
“Mau kemana?” Naja setengah terpejam saat merasakan tubuh suaminya bergerak menjauh.
Beberapa saat lalu, mereka menyudahi olahraga siang yang cukup panas. Selain matahari sudah condong ke barat, Excel tak ingin egois memaksakan kehendaknya yang rasanya tidak ada kata cukup. Ia tak tega melihat Naja yang kuwalahan mengimbanginya.
Excel menyunggingkan senyum. “Berenang ... ikut?” sekilas ia melirik istrinya tergolek tak berdaya. Senyumnya kembali terukir. Gelengan lemah wanita itu mendorongnya untuk menyentuhkan kakinya ke lantai dan berbusana sekadarnya.
“Tidurlah ...!” Titah Excel. Ia menaikkan selimut yang sempat melorot, “... perlu ku ambilkan baju dulu?” tangannya mengusap kening Naja hingga mengusir helaian poni yang menghambur liar di sana.
Lagi ... gelengan penuh sipu, bahkan Naja menaikkan selimut hingga sebatas hidungnya, membuat Excel menghadiahi kening istrinya dengan sebuah kecupan. “Tidurlah kalau begitu ....”
Excel menutup pintu setelah memastikan Naja telah memejamkan matanya.
“Ya Tuhan ... apa aku akan mati muda? Sikapnya membuatku serangan jantung mulu,” Naja memegangi dadanya yang bertalu tak karuan. Tubuhnya yang memang sudah lengket, terasa panas dan berkeringat. Dalam tubuhnya sudah seperti ketel uap yang sedang mendidih, menguapkan titik-titik air di sekujur tubuhnya
Mata bulat kecilnya melebar, ia bahkan menengadahkan wajahnya menatap langit-langit kamar yang terbias cahaya mentari dari kaca. Bibirnya tergigit saat ia mengingat rasa yang baru pertama ia rasakan. “Tapi kenapa pas pertama itu sakit, ya?” Naja menarik tubuhnya hingga bersandar pada headboard ranjang. Celingukan mencari ponsel baru yang rupanya masih tertinggal entah dimana ... ia sudah lupa. Otaknya hanya mengingat indahnya perasaan saat Excel membuainya.
Naja segera menurunkan kakinya, dan beranjak ke kamar mandi, membersihkan tubuhnya yang penuh dengan sisa cinta Excel. Astaga ... rasanya iiieeww, Naja bergidik jijik.
Sementara, Excel yang tengah berenang, berulang kali harus menelan air karena ia kehilangan fokus saat berada di dalam air, hingga ia berulang kali muncul ke permukaan dan terbatuk-batuk.
Pikiran pria itu kacau balau, apalagi sejak Mikha menemuinya beberapa waktu lalu, meski bukan sebuah kesengajaan. Akan tetapi ucapan Mikha membuatnya merasa kasihan pada wanita itu. Ya ... saat Excel sedang reuni dengan teman-temannya, ia menolong Mikha yang terjebak di basement, yang lebih mencengangkan, Mikha mengalami pendarahan.
Entah Naja sadar atau tidak, baju Excel saat itu berlumur darah berlebihan. Darah dari tubuh Mikha. Ingin Excel bercerita kepada Naja tapi entahlah ... sepertinya Naja tidak terlalu mempermasalahkan hal tersebut. Lagi pula, sejak itu Excel memang tidak pernah lagi bertemu Mikha.
Pun dia juga selalu ingat dengan pesan Mamanya yang selalu mewanti-wanti dirinya agar selalu menjaga Naja.
“Mama hanya mau satu hal dari pernikahan kalian ... yaitu sebuah kesetiaan. Kamu pasti mengerti apa maksud ucapan Mama!” Kira berdiri berhadapan dengan Excel di halaman belakang yang begitu teduh meski matahari mulai menyengatkan teriknya. Pagi saat Kira mengunjungi putranya itu.
“Mengerti, Ma ... aku akan berusaha menjaga pernikahan kami.” Excel mengangguk.
“Tidak ada alasan mendua, tidak ada lagi sahabat wanita selain istrimu, batasi Naja membawa teman wanitanya ke rumah. Darah papamu memang mengalir dalam tubuhmu, tapi sifat seseorang bisa dikendalikan dengan memegang teguh prinsipnya,” tegas Kira memperingati putranya itu, ia tak mau putranya berakhir seperti papa kandungnya dan dia juga tak mau ada wanita yang bernasib sama dengannya, terlebih itu karena ulah anaknya sendiri.
__ADS_1
Excel menghembuskan napasnya, ia merasakan bebannya berat. Tetapi, ia telah meyakini perasaannya, ia hanya hanya akan mencintai satu wanita saja dalam hidupnya. Satu wanita saja.
Excel kembali menenggelamkan dirinya ke dalam air setelah mengambang terlalu lama. Berniat segera mengakhiri kegiatan yang sangat ia sukai ini. Ia menepi, dan berpegangan pada tangga yang akan membawanya naik.
“Naja mana, Cel?” Sam dan Rega berebut keluar dari pintu yang menghubungkan ruang tengah dan kolam renang. Raut wajah kedua pria itu tampak cemas.
Excel yang sudah mentas dibuat terkejut dengan kehadiran kedua sahabatnya. Sejenak ia membeku, mengingat ruang tamunya masih berantakan.
“Woe ... Naja mana? Lo ngga kasarin Naja ‘kan?” Sam berlari ke depan Excel yang langsung membuang muka, malas.
“Cel ... Naja baik-baik saja ‘kan? Kalian ngga berantem ‘kan?” Rega pun mendesak Excel. Diamnya Excel membuat dua orang itu mengikuti apa saja yang dilakukan Excel dengan gerakan mata mereka.
“Lo ngga gila ‘kan? Dia hanya ingin membantu lo ... dia ngga maksud buat ikut campur urusan lo! Dan ... dan ini semua salah gue ... kalau gue ngga ngasih tahu dia, dia ngga bakal ke kantor Tristan tadi!” cerocos Sam. Dua karib itu menghadapi Excel penuh penghakiman. Sementara yang diinterogasi tampak santai dan misterius. Ia malah sibuk membalut tubuhnya dengan jubah mandi.
Tangan Excel menggosok rambutnya dengan handuk. “kalian ngomong apa, sih? Aku ngga paham sama sekali ...,” Excel melirik dengan senyum sinis. Ia melerai bahu karibnya yang saling menempel itu, dan berjalan diantaranya.
“Lo jangan becanda ...,” Sam tampak gusar, ia menarik lengan Excel hingga tubuh pria itu berbalik.
Excel berniat mengambil jus jeruk yang telah ia siapkan sebelum berenang. Namun langkahnya terhenti saat matanya menangkap bayangan Naja tengah merapikan ruang tamu.
Mata Excel seperti tersakiti melihat Naja yang sibuk kesana kemari untuk menata lagi ruangan itu sehingga ia segera menghampiri Naja.
"Kau ... apa tidak lelah?" Excel mengambil alih bantal sofa yang dipegang Naja. Ia menatap istrinya yang kembali dihujani rona memerah di pipi. Batin Excel mendidih gemas. Astaga ....
"Ti-tidak ...," Naja membawa kepalanya menunduk, memainkan kakinya.
Excel tertawa tanpa suara. "Duduklah ... biar aku merapikannya." Excel menarik Naja dan mendudukkannya di sofa ruang tengah.
"Na ... kau baik-baik saja?" Rega tampak senewen.
Naja menoleh, "Aku ...?" ia menunjuk dirinya sendiri. Lalu bergantian menatap Rega, Excel dan Sam yang baru masuk. "... memangnya aku kenapa?"
__ADS_1
Sam menarik Naja hingga berdiri, memutar dan membalik-balik tubuh Naja, memindai secara menyeluruh.
"Kau ini apa-apaan?" Excel kesal saat Sam berlama-lama menatap Naja di tempat tertentu. "Dia baik-baik saja ... memangnya suami akan menghukum istrinya dengan apa, sampai kau sebegitunya memperhatikan dia? Apa aku terlihat seperti orang kurang waras sampai menganiaya istrinya sendiri?"
Rega mengedipkan matanya berulang-ulang. Otaknya lambat mencerna maksud ucapan sahabatnya itu. Namun sejurus kemudian, ia tersenyum. "Kita cabut aja, Bro ... kedatangan kita bakal merusak acara mereka untuk merobohkan rumah ...." Manik mata Rega melirik Excel dan ruang tamu yang masih kacau bergantian. Bibir pria itu mencibir penuh pada sang sahabat.
"Maklum perjaka tua yang seumur hidupnya belum pernah memakai senjatanya untuk berburu ...," Rega berlalu hendak keluar rumah, ia menggaet tangan Sam yang juga tampak lamban mencerna ucapan Rega.
"Mas Rega, Mas Sam mau kemana? Aku buatin minum dulu, ya ... 'kan kalian baru sampai ...," Naja bingung saat melihat gestur dua orang itu yang akan meninggalkan rumahnya. Hal itu membuat Excel melemparkan tatapan tajam pada Naja. Namun tampaknya wanita itu tidak peduli. Ia berlari menghampiri Rega dan Sam yang berhenti diujung ruangan.
"Jalan aja masih kaya angsa batu begitu, bukannya diam di kasur malah kemana-mana ...," Excel mendengkuskan napasnya. Lidahnya menyodok bagian dalam pipi, sorot mata pria itu menebar ancaman yang membuat Rega dan Sam langsung menolak Naja dengan halus.
"Kami sudah lama banget di sini ... dan kami ngga haus, Na ... lagipula sebentar lagi akan ada badai petir jika kita ngga segera pulang." Rega tersenyum kikuk.
"Ya ... kita ngga mau kesamber ... bye, Na ... baik-baik di rumah, ya ... dan-dan gue udah beresin pekerjaan lo yang belum selesai tadi. Lo tenang aja, ya ... semoga esok lo masih utuh ...!" Usai berkata demikian dua orang itu sudah lari tunggang langgang meninggalkan rumah. Membiarkan Naja meringis bingung sembari menggosok sisi kepalanya.
"Mereka kenapa, sih? Kok aneh ...?" gumam Naja. Ia segera berbalik, "Cel a—"
"Lah ... mana dia?" gumam Naja saat tak mendapati siapapun di ruangan ini. Naja mengangkat bahu dan menurunkannya perlahan. "Bodo amatlah ... paling juga mandi dan ganti baju."
Naja meraih ponsel yang masih berada di dalam tasnya, ia membuka beberapa artikel online yang bersangkutan dengan pertanyaannya tadi. Manik mata Naja bergerak cepat dan lincah membaca judul-judul artikel itu, bibirnya juga ikut menggumamkan apa yang ditangkap oleh matanya. Tak lama kemudian, bibirnya terkembang sempurna, ia merasa bahagia. Ya ... memang Naja hanya akan memberikan mahkotanya pada pria yang menjadi suaminya, dan ia ingat pernah mengatakan itu pada Ai. Ya ... pada suaminya ... bukan Syailendra. Rupanya semesta mengaminkan doanya. Mungkin ia dan Ai hanya berjodoh sebagai kekasih, bukan pasangan hidup.
Semoga takdirku adalah bersamamu ...
.
.
.
.
__ADS_1
.