
Naja merenggangkan kedua tangannya ke udara saat semua pekerjaannya telah selesai. Sekali lagi kembali ke kamar yang sama dengan Excel. Desahan napas begitu keras keluar dari rongga mulutnya, lalu mengakhirinya dengan melemaskan kedua
tangannya di sisi tubuh rampingnya. Ia bangkit dari posisi jongkok untuk menata
baju di lemari bagian bawah─satu-satunya
tempat yang tersisa─
Ia mengamati perbedaan jumlah dan warna baju yang begitu kontras antara pakaian
miliknya dan Excel. Bibir Naja mencebik, “apa dia buta warna, sehingga semua
baju yang dimilikinya hanya warna kelabu dan gelap?” Naja menarik tubuhnya
mundur untuk menutup pintu lemari. Menekannya dengan kuat memastikan pintu itu tertutup sempurna.
Tetapi ketika ia membalik tubuhnya, ia justru terantuk sebidang kulit yang sangat liat
dan wangi. Naja menahan napasnya beberapa detik, memblokir wangi yang menusuk,
sementara saraf penciumannya mengirim wangi tubuh itu ke dalam memori otaknya,
“Aduh ...,” sengaja ia mengeraskan aduhannya agar tampak menderita sakit yang serius, tetapi tampaknya si pemilik tubuh tak bergeming sedikit pun. Tak terpengaruh.
“Kau tahu dimana kotak p3k berada dan jika hidungmu berdarah kau tinggal menyekanya
dengan tisu. Tidak ada orang yang terluka hanya karena benturan kecil seperti itu.” Ujar Excel datar tetapi tetap saja aura dingin terpancar dari sana.
“Tapi ini memang sakit, kok.” Naja mengusap hidung hingga ke atas bibirnya yang
memang menyentuh dada terbuka milik Excel. Memang bukan rasa sakit akan tetapi rasa yang lain
yang menjalar di seluruh aliran darahnya yang membuat Naja merapatkan bibirnya menahan malu.
“Jangan drama ... cepat menyingkirlah!” titah Excel dengan sedikit mendorong ujung bahu Naja. Excel mengambil satu setel piama dan membalutkan tubuhnya yang putih.
Ia pun tanpa ragu menurunkan busana yang membalut kakinya.
Mata Naja membulat sempurna, “Hei-hei ...,” tangan Naja bergoyang tak terkendali sambil mengerjapkan matanya yang telah ternoda oleh pemandangan yang tak seharusnya ia lihat. “Kau tidak ingat
ada anak gadis yang masih polos di sini? Seenaknya saja ganti baju di depanku!”
terbata dan gugup, Naja mengalihkan tangannya menutupi sebagian besar wajahnya, ketika Excel tak menghentikan tangannya untuk melucuti pakaiannya. Meski matanya masih bisa melihat dengan jelas tubuh di depannya ini.
“Kau harus terbiasa mulai sekarang ... karena aku tidak akan mengubah kebiasaanku.”
Dingin dan datar, namun Naja begitu kesal dibuatnya, sehingga ia menurunkan tangannya, mengalihkan perhatiannya ke sembarang arah.
“Kau ini sungguh menyebalkan ... di mana-mana manusia harus menyesuaikan diri dengan keadaan. Sekarang keadaanmu berbeda dengan yang dulu, kau sudah menikah dan ada aku di kamar ini selain kamu. Apa kamu ngga bisa sedikit saja bersikap menghargai? Aku bisa berpikir yang tidak-tidak nantinya!”
Excel menempatkan kembali posisi busananya dan membawa tubuhnya berbalik menghadapi
Naja. “Mana ada gadis polos berpikir yang tidak-tidak ... kau hanya berpura-pura polos,” sebelah bibir Excel tiba-tiba menukik tajam, seiring tatapan mengejek keluar dari sorot matanya.
“Aku benar-benar polos, kok ...,” bibir Naja menguncup, ia segera berpaling dengan
malu. Setiap pencuri pasti mengaku orang baik, dan itu yang sedang terjadi
padanya. Gadis polos pasti akan lari terbirit-birit ketika melihat pria menanggalkan pakaiannya, tetapi dirinya ...?
__ADS_1
“Memangnya aku mau lari kemana? Sedangkan di luar sana masih ada hansip yang mengawasi.” Batin Naja sambil berlalu pergi.
“Kau sadar sekarang bagaimana gadis polos bersikap?” ucapan Excel barusan sama
sekali tak dihiraukan nya, Naja terus berjalan melintasi ruangan menuju pintu,
ia memilih cara paling aman untuk menghindari matanya terkontaminasi lebih
dalam.
“Kemana, Na?” benar saja dugaan Naja. Bahkan ia baru saja menutup pintu tetapi suara lembut tetapi penuh ketegasan itu membuai telinga Naja. Hansip masih menjaga
ketat di sofa yang memang sengaja ditempatkan tak jauh dari kamar Excel.
Naja berbalik dengan senyum yang telah ia paksakan untuk terkembang. “aku haus, Ma
setelah berkemas. Dan jika sedang mens bawaannya ingin minum terus ....” kilah
Naja meyakinkan. Ia menyengirkan senyumnya yang malah terkesan bodoh.
“Bergegaslah ... Mama menunggumu sampai kamu naik!” titah Kira yang secara ajaib telah memakai gaun tidur.
Naja mengangguk seraya melangkah menjauhi mamanya yang tengah duduk dengan menyilangkan kakinya di atas sofa bersama sang papa mertua yang sedang
berselancar dengan ponselnya.
“Kan ngga lucu kalau kena omel lagi, gara-gara kabur dari pria tak tahu malu itu ...,”
Naja masih mengarahkan wajahnya ke atas tangga hingga hampir terjungkal jika ia tak segera berjalan dengan benar. Dan ya ... ia benar-benar minum dengan air hangat yang
memang selalu rutin ia konsumsi ketika ia sedang nyeri datang bulan. Entah apa
jika minum air hangat.
Tak lama kemudian ia segera kembali ke kamar, melewati lagi kedua orangtua suaminya yang tampak menyunggingkan senyum. Perlahan sekali ia membuka dan menutup pintu meski ia tahu, Excel masih duduk dengan tenang di atas tempat tidur yang tampak empuk dan nyaman sambil membaca sebuah buku.
Naja perlahan mendekati ranjang, ia tampak takut-takut ketika hendak tidur di
sebelah jauh Excel.
“Tidurlah ... tunggu apa lagi?” titah Excel tanpa mengalihkan perhatiannya barang sejenak dari buku yang dipegangnya. Perintah yang membuat Naja membeliakkan matanya sedikit. Lega.
“Baiklah ... aku tidak akan sungkan.” Naja segera merambat dengan lutut dan telapak
tangan sebagai tumpuan, ia mengambil posisi yang jauh dari Excel.
“Kau pikir aku akan melakukan hal yang tidak-tidak padamu? Dasar gadis aneh ...!”
lirikan mata Excel berkata seperti itu saat ekor matanya menangkap bayangan
Naja mengambil posisi pinggir dengan bantal dan guling yang ia tata sebagai pembatas, juga menggulung selimut untuk dirinya sendiri. Naja melempar dirinya di atas sebuah bantal dan memunggungi suaminya. Matanya ia pejamkan dengan rapat.
Excel kembali mengalihkan perhatiannya pada buku yang sedang ia baca, seraya
menggelengkan kepalanya. Kalaupun terjadi apa-apa tidak apa-apa ‘kan? Meski
tidak sekarang. Sudut bibir Excel mengembangkan senyum kala mengingat lagi
ucapan papanya dan permintaan mamanya. Kembali, seutas dawai berhasil ia getarkan.
__ADS_1
Senyum Excel perlahan memudar, seiring ingatannya menggulung ke belakang. Ia bergegas meletakkan bukunya, “Na ... bisa kita bicara sebentar?” lembut tutur bahasa
Excel membuat Naja mengerutkan keningnya, mata yang semula memejam rapat, kini terbuka sempurna, tetapi ia segera mengerjapkan kelopak matanya itu, tak percaya pada pendengarannya.
“Bicara apa? Tidak bisakah besok saja?” enggan, Naja mengeluarkan suaranya.
“Tentang penawaran Tristan tadi ...,” ujar Excel, “bagaimana menurutmu?”
Naja membalik tubuhnya, “Tristan menawarkan apa, memangnya?” polos Naja. Kerutan di kening Naja sama sekali tidak luntur, malah semakin menganak, saking dalamnya ia berpikir.
“Dia ingin kamu menjadi modelnya ...,” nada suara Excel nampak jengah karena kepolosan Naja.
Mata Naja membeliak, “mo-model? Model apa maksudnya, Cel?”
“Ya ... model untuk memeragakan perhiasan miliknya ...,” jawab Excel sembari
mengendikkan bahunya.
Naja melompat dari posisi tidurnya, ia tatap suaminya yang sedang mengawasinya, “Kau
jangan bercanda, Cel ... itu tidak mungkin dan tentu saja aku tidak mau ... kecuali kalau Tristan bercita-cita untuk bangkrut dalam waktu dekat!”
Kini gantian Excel yang mengerutkan keningnya. “Apa hubungannya?”
Naja menghembuskan napasnya, bahunya sampai turun karena sebenarnya ia merasa lelah bahkan untuk berbicara menjelaskan maksud ucapannya, “setelah aku menjadi
modelnya, bukan banyak yang beli tapi malah banyak yang kabur,” Naja
memposisikan tubuhnya menghadap Excel dengan sempurna. “lagian aku jalan saja
ngga bener dan foto aja aku itu kaya patung perempatan, mana bisa jadi model?”
Pikir Naja, Tristan itu bukan perfeksionis, tapi aneh, sakit, dan agak gila. Masa dia yang dijadikan model? “jadi yang
kalian bahas tadi siang itu aku?” ia menunjuk dirinya sendiri.
“Memang kau berpikirnya siapa? Sam?” ketus Excel. Ia melesakkan kepalanya di atas
tumpukan bantal, wajahnya masam. Namun, ketika ia membalik tubuhnya
membelakangi Naja, senyum kepuasan terukir di kedua sudut bibir tipisnya. Membiarkan Naja berpikir sendiri, menerka sendiri. “dasar lambat!”
.
.
.
.
.
follow akun media sosial author
Facebook Misshel
Instagram @misshel_88
gabung juga ke GC author Misshel
__ADS_1
love you pembaca tersayangkuh