Kekasihku, Asisten Adikku

Kekasihku, Asisten Adikku
New Toys


__ADS_3

Kerusuhan pagi yang membuat Naja semakin berdenyut nyeri. Bagaimana tidak, ia merasa saudara iparnya berlebihan memperlakukannya. Ia hanya demam, mungkin kehujanan semalam menyebabkan masuk angin yang akan sembuh setelah kerokan. Naja bahkan tidak diperbolehkan menyentuh permukaan dapur, bahkan ujung dapur. Batin Naja menjerit melihat kacaunya dapur kesayangannya itu. Belum lagi kiri kanannya ada si kembar yang terus saja merecokinya dengan pertanyaan konyol khas mereka berdua. Naja bahkan mendadak tremor tatkala sang papa mertua juga bersikap over padanya. Tak sungkan mengambilkan Naja sarapan yang di siapkan oleh ketiga adiknya.


“Bagaimana? Sudah lebih baik?” Kira mengelus kedua bahu mantunya dengan lembut, membawa Naja menengadahkan kepalanya.


“Sudah, Ma ...,” senyum Naja berusaha terlihat senang demi semua orang. Ia telah menelan semua pancake—satu-satunya makanan yang masih mencukupi untuk sarapan mereka semua—dengan telur setengah matang di atasnya.


“Gimana, Mbak? Enak ngga pancakenya?” Ranu yang masih bertabur tepung di apronnya, ikut nimbrung di meja makan sempit yang hanya muat untuk 4 orang.


“Enak, Ran ...,” Naja memiringkan piringnya yang telah bersih dari setumpuk pancake yang disodorkan padanya.


“Telurnya enak, ngga, Ja ... eh, Mbak?” Agiel juga memajukan tubuhnya agar perhatian Naja beralih padanya.


Naja mengangguk, “Enak ... tapi ada cangkang yang ikut masuk,” Naja menunjuk secuil cangkang telur yang Naja sisihkan dari piringnya.


“Alah ... tapi enak ‘kan?” Agiel mendesak pengakuan yang menyenangkan hatinya. Dan anggukan Naja membuat Agil membuat gerakan mundur ke sandaran kursi dengan kedua tangan seolah menaikkan kedua kerah di lehernya.


“Ck ... itu belum seberapa, aku yang menata dan mempercantik tampilan pancake telurmu itu, Giel ... buat telur saja bangga ...!” cibir Azziel yang juga telah menghabiskan pancake-nya.


Setelah itu meja makan bubar karena dua anak kembar itu mulai berdebat dengan sengitnya. Kira, dia hanya menggelengkan kepala, pusing dengan kelakuan si kembar. Terkadang ia merasa tekanan darahnya naik karena ulah dua anaknya itu.


***


Usai mengantar kepergian dua mobil yang mengangkut kerusuhan itu meninggalkan rumahnya, Naja kembali ke dapur untuk merapikan lagi dapurnya itu. Meski ia masih merasa pusing, tapi ia tak tahan jika kesayangannya ternoda oleh ketidakrapian.


“Kenapa malah di sini?” Naja memalingkan wajahnya menjumpai pria yang bertelanjang dada usai berenang. Berdiri di ujung dapur dengan begitu dramatisnya.


Naja mengedipkan mata seirama tetesan air dari pucuk rambut suaminya yang basah, meleleh hingga ke atas dada pria itu.


“Istirahat sana ... ini biar jadi urusanku.” Excel sudah menerkam bahu Naja dan mendesaknya meninggalkan dapur.

__ADS_1


“Ta-tapi ... itu tinggal sedikit lagi,” bantah Naja memberatkan langkah sembari berbalik. Mengusir kedua tangan Excel dari bahunya.


Lagi, Excel meraih istrinya itu ke dalam gendongannya. “Kau membuatku tak punya pilihan, atau kau memang berharap untuk digendong olehku?”


Mata Naja membeliak, kakinya menerjang udara bergantian, membuat tubuh Excel berguncang. “Diam, Na!”


Sorot mata penuh kecaman, membuat Naja langsung membeku. Ia memalingkan wajahnya. “Turunkan aku, biar aku ke kamar sendiri.” Lirih Naja dibalik bahu Excel. Bersentuhan lagi, bisa-bisa demamnya tidak akan turun.


“Pintar ...!” Excel menurunkan istrinya perlahan. Mereka berjalan beriringan ke kamar.


Excel yang masih bertelanjang dada, mendekati jendela kamarnya, berniat membuka tirai. Namun ia mengernyit, sebab tirai itu sudah terbuka, menyisakan lapisan kedua yang tipis dan rapuh. Manik mata pria itu merangkak ke seberang jalan, di mana ia dapat melihat jelas mantan kekasih istrinya tengah terpaku ke arah Excel berdiri. Jelas sekali. Excel menyibak tirai dengan cepat, membiarkan sinar matahari menembus kaca dengan leluasa.


Seolah tidak terjadi apa-apa dan tidak melihat apa-apa, Excel segera mengembalikan ekspresinya seperti semula. Tenang dan datar. Mata Excel memutari ruangan itu sejenak guna mencari alasan yang tepat untuk membuat situasi lebih intim di dalam kamar ini.


“Na ...,” tangan Excel menyambar dua box berisi ponsel, yang ia minta dari Riko. Naja yang baru saja mendudukkan tubuhnya di ranjang, menoleh ke arah suaminya.


Bertumpu pada lutut, Excel yang hanya menggunakan handuk, merangkak naik mendekati Naja. “Ponsel untukmu!” tangannya mengulurkan ponsel setelah tiba di hadapan Naja.


Membolak balik kotak yang cukup ringan itu, Naja terlihat antusias. “Kau tidak berniat menolaknya?”


Sejurus tatapan Naja menghujam Excel penuh tanya. “Enggak ... kenapa aku harus menolaknya?” tanya Naja lalu kembali berpaling pada kotak itu. Perlahan sekali ia membukanya, dan melompat girang memegang ponsel berwarna putih itu.


Excel hanya menggelengkan kepalanya melihat kelakuan istrinya itu, “Rebahkan tubuhmu ... biar aku urus ponselmu itu.”


“Tidak mau ...,” ia menarik ponselnya lebih dekat ke sisi jauh dadanya, bibirnya merengut penuh permusuhan. “... nanti kamu apa-apain lagi ponsel baruku.”


“Aku juga punya sendiri ... buat apa aku merusuh di ponsel orang lain? Bawa sini ...!” titah Excel meninggi. Ia melambaikan tangannya meminta ponsel itu untuk di setting awal.


“Tidak usah, aku bisa sendiri ...,” membawa ponsel semakin jauh, Naja memang tak berniat memberikan ponsel itu pada Excel.

__ADS_1


Excel mendekat, tepat saat Naja menoleh padanya, membuat napas mereka saling membuai. Manik mata mereka saling meneliti.


Begitu mudahnya cinta menghanyutkan, membawa Excel semakin dekat dan memejamkan mata. Melakukannya perlahan, Excel dan Naja bergantian membalas. Mengasah serpihan kasar menjadi halus dan penuh perasaan. Menikmati seluruh rasa yang memang benar melemahkan.


Keduanya baru berhenti saat udara tak lagi menaungi jalan napas mereka. Tubuh Naja setengah berbaring karena Excel terus mendesaknya. Bibir Naja tergigit, pandangannya terarah ke sembarang arah, ia masih mengerjap malu. Apalagi Excel melengkungkan senyum sembari terus memandanginya.


"Kau cantik ...," ucap Excel lembut. Kejujuran yang meronta ingin dilepaskan.


Napas Naja naik turun, mungkin ini namanya serangan jantung. Napas dan detak jantungnya seperti bertabrakan. Bibirnya bergetar tapi tak ada yang bisa ia ucapkan. Ia tak percaya, sungguh tak percaya. Panas dan dingin. Apalagi Excel semakin mendesaknya dengan gerakan tubuhnya yang mulai condong.


Manik mata Naja mengerjap, tiba-tiba ia takut, takut jika Excel akan mengoyaknya lagi. "Cel ... a-aku ma-masih sakit ... a-apa k-kau mau melaa-kukan itu, itu la ... gi?" Naja menjauhkan tubuhnya sejauh-jauhnya. Ia masih sayang tubuhnya.


Tangan Excel mulai merangkak di sisi kanan dan kiri tubuh Naja yang sudah berbaring sepenuhnya. Tubuh Excel bahkan sudah berada di antara kedua kaki Naja. Senyumnya terkembang makin lebar, perlahan tangan kanannya meraih dagu Naja dan mengangkatnya, mengusap bibir yang tercapit agar bisa ia nikmati dengan sempurna. Dekat ... dan semakin dekat, jemari Excel menahan dagu Naja semakin kuat saat Naja mencoba kabur, menahan wajah wanita itu agar fokus padanya.


Naja memejam, ia sungguh tak kuat menahan semua pesona yang begitu menghipnotis dan membuai. Ketakutan akan sakit masih menguasai dirinya, sehingga ia memilih menyiapkan diri untuk menerima sakit itu lagi dari pada memikirkan nikmat saat cinta mereka menyatu. Ia tak tahu mana yang dinamakan nikmat itu, bukannya hanya ada sakit?


Lama Naja memejam, tetapi tidak ada yang terjadi padanya. Bahkan tak ada hawa panas yang menerpa wajahnya lagi, pun capitan di dagunya sudah tak terasa lagi.


"Masih siang, Na ... Apa ngga malu sama matahari kalau melakukannya sekarang?" Excel memiringkan kepalanya, ia masih diatas tubuh Naja, tapi sebelah tangannya memegang ponsel yang telah berhasil ia ambil dari tangan Naja. Senyum licik penuh kemenangan terukir di kedua sudut bibirnya. "Tunggu nanti malam, Sayang ...," Excel bangkit secepat kilat, dan berlari keluar kamar. Meninggalkan Naja yang menggeram dengan tangan memukuli kasur. Mengumpatinya begitu kasar, tetapi Excel malah tergelak mendengarnya.


Mainan barunya sungguh mengasyikkan.


.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2