Kekasihku, Asisten Adikku

Kekasihku, Asisten Adikku
Sadar Aku Siapa


__ADS_3

Sementara di kantor, Excel tengah kebingungan menghubungi Naja yang tak jua menjawab teleponnya. Semenjak satu jam lalu, ia terus saja mendial nomor Naja sembari terus bekerja meski fokusnya harus terbagi. Menurut Asisten Rumah Tangga yang sengaja ia datangkan dari rumah Dirgantara, rumahnya terkunci dan tampak kosong. Bahkan tukang kunci yang sengaja Excel panggil untuk membuat duplikat kunci kamar yang entah dimana Jen sembunyikan, juga memilih kembali setelah mendapati rumah tersebut kosong.


Pikiran Excel terus saja bergolak, hingga akhirnya ia merasa mendidih karena prasangka buruknya akan keselamatan Naja. Excel menarik tubuhnya dari kursi dengan kasar, tangannya sibuk menghubungi sekuriti kompleks perumahan tempatnya tinggal, barang kali ada yang mengetahui kepergian Naja. Hilir mudik mengintari ruang kerjanya, ia tak bisa menyembunyikan kekhawatirannya. "Semoga dia tidak kenapa-napa," gumamnya berulang-ulang.


“Maaf, Tuan ... Nona Naja tadi bertemu seseorang di depan kompleks, tetapi setelah itu saya tidak tahu Nona pergi kemana ...,” terang Sekuriti yang terdengar takut dan ragu. Ia tahu betul siapa yang tengah mencecarnya dengan pertanyaan beruntun. Bahkan Excel sampai meminta salinan rekaman dari kamera pengawas di area pos keamanan saking cemasnya, ia berjaga-jaga jika hal buruk terjadi pada Naja.


Excel menghembuskan napas kasar, “kemana perginya anak itu?” gumam Excel. Pikirannya masih kacau, tetapi ia harus segera bertemu dengan Tristan saat ini. Entah apa lagi yang ia mau dari pertemuan kali ini. Excel merasa jengah, sebab kerja samanya dengan Tristan serasa jalan di tempat, sementara klien yang lain sudah mulai dengan proyek baru.


Tanpa Rega, Excel hari ini cukup sibuk meski ada asisten Rega yang membantu. Ditambah hilangnya Naja, membuat kepala Excel serasa berdenyut-denyut.


**


Sam dan Naja tengah menanti pesanan makanan yang telah mereka pesan sebelumnya, mereka berbincang santai dan akrab. Sebuah restoran seafood menjadi pilihan Tristan untuk pertemuan mereka kali ini.


“Maaf saya terlambat ...,” suara berat Excel terdengar dari belakang Naja, membuat semua orang menoleh ke arahnya. Sejenak, tatapan Excel menyergap Naja yang cukup terkejut melihat Excel berdiri tak jauh darinya.


"Excel ...," lirih Naja dengan senyum yang surut ketika melihat kilatan amarah yang menguar melalui sorot mata gelap suaminya. Tiba-tiba ia ingat bahwasanya ia tak boleh meninggalkan rumah, dan dia pergi kemari tanpa meminta izin dari suaminya. Pun dengan Sam yang membatu seketika, ia sudah sangat hafal dengan berbagai ekspresi Excel yang sebagian besar adalah bentuk kemarahan.


“Tidak terlambat sama sekali, Bro ... kami juga belum lama tiba,” Tristan bangkit dan menyambut Excel dengan ceria. Ia hanya berpikir Excel selalu berwajah tegang saat melihat aura membunuh dari rekan kerjanya tersebut, sehingga Tristan bersikap santai. “Silakan duduk, tadi Naja sudah memesankan menu kesukaan anda.”


Tristan mengerling Naja dan kembali tersenyum pada Excel, meski sejak tadi Excel tak berniat membalas apapun yang dilakukan Tristan padanya. Manik mata Excel sibuk menguliti Naja yang sesekali membalas tatapan Excel dengan kikuk.


Naja menundukkan pandangannya, bibirnya terkatup rapat. Tristan sungguh tidak peka, gerutu Naja dalam hati sembari menyisipkan helai rambut ke belakang telinga. Ia sungguh tidak nyaman.


Excel mengambil posisi di sebelah Tristan yang berhadapan langsung dengan Naja. Meneliti Naja yang tampak lebih segar dan berbeda. Sungguh Excel tak rela berpaling dari Naja sedetik saja.


Mereka mengisi jeda saat menunggu pesanan datang dengan keheningan, bahkan merekapun makan dalam diam dan cepat.


“Apa makanannya tidak enak, Na?” tanya Tristan hangat. Ia sejak tadi memperhatikan Naja yang tampak tidak menikmati makan siangnya.


Naja meraih gelas berisi air putih dan menyesapnya, ia benar-benar gugup saat ini. Di bawah perhatian Tristan yang berlebihan di hadapan suaminya dan tatapan Excel yang sungguh mengerikan. “Aku menggali kuburanku sendiri saat datang kemari,”

__ADS_1


Senyum setengah hati Naja terukir di sudut bibirnya. “Tidak juga ... saya rasa kita harus segera menyelesaikan urusan kita hari ini. Saya masih ada urusan lain.”


“Benar sekali ...,” timpal Sam yang juga mengerti situasi yang sangat tak nyaman saat ini. Ia merasa akan ada badai yang akan menerjang dirinya dan Naja. Dampaknya bakal mengerikan, pikirnya.


“Oke ...,” tangan Tristan membuka setelah menggenggam lama di sisi piring putih nan lebar itu. Ia memiringkan posisi duduknya menghadap Excel yang berada persis di sebelahnya dan berdehem, “Saya sebenarnya cukup puas dengan Angelica sebagai model yang anda sodorkan sebagai pengganti Mikha, akan tetapi ... Angel belum memenuhi konsep “murni” dalam tema yang saya usung kali ini.”


Hening melingkupi mereka berempat saat ini. Bagi Naja dan Sam, mereka menangkap sinyal bahaya dari raut wajah Excel yang kian menegang, meski mereka tak tahu apa sebab ketidakcocokan model dengan tema yang sedang mereka berdua bahas saat ini.


“Jadi apa mau Anda, Tuan?” tanya Excel sembari berpaling membawa tatapan penuh ancaman. Seharusnya saat ini Tristan tahu bahaya tengah mengintainya akan tetapi, ia sama sekali tak gentar dengan pertanyaan Excel yang sarat akan kekesalan yang luar biasa.


Tristan tersenyum. “Saya menemukan model yang pas dengan tema brand saya saat ini, Tuan.” Ekor mata Tristan mengerling Naja yang masih terpaku tak mengerti kemana arah pembicaraan Tristan.


Excel mengekori kemana pandangan Tristan bermuara, tetapi tak lama kemudian ia kembali menatap Tristan. “Ku rasa pembicaraan ini tak ada gunanya, Tuan Tristan.” Excel bangkit. “Jika anda tidak menyukai Angel, lebih baik tidak usah melanjutkan kerja sama ini. Silakan anda cari partner lain yang saya yakin lebih baik dari kami, yang mampu memuaskan obsesi anda!”


Excel meraih tangan Naja sedikit menariknya, sorot mata Excel mengatakan segalanya, sehingga Naja pun segera bangkit. Meski dia merasa tidak enak hati pada Tristan, Naja tetap mengayunkan langkahnya setelah berpamitan dengan menundukkan kepalanya.


“Anda egois sekali, Tuan!” seruan Tristan menghentikan langkah Excel dan Naja. “Sekalipun dia istri anda, tetapi bukan berarti anda bisa mengekangnya ... tidak adil bagi Naja jika tidak kita tanyakan langsung pendapatnya."


“Lalu apa?” potong Tristan cepat, “Anda harus ingat, penilaian saya tak pernah meleset. Saya yakin dia akan bersinar dan terkenal setelah menjadi model brand saya.”


Excel melepaskan tangannya dari lengan Naja, ia berbalik dan mendekati Tristan, “Cukup dia menjadi istriku dan bersinar dalam genggaman tanganku, hanya aku saja yang akan menikmati sinarnya!” Excel menekankan semua perkataannya meski suaranya tak lebih dari bisikan.


Excel melangkah mundur, menjauhi Tristan tetapi tatapan tajam penuh peringatan belum meninggalkan Tristan yang masih terpaku di tempatnya hingga Excel meraih bahu Naja dan mendekapnya dengan posesif.


**


Excel seperti bukan dirinya saat ini. Dia merasa sangat marah melihat Naja yang tampaknya berbeda saat bertemu dengan Tristan. Sejak ia melihat Naja tadi, ia merasakan desiran tak seperti biasanya. Meningkat berkali-kali lipat. Bahkan, ia melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, meski Naja berteriak ketakutan, ia sama sekali tak peduli.


“Lepasin Cel ... tanganku sakit,” Naja hampir menangis karena takut melihat Excel yang begitu kasar menariknya ke dalam rumah. Bayangan buruk akan perlakuan Excel padanya menghiasi setiap sisi otaknya, membuat Naja tercekam. Ia masih berusaha meronta, namun cekalan Excel malah semakin kuat melingkar.


Manik mata Naja membulat penuh saat Excel terus menariknya ke kamar. “Kumohon Cel ... lepaskan aku, aku-aku bisa jelaskan semuanya. Aku tidak tahu jika Mas Sam mengajakku bertemu Tristan hari ini. Sungguh aku tak bermaksud melanggar perintahmu.”

__ADS_1


Excel mendorong pintu kamarnya hingga terbuka lebar, ia sepertinya tuli dengan ucapan Naja. Satu tarikan keras dan tubuh kecil Naja dengan mudah memasuki kamar.


“Kumohon Cel ... jangan seperti ini padaku.” Naja tak mampu lagi membendung ketakutannya melihat Excel mendorongnya ke atas ranjang. Kedua tangannya menangkup di depan dada, “Cel ... kumohon ... jangan.” Pinta Naja semakin lirih, kepalanya menggeleng dengan kuat, menghamburkan air mata yang mulai menumpuk di sudut matanya.


“Kau tahu dengan sangat jelas bahwa Tristan sangat terobsesi dengan wanita yang masih murni dan belum ternoda ... kau juga tidak ingin kusentuh karena ingin kembali pada kekasihmu itu, benar?” Excel mulai menaiki ranjang dengan lututnya sebagai tumpuan, tangannya sibuk menanggalkan pakaian yang ia kenakan. Namun sorot matanya tak beranjak sedikitpun dari tubuh Naja.


Merasakan bahaya, Naja beringsut mundur, ia kelabakan mencari cara untuk kabur dari Excel. Dengan cepat ia menarik kakinya turun dari ranjang, tetapi Excel dengan cepat pula meraih tangan Naja dan menghempaskannya kembali ke atas ranjang.


“Aku mengiyakan kemauanmu, dan bersedia melepaskanmu suatu saat nanti. Tetapi melihatmu hari ini ... aku berubah pikiran. Aku tidak akan melepasmu sedetikpun. Bahkan tidak untuk kekasihmu itu. Tidak ada istri yang tidak ternoda bukan? Itu yang harus dipahami Tristan,” Excel menempatkan kakinya mengungkung paha Naja. Tangannya meraih dagu Naja yang basah, mengangsurkan kepalanya ke sisi telinga Naja. “Dan Syailendra juga harus mengerti ... kekasihnya sudah diperistri pria lain, tentu saja ketika ia mendapatkan kembali wanita pujaannya, dia sudah menjadi bekas.”


Manik mata Naja mengatup rapat, kata-kata Excel membuatnya marah sepersekian detik, tetapi ia segera sadar, ucapan Excel benar. Seharusnya memang ini yang terjadi. Ia sudah menjadi istri dan seharusnya dia menerima suaminya ... bukan asyik mengharap pria lain. Naja pasrah, tetapi ia menekuk tubuhnya hingga menyamping. Ia sungguh belum rela.


.


.


.


.


.


Selamat hari raya idul fitri untuk teman-teman pembaca dan author kece MT/NT ... mohon maaf lahir batin ya ...🙏


Maaf karena tak bisa menepati janji untuk update rutin selama lebaran ... intinya saya sedang ada sedikit masalah ... Alhamdulillah sudah teratasi ... semoga setelah ini saya bisa up rutin ya ... 😉


Oh ya ... saya minta satu hal saja ... untuk tetap berkomentar positif di manapun teman-teman membaca ... 😉


Itu saja ya mintanya😅 mau minta angpao lebaran juga pasti udah ngga kebagian😅


Arigatou yang masih setia menunggu othor kaleng ini update ... 😅😅

__ADS_1


__ADS_2