
"Permisi, menurut laporan kalian sudah bisa pindah rumah malam ini juga." Ucap Devina yang dari tadi cuma nonton disudut ruangan, hanya Michael dan Valencia yang sadar sejak kapan dia berada di sana.
"Pindah rumah?" Ibu Derik bingung.
"Bantu aku kemas barang-barang, mobil udah siap di depan gang." Perintah Michael.
"Tu... tunggu, maksudnya apa?" Ibu Derik masih bingung.
"Begini, kami punya sebuah rumah yang udah lama ga ditinggali, jadi kita putuskan untuk sewain ke Derik. Karena rumahnya berantakan jadi suruh orang bersihin dulu. Nah karena keamanan disini kurang jadi kita pindah sekarang aja." Ucap Devina menjelaskan.
"Tapi.... biaya sewanya berapa?" Tanya ibu Derik.
"Biayanya sih..... sebulan sekali harus buatin kita makanan yang waktu itu Derik bagiin buat kita!" Jawab Valencia.
"Itu mah bukan biaya sewa, Nak." Ucap ibu Derik.
"Itu udah biaya sewa paling mahal loh!" Ucap Devina.
"Itu mah kalian cuma minta buatin makanan, bukan bayar uang sewa. Kalau kayak gitu artinya kita tinggal gratis di sana, ga mau ah. Kalau kalian mau makan, ibu buatin besok juga bisa." Ucap ibu Derik.
"Kalau ibu ga mau kita nangis disini semalaman nih!" Ancam Valencia yang duduk dengan ekspresi cemberut.
"Tapi ga enak, sayang." Ucap ibu Derik terus menolak.
"Nangis nih! Huaa!" Ancam Valencia lagi.
"Aduh, iya iya, ibu pindah." Ibu Derik mengalah.
"Hore! Mulai berkemas!" Ucap Valencia senang karena berhasil membujuk ibu Derik.
Malam itu juga mereka pindah rumah, pindah ke tempat yang lebih layak lagi. Sebenarnya rumah itu sudah direncanakan sejak dua tahun lalu, namun baru terselesaikan seminggu yang lalu karena sempat bingung dengan desainnya dan terkendala cuaca hujan.
"I... ini apa ga terlalu mewah?" Tanya ibu Derik saat melihat rumah besar itu.
"Biaya listrik akan kita tanggung sampai Derik jadi orang sukses, setelah Derik punya pekerjaan yang tinggi barulah kita izinkan untuk membeli rumah dan tanah ini." Ucap Rian.
"Apa boleh saya saja yang tanggung semua itu?" Tanya Fa'iz yang dari tadi tampaknya terabaikan, Trista yang biasanya menempel pun seperti tak melihatnya.
__ADS_1
"Jika Anda ingin melakukan hal itu maka Anda harus berjanji untuk tidak menyakiti keluarga Anda lagi." Ucap Rian.
"Baik, saya janji tidak akan mengulang kesalahan saya lagi." Ucap Fa'iz berjanji.
"Listrik biar kita yang tanggung, Anda silahkan pulang sekarang dan besok kita diskusikan harga yang layak untuk tempat ini." Ucap Michael.
"Baik, saya permisi dulu." Fa'iz pergi.
"Malam ini kita nginap disini, mumpung besok minggu dan jadwalnya libur. Besok kita keliling untuk melihat apa aja yang ada disini." Ucap Devina.
"Disini kalian harus bisa hidup bahagia dan damai, kalo hal itu ga tercapai maka usaha kami akan sia-sia." Ucap Valencia.
"Ibu ga akan biarin usaha kalian sia-sia, kami pasti akan bahagia disini, sayang." Ucap ibu Derik mencubit pelan pipi Valencia.
"Kita juga mau....." Yang lainnya ikutan manja.
Ibu Derik tertawa lalu mencubit pipi mereka bergantian, dia merasa jika anaknya sudah lebih dari tiga sekarang. Melihat tingkah manja anak-anak itu membuat ibu Derik merasa jika anaknya telah menemukan sahabat yang sangat baik, dan tidak semua keluarga kaya adalah orang-orang sombong yang suka merendahkan orang lain.
Hidup bahagia bukan berdasarkan seberapa banyak harta yang kamu miliki, tapi berdasarkan apakah kamu bersama orang yang kamu sayangi dan menyayangi kamu atau tidak. Hidup bahagia bukan dilihat dari seberapa tinggi derajatmu, tapi dilihat dari bagaimana kamu menjalani hidup meskipun kamu bukan orang berpangkat. Kedamaian bukan berarti bersantai ditempat mewah dan dilayani oleh orang, tapi ketika kau tak merasakan beban dihati. Orang kaya selalu khawatir suatu hari harta mereka akan dicuri, karena itu mereka selalu waspada dan melakukan banyak hal agar harta itu tetap menjadi milik mereka. Jika kau ingin bahagia, maka jangan hanya mengejar harta, tapi ciptakan juga kehangatan dalam keluarga atau temanmu. Jika kau merasa sendirian, jangan ragu untuk memulai hubungan dengan orang lain. Jika sebelumnya kau salah menilai atau mempercayai seseorang, maka anggap saja itu sebuah pelajaran agar kau lebih cermat memilih teman.
Keesokan harinya
"Valen, kamu ingat aroma ini?" Tanya Devina yang juga langsung terbangun dari tidur nyenyak.
"Aku mandi duluan!" Valencia melompat dari kasur dan mengambil handuk lalu berlari ke kamar mandi.
Beberapa menit kemudian, dapur.
"Michael mana?" Tanya ibu Derik.
"Masih pakai baju, bentar lagi turun." Jawab Rian.
"Ya udah, kalau gitu kalian makan dulu aja." Ibu Derik menghidangkan menu terakhir.
"Tungguin dong, masa makan ga nungguin aku dulu?" Protes Michael yang baru turun.
"Belum ada yang makan, yuk sini makan bareng." Ucap ibu Derik.
__ADS_1
Mereka makan bersama, rumah yang awalnya sepi kini terasa sangat hangat. Setelah selesai makan Valencia mengajak berkeliling, sementara itu Derik dan Trista sengaja diberikan waktu berduaan, Rian asik mengikuti Valencia. Saat Fa'iz datang Michael langsung membawanya ke ruang kerja untuk berdiskusi, mereka berada di sana selama satu jam.
..........
"Anda silahkan kembali, Ailiza biar kami yang urus. Anda tidak perlu khawatir, tak akan ada saingan Anda yang mengetahui kejadian ini." Ucap Michael.
"Baik. Tapi.... apa saya bisa berkunjung melihat anak saya sesekali?" Tanya Fa'iz.
"Hanya di hari pernikahannya, jangan sampai mereka tersakiti lagi hanya karena Anda selalu mengunjungi mereka." Jawab Michael.
"Bukankah dia teman adik Anda, mengapa sepertinya Anda sangat melindungi Derik dan keluarganya?" Tanya Fa'iz.
"Saya tidak melakukan itu karena dia teman adik saya, tetapi karena saya melihat kebaikan dalam keluarga mereka." Jawab Michael.
"Baiklah, kalau begitu saya permisi dulu." Ucap Fa'iz.
"Baik, sampai jumpa." Michael menyalami Fa'iz, dia langsung mencari Valencia setelah Fa'iz pergi.
"Jadi apa yang harus kita lakukan dengan uang sebanyak itu?" Tanya Valencia yang sedang duduk santai bersama Rian dan Derik. Tomi dan Amelia juga ada di sana, mereka langsung datang setelah mendapat pesan dari Rian.
"Yah..... Gimana kalau kita liburan?" Usul Michael.
"Liburan kemana?" Tanya Trista yang datang membawa makanan.
"Hm..... Gimana kalau ke vila itu?" Usul Valencia.
"Vila mana?" Tanya Amelia.
"Dulu kakek pernah beli pulau kecil, di sana di bangun vila mewah. Biasanya kakek-nenek ke sana untuk istirahat dari padatnya dunia bisnis." Jawab Valencia.
"Tapi apa serunya di sana?" Tanya Trista.
"Ada lapangan luas, hutan luas yang banyak tanaman herbal, ruangan khusus latihan tembak, taman bermain, pantai dengan pasir putih dan ombak yang tenang, dan ada apa lagi aku lupa." Jawab Valencia.
"Itu beneran pulau kecil?" Tanya Trista dengan ekspresi yang membuat Valencia ingin memukulnya.
"Kalau gitu udah diputuskan, kita liburan di sana!" Ucap Tomi.
__ADS_1
"Liburan!!!!" Sorak mereka.