Kekasihku, Asisten Adikku

Kekasihku, Asisten Adikku
Hanya Dia Yang Membuat Ini Semakin Menarik


__ADS_3

Setidaknya, aku pernah berbuat sesuatu yang benar, padamu ....


Ya ... sesuatu yang benar. Seperti sekarang.


Seperti siang ini, di tengah terik matahari, Excel melajukan mobilnya menuju Sam&Sam. Setelah ucapan Naja kemarin, ia merasa tertantang untuk mencoba menaklukkan hati wanita itu. Bahkan ia sudah melakukan hal yang belum pernah ia lakukan sebelumnya pada wanita lain, tapi nyatanya itu tidak bekerja pada Naja. Dia hanya berharap, konsultasinya dengan mesin pencarian bisa membuahkan hasil.


Semalam penuh, ia merenung dan meyakinkan diri, bahwa hanya Naja yang mantap mengisi hatinya. Ia mengandai-andaikan semua kemungkinan, dan ... ya, dia takut kehilangan Naja. Si gadis ceroboh dan suka uang, begitu kata Jen.


Senyum menghiasi wajahnya yang selalu tegang, saat mengingat Naja. Diusapnya, box berisi japanese cheesecake yang beberapa waktu lalu pernah digilai Naja dan Jen. Excel ingat betul, Naja begitu ketagihan pada kue yang tampak lembut dan ringan itu. Semoga saja Naja masih suka cake itu. Entahlah ... Excel hanya berpikir, kegemaran wanita itu sering berubah, bahkan pada uang ... dan Excel tidak tahu apa kegemaran istrinya itu sekarang.


Jalanan lengang saat ini, membuat seluruh sudut pandang jalan masuk ke dalam penglihatan Excel yang memanglah cukup jeli. Napasnya tertahan, jantungnya memompa lebih cepat saat melihat Naja yang berjalan dengan cepat dan masih seperti kemarin usai mereka berselisih ... ekspresinya. Tegang namun sorot matanya sendu.


Tanpa berpikir lagi, selain yakin akan keputusannya, Excel membelokkan mobil di kafe dan resto dimana Naja biasa makan siang. Namun, ia masih memberi jarak agar Naja tidak mengetahui kehadirannya.


Usai memarkirkan mobilnya, Excel segera masuk dan mencari wanita itu di seluruh penjuru ruangan yang terbingkai kaca transparan. Tetapi, Excel yang telah memupuk harapan, harus segera memupus tunas yang mulai tumbuh. Tali yang mengait tas berisi cake itu tergenggam erat hingga terasa sakit, melihat dua orang yang begitu akrab di matanya tengah berbincang dengan hangat. Bahkan senyum mereka mengembang tanpa malu.


Excel memutar tubuhnya, berniat pergi sebelum sisi lemahnya muncul menuruni pipi. Ia merasa sangat sakit dan sesak. Tetapi, langkahnya seolah tersangkut benda tak kasat mata, menolak pergi. Malah kakinya mengayun dan duduk di sebuah kursi yang tidak terlalu jauh dari posisi dua orang yang tengah berdiskusi itu. Membelakangi.


“Sudah cukup ‘kan, basa-basinya, Tuan Tristan ...,” suara Naja terdengar menekan tanpa meninggalkan kesan sopan pada pria itu.


“Ya ... saya rasa lebih dari cukup ...,” tawa Tristan terdengar tanpa beban. Ingin rasanya Excel menoleh untuk melihat ekspresi Tristan saat ini, tetapi Excel harus menahan semua itu. Dia tidak mau ketahuan terlebih dahulu, sebelum mendengar semua obrolan mereka.


“Jadi apa tawaran anda pada saya tempo lalu masih berlaku?” terdengar tak sabar, Naja mengutarakan niatnya, sehingga membuat buku jari Excel menegang hebat hingga mengepal di atas meja kafe.


Ada jeda di belakang sana, mungkin Tristan sedang berpura-pura mengingat-ingat, padahal dalam hati Tristan—Excel yakin— bersorak.


“Apa ada masalah?”


Excel mengembangkan senyum sinis mendengar perkataan Tristan yang dibuat seragu mungkin. “benar-benar aktor yang hebat ...,” desisnya di sela-sela gigi yang beradu.


“Tidak ada ...,” balas Naja enteng.


“Lalu ... kenapa tiba-tiba membahas itu?” suara Tristan terdengar melembut.

__ADS_1


“Aku bersedia ... asal kau mau menuruti apa pun syarat dariku ... tanpa terkecuali. Tanpa menawar lagi!”


Mendengar itu, Excel memejamkan matanya. Lama dan terasa panas, sepanas aliran darah yang menjalar di seluruh tubuhnya. Mendidih dalam emosi yang sebagian besar berupa amarah. Kepalanya dijejali banyak tanya, ia bahkan tidak tahu mengajukan yang mana dulu. “Kenapa kau melakukan ini, Na ...? Benarkah aku tidak bisa berharap padamu?”


Namun, amarah yang rasanya sudah mengepulkan asap di atas kepalanya itu ia paksa turun. Ia harus tahu semuanya, sehingga kaki yang sudah bergeser, siap untuk berdiri, terpaksa ia tarik kembali. Menahan diri dengan susah payah.


“Wanita perhitungan sepertimu tidak bisa kupercayai begitu saja, Nona ... aku takut kau hanya akan membuat kekacauan. Mungkin saja kau dan suamimu telah bersepakat untuk menghancurkanku ... apalagi permintaanmu sedikit tidak masuk akal. Apa kau berpikir aku sangat bergantung dengan kesediaanmu itu?” ucap Tristan penuh percaya diri.


“Bagaimana kalau memang begitu keadaannya? Buktinya anda belum juga melakukan syuting iklan anda bahkan setelah beberapa waktu berlalu ...," sahut Naja.


Tristan berdecih, lalu tertawa sinis. “Kau ini sok tahu sekali ...,”


“Baiklah ... anda hanya perlu tahu satu hal. Aku melakukan semua ini tidak ada hubungannya dengan suami ataupun keluarga suamiku ... bahkan mereka tidak tahu hal ini ... kecuali anda memberitahu mereka.” Naja menegakkan kepala yang semula miring.


“Anda bisa memegang kata-kata saya ... saya hanya ingin membuktikan pada orang yang telah mencaci saya bahwa saya telah berhasil menaklukkan ibukota yang rasanya mustahil bagi orang desa seperti saya!”


Tristan membubarkan tautan tangan yang semula ikut nimbrung dalam pembicaraan yang terlihat santai tetapi nyatanya penuh ketegangan. Ia menghempaskan tubuhnya di sandaran kursi, tanpa meninggalkan tatapan intens yang telah ia bangun sejak obrolan ini terjalin.


“Saya akan memastikan itu ...!” mengucapkan itu penuh kesungguhan, Naja menarik tubuhnya berdiri. Ia rasa sudah tak ada urusan dengan Tristan di sini. Setidaknya belum. Menyangklong lagi tas kesayangannya, ia segera memutar tubuhnya dan melangkah pergi.


Namun, langkahnya terhenti saat pandangan yang sejak tadi ia tundukkan, menabrak sesosok tubuh yang memblokir jalannya. Wangi yang khas itu meremangkan seluruh tubuh Naja, tetapi ia perlahan menaikkan tatapannya.


“Excel ...." Meski ia sudah menduga bahwa yang berdiri di depannya adalah suaminya, tetap saja ia syok dan terhuyung mundur. Seluruh tubuhnya tetap saja gemetar mendapat tatapan tajam dari suaminya itu.


“Kenapa, Na? Apa kau tidak bisa melangkah bersamaku saja? Kau membuktikan apa? Pada siapa?” Excel frustrasi, ia benar-benar tidak mengerti jalan pikiran wanita itu. “Apa aku belum cukup bagimu, Na?” sambung Excel lirih. Mata pria itu tampak berkaca-kaca.


Tangan Naja mengepal tanpa sadar, manik mata wanita itu berguncang, ia hanya sekilas lalu menatap suaminya yang ia tahu betul ... sangat kesakitan. Mata memang tidak bisa berbohong. Sekali lagi, Naja memilih membuang pandangannya. Memilih kata-kata yang paling aneh ... yang mungkin bisa diterima dengan baik oleh Excel.


"Na ...," ulang Excel lemah.


“Iya ... aku masih ada hal yang harus aku kejar, Cel ... aku masih harus melanjutkan semua yang tertunda setelah aku bersamamu ....” Naja menegaskan matanya yang beberapa saat lalu melirik ke kiri, dimana Tristan sepertinya masih mencuri dengar pembicaraan mereka.


“Apa harus seperti ini? Apa tidak bisa jika kau meminta padaku saja? Aku bisa Na ...,” jemari ramping Excel meraih lengan Naja dan mengguncangnya. “ ... aku bisa membantumu membungkam mereka. Apa aku terlalu lemah dimatamu, Na?”

__ADS_1


“Kalau aku meminta padamu, itu bukan usahaku sendiri, Cel ... aku ingin apa yang aku tunjukkan pada mereka adalah hasil keringatku sendiri, Cel. Maaf ... jika semua harus seperti ini ... tapi jika kau tidak suka, aku cukup tahu diri untuk pergi darimu.”


Tatapan kedua orang itu saling beradu beberapa saat lamanya, hingga sampai pada simpulan masing-masing, mereka sepakat mengakhirinya. Cekalan tangan Excel luruh penuh kesadaran.


“Na ...,” lirih Excel dengan tubuh lunglai. Ia telah kalah. Tetapi Naja telah berlalu dari tempat itu, meninggalkan dirinya yang tergugu dalam diam.


“Sayang sekali aku harus melihat ini ... tapi kau harusnya senang, Tuan ... kau bisa mengurus mantanmu yang sedang hamil itu!” cibir Tristan penuh kemenangan. Itu sungguh menyakiti Excel yang memang telah tergores luka yang teramat dalam.


Manik mata gelap Excel merangkak naik, gelap ekspresinya tak bisa di gambarkan lagi. Begitu pekat dan tajam menghujam. Ia menerkam Tristan dengan kecaman yang membuat Tristan gugup dan takut. Hari ini ... bukan hari baik Tristan meski ia telah memenangkan Naja. Ia telah mengusik monster yang tengah mendengkur dalam lelapnya.


"Kenapa kalau aku mengurusi dia? Apa itu salah? Setidaknya aku masih memiliki nurani, sekali pun dia mantan. Bukan seperti seseorang yang hanya mau untung dari sebuah perseteruan," ucap Excel penuh kecaman. Ia menekan Tristan dengan langkahnya yang begitu pelan namun tegas.


Tangan Tristan terangkat naik, ia melihat kemana tangan Excel yang bergerak itu bermuara. Takut kalau-kalau Excel melabrak pipinya dengan tinju yang sudah terkepal sempurna itu.


"Hei ... santai Bro ... aku hanya bercanda ... jangan diambil hati. Tidak masalah kau mengurusi siapa ... jadi abaikan saja ucapanku barusan." ucapan sarat ketakutan itu diimbuhi tawa khas seorang pecundang yang kalah bahkan seujung kukupun musuhnya belum menyentuhnya.


"Ucapan yang sudah keluar dari mulut seorang pria ... pantang ditarik kembali ...," wajah Excel sudah berjarak satu senti saja dari ujung hidung Tristan.


"Asal kau tahu ... sekalipun Naja bersamamu ... akan aku pastikan kau kesakitan setiap waktumu ... karena Naja hanya akan terus mengingat dan memanggilku." Excel menghempaskan bahu Tristan penuh emosi setelah menjauhkan wajahnya. Berlalu pergi setelah menghadiahi pria itu sorot mata tajam mengancam. Jika orang lain ... mereka memilih mundur teratur selagi masih bisa berjalan dengan kepala tegak. Siapapun tak tahu, apa yang akan dilakukan oleh seorang Excel nanti.


Tristan membeku, benar ... dia membenarkan semua ucapan Excel, tapi sayangnya hanya Naja yang membuat semua ini semakin menarik.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2