
Malam hari, kamar Gea.
"Nek.... Gea juga mau dipeluk~~~" Kata Sandrina Chandra, alias Gea dengan nada manja. Nama asli dan nama panggilan Gea memang berbeda jauh, semua karena bibi Gea yang lebih suka dengan nama itu dan selalu memanggilnya Gea.
"Kamu sadar ga sih umur kamu itu udah berapa? Udah mau 21 masih aja manja!" Sinis ibu Rein.
"Pa~~~ liat tuh nenek! Masa lebih sayang sama Valencia dari Gea?" Rengek Gea pada ayahnya, Andrew, kakak tertua Rein.
"Loh?! Ga masalah dong! Justru itu bagus, biar kamu ga kemanjaan lagi!!" Ketus Justin yang baru saja datang.
"Kak Gea kemanjaan, udah tua masih minta peluk sama nenek!" Sewot Mita, gadis manis berusia 17 tahun.
"Iya tuh, kak Gea emang kemanjaan!" Sahut Gio yang datang sambil digendong sang ayah, Zack. Gio baru berusia 10 tahun, dia adalah si manis kesayangan mama Anindya, kakak ke-tiga Rein.
"Eh? Lagi ngapain? Kok ngumpul di kamar Gea?" Tanya Alvian yang baru saja ingin makan malam.
"Oom Alvian udah pulang? tumben hari ini pulang agak awal?" Tanya Gea.
"Iya, hari ini restoran tutup lebih awal." Jawab pria gagah dan sangat tampan itu.
"Mita, tugas sekolah kamu udah selesai?" Tanya Justin.
"Ya udah dong, pa! Mita gitu loh! Siswi paling cerdas disekolah!" Jawab Mita sambil membanggakan diri.
"Emang itu berkat siapa?" Tanya Alvian sambil melipat kedua tangannya di dada.
"Hehe.... berkat Oom Alvian dong!" Mita memeluk lengan Alvian.
"Nenek, kak Gea, kak Mita, mereka siapa?" Tanya Valencia yang kebingungan sejak tadi.
"Ini siapa?" Tanya Alvian yang memang belum diberitahu berita terbaru.
"Ah, tante lupa ngasih tau kamu. Ini Valencia, anak Rein sama kakak kamu." Jawab ibu Rein sambil mengusap-usap kepala Valencia.
"A... apa?!" Alvian terkejut, yang dia tau hanyalah jika kakak dan kakak iparnya sudah meninggal. Alvian kebingungan, bagaimana bisa orang yang meninggal tepat di malam pernikahan bisa memiliki seorang anak?
"Kami masih hidup, itu kenyataannya!" Rein tiba-tiba muncul.
"Kak Rein?!" Alvian semakin bingung.
"Ayah!" Valencia berlari dan memeluk Rein.
__ADS_1
"Valencia, kenalin ini paman Alvian. Dia adik kandung ibu kamu." Kata Rein.
"Paman? Jadi yang ini bibi?" Tanya Valencia sambil menunjuk Anindya yang baru saja masuk.
"Ah.... ha... hai..." Seketika Anindya tergagap dengan senyum canggung karena baru saja masuk sudah ditunjuk-tunjuk.
"Iya, ini bibi Anindya." Jawab Rein.
"Paman? Bibi? Valen punya berapa paman dan berapa bibi?" Tanya Valencia.
"Untuk sementara 5 paman dan 4 bibi." Jawab sepasang pasutri yang datang bersama ayah Rein.
"Udah pulang?" Tanya ibu Rein.
"Udah dari tadi, kamu aja yang keasikan main sama cucu baru sampai-sampai lupa sama suami sendiri." Jawab ayah Rein.
"Sadar umur bisa?" Sinis ibu Rein.
"Hahaha!! Udah udah, mending kita makan malam dulu. Kata pelayan makan malam udah siap, kita lanjut ngobrol di ruang keluarga selesai makan." Kata ayah Rein.
"Valencia, ayo ikut nenek." Ibu Rein menarik tangan Valencia dan membawanya ke dapur. Banyak makan yang Susan tersedia di atas meja, namun Valencia merasa tak nafsu makan begitu juga dengan Rein.
"Kok kalian ga makan?" Tanya Alvian.
"Valen, kalo ibu tau pasti akan sedih. Kamu mau bikin ibu kamu sedih?" Tanah Rein.
"Aku sudah berjanji dan bertekad dalam hati bahwa aku tak akan pernah membuat ibu sedih sampai kapanpun!" Valencia menggeleng lalu melahap makanan didepannya.
"Anak baik, makan yang banyak!" Shifa yang duduk di samping Valencia menaruh sepotong daging ke dalam piring Valencia.
Setelah beberapa menit makan malam, mereka berkumpul dan berbincang-bincang di ruang keluarga. Nampak Firman dan orang tuanya yang sedang serius membahas proyek panti asuhan, sesekali mereka tertawa ketika ada hak yang lucu walau Rein tak tau apa yang lucu.
"Valencia, apa kamu punya bakat khusus?" Tanya Shifa.
"Membedakan tanaman herbal dan beracun adalah keahlianku! Ku juga bisa melakukan pengobatan!" Jawab Valencia yang terlambat menerima kode dari Rein.
"Tanaman herbal dan beracun? Pengobatan? Siapa yang ngajarin?" Tanya Felix, suami Shifa alias ipar Rein yang paling kepo.
"Paman Gu Cheng!" Jawab Valencia yang lagi-lagi terlambat menerima kode.
"Lupakan, ga akan dia lihat walau aku sampai jungkir balik buat ngasih kode." Ucap Rein dalam hati sambil menatap frustasi ke arah Valencia.
__ADS_1
"Dia jago ilmu medis?" Tanya Felix yang makin kepo.
"Em!! Selama ini kita tinggal di hutan, jadi belajar banyak ilmu bertahan diri!" Jawab Valencia.
"Sekarang dia ada dimana? Oom juga mau belajar!" Tanya Felix.
"Udah meninggal~~~" Jawab Valencia dengan tatapan sedih.
"Cerdas sekali kamu, nak! Sangat alami dalam berbohong! Memang keturunan!" Rein hampir pingsan karena pusing untuk mengatur dan memberi kode pada Valencia.
"Ah.... sayang banget, padahal Oom pengen belajar juga." Semangat Felix langsung hilang.
"Valencia, ini waktunya tidur." Rein menarik tangan putri kecilnya.
"Eett!!!! Valen tidur sama aku aja!" Gea menarik tangan Valencia.
"Mending Valen tidur sama aku!! Kamar aku lebih Luas!!" Mita tak mau kalah, dia memeluk kaki Valencia erat.
"Em.... aku boneka? Kok main tarik aja?" Tanya Valencia dengan tatapan kesal.
"Jadi kamu mau pilih yang mana?" Tanya Gea dengan tatapan memelas.
"Sama kak Calvin aja!" Jawab Valencia sambil menunjuk putra tertua Andrew.
"Uhuk uhuk!! Apa?!" Pekik Andrew yang langsung tersedak ketika meminum segelas jus. Bagaimana tidak? Pasalnya Calvin adalah orang yang sangat pendiam dan tertutup, dia tak akan bicara jika tak ada yang penting.
"Em... Valencia, gimana kalo pilih yang lain?" Tawar Zalikha, istri Andrew.
"Dia udah milih, jangan ganggu lagi!" Ketus Calvin yang langsung menggendong Valencia dan membawanya ke atas.
"Dia..... Calvin?" Zalikha hanya menatap heran, yang lainnya juga hanya ternganga termasuk keluarga Anggara. Selama ini yang mereka tau Calvin tak suka dengan anak-anak, sifatnya yang dingin dan menyeramkan juga membuatnya ditakuti setiap anak yang bertemu dengannya.
"Rein, Valencia emang anak yang hebat!" Firman yang masih melongo menepuk-nepuk pundak Rein.
"Luar biasa, dia bahkan ga takut sama Calvin! Hebat! Dia punya jiwa pawang macan!" Ayah Rein melakukan hal yang sama dan ekspresi wajah yang sama pula.
"Shifa, pukul aku pake batu bata! Ada anak kecil yang bisa menaklukkan Calvin si raja es, luar biasa!" Kata Felix yang matanya terus mengikuti pergerakan Calvin hingga sosok laki-laki berusia 25 tahun itu menghilang.
"Momen langka yang tak terabadikan!" Seru Alvian.
"Valencia memang penaklukan banteng yang paling ganas! Andrew, cepat suruh Calvin nikah! Jodohin sama itu... si tukang ambil sampah juga ga apa-apa!!" Kata Zalikha yang membuat Andrew menatap kesal kearahnya.
__ADS_1
"Kamu tau ga sih kalo yang jadi tukang ambil sampah itu cowok dan bukan cewek?" Andrew menatap sinis.
Bersambung.....