
.
.
Hanya sebentar saja rasanya Naja tertidur lelap yang biasanya mampu menghilangkan rasa nyeri perutnya,
sehingga ketika ia terbangun rasa nyeri itu sudah tidak terasa lagi,
sebagai gantinya, kepalanya berdenyut dan tubuhnya terasa lemas. Meski begitu,
Naja tetap bangun lebih awal agar bisa menyediakan sarapan untuk mertua dan
suaminya. Ya, setidaknya ia tidak terlalu buruk di mata mertuanya.
Naja menyiapkan sarapan yang lebih mudah dan simpel pengerjaannya, sehingga ketika
jam menunjukkan pukul enam tepat, ia telah berhasil menyajikan menu santap pagi
di atas meja makan. Menepukkan kedua belah telapak tangannya, Naja tersenyum
puas akan hasil masakannya kali ini. meski hanya nasi goreng, telur, dan
beberapa helai roti yang siap diolesi aneka selai. Kepala Naja melongok ke
ujung tangga, tangannya masih menangkup di bawah dagu, bahkan senyumnya masih
lekat di ujung bibirnya, mengharapkan mereka tergugah aroma nasi goreng
buatannya. Nyatanya, itu hanya ada dalam adegan iklan saja. Sembari melepas
celemek yang masih melekat di badan, Naja mencebikkan bibirnya. Ia bergegas naik,
untuk membangunkan suaminya setelah meletakkan celemek di tempat seharusnya.
Kamar masih temaram−nyaris gelap− selimut masih menggunung di atas tempat tidur. Naja
merapatkan bibirnya, menahan senyum penuh arti yang hendak mengembang di sana,
“jadi begini rasanya punya suami?” pikirnya saat ia merasakan seutas perasaan
yang mengaliri bagian tengah tubuhnya. Geli yang menggelitik hingga ujung-ujung
sarafnya.
Kedua mata Naja masih terpaku pada bantal dengan seraut wajah yang ... mem-pe-so-na, uh ...
Naja gemas sendiri pada pemilik wajah rupawan itu, menyebalkan tapi ya, entah
mengapa Naja merasakan perasaan lain saat ini. Secepat inikah, perasaannya
beralih? Apa dulu dengan Ai bukan cinta? Katanya cinta atau hubungan yang lama
terjalin itu akan susah untuk dilupakan? Tetapi, debaran ini apa? Tangan Naja
merambati dadanya, menekan dada yang mendentumkan detaknya yang mengguncang
seluruh tubuhnya.
Memalingkan perhatiannya pada jendela yang masih terblokir tirai tebal yang tak bergerak
sedikitpun, kaki Naja membawanya untuk menyibak tirai tersebut. Cahaya silau
menyentuh seisi ruangan, tetapi itu tak cukup untuk menggugah pria tampan yang
tertidur menelungkup seperti bayi. Ah ... andai dia selalu seperti ini ketika
tubuhnya tegak. Ya Tuhan, sumpah demi apapun, Naja belum pernah terpesona
hingga ke tulang belulangnya.
Perlahan sekali, Naja kembali ke sisi ranjang. Tangan Naja terulur ragu, tetapi ia harus
melakukannya. “Cel ...,” bisik Naja menunduk di depan wajah Excel yang masih pulas.
Menepuk pelan bahu yang keluar dari selimut.
Erangan dan geliat kecil mengoyak ranjang dan juga selimut, tetapi tak sampai membuat
posisinya berubah. “Sudah siang, Cel ...,” sambungnya ragu. Ia tak tega
sebenarnya, setelah semalam Excel merawatnya hingga ia tertidur pulas. Sekali lagi,
rasa hangat itu menelusup kedalam relung hatinya.
“Kenapa kau tersenyum begitu?”
__ADS_1
“Eh ...,” tangan Naja membungkam bibirnya, mengoyak senyum yang memang melekat di sana.
"Dia bangun," batin Naja membeliak.
Kedua mata Excel membuka sayu, namun gerakan membuka mata yang dibuat dramatis itu membuat
Naja melompat mundur satu langkah. Sungguh menakutkan, “Apa kau sedang
merencanakan sesuatu yang buruk padaku?”
“Te-tentu saja, tidak ...,” kelopak mata Naja mengedip berulang, ia sungguh gugup saat
ini. Terlebih Excel mengikuti gerak tubuhnya seolah tak mau ketinggalan jejak
mencurigakan dari bahasa tubuh istrinya tersebut. “A-aku hanya ingin
membangunkanmu saja.” Imbuhnya setelah berhasil menguasai dirinya. Memberanikan
diri membalas tatapan yang menciutkan nyali Naja yang rasanya memang sudah
kecil di depan suaminya. Tatapan yang sungguh membuat Naja lemah itu segera ia
akhiri, ia tak mau keluar dari kamar dalam kondisi meleleh.
“Bergegaslah ... mama, papa sudah menunggu,” Naja segera membalik tubuhnya dan berlalu meninggalkan
kamar.
Excel menarik tubuhnya hingga duduk di tepi ranjang, menguap, dan menggeliat, setelah
Naja lenyap tertelan pintu kayu yang menutup. Matanya mengamati sembarang arah,
tangannya mengusap bibir, pikirannya menggulung ingatan pada kejadian semalam. Entah
apa yang mendorongnya untuk menjamah bibir yang begitu cerewet itu. Sebentar.
Tetapi efeknya malah membuatnya tak bisa tidur. Ingin tapi ia sungguh takut
jika Naja sampai membuka matanya. Tangannya bergerak turun ke dada sebelah kiri
yang setelah kejadian itu sesuatu di dalam sana berdetak tak berirama.
“Apa yang kau lamunkan pagi-pagi begini?” terperanjat sehingga membuat wajah Excel
merangkak naik menjumpai wanita cantik yang tengah menyilangkan tangannya. Wajah
cantik itu mengawasinya, jika Excel tidak salah mengartikan, tersirat rona
kepuasan.
menyembunyikan kegugupan dan rasa panas yang ia rasa memenuhi sebagian besar
wajahnya.
“Wanita biasa mengalami itu tiap bulannya, kamu harus terbiasa,” jawab Kira. Ia
menempatkan diri di sisi anak tertuanya yang masih mencoba melawan rasa malas
dan mengantuk. “Mama juga mengalaminya dulu.”
Kedua mata Excel menoleh ke arah mamanya, membawa kerutan bertumpuk-tumpuk di keningnya, “benarkah?
Seingatku Mama tak pernah sakit perut seperti itu?”
“Tentu kau tidak tahu, karena kamu belum lahir!” telunjuk Kira menekan bahu putranya
sehingga membuat tubuh Excel menyilang ke samping.
Kepala Excel bertahan menatap mamanya, “lalu bagaimana caranya biar sakit perut Mama
hilang? Apa Mama berobat ke suatu tempat?” rasa penasaran di hati Excel tiba-tiba
membuncah, ia begitu ingin sakit yang diderita istrinya itu sembuh. Tak tega
rasanya melihat wanita merintih menahan sakit seperti semalam. Ia tahu wanita
akan mengalami yang namanya datang bulan, tetapi yang ia baru ketahui, wanita
merasakan sakit saat tamu bulanan itu datang. Karyawan wanita, Jen, dan Ranu
tampaknya tak mengalami hal itu. Padahal mereka wanita dan juga mengalami
menstruasi.
“Itu rahasia, nanti setelah Naja sudah selesai masa periodenya, baru mama kasih tahu
...” ujar Kira dramatis. Ia menjauhkan tubuhnya dari putranya. “Cepatlah mandi,
istrimu sudah menyiapkan sarapan.” Kira beranjak sebelum Excel berhasil
mendesaknya.
Kesal karena masih dibungkus rasa penasaran, Excel menghempaskan napasnya kasar, ia
__ADS_1
segera melangkah ke kamar mandi dan segera mengguyur badannya dengan air dingin
yang ia yakini bisa mengusir rasa kantuk masih menggelayut manja di pelupuk
matanya.
Perbincangan kedua orang tuanya, dan sepertinya satu keluarga pindah ke dalam rumahnya yang
tak seberapa luas ini. Seperti pasar tumpah, riuh suasana pagi yang di boyong
dari rumah keluarga Dirgantara. Excel mendesah pelan, ia tak akan pernah bisa
menikmati sarapan dengan tenang sepertinya.
“Eh ... kau sudah siap?” seru Naja membuat seisi rumah mengekori pandangan Naja yang
terarah ke tangga. Ia merasa tak enak hati karena tidak menyiapkan keperluan
suaminya, dan ia merasakan bahwa Excel kesal akan hal itu. Terbukti ia hanya
membalas sapaan adik-adiknya malas dan tidak ikhlas.
Excel berjalan mendekati Naja saat tatapan seisi rumah tertuju padanya. Ditarik
napasnya dalam-dalam sembari terus menatap istrinya yang tampak gugup. Manik matanya
bergoyang ke arah kedua orang tuanya. Lantas ia mendekatkan wajahnya di pipi
Naja, namun sayangnya, Naja tergesa-gesa menjauhkan wajahnya. Kedua matanya
melebar sempurna, tetapi detik berikutnya ia tertawa dibuat-buat, ketika ia menyadari apa maksud gerakan mata Excel.
“Oh ... a-ada noda di pipimu,” mengerjapkan mata, Naja mengulurkan tangannya di pipi
Excel. Ibu jarinya menyeka pipi yang bersih bahkan dari setitik saja noda.
Telapak tangan Excel menimpa jemari Naja yang menangkup sisi wajahnya, meremas hingga tangan
itu menyingkir dari sana. Naja mengeriutkan wajahnya sakit, dalam hati ia
mengaduh, tetapi bibirnya menyunggingkan senyum. Tak menyiakan kesempatan, Excel
mendaratkan bibirnya di pipi Naja. “Pagi, Na ...!” sambungnya kaku setelah
sekilas bibir itu menempel di sana.
Naja menarik bibirnya sekilas, rasanya wajah Naja terbakar. Rasa panas itu bahkan menjalar
ke seluruh tubuhnya. Bukan hanya karena itu pertama kalinya mereka melakukan
singgungan tubuh dengan sengaja, tetapi juga ia meyakini bahwa orang tua dan ketiga
adik suaminya itu tahu mereka tidak pernah melakukan itu sebelumnya.
Suara deheman membuyarkan tautan mata yang masih terjalin diantara kedua manusia itu, “Sebaiknya
jangan lakukan itu di hadapan adik kalian, mereka belum terbiasa dengan
pemandangan seperti itu.”
“Siapa bilang? Kami melihat Papa dan Mama melakukan itu setiap hari, apa Papa lupa?”
celetuk Agiel tanpa beban. Remaja itu bahkan dengan santai menikmati nasi
goreng buatan Naja yang sangat ia sukai.
Harris tersedak meski ia tidak sedang menelan makanan ataupun minuman. Ia mengalihkan perhatian
dari ponsel yang menampilkan kabar perkembangan pasar dan bisnis, kepada
istrinya dengan tatapan horor. Namun, Kira hanya mengangkat kedua bahunya
sebagai tanggapan. Memangnya apa yang harus dilakukan Kira? Memarahi Agiel? Untuk
ucapan yang sangat jujur darinya?
“Em ... sebaiknya kita segera mulai sarapannya.” Sela Excel karena melihat ekspresi
Papanya yang kurang mengenakkan.
“Kakak ngga lihat, kami sudah sarapan sejak tadi? Kalian saja yang sejak tadi ribut
...,” ucap Agiel sedikit nyolot.
"Ada apa dengan keluarga ini?" batin Aziel sembari terus mengunyah sarapannya dan mengawasi satu per satu anggota keluarganya.
.
.
.
.
__ADS_1
.
Happy reading ...