Kekasihku, Asisten Adikku

Kekasihku, Asisten Adikku
Artimu Untukku


__ADS_3

Rega mengarahkan Excel menuju rumah sakit sebab Mikha masih harus mendapatkan perawatan. Ia kembali pingsan dan kondisinya tidak stabil, menurut Rega, Mikha tak kuasa melihat kepergian ibunya dan ini membuat yang Excel heran. Sepanjang jalan, pikiran Excel berjejal dengan seribu tanya, mungkin kini saatnya semua terungkap.


Rega meninggalkan banyak voice note yang menjelaskan kronologi disangkakannya Mikha. Ia dilaporkan oleh seorang wanita karena telah melakukan pembunuhan pada ayah kandungnya. Wanita itu yang menyaksikan sendiri kejadian itu. Di saat yang sama, ibu Mikha juga mengembuskan napas terakhir setelah mengalami cedera parah di pembuluh darah menuju otak. Diana dipastikan mendapat kekerasan fisik dan psikis sebelum di bawa ke rumah sakit. Namun, berkat kesaksian Surti, Mikha mendapat kelonggaran hingga kondisinya membaik.


Rega menyambut Excel ketika pria tinggi itu berjalan begitu cepat ke arahnya.


“Mikha udah bangun, Cel ...! Lebih baik kamu tanya langsung ke dia,” saran Rega saat Excel hendak membuka mulutnya. Ia tahu, pertanyaan Excel tidak menjurus ke bagaimana Mikha membunuh ayahnya, tetapi apa yang sebenarnya terjadi dengan hubungan mereka dulu. Rega tahu sebab dari penjelasan singkatnya, Excel pasti dengan gamblang menangkap kejanggalan dari peristiwa mengenaskan di masa lalu, pasti Excel merasa dipecundangi oleh Mikha dan Rudi. Rega pikir, ini kesempatan mereka untuk saling melepaskan keterikatan yang mengikat meski hanya seutas benang tak tampak.


Mikha tengah mendudukkan tubuhnya di atas ranjang rumah sakit, ia tengah menunduk dengan penguatan dari wanita baya yang terus menggenggam tangannya. Mendengar pintu terbuka, Mikha mengangkat wajahnya, sepersekian detik ia tak memercayai penglihatannya. Bagaimana bisa Excel berdiri di hadapannya setelah ia begitu tak peduli tadi? Lalu berbagai dugaan menyergapnya seketika, manik matanya beralih pada Surti yang langsung menggeleng lemah.


Mikha menarik sebelah bibirnya, “Kau tidak diterima di sini, Cel!” serunya kembali angkuh. Ia bertekat tak ingin dikasihani ataupun memberitahukan nasibnya pada Excel. Ia tak mau, ia tak pantas, dan ia sadar ... bahwa Excel—meski dia bukan pria yang peka akan perasaan wanita, bukan pria yang romantis yang akan menghujani wanitanya bunga, atau mengungkapkan gombalan yang kadang malah membuat wanita muak— layak mendapatkan wanita terbaik di dunia ini. Excel akan menunjukkan perasaannya dengan tindakannya yang kaku dan kasar. Namun itu yang Mikha suka dan selama Mikha bersama Excel, Excel belum pernah membuatnya kecewa.


Excel melangkah mendekati ranjang sementara Rega masih berdiri menahan pintu. Surti seakan mengerti arti sorot mata Excel yang tertuju padanya, sehingga dia segera beranjak dari tepi ranjang. Ia pun menunduk sejenak pada Excel sebelum meninggalkan kamar, Rega menutup pintu, membiarkan mereka menuntaskan masalah yang menurut Rega tak berkesudahan.


“Jadi siapa yang belum lama kau kebumikan?” Excel masih melihat pintu yang menutup saat bertanya, tampak tak sabar menguliti Mikha dan kebusukannya. Ia masih ingat dengan jelas saat diundang makan malam oleh Mikha ke kediaman mereka di sebuah apartemen mewah di kawasan elite ibukota. Di sana, Rudi menceritakan bagaimana ia membesarkan Mikha seorang diri. Ibu Mikha meninggal saat Mikha masih kecil. Kalimat itu masih terpatri dengan jelas di hati Excel, dan mungkin itu pula yang membuatnya mengatakan iya saat diminta untuk menikahi Mikha.


Sekali lagi, Mikha menarik sebelah bibirnya yang pucat. Tampak meremehkan Excel dengan sikapnya. “Kau kesal aku telah membohongimu? Atau kau kesal karena merasa bodoh di depanku?”


“Jawab saja ... aku tidak punya banyak waktu!” seru Excel dengan tangan mengepal sempurna.


Mikha tersenyum sebelum mengeluarkan tawa panjang, hingga beberapa saat lamanya. Membuat Excel kian geram sebab merasa di permainkan.


Susah payah Mikha meredakan tawanya, “Baiklah, Excel ... selama ini aku memang membohongimu, mama masih hidup dan dia baru saja benar-benar meninggalkanku hari ini. Pria breng sek yang mengaku ayahku juga sudah kulenyapkan sekarang. Aku telah berbohong padamu selama ini, Cel. Silakan kau menuntutku di pengadilan atas kerugian yang telah aku ciptakan selama kita bersama.” Mata Mikha tak menunjukkan keraguan dan tampak kejam. Ia sungguh ingin, Excel terus membencinya. Menancapkan dendam padanya.


Excel tak berkedip memandang Mikha, ia tak merasa kasihan atau ingin sekadar merengkuh wanita itu lagi. Ia terlalu sakit hati meski ia tak berniat pula menuntut ganti rugi pada Mikha.


“Selama ini kau pergi kemana?”


Mikha memiringkan kepalanya, manik mata cokelat itu menyudut. “Sudahlah Cel ... aku bersedia mengganti kerugianmu, kita sudah usai sejak saat itu!” mengatakan itu seolah jengah dengan semua tanya yang bermuara pada kepergian Mikha waktu itu. Ia lelah harus mengatakan kebohongan berulang-ulang.


“Baiklah ... jika itu maumu!" Excel mundur "Aku sudah menyiapkan pengacara untukmu ... anggap itu sebagai pemberian terakhirku. Setelah ini ... aku tidak pernah menganggapmu ada ... meski kau tahu apa artimu untukku.” Excel meredup, ia sudah mendapat kejelasan nasibnya. Ia pun memutar tubuhnya, beranjak meninggalkan tempat yang tidak pernah mengharapkan hadirnya.

__ADS_1


Saat sakit itu menampakkan goresnya, kini terasa jelas bagian mana yang mengeluarkan darah. Kini jelas di bagian mana ia harus menjahit luka. Sorot mata Excel sama sekali tak terbaca seperti biasa, tapi Mikha dengan jelas melihat Excel terluka. Namun ia tak peduli, ini yang terbaik.


“Cel ... apa kekasihmu mengenal Tristan?”


Excel membekukan langkahnya, ia tak menoleh sama sekali. “Ya ...!”


"Apa kau tahu, Naja pernah bekerja sebagai OG?"


"Ya ..." jawab Excel setelah sejenak berpikir. OG? pikirnya.


"Kau percaya padanya? Begitu saja?" Tersirat rasa tidak suka dari pertanyaan Mikha yang bisa ditangkap dengan jelas oleh Excel.


"Ya ...!" putus Excel. Ia memutuskan untuk berkata sesuai dengan kata hati dan kenyataan.


Mikha mendengkus, “Kurasa, aku sudah cukup membuktikan bahwa wajah yang lugu bukan jaminan ... semoga kau belajar sesuatu dari kisah kita!”


Excel menatap Mikha yang kini mengeluarkan dirinya yang asli. Mikha yang sebenarnya, meski masih angkuh dan kejam.


Selaput tipis cairan bening mulai membingkai manik mata Mikha, tampak berguncang saking kerasnya ia menahan hatinya untuk tidak berteriak bahwa ia tak terima semua ini. Ingin ia menghambur dalam dekapan yang belum pernah ia rasakan selain bersama Excel. Ingin dia melemah di hadapan pria ini, memohon ampunan. Mengatakan kejujuran yang rasanya sudah muntab di ujung pita suaranya. Tapi ... tidak ... ia tak ingin membodohi pria itu lagi karena kesalahannya. Dia harus kuat.


“Selamat tinggal, Mikha ... aku sudah terlalu lama di sini!”


Mikha terkesiap, ia tak bodoh ketika pria mengatakan hal itu, artinya sudah ada yang menunggunya. Masih adakah haknya bertanya?


Manik mata Mikha berlarian, menyadari bahwa ada yang salah dengan hubungannya dengan Naja kini. “Cepat sekali kau berubah karena wanita, Cel? Dua tahun bersamaku tanpa melampaui batas, apa itu yang membuatmu melampiaskan dirimu pada Naja?”


Excel masih menyilangkan pandang pada Mikha yang tampak kian runtuh pertahanannya. “Apa aku salah jika melakukan itu?” tanya Excel dengan mata menyipit, ia bisa membaca kecemburuan Mikha.


“Andai aku bisa bilang itu salah, Cel ... tapi aku tahu, aku sudah tidak ada hak.” Mikha membenarkan posisi tubuhnya ke posisi nyaman. “Semoga pilihanmu tak lagi keliru saat ini.”


“Darimu aku belajar, kau tenang saja ... aku pastikan kali ini akulah yang akan jumawa bahwa kau yang keliru. Aku tahu mana jurang, mana lembah yang menyejukkan!”

__ADS_1


Excel benar-benar beranjak dari kamar Mikha, selain sakit ia tak mendapatkan apapun di sini. Benar ... dia sudah melakukan perpisahan dengan Mikha. Sekarang, ia harus menghilangkan jejak Mikha dari setiap sudut hatinya.


Mikha tak kuasa lagi membendung tangis yang sudah mendesak untuk turun. Ia lemah dan tak berdaya. Namun, ia segera menyeka air matanya, separuh hidup sudah tak berharga karena kehilangan penyemangatnya, tetapi setengah nyawanya masih harus bertanggung jawab pada nyawa yang bergantung padanya. Setidaknya di penjara nanti, ia tak harus menjajakan diri lagi. Ia bertekad menjadi Mikha yang baru.


***


Rega mengawal Excel hingga tiba di depan rumah, tetapi Rega segera pulang sebab Mamanya saat ini sedang tidak sehat. Excel melambaikan tangannya pada Rega saat pria itu tampak mencemaskannya. Excel masih mengantar Rega hingga mobil sahabatnya itu tak tampak lagi di matanya.


Lampu masih menyala dengan terangnya, membuat Excel menepuk jidatnya. Ia lupa jika Naja sendirian dan pasti dia takut di rumah baru tanpa ada yang menemani. Televisi masih menyala dengan volume yang meraung keras, di depannya segaris tubuh tengah tergolek dengan pulasnya. Excel mengembuskan napas kasar, ia heran dengan wanita yang sangat susah diatur ini. Semaunya dan seenaknya. Tangan Excel terulur memijat keningnya, artinya dia masih harus tidur dengan posisi duduk meski di rumahnya sendiri yang ia harapkan bisa mendapatkan kenyamanan saat beristirahat.


Excel melempar kunci mobil ke dalam laci yaang berada dibawah televisi. Ia segera ke atas untuk membersihkan diri. Tubuhnya yang lelah butuh penyegaran, pun dengan otaknya. Tak lama kemudian, Excel kembali turun membawa selimut dan bantal. Ia menggaruk pelipisnya, berpikir bagaimana membuat tidurnya nyaman kali ini.


Sofa single memanjang ini sebagian besar telah dikuasai Naja, sehingga Excel mengambil posisi di bawah kaki Naja. Mengambil sebuah kursi bulat nan empuk dari ruang tamu sebagai tumpuan kakinya, Excel duduk dengan tambahan bantal sebagai sandaran. Bisa saja Excel mengangkat Naja, tetapi ingat kejadian tempo lalu, Excel mengurungkan niatnya. Ia tak mau berdebat dengan Naja malam buta seperti ini.


Excel melirik Naja, ragu ia mengulurkan tangannya menyentuh kaki Naja sehingga tangan Excel menggantung di udara dan meremas jemarinya sendiri. "Maaf Na ... besok kau bisa tidur lebih layak di kamarmu sendiri." gumam Excel dengan sudut bibir menggariskan senyum.


.


.


.


.


.


Muup, up ku telat hari ini, semoga besok bisa up ya manteman ... soalnya ada acara di mushala dekat rumah ... 🥰🥰


Tetap dukung aku dengan komentar terbaik kalian ... jangan lupa like dan mawarnya🥰🥰🥰 wkwkwk ...


Terimakasih🙏💞

__ADS_1


__ADS_2