Kekasihku, Asisten Adikku

Kekasihku, Asisten Adikku
Perkara Inisiatif


__ADS_3

Langkah ringan Excel tiba di depan ruang ganti di mana Naja berada. Tetapi suara di dalam membuatnya menghentikan langkah di depan pintu yang tak tertutup sempurna. Penasaran tetapi ia tak mau menanggung malu jika sampai ketahuan menguping, sehingga ia memilih menyandarkan sebelah bahunya pada dinding samping pintu.


“Aku sebenarnya bukan orang pemaaf, Angel ... tapi aku juga bukan orang yang suka berlama-lama menyimpan dendam. Setelah ini, jangan limpahkan rasa frustrasimu pada orang yang kamu anggap menyalipmu, setiap orang memiliki motif, aku di sini karena suamiku sedang di bawah tekanan Tristan. Dan itu semua karena aku dan ambisi mengerikan Tristan. Kau sudah cukup lama mengenal Tristan dan bagaimana menghadapinya, bukan? Jadi kurasa saat ini kau bisa memutuskan apa masih mau melanjutkan perasaanmu pada Tristan atau berhenti, apalagi melihat sikapnya yang menurutku agak gila.”


Terdengar isakan dari dalam bilik yang begitu pilu. Excel hanya tersenyum memandangi daun pintu yang seolah terlukiskan wajah Naja sekarang.


“Maaf aku harus berkata jujur tentang Tristan itu, Njel ... tapi itulah yang aku lihat dari pria yang kau cintai itu. Dan aku juga tidak menaruh sedikit pun atau bahkan seujung kukupun perasaan pada Tristan ... bagiku suamiku adalah segalanya, Ngel ....”


"Maafkan aku yang sudah salah paham padamu, Na ...,"


"Sudahlah ...," suara Naja terdengar lelah.


“Makasih, Na ... kamu sudah baik hati mau memaafkan aku—"


“Siapa bilang aku memaafkanmu? Aku baru memaafkanmu jika kamu sudah menentukan jalanmu ... mari kita bertemu lagi jika kau sudah lebih baik!”


Hening sesaat, dan Excel seolah tersadar dari arus yang menghanyutkannya. Ia begitu tersentuh mendengar ucapan Naja barusan. Bergegas ia mendorong pintu hingga menampakkan semua sisi ruangan itu. Ia melihat Angel bersimpuh di depan Naja yang sepertinya di paksa duduk. Wajah Naja tampak pias dan malu kepergok oleh suaminya. Di belakangnya, berdiri Mira yang tengah melepas ikatan rambut Naja.


“Mengajakku pulang?”


“Sudah selesai?”


Tanya mereka berdua berbarengan. Membuat Mira terkikik geli di balik tangan yang menutup bibirnya.


“Ayo ...!” Lagi-lagi mereka serempak mengucapkan kalimat itu, sehingga membuat keduanya tersenyum canggung.


“Aku pulang dulu, Kak ... semoga lain waktu bisa kerja bareng kakak lagi ...,” Naja meraih tasnya, ia berdiri melepaskan tautan tangan yang di pegang Angel. Ia memeluk Mira yang bergegas membalas Naja dengan pelukan hangat.


“Semoga Nona Malaikat selalu bahagia dalam menjalani hidup ... aku yang merasa terhormat bisa bekerja sama dengan wanita hebat sepertimu, Nona ....” Mira melepaskan pelukannya. Ia menatap lekat Naja dan menangkup pipi Naja dengan gemas. Ia tak mampu berucap, hanya senyum yang menenggelamkan bibirnya yang menggambarkan betapa Mira sangat menyukai Naja.


“Hubungi aku ya, Kak ...!” pinta Naja sembari menggenggam tangan Mira.


“Pasti ...!” Mira mengangguk mantap sembari melepas Naja menuju Excel.


Naja melangkah pelan dan wajah tertunduk saat mendekati Excel. Tetapi panggilan Angel membuat Naja berpaling dan memutar tubuhnya.

__ADS_1


“Terima kasih, Na ... atas kebaikanmu!” Angel sudah berdiri dan menundukkan wajahnya usai menatap Naja sejenak.


“Kembali kasih, Njel ... semoga kita bertemu lagi, suatu saat nanti.” Senyum Naja terukir tulus. Ia melambai kepada dua orang itu dan berbalik setelah mendapat balasan dari mereka berdua.


Uluran tangan Excel menyambut Naja yang telah kembali ke penampilan polosnya. Pandangan wanita itu segera merangkak naik menjumpai suaminya yang tengah tersenyum manis.


“Apa menolak Tristan membuatmu begitu menyesal?” mata Excel menyipit. “Aku akan memberimu perhiasan dan tokonya, kalau itu bisa membuat sesalmu sedikit berkurang.” Sambungnya dengan senyum tertahan.


Mata Naja menyipit tajam, bibirnya mengeluarkan suara mendesis. “Kalau kau bohong, aku akan marah ... perhiasan dan tokonya! Laki-laki pantang menarik kembali ucapannya!”


Excel tersenyum lebar, ia segera meraih tangan Naja dan menuntunnya, ia tahu istrinya itu masih kesulitan berjalan.


Hingga sampai di depan pintu Naja menghentikan langkahnya, apalagi kakinya terasa semakin nyeri. Ia menatap suaminya dengan tatapan sendu.


“Kenapa?” tanya Excel sedikit terkesiap, ia mendadak waspada dengan tatapan yang tidak bisa diartikan maknanya secara kasat mata.


“Kau itu tidak punya yang namanya i-ni-si-a-tif, ya?” Naja merengut karena Excel tidak juga memahami kesulitannya. Malah pria itu semakin mengerutkan keningnya yang mulus bak batu pualam.


“Kalau aku tidak punya inisiatif, mana bisa aku mencarikan baju untukmu seperti tadi, bahkan sampai sepatu juga aku carikan ... apa itu bukan inisiatif namanya?” Suara Excel sedikit meninggi saking kesalnya. Ia bahkan rela berlarian dan berebut dengan pembeli lain demi baju dan sepatu itu, tetapi malah dianggap tidak punya inisiatif.


“Iya ... aku akui tadi kamu seperti pahlawan bertopeng di kartun Shinchan ... aku berterima kasih atas semua itu ... tapi sekarang apa kau tidak berinisiatif untuk menggendongku sampai di mobil? Kakiku sakit ...,” ucap Naja panjang lebar dan di akhiri dengan sebuah rengekan layaknya anak kucing yang butuh perlindungan.


Astaga ... Excel mengusap kening hingga rambutnya ke arah belakang. Ia tak habis pikir dengan Naja. Tinggal bilang “Gendong aku” saja apa susahnya sih? Rutuk Excel dalam hati. Sejenak ia membasahi bibirnya yang mendadak kerontang, kepalanya memutar seirama gerakan matanya yang berotasi begitu kesal. Ia kehabisan kata-kata dan juga rasa jengkel dalam hatinya.


“Kau tidak mau?” Naja mengedipkan matanya. Membuat raut wajahnya sesedih mungkin.


Excel membeliak, “Apa kau tidak ingat ... beberapa hari ini kau begitu dingin padaku? Kau bahkan tidak menyapaku sama sekali ... mengabaikanku seolah aku ini patung ... lalu sekarang kau bersikap sok manis di depanku? Haah ... apa kau baru saja menyelamatkan dunia, sehingga sikapmu yang lalu padaku bisa kuanggap tidak ada?” meluap. Ya ... Excel meluapkan kekesalan yang mengkristal dalam hatinya beberapa hari ini. Yang tak pernah berjumpa dengan kesempatan untuk mengungkapkan.


“Aku ‘kan sudah membuat Tristan tidak mengganggumu lagi ...,” lirih Naja merasa bersalah. Membawa wajahnya menunduk, Naja memainkan jemarinya di atas lutut yang menekuk.


“Dengan membuat dirimu sendiri dalam bahaya? Kau membuat dirimu menjadi santapan Angel dan Tristan ... kau tidak tahu seberapa berbahayanya Mateo itu?” tidak sabar, Excel menyambar kedua lengan Naja dan menempatkan wanita itu di depannya. Ia mengebor ke dalam mata Naja, saat keduanya beradu pandang.


Naja merepet ketakutan, tetapi ia segera menyengirkan senyumnya, “hehehehe ... aku tidak berpikir sampai di situ ...,” perlahan Naja menaikkan tangannya ke dada Excel, memutuskan tautan mata yang begitu mengerikan lalu turun ikut kemana tangannya bermuara. Mengusapnya lembut, merayu.


“... ayolah ...,” Naja menaikkan kedua matanya, membawa tatapan penuh negosiasi. “... ini sudah berakhir, Pak ... anda jangan kaku begitu ... aku tidak apa-apa kok,” Naja menyengir hingga wajahnya bertumpu pada satu titik.

__ADS_1


Naja mendesiskan suaranya saat Excel tak bergeming dari posisinya. Masih tajam dan tak bisa di tawar.


"Seharusnya aku tahu, dia tidak mudah di bujuk ...," batin Naja sembari menyodokkan lidahnya di bagian dalam pipinya. Matanya berkeliaran menjauh dari tatapan Excel yang masih tajam menyapunya.


“Baiklah ... baiklah ... aku akan jalan sendiri ... kalau tidak mau gendong, bilang saja, kenapa sampai membuatku takut begitu? Aku bisa kok minta gendong pak satpam ....” Melirik Excel sejenak.


Naja menjauh sembari mengomel, kesal tentu saja. Apa jangan-jangan Tristan tidak menepati janjinya? Tapi apa hal-hal seperti itu bisa langsung terlihat hasilnya? Apa masih harus menunggu esok pagi? Ah ... Naja malah kesal sendiri karena tidak tahu menahu tentang bagaimana sebuah bisnis berjalan.


“Setidaknya hargai usaha seseorang ... bukan marah seperti itu, ‘kan?” menggerutu sambil terus menyeret langkahnya, karena ia benar-benar tak mampu lagi menahan nyeri.


“Haah ... kenapa lorong ini panjang sekali!” Kesalnya ia luapkan pada lorong yang memang cukup panjang ini. Ia memutarkan pandangannya pada sekeliling ruangan yang bercahaya benderang nan bersih ini. Sejenak ia berhenti untuk menyeka keringat yang mulai membanjir.


Kembali menyeret langkah, Naja memekik pelan saat bahunya tercengkeram erat. Memutar tubuh Naja hingga berhadapan.


Keduanya saling bertukar pandang dengan pikiran masing-masing. Excel menatap Naja sayu sedangkan Naja menatap suaminya penuh heran.


“Aku tidak marah padamu ... aku hanya khawatir kalau sampai kamu kenapa-napa ... aku mungkin tidak akan memaafkan diriku jika sampai kau terluka ...,”


.


.


Sebaris ucapan Excel berhasil membuat Naja meluruhkan dirinya. Meleleh dan terbuai.


“Ya Tuhan ... jika dia seperti ini terus setiap hari, aku yakin, aku tak mau jauh darinya.”


“Apapun yang kamu inginkan ... katakan saja ... aku bukan orang yang mudah mengerti bahasa yang dikiaskan ... aku juga tidak suka berbelit-belit. Sekalipun aku diam ... telingaku mendengar dengan jelas,”


.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2