
Fa'iz memutuskan untuk menginap di hotel, dia mencoba menelfon Trista berkali-kali namun sepertinya dia sudah diblokir. Di tengah malam dia pergi ke kediaman Chandra, namun sesuai perintah Valencia para penjaga mengusirnya. Fa'iz menunggu di kampus, dia berharap bisa bertemu dengan putra sulungnya itu.
"Derik! Mau mie ga?" Sebuah suara teriakan yang memanggil Derik membuat Fa'iz menoleh kearah parkiran.
"Wuih! Kebetulan semalam kita ga makan!" Derik menghampiri Rian, Tomi mengikuti dibelakangnya.
"Nak....." Ucap Fa'iz lemah.
"Woi! Makan bagi-bagi dong!" Protes Valencia yang baru saja tiba bersama Amelia dan Trista.
"Sini bagi!" Trista merampas mangkuk mie di tangan Derik.
"Astaga, tinggal pesan apa susahnya sih? Oh, iya, hari ini Trista yang traktir kita." Ucap Rian santai.
"Hug! Uhuk uhuk uhuk! Wah.... ga bisa gitu dong, yang ngajakin dong yang bayar!" Protes Trista.
"Lah gue kan ngajakin Derik, lo kagak masuk itungan jadi lu aja yang bayar." Ucapan Rian itu membuatnya mendapatkan sebuah pukulan keras di punggungnya sampai membuatnya tersedak.
"Woi! Kalo mau mukul liat-liat dong! Dia lagi makan tau?!" Protes Valencia sambil menepuk-nepuk pelan punggung Rian.
"Hahaha......" Sekelompok anak muda itu tertawa, si tukang mie juga ikutan ketawa.
Di kejauhan Fa'iz memandang mereka dengan tatapan bahagia bercampur sedih, dia menyesal telah menghancurkan kebahagiaan Derik di masa lalu.
.........
"Ibu, Derik pulang." Ucap Derik saat mengetuk pintu.
"Kamu udah pulang? Syukurlah ga terlalu larut hari ini pulangnya." Ucap Ibu Derik saat membuka pintu dan melihat putra sulungnya.
"Bos bilang hari ini ramai jadi makanan cepat habis, Derik sama Tomi jadi bisa pulang lebih cepat dan beli makanan juga tadi." Ucap Derik mencium tangan ibunya dan memberikan kantong plastik berisi makanan.
"Kak!!!" Adik-adik Derik keluar dan memeluk Derik.
"Kalian belum tidur?" Tanya Derik.
"Nungguin kakak!" Jawab kedua adik Derik serempak.
"Ya udah, sementara kakak mandi kalian makan dulu ya." Rian menunjuk makanan di tangan ibunya.
"Hore!!!!!" Mereka masuk dengan cepat.
"Maaf..... Mungkin kalau aku ga terlalu terbawa nafsu, mungkin hidup kalian akan lebih baik dari ini." Ucap Fa'iz yang terus mengikuti Derik.
Tok tok tok
"Iya, siapa?" Tanya ibu Derik sambil membuka pintu, dia terdiam saat melihat Fa'iz.
"Boleh aku masuk?" Tanya Fa'iz.
"Ya, silahkan." Jawab ibu Derik mempersilahkan.
"Mana anak-anak kamu?" Tanya Fa'iz.
"Itu lagi tidur, kecapean setelah seharian main." Jawab ibu Derik menunjuk sudut ruangan.
"Maaf...." Ucap Fa'iz lemah.
"Maaf untuk apa?" Tanya ibu Derik.
__ADS_1
"Untuk perbuatanku di masa lalu, perbuatan yang membuat kalian jadi menderita." Jawab Fa'iz lemah.
"Perbuatan Anda di masa lalu sudah saya maafkan, jika tidak ada urusan lain kamar silahkan pergi. Saya seorang janda, orang akan berpikir yang tidak-tidak jika Anda terlalu lama berada di sini." Ucap ibu Derik.
Jlek!
Kata 'anda' membuat Fa'iz menyadari jika kini dia bukan siapa-siapa lagi, semua hal dan panggilan manis itu semuanya sudah sirna ditelan waktu.
"Ibu, udah malam kok belum tidur?" Tanya Derik.
"Ada tamu, ga enak kalau tidur sekarang." Jawab ibu Derik.
"Ibu tidur aja, biar Derik yang nemenin tamu." Ucap Derik.
"Ya udah, kamu tolong temenin." Ibu Derik pergi.
"Ada urusan apa Anda kemari?" Tanya Derik sambil memberikan segelas teh.
"Nak, ayah...." Belum selesai Fa'iz bicara Derik menyela.
"Maaf, Anda ada urusan apa?" Tanya Derik lagi.
"Saya.... hanya ingin menemui mantan istri dan anak saya." Jawab Fa'iz yang sudah mengerti jika dia kini hanya orang asing hingga diperlakukan seperti itu.
"Maaf, tapi saya tidak melihat mantan istri dan anak Anda, saya rasa Anda salah rumah. Lagipula saya tidak bisa melihat ada aura seorang ayah pada diri Anda." Ucap Derik.
"Nak, ayah tau ayah salah waktu itu, tapi sekarang ayah udah menyesalinya." Ucap Fa'iz.
"Maaf, sepertinya Anda belum puas dengan menyakiti kami?" Tanya Derik menyinggung.
"Derik, ayah..." Lagi-lagi Fa'iz disela.
"Apa Anda merasa pantas untuk dipanggil ayah? Saya rasa tidak sedikitpun!" Ucap Derik.
"Jika Anda menyesal mengapa tidak kembali?! Apa Anda tau apa yang ibu saya alami setelah kejadian itu?! Ibu saya keguguran karena stress!! Darah daging Anda sendiri harus pergi sebelum melihat dunia, itu karena perbuatan Anda!!!" Derik mulai emosi.
"A... Ayah ga tau kalau ibu kamu keguguran! Ayah bahkan ga tau kalau ibu kamu hamil waktu itu!" Ucap Fa'iz yang semakin merasa menyesal.
"Apa Anda tidak bisa memastikannya dulu sebelum melakukan hal itu?! Anda sudah membunuh anak Anda sendiri saat itu!! Disaat istri Anda membutuhkan Anda, mengapa Anda malah menceraikannya?! Mengapa?!" Tanya Derik dengan penuh emosi.
"Maaf....." Hanya kata itu yang bisa Fa'iz ucapkan.
"Maaf? Kami sudah memaafkan Anda sejak dulu, apa jika Anda mengucapkannya maka adik saya itu bisa kembali hidup?!" Bentak Derik.
"Ya, bisa!" Ucap seorang gadis yang tiba-tiba muncul di depan pintu.
"Jika kau anaknya maka jangan ikut campur! Ini urusan kami 'mantan' keluarga!" Ucap Derik.
"Kakak bilang kehilangan adik, maka aku bisa menjadi adik kakak itu." Ucap gadis itu.
"Ailiza, kenapa kamu bisa ada disini?" Tanya Fa'iz.
"Awalnya mau lihat calon kakak ipar, ternyata malah ketemu kakak satu ayah beda ibu." Jawab Ailiza.
"Aku bukan kakakmu, aku bukan bagian dari keluarga bahagia kalian!" Ketus Derik.
"Kak...." Ailiza mencoba mendekat.
"Jangan panggil aku kakak dan jangan mendekat sedikitpun!!" Bentak Derik.
__ADS_1
"Kakak harus tetap tenang, semua bisa diselesaikan dengan kepala dingin." Ucap Ailiza semakin mendekat.
"Ga ada urusannya sama...." Belum selesai Derik bicara Ailiza sudah menyuntikkan sesuatu di pundaknya yang membuatnya pusing dan melemah.
"Ailiza! Apa yang kamu lakukan?!" Teriak Fa'iz membuat adik-adik Derik terbangun.
"Bawa mereka semua! Jangan sampai ada yang lepas!" Perintah Ailiza.
Sekelompok orang masuk dan langsung melumpuhkan Fa'iz, ibu dan adik-adik Derik juga ditarik paksa oleh mereka. Ailiza sudah mempersiapkan semua, orang-orang itu membawa pistol dan menodongkannya di kepala ibu dan adik-adik Derik.
"Ailiza, apa yang kamu lakukan?" Tanya Fa'iz tak percaya dengan apa yang Ailiza lakukan.
"Bukankah sudah jelas? Aku cuma bantu ayah mendapatkan semua harta itu untukku! Jika anak har*m ini mati maka semua harta itu akan jadi milikku selamanya!" Jawab Aliza.
"Harta bukan kunci kebahagiaan abadi, Nak..." Ucap Fa'iz.
"Justru uang adalah kebahagiaan abadi! Dengan uang aku bisa beli apapun yang aku mau dan membuat semua orang iri!" Ucap Ailiza.
"Nak, berhentilah sebelum kamu menyesal di masa depan." Ucap Fa'iz.
"Bunuh mereka semua!" Perintah Ailiza.
"Baik!" Ucap orang-orang itu.
Dor! Dor! Dor!
Tiga tembakan membuat tiga orang jatuh bersimbah darah.
"Ibu!" Teriak Derik.
"Kalian ga papa?!" Tanya Valencia yang langsung memeluk adik-adik Derik.
"Huhuhu..... Kak..... Takut...." Adik-adik Derik menangis.
"Sayang.... kalian udah ga papa." Valencia mempererat pelukannya.
"Siapa kalian?!" Teriak Ailiza.
"Orang yang akan menghancurkan kamu!" Ucap Trista memukul wajah Ailiza.
"Kalian aman? Ada yang terluka ga?" Tanya Michael yang memegang pistol, tadi dia yang menembak.
"Derik! Lo ga kena tembakan 'kan?! Ga sekarat 'kan?! Ga mati 'kan?!" Tanya Rian panik.
"Lo telat! Ini cuma arwah gue yang gentayangan!" Ketus Derik, mereka tertawa.
"Kalian anak muda masih bisa ketawa setelah kejadian ini?" Fa'iz heran.
"Kesulitan apapun yang dialami, kalau ada sahabat pasti masih bisa ketawa." Jawab Derik.
"Masuk rumah sakit jiwa juga bareng!" Sambung Rian.
"Lo aja yang masuk, gue sih ga punya penyakit mental." Ucap Derik, mereka tertawa lagi.
"Kalian!!! Bunuh mereka!!" Perintah Ailiza.
Yang bergerak hanya Michael, karena cukup dia saja sudah bisa melumpuhkan orang-orang berbadan kekar itu. Tak lama setelah melumpuhkan lawan, Michael memanggil polisi yang sudah lama berada di luar.
"Bawa mereka semua ke penjara!" Perintah Rian.
__ADS_1
"Ini, makasih udah dipinjamkan." Michael memberikan pistol di tangannya ke salah satu anggota polisi.
Ailiza dan anak buahnya langsung dibawa ke kantor polisi untuk diinterogasi dan menerima hukuman, luka di lengan para bawahan itu juga di obati di sana.