
Kampus
"Kak Valen, kakak udah kenal Derik berapa lama?" Tanya Trista.
"Kenapa? Suka sama dia?" Tanya Valencia.
"Bukan itu, aku cuma penasaran aja." Jawab Trista yang sudah tersipu.
"Kamu cinta pada pandangan pertama?" Tanya Valencia lagi.
"Ga ada!" Bantah Trista yang wajahnya makin memerah.
"Kita udah kenal cukup lama, tapi kalau kamu mau tau lebih jelas dan aman, ada seseorang yang lebih tepat daripada Tomi!" Ucap Valencia.
"Siapa?" Tanya Trista antusias.
"Sebentar aku kirim pesan ke dia dulu, kamu duduk tenang aja disini." Ucap Valencia.
Setelah lima menit pesan Valencia terbaca, seseorang datang dengan nafas tersengal-sengal karena berlari. Orang itu langsung berlari begitu mendapatkan pesan dari Valencia, namun dia agak sedikit kecewa karena ada orang lain di sana.
"Nafas oke?" Tanya Valencia meledek.
"Jangan... tanya... Udah lama ga olahraga sambil senam jantung!" Jawab Rian.
Wajar saja Rian panik karena isi pesan yang dikirim Valencia adalah,
"Cepat ke taman kampus! Tolong! Ini darurat!"
"Ini siapa? Pacar kakak?" Tanya Trista menunjuk Rian.
"Ini temannya Derik, mereka udah saling kenal dari SMP." Jawab Valencia.
"Tapi kok pandangan mata kalian sama dengan kakek dan nenek?" Tanya Trista lagi.
Bugh!
Valencia memukul kepala Trista karena tak terima dikatai mirip nenek angkat Trista yang sudah sangat berumur. Trista hanya bisa meringis mendapat pukulan Valencia, dia tak sekuat dan secepat itu untuk melawan Valencia.
"Ada apa?" Tanya Rian.
"Ini, ada yang suka sama calon istri kamu." Jawab Valencia.
"Hah?! Kamu suka sama Valencia?!" Tanya Rian dengan ekspresi super kaget.
Bugh!
Kali ini Trista yang memukul kepala Rian, pertanyaan itu sangat merendahkan dirinya yang seorang perempuan normal. Trista hendak memukul lagi, namun ucapan Valencia membuatnya berhenti.
"Siapa yang izinkan kamu pukul? Orang milikku hanya bisa ditindas olehku!" Ucap Valencia.
"Milikku? Jadi aku sebenarnya udah dianggap?" Batin Rian senang.
"Lanjut ke topik, ceritakan apa yang Anda ketahui tentang Derik!" Perintah Trista.
"Bukannya kamu orang kaya? Kenapa masih tanya aku kalau bisa suruh orang selidiki?" Tanya Rian.
"Sahabat adalah yang paling tau tentang kamu." Jawab Trista.
"Pertama, apa alasan Anda ingin mengetahui tentang sahabat saya yang bernama Derik?" Tanya Rian.
"Jawab atau aku hancurkan perusahaanmu!" Ancam Trista.
"Cucu angkat sultan negeri seberang ini emang semena-mena sama pengusaha kecil!" Ucap Rian geram.
__ADS_1
"Satu panggilan maka perusahaanmu jadi milikku." Ucap Trista dengan senyum liciknya.
"Ampuni rakyat biasa ini, Tuan Putri Trista." Ucap Rian memohon.
"Maka jawab pertanyaan tadi." Ucap Trista.
"Derik itu bukan dari keluarga kaya, hidupnya sederhana di rumah yang ada di perkampungan kumuh kota ini. Dia cinta kebersamaan dan kesederhanaan, hidupnya diisi dengan kerja keras." Ucap Rian mulai menjelaskan.
"Lalu?" Tanya Trista.
"Kalau kamu suka sama dia, kamu jangan pernah bohongin dia tentang hal besar dan pastikan keluarga kamu nerima keadaan keluarganya." Ucap Rian.
"Keluarga.... aku rasa mereka ga akan setuju...." Ucap Trista pesimis.
"Tapi bukannya kamu cuma cucu angkat? Lagi pula kamu itu asli dari negara ini dan bukan dari negara mereka, seharusnya kamu bisa untuk menentukan pilihan kamu sendiri 'kan?" Tanya Valencia.
"Aku tanya mereka dulu, mungkin aku punya sedikit kebebasan." Ucap Trista.
Trista pengeluaran ponselnya dan menelfon ayah angkatnya, dalam deringan ketiga panggilan dijawab.
"Halo, ayah." Ucap Trista.
"Ya, ada apa?" Tanya ayah angkat Trista.
"Begini, aku suka sama seseorang dari keluarga sederhana...." Trista belum selesai bicara.
"Lupakan dia atau keluar dari keluarga." Ucap Ayah Trista santai.
"Apa?" Trista kaget.
"Kuberi kau waktu satu hari, jangan hancurkan masa depanmu." Ucap ayah angkat Trista dan langsung memutuskan panggilan.
"Ternyata anak angkat sultan juga ga punya kebebasan memilih pasangan." Ucap Valencia memeluk Trista.
"Pulang nanti ikut aku untuk menentukan pilihan, apapun yang kamu pilih aku ga akan ikut campur tangan." Ucap Rian.
"Ikut aja, nanti juga tau." Jawab Valencia yang sudah tau kemana tujuan Rian.
"Oh iya, Michael tiga hari ini ngambil cuti? Seharusnya dia ada pemotretan, tapi kenapa diundur?" Tanya Trista.
"Iya, lagi liburan romantis sama Devina." Jawab Valencia.
Tiga hari lalu
"Jadi.... kau melihat jelas punggungnya?" Tanya Devina dengan tatapan mematikan.
"Em... Cuma... Cuma sedikit." Jawab Michael yang berkeringat dingin.
"Kalau cuma sedikit kenapa bisa tau ga ada luka?" Tanya Devina.
"Ya 'kan aku mau pastiin dia yang asli atau palsu, makanya aku liat. Aku berani sumpah aku cuma lihat punggung sama lehernya aja!" Ucap Michael berlutut.
"Valen, ambil buah durian yang tadi dibeli!" Perintah Devina.
"Udah aku bawa dari tadi, udah aku belah juga." Jawab Valencia sambil tersenyum.
"Bagus, kita habiskan sekarang!" Devina duduk.
Dua orang itu makan dengan senangnya di depan Michael, sementara itu Michael yang tangannya digantung hanya bisa melihat. Setelah selesai makan mereka meletakkan kulit durian di lutut Michael, itu hukuman yang sudah lama tak dilakukan oleh mereka.
"Peraturan lama, satu hari dua belas jam. Selingan istirahat satu jam, dilakukan lima hari berturut-turut." Devina tersenyum senang.
"Selamat menikmati penyiksaan!" Valencia tersenyum sangat bahagia, dia sangat suka melihat orang menderita karena Devina, dirinya adalah pengecualian tentunya.
__ADS_1
...............
"Kita mau kemana?" Tanya Trista yang berboncengan dengan Valencia.
"Nanti juga tau, tapi jangan kaget kalau udah sampai." Jawab Valencia.
Setelah beberapa menit mereka sampai di tempat tujuan, itu adalah rumah Derik. Trista bingung mengapa dia dibawa ke tempat itu.
"Ini rumahnya Derik, apa pilihan kamu?" Tanya Rian.
"Aku......" Trista terlihat agak ragu.
"Pikirkan baik-baik, apa kamu mau kehilangan semua harta dan status yang udah kamu dapatkan selama menjadi anak angkat seorang sultan?" Tanya Valencia.
Trista terdiam sesaat, dia mengambil nafas dalam lalu menghembuskannya perlahan. Dia mengambil ponselnya dan menelpon ayah angkatnya.
"Ada apa? Sudah punya keputusan? Ayah harap kamu membuat pilihan yang tepat." Ucap ayah angkat Trista.
"Ya, aku udah punya keputusan." Jawab Trista.
"Entah kau akan membuatku terkejut atau tidak?" Ucap Valencia dalam hati.
"Oh? Apa itu?" Tanya ayah angkat Trista.
"Urus aja pemutusan hubungan kita, aku akan belajar untuk mandiri." Jawab Trista.
"Sebuah kejutan, entah kau bisa melewatinya atau tidak? Aku rasa menurut pengalamanmu ini takkan sulit, justru sangat mudah." Batin Valencia.
"Apa?! Kamu yakin? Semua harta ini...."
"Semua harta itu sudah kalian suami-istri dapatkan dan anak perempuan kalian aman, jadi aku udah ga lagi berguna 'kan?" Ucap Trista menyela.
"Awalnya kamu memang digunakan sebagai alat, tapi sekarang kami sudah anggap kamu sebagai anak kami sendiri." Ucap ayah angkat Trista.
"Semua saingan yang berusaha untuk menjatuhkan kalian sudah musnah dan tak memiliki kemampuan lagi, jadi biarkan aku melakukan hal yang aku inginkan. Ini keputusanku sendiri, jangan pernah berani untuk menyulitkan dia." Ucap Trista tegas.
"Baik, ayah janji tak akan menggangu kehidupannya dan kamu. Tapi.... apa ayah boleh sesekali lihat kamu di sana?" Tanya ayah angkat Trista.
"Tentu, asal kalian jangan ganggu dia." Jawab Trista.
"Baik, ayah janji." Ucap ayah angkat Trista lalu memutus panggilan.
"Yakin dengan keputusan ini?" Tanya Valencia.
"Tentu, dengan ini aku bisa lebih leluasa untuk menjalankan bisnis." Jawab Trista.
"Perusahaan yang ada disini milik kamu sendiri?" Tanya Rian.
"Dulu pernah ada perjanjian, kalau hubungan diputuskan maka perusahaan itu jadi milikku." Jawab Trista.
"Ya udah, kita pulang aja." Ucap Valencia menyalakan motornya.
"Tunggu, Trista bisa bawa motor, 'kan?" Tanya Rian.
"Iya, kenapa?" Jawab Trista lalu balik bertanya.
"Kamu bawa aja motor Valen, aku mau ngomong sesuatu sama dia." Jawab Rian.
"Cih, apalah dayaku yang jomblo." Trista memutar mata.
"Ngomong apa?" Tanya Valencia yang belum ngeh.
"Udah naik aja, sekalian cari makan berdua." Jawab Rian.
__ADS_1
"Aku ga diajak?" Tanya Trista dengan wajah cemberut yang membuatnya tambah imut, tentunya Rian kebal terhadap pesona itu karena yang lebih mempesona ada di depannya.
"Pulang aja sendiri, Valencia biar nanti aku yang antar pulang." Jawab Rian santai.