KEMBALINYA SANG AKTRIS

KEMBALINYA SANG AKTRIS
Tentang Hati


__ADS_3

Waktu makan siang di perusahaan Rian, Be Yourself. Seorang pria duduk di kursi presdir dan tampak kelelahan, bukan karena kerjaan, tapi karena seorang gadis cantik yang telah menjadi pujaan hati selama bertahun-tahun. Di tangannya menggenggam setangkai bunga mawar yang telah layu.


"Hoi! Melamun aja, udah makan siang belum?" Tanya seorang gadis menepuk pundak pria itu, dia membawa dua kotak bekal makan siang.


"Ga nafsu, Kak." Jawab pria itu, Rian.


"Makanya kalo suka itu ditembak, bila perlu tembak mati." Ucap Nandini mengejek adik semata wayangnya itu.


"Kakak ini bukannya bantu malah ngejek, bantuin napa!" Kesal Rian.


"Kalo Valencia itu perempuan biasa kakak bisa bantu, tapi perempuan yang bisa ngurus dua tempat usaha dan menuntut ilmu sekaligus itu rada susah. Dia itu selain mandiri juga susah ditaklukkan, meski ada peluang berhasil dengan cara biasa itu pasti cuma sepuluh persen." Nandini membuka bekal miliknya.


"Meski cuma satu persen juga harus dicoba, tolonglah adikmu tersayang ini." Rian memohon.


"Nanti aku kasih buku panduan edisi super terbatas yang cuma ada satu di dunia, aku sendiri penulisnya." Ucap Nandini.


"Itu mah perlu waktu lagi buat nulisnya, aku mau secepatnya." Keluh Rian.


"Kalau makan siang kamu habis nulisnya dipercepat dan akan selesai dalam tiga hari." Ucap Nandini.


"Laksanakan!" Rian membuka bekal makan siangnya dan makan dengan lahap sementara Nandini hanya tertawa kecil karena berhasil membodohi adik kecilnya.


Sesuai janji, tiga hari kemudian Nandini memberikan sebuah buku panduan untuk Rian. Dengan cepat bocah kecil itu merampas buku tulis di tangan kakaknya, dia dengan serius membaca isi buku sementara pekerjaan di bebankan seutuhnya pada Nandini.


"Membunuh adik yang gila cinta dan ga ingat kerjaan ga masalah, 'kan?" Kesal Nandini ketika semua dokumen itu bertumpuk di atas mejanya, sementara Rian dengan riang gembira membaca buku panduan.


Setelah puas membaca berulang-ulang sepanjang hari, Rian memutuskan untuk mengejar Valencia dan lebih dekat dengannya. Dia memulai dengan menunggu Valencia di kampus, namun selama tiga hari berturut-turut Valencia selalu tiba lebih dulu darinya.


"Apa aku harus datang lebih awal?" Pikir Rian.


Di hari ke empat Rian datang jauh lebih awal, namun lagi-lagi keberuntungan tak memihak padanya.


"Apa?! Ga masuk?" Pekik Rian saat mendengar jawaban Amelia.


"Iya, hari ini dia ga datang, kenapa?" Tanya Amelia.


"Ga papa, cuma penasaran aja." Jawab Rian.


"Aish... Gengsinya cowok itu emang tinggi, ntar diembat yang lain galau sendiri." Ucap Amelia.


"Hah?" Rian bingung.


"Mau ngejar dia itu gampang-gampang susah. Dia itu tau seseorang tulus sama dia atau nggak dan super ketat, jadi lu harus berjuang sampai titik darah penghabisan." Ucap Amelia prihatin sambil menepuk-nepuk bahu Rian.


"Apa-apaan tuh ekspresi?" Kesal Rian.


"Ga papa, cuma kasian aja sama orang yang suka ama si Valencia." Jawab Amelia.


"Amel!" Panggil Tomi yang baru saja tiba.

__ADS_1


"Kenapa?" Tanya Amelia.


"Em... Itu.... lu punya kontak Anisa?" Tanya Tomi canggung.


"Nasib gua gini amat, pada pengen tau ama sahabat gue tapi guenya kapan?" Amelia mengasihani dirinya sendiri.


"Aish... Itu tinggal tunggu aja di masa depan, sahabat lebih penting dari diri sendiri. Cepetan, minta kontak Anisa!" Desak Tomi.


"Makanya sebelum dia pergi minta!" Ketus Amelia sambil memberikan kontak Anisa pada Tomi.


"Ada apa nih?" Tanya Derik yang telat nimbrung karena tali sepatu lepas.


"Rik, lo masih sendiri? Ama gue mau ga?" Tanya Amelia.


"Ogah gue ama nenek lampir!" Jawab Derik dengan tegas dan menusuk jiwa jomblo Amelia.


"Yang lain udah pada punya gebetan, nah karena kita ga punya apa salahnya coba-coba?" Amelia sedikit memohon.


"Bodo, lagian kalo ga hari ini ya gue bakal ketemu jodoh gue besok." Ucap Derik menolak sepenuhnya.


"Kapan kejombloan gue hilang ya Tuhan!!!" Teriak Amelia frustasi.


Tak ada yang perduli dengan teriakan Amelia, semua sibuk dengan hal masing-masing. Tomi sibuk dengan mengirimi pesan pada Anisa, Rian sedari tadi termenung meratapi kegagalan empat hari berturut-turut, dan Derik sibuk memperhatikan orang-orang yang melewati gerbang seakan sedang menanti seseorang.


"Kalian ga ada niatan pergi ke kelas?" Tanya Amelia.


"Astaga hari ini Bu Sugi!" Derik berlari dengan cepat.


Bruk!!!


Karena terburu-buru Derik tanpa sengaja menabrak seseorang, dengan cepat Derik membantunya membereskan buku mereka yang berantakan.


"Maaf, ga sengaja!" Ucap Derik yang tangannya bergerak dengan cepat mengambil buku miliknya dan beberapa buku milik orang itu.


"Ga papa, saya tadi juga jalan ga liat-liat." Suara seorang gadis.


Derik mendongak dan menatap wajah gadis yang dia tabrak tadi. Rambut yang dikuncir dua dan dihiasi pita berwarna merah, mengenakan kacamata, tatapan mata meneduhkan, senyum yang begitu manis.


Deg!


Jantung Derik berdetak kencang, seakan-akan ingin melompat keluar. Dia menatap gadis imut di depannya tanpa berkedip, matanya seakan telah tersihir hingga hanya bisa menatapnya. Di saat itu Derik kembali teringat dengan perkataannya beberapa saat lalu,


"Lagian kalo ga hari ini ya gue bakal ketemu jodoh gue besok."


"Halo..." Gadis itu melambaikan tangannya di wajah Derik karena Derik tak meresponnya ketika berbicara.


"Derik! Lu mau telat?!" Teriak Rian.


"Gawat! Bu Sugi!" Derik langsung tersadar dan berlari secepat kilat.

__ADS_1


"Hm? Aku ditinggalin gitu aja?" Gadis imut itu memiringkan kepalanya sedikit dan cemberut.


..........


"Aish..... untung ga telat!" Derik merasa lega karena Bu Sugi belum tiba.


Ruangan yang tadinya ribut tiba-tiba senyap, Derik yang menyadari hal itu langsung merapikan diri karena Bu Sugi sudah datang. Seperti biasa wanita itu datang dengan berpakaian rapi dan wajah datarnya, dia sudah siap menagih tugas para mahasiswa.


"Derik, mana tugas kamu?" Tanya Bu Sugi.


"A... anu, Bu. I... itu..." Derik tergagap.


"Mana?!" Tagih Bu Sugi dengan suara auman singanya.


"Pasti ketukar pas tabrakan tadi!" Ucap Derik dalam hati ketika melihat sebuah buku asing.


"Permisi...." Seseorang mengetuk pintu.


"Ada apa, Pak?" Tanya Bu Sugi.


"Ini ada yang kesasar, dia murid pindahan." Jawab Pak Heru yang datang bersama seorang mahasiswi.


"Dia bukannya yang tadi?" Derik memicingkan matanya demi melihat jelas wajah gadis itu.


"Oh, silahkan duduk di pojok sana, perkenalan diri bisa nanti." Ucap Bu Sugi menunjuk sebuah kursi.


"Baik, Bu." Gadis itu berjalan menuju tempat yang ditunjukkan.


"Kalau begitu saya permisi dulu, Bu." Ucap Pak Heru.


"Baik, Pak." Ucap Bu Sugi ramah.


"Itu... Bukunya tadi ketukar, yang itu punya aku." Gadis itu menunjuk buku yang dipegang Derik.


"Ini buku kamu?" Tanya Bu Sugi menunjuk buku yang dipegang Derik.


"Iya, itu buku saya." Jawab gadis itu.


"Kalau gitu mana buku dia?" Tanya Bu Sugi.


"Ada sama saya, ini." Jawab gadis itu memberikan sebuah buku pada Bu Sugi yang tak jauh tempat duduknya.


"Hari ini kamu selamat, kalau lain kali kamu ga bawa maka kamu tau sendiri akibatnya!" Ucap Bu Sugi memperingatkan setelah melihat buku itu.


"Baik, Bu." Ucap Derik tertunduk.


"Kamu, mana tugasnya?" Bu Sugi lanjut menagih tugas.


"Fiuh.... Selamat, untung aja datang tepat waktu." Batin Derik lega.

__ADS_1


"Untung cuma kesasar sebentar, kalo telat ngasih dia pasti kena hukum." Gadis itu tersenyum.


Pelajaran dimulai, lima mahasiswa yang tak mengerjakan tugas harus belajar berdiri selama setengah jam. Derik sangat fokus dalam belajar, hal itu menarik perhatian seorang mahasiswi baru yang sangat imut. Jika ada kesempatan maka akan melirik Derik sekilas lalu mulai menggores ujung pensil di atas selembar kertas putih polos.


__ADS_2