
Jieru saat ini entah berada di mana, dia hanya bisa melihat tempat seperti di sebuah desa namun tak dapat melihat wajah orang yang ada disana. Semua terlihat jelas, hanya saja orang-orang yang ada hanya seperti bayangan hitam. Didepannya ada dua orang, sepasang suami-istri yang sedang memperhatikan sekelompok anak-anak bermain dihalaman rumah.
"Apa yang kau lakukan?"
"Tak ada, hanya sedang berandai."
"Oh? Kau berandai tentang apa?"
"Andai saja keadaan terus seperti ini, keluarga kita hidup dengan tenang dan damai."
"Istriku tenang saja, suamimu ini pasti akan melindungi keluarga kita dengan baik."
"Sayangnya aku tak mempercayai kata-katamu."
"Aku tau apa yang kau khawatirkan, selir Yao pasti tak akan menyerah untuk mencari kita. Jangan khawatir, selama aku hidup aku akan selalu melindungi kalian. Lagipula Gu Cheng dan Han juga ada, Minghao juga sudah tumbuh menjadi anak laki-laki yang kuat."
"Ya, aku tau. Selir Yao adalah orang yang kejam, dia bisa melakukan apapun demi bisa melenyapkan kita*."
"Selir Yao? Melenyapkan?" Jieru bingung, dia kembali mendengar percakapan dua orang itu.
"Tenanglah, jangan merusak ketenangan yang ada sekarang dengan kekhawatiranmu."
"Baiklah, baiklah. Oh, suamiku, apa kau sudah menyirami tanaman hias didepan?"
"Ah... itu... em..."
"Sudahlah, kau memang tak bisa diandalkan untuk mengurus rumah. Aku saja yang melakukannya."
"Apa yang aku lakukan disini? suara mereka tampak tak asing." Jieru berpikir sejenak, "Tunggu! Si wanita memiliki suara yang mirip sepertiku! Dan si pria..... hm... seperti pernah mendengar, tapi dimana?" Batinnya.
"Eh? Kalian sudah selesai? Mau ibu bantu sesuatu?"
"Suara ini.... kenapa tak asing sekali? Mengapa... akh..." Kepala Jieru terasa sakit.
"Ah, tidak perlu. Apa anak-anak sudah pulang bermain?"
"Ya, sekarang mereka sedang membantu Lian Xia menyiapkan makan siang."
"Oh? Tumben sekali mereka membantu? Biasanya mereka akan pulang lebih siang agar tak dimintai bantuan."
"Sudahlah suamiku, bukankah bagus jika mereka pulang bermain lebih awal untuk membantu Lian Xia? Sebaiknya kita membersihkan diri dulu."
"Aku akan turuti perkataan istriku yang manis ini."
"Bicara manis setiap hari, jangan pernah terkejut jika bibirmu itu habis dimakan oleh semut."
"Bukankah jika itu terjadi kau yang akan terkejut dan tak rela?"
"Masih mau menggoda?"
"Hey hey hey!!! Aku ini suamimu, turunkan pemotong rumput itu!!"
"Suamiku yang penakut, sangat menggemaskan."
"Jika kau mau kau bisa mencubit pipiku setiap saat seperti ini."
__ADS_1
"Berhenti bicara, aku sudah lapar."
"Baik istriku~~~~"
"Hentikan nada manja itu!! Kau seorang ayah sekarang!! Anak-anakmu sudah hampir 3 tahun!!"
"Weiheng, jangan buat jieru marah, kau tau bagaimana jadinya jika dia sudah membalasmu."
"Hehe... Baik, ibu mertua."
"Aku?! Weiheng?! Ibu mertua?! Apa-apaan ini?! Weiheng adalah salah satu orang yang mencoba untuk membunuhku, bagaimana bisa dia adalah suamiku?! Ini... apa-apaan sebenarnya semua ini?!?!?! Akh!!!!" Kepala Jieru terasa semakin sakit.
"*Ayah!! Zhishu sudah bisa mengalahkan kakak dalam latihan pedang bersama ibu hari ini!! Bukan Zhishu sangat hebat?"
"Hey..... kau hanya menang satu kali dari 5 pertandingan."
"Ibu~ kakak sangat menyebalkan~ Walau hanya sekali tetapi Zhishu kan tetap menang~~~"
"Berhenti bersikap manja didepan ibu, kau selalu berpura-pura manja agar ibu membelamu."
"Lihat? Bwee.. aku tetap lebih hebat darimu, ibu saja tak mengatakan apapun yang membelamu."
"Ibu~~~~"
"Minghao, jangan selalu mengganggu adikmu."
"Hehe.... baik, ibu."
"Jieru, bawa anak-anak masuk untuk mandi, kau juga cepat bersihkan dirimu."
"Hentikan senyum konyol mu dan singkirkan pemikiran seperti itu, kau bahkan mengatakan hal konyol itu didepan anak-anak."
"Cih, dasar Weiheng!"
"Ibu, ayo masuk."
"Ya*."
"Apa.... ini kehidupanku sebelum hilang ingatan? Mengapa...... aku dalam bagian dari orang-orang yang telah berusahalah membunuhku dan hidup bahagia? Apa.... mereka semua sebentar sedang berpura-pura? Tapi anak-anak itu..... apa benar jika mereka adalah anakku? Mengalami..... mengalami semua hal ini membuatku sangat bingung, sebenarnya siapa diantara tuan dan komplotan itu yang merupakan orang baik?!" Jieru mencoba mengingat, namun kepalanya malah terasa semakin sakit.
"Ibu.....tidak...."
"A.... apa yang terjadi?! Mengapa orang itu membunuh seorang wanita?! Siapa mereka?!" Jieru menyaksikan kembali tragedi yang menyebar selir Jiao tewas.
"Ibu!! Tolong buka matamu, ibu!! Jangan menakutiku!! Aku mohon!! Ibu......"
"Nenek!!! Nenek bangun!! Minghao masih ingin mendengar cerita nenek, masih ingin dipeluk nenek!! Huhuhu..... Huaaa......"
"Nyonya!! Nyonya Jiao, bangun!!"
"Jiao!! Nyonya Jiao!! Selir Jiao!! Dia ibuku!! Haaa!!!!!! Mengapa aku harus melupakan semua ingatkanku yang sebelumnya!!!!! Mengapa!!! Mengapa aku harus mengalami ini?! Mengapa aku harus dalam kebingungan?! Sebenarnya siapa yang teman dan siapa yang musuhku?! Hentikan hal ini sekarang juga!!!" Jieru semakin frustasi, kepalanya seperti ingin pecah dan hancur berkeping-keping.
Jieru terbangun dari tidurnya dengan tubuh yang berkeringat, bajunya hampir basah kuyup karena keringat.
"Syukurlah hanya mimpi." Jieru merasa lega, "Tunggu... Apa-apaan ini?!" Jieru terkejut ketika melihat kedua tangan dan kakinya diikat di setiap siku ranjang.
__ADS_1
"Nona sudah bangun? Maaf, aku terpaksa mengikat nona karena nona terus mengigau sepanjang malam, aku bahkan ditendang dan dicakar beberapa kali ketika sedang mengikat nona." Seorang pria berbaju hitam yang sangat tertutup datang sambil membawa semangkuk mie dan segelas air.
"Di siang hari berpakaian seperti itu, apa kau tak dianggap aneh?" Tanya Jieru.
"Tak ada yang memperhatikan ketika aku berbelanja." Jawab pria itu.
"Kau memasak sendiri? Apa ini untuk pertama kali? Apa kau yakin ini aman dan tak akan membunuhku?" Tanya Jieru.
"Nona biasanya hanya diam dan tak banyak bicara, sekali bicara pasti sangat dingin. Sekarang... agak berbeda." Kata pria itu.
"Berbeda.... ya? Aku rasa.... memang ada sesuatu yang aneh. Aku akan menemui tuan untuk mencari tau!" Jieru beranjak.
"Jangan keluar untuk sementara!! Nona harus istirahat atau nona tak akan memiliki tenaga, nona bisa saja kehilangan kesadaran sebelum tiba di tempat tuan Zhang." Pria itu memperingatkan.
"Cih! Galak sekali, seperti ibu. Kalian para pria sangat cerewet!!" Ketus Jieru, setelah mengeluarkan kata-kata itu Jieru malah terdiam dan bingung sendiri.
"Aku rasa kebiasaan nona di masa lalu sedikit demi sedikit kembali, mungkin nona bisa segera mengingat kembali." Kata pria itu sambil menyerah mie pada Jieru dan menaruh air yang dia bawa diatas meja.
"Entahlah, aku harap bisa segera mengingat." Jieru memakan mie sambil sedikit melamun, entah pergi kemana pikirannya saat itu.
......................
Malam hari
"Mau ke mana?" Tanya pria yang baru saja masuk dan melihat Jieru sedang merapikan pakaian hitamnya.
"Menemui tuan Zhang, aku sudah merasa lebih baik." Jawab Jieru.
"Baiklah, Hati-hati di jalan." Kata pria itu.
Jieru tak mengatakan hal apapun dan langsung menghilang.
Kamar pribadi Zhang Bingjie
"Aku rasa sebaiknya aku masuk lewat jendela saja." Batin Jieru.
"Apa kau yakin rencanamu akan berhasil?" Suara wanita.
"Tunggu.... ini.... suara selir Yao, kan? Rencana? Apa maksudnya dengan rencana?" Jieru makin penasaran.
"Tentu saja aku yakin, kita harus memanfaatkan keadaan dengan baik. Jieru lupa ingatan, sangat mudah untuk membuatnya berada di pihak kita." Jawab Zhang Bingjie.
"Ku sungguh tau bagaimana cara untuk memanfaatkan sebuah kesulitan seseorang menjadi keberuntungan. Memang pantas menjadi menantuku!" Kata selir Yao.
"Tentu saja, tak lama lagi aku akan menghancurkan mereka semua. Jieru yang lupa ingatan akan menghabisi anak-anak, suami, dan teman-temannya sendiri!! Setelah itu maka kita bisa menghabisinya juga." Kata Zhang Bingjie sambil meminum anggur.
"Kalian menipuku? Jadi... aku sudah melakukan kesalahan dengan memusuhi mereka yang bersembunyi di hutan terlarang?!" Jieru merasa sedikit kesal dan kecewa pada diri sendiri.
"Baiklah, jangan bahas yang lain dulu. Apa kau akan membuatku menunggu lebih lama?" Tanya selir Yao yang sedari tadi duduk diatas ranjang.
"Tenanglah, seperti biasa aku akan memuaskanmu." Zhang Bingjie beranjak dari tempatnya dan naik ke atas ranjang.
"A... apa... apa yang mereka lakukan?! Bukankah mereka menantu dan ibu mertua?! Mengapa mereka melakukan hal itu?! Hal menjijikkan itu?!" Jieru yang terkejut langsung pergi.
"Dia.... pasti mendengar sesuatu dan akhirnya pergi. Aku harus melapor pada putra mahkota!" Pria yang bersama Jieru sebelumnya meninggalkan pohon tempat dia mengintip Jieru dan melaporkan keadaan Jieru.
__ADS_1
Bersambung......