mengerem ibu jarinya, menggantung di atas layar yang menyala dengan nama Lisa terpampang jelas.
“Kasihan Mbak Mikha nantinya jika sampai berita ini tersebar.” Naja segera keluar dari aplikasi per pesanan tersebut. Memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku hoodie yang berada di bagian depan tubuhnya. “Kalaupun hilang itu bukan masalah kan? Toh kertas itu harusnya menjadi makanan tong sampah.” Bahu Naja terangkat. Bukan urusannya juga kan?
“Beberapa hari ngga kumpul, bolotmu makin menjadi-jadi ya, Ja?” sindir Tara yang berdiri di belakang Naja. Pria itu juga mengenakan hoodie, hanya warnanya yang membedakan.
“Ish ...,” Naja terlonjak. Menoleh secepat kilat sambil merapatkan giginya. Adiknya itu selalu membuatnya kesal. “Bisa ngga kalau muncul jangan di belakang? Bikin kaget, tahu!”
“Kau saja yang suka melamun ...,” balas Tara tak acuh dan santai. Mata pria ini sedikit sembab, terlihat imut sebab muka bantalnya tampak menggemaskan.
“Nih bawa ...!” Naja masih dongkol mendesakkan tas gendongnya yang tak seberapa berat ke dalam dekapan Naja.
“Kasar banget sih ...,” gerutu Tara, tetapi pria itu tetap mengait tas Naja di atas bahunya, lalu merangkut bahu Naja agar mereka berjalan bersama.
“Bapak nginep di mana Ra?”
Tara membisu sejenak, tampak menyusun jawaban. “Tak jauh dari rumah sakit. Ayo ...,” Tara menarik tangan Naja agar segera melangkah lagi setelah Naja menghentikan langkahnya.
***
Kebingungan sebab Tara membawa Naja ke sebuah rumah singgah yang dikhususkan bagi pasien penderita kanker. Kening Naja seolah penuh dengan jutaan sangkaan, tetapi dia masih menahan pikiran paling buruk hingga penglihatannya menemui sang Bapak.
Orang pertama yang menyambutnya adalah Puspita. Adik dari bapak Naja itu tampak berkaca-kaca saat melihat Naja. “Sebaiknya istirahatlah dulu Ja, biar Bulik buatkan teh.”
__ADS_1
“Nanti saja Bulik, aku mau melihat Bapak.” Seruan Naja membuat Pita yang sudah berbalik, mengurung langkahnya.
Naja bergantian menatap dua orang yang biasanya tampak ceria menyambutnya, seolah tindakan mereka menegaskan seberapa buruk keadaan di sini saat ini.
Tanpa berucap, Naja berjalan lebih cepat menuju ruangan lain yang sepertinya ditempati Edi.
Mata Naja memanas saat melihat Edi tengah terbaring menatap pintu di mana Naja diperkirakan muncul. Pria itu seolah menunggu kehadiran putrinya. Senyum lemah terukir di bibir Edi, membuat Naja tak mampu berkata-kata.
Naja segera berlari memberi ciuman di punggung tangan kurus Edi, yang seketika menjadi basah oleh air mata Naja. Rasa bersalah lah yang pertama berhamburan keluar dari dalam hatinya. Entah mengapa, Naja tiba-tiba merasa semua ini adalah salahnya. Terlebih, saat Edi mengusap kepala Naja. Rasa itu semakin kuat menusuknya.
“Sudah sampai, Nak,” suara yang dirindukan keceriaannya kini terdengar sendu. Ibu yang biasanya penuh semangat kini terdengar lesu.
Naja mengangkat wajahnya, “Iya Bu, baru saja.” Naja bangkit dan segera menubruk tubuh ibunya. Mengadu tangis yang seolah mewakili perasaan mereka. Tak ada suara selain tangis membelah subuh yang mulai memutih.
***
Naja mengembuskan napas, mengosongkan rongga dadanya yang terasa sesak. Mendengar penuturan Wasti, Pita dan Tara, Naja hanya bisa memaklumi.
“Maafkan Bulik yang membohongimu, Ja. Bulik tidak bermaksud apa-apa,” Pita yang sejak awal duduk lesehan di atas tikar lipat ini, terus melunakkan Naja dengan memberi belaian lembut di punggung Naja.
“Aku ngerti kok Bulik. Tetapi seharusnya aku yang peka, Bulik, Aku terlalu asyik dengan duniaku hingga aku mengabaikan Bapak.” Lirih Naja sambil mengusap air mata yang juga tak mau berhenti menuruni pipi.
Pita berhenti sejenak, "Lagi pula, Bapakmu sudah mendapat pengobatan yang bagus." Terdengar embusan napas Wasti yang begitu keras.
“Istirahatlah Nduk, kamu pasti lelah setelah perjalanan jauh ...,” Wasti mengusap puncak kepala hingga punggung Naja penuh kasih. “Biar Bulik dan Tara yang menyiapkan sarapan.”
Naja mengangguk, bila dirasakan benar, tubuhnya terasa lelah bahkan kepalanya berdenyut nyeri. Membenarkan posisi bantal di atas tikar yang sejak tadi menjadi alas duduk mereka, Naja merebahkan tubuhnya.
“Naja ...,” panggil Edi saat Wasti, Pita dan Tara sudah meninggalkan ruangan ini.
“Ya Pak?” sahut Naja bangkit kembali dari rebahan yang sebenarnya nyaman dan duduk di tepi ranjang. “Bapak haus?”
Edi menggeleng lemah, “tidak Nak ... Bapak hanya ingin melihatmu saja.”
Ucapan Edi membuat Naja melumpuh seketika, rasa takut kehilangan menyeruak tanpa bisa dicegah. “Bapak bisa terus melihatku, aku akan tetap di sini sama Bapak."
Naja menggenggam tangan kurus bapaknya. Tangan yang selama ini menuntunnya.
__ADS_1
Edi tertawa lirih, tetapi kemudian terbatuk-batuk. "Memangnya kau tidak mau menikah?" ucap Edi setelah Naja memberinya minum untuk meredakan tenggorokannya.
Naja bangkit untuk meletakkan lagi gelas dan sedotan ke atas meja. "Naja akan menikah setelah Bapak sembuh ...," sekali lagi Naja merasakan sesak hingga memenuhi tenggorokan. Mencoba menahan tangis dengan mengigit bibirnya kuat-kuat.
"Menikahlah Ja ... selama umur masih menaungi bapak," Naja masih setia berlama-lama di depan meja, membelakangi Edi. Naja menengadah demi mencegah bulir bening yang mengucur bagai hujan membasahi wajah Naja.
"Tetapi jangan menikah dengan Syailendra ...!" tegas Edi.
"Jangan tanya kenapa, Nduk ... Bapak hanya ingin hidupmu bahagia!"
"Tapi Pak ...," Naja membalik tubuhnya tanpa berusaha menyeka genangan air mata di pipinya. "Aku hanya bisa hidup bahagia dengan Syailendra, Pak." imbuh Naja lirih agar tidak terdengar seperti bantahan.
"Jika kamu sayang Bapak, lebih baik jangan melanjutkan hubunganmu dengan Syailendra. Lagi pula, Bapak dan Ibumu sudah menerima lamaran pria lain, Nduk. Itulah sebabnya, kamu Bapak suruh pulang hari ini."
Naja menelan ludahnya susah payah. Dalam hati Naja sudah demo, tidak terima akan keputusan orang tuanya. Berorasi tak karuan, mendesak Naja menyuarakan kemauannya.
Tetapi, akan menjadi berbeda jika keadaan tidak semengenaskan sekarang. Saat hari buruk dan bahagia bersua di satu waktu. Mengenaskan bagi kisah hidup Naja. Saatnyakah, mengubur mimpinya untuk bersama Ai? Tiba-tiba saja air matanya menolak turun demi mengiba di hadapan bapaknya. Kelemahan yang membuat Naja selalu mendapatkan apa yang dia mau.
"Aku keluar dulu Pak,"
.
.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
.