
**Hello para pembaca tercinta dan kesayangan author!!!
Sebelumnya author ingin meminta maaf karena ga update selama berhari-hari. Akhir-akhir ini author lumayan sibuk, jadi ga sempat nulis. Ada waktu luang author malah keasikan nonton dracin alias drama cina😅 soalnya mereka itu para aktris dan aktor favorit author 😁. Karena itulah hari ini author update episode sedikit lebih banyak.
Sekali lagi author ucapkan maaf dan selamat hari raya Idul Fitri bagi umat muslim**.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Berbulan-bulan berlalu, kini mereka yang telah ditinggalkan orang tua untuk selamanya menjalani kesibukan berkali-kali lipat dari biasanya. Rian yang selama ini selalu lari dari perintah sang papa untuk belajar tentang bisnis harus menjalankan perusahaan, beruntung Nandini sudah mendapat pengarahan tentang bisnis keluarga, jadi dia bisa sesekali membantu adiknya itu. Menjadi seorang mahasiswa sekaligus presdir diusia muda membuat Rian sedikit kewalahan dengan pekerjaan dan tugas yang terus menumpuk, namun dia tetap bertahan dan berusaha keras untuk tak mengeluarkan keluhan.
Michael saat ini sedang fokus dengan karirnya, selain menjadi figur publik dia juga menjalankan perusahaan yang sebelumnya di pimpin oleh Rein, ayahnya. Karena pekerjaan di perusahaan tak pernah habis dia terkadang harus menginap di kantor dan langsung pergi ke lokasi syuting subuh buta. Saat jadwal syuting menumpuk dan tak memungkinkan untuk kembali ke kantor maka Valencia akan siap membantu.
Saat ini Valencia menggantikan posisi Vivian, dia menjadi pemilik sekaligus pengontrol restoran. Sesekali Fransiska dan Clara akan memberikan laporan jika ada masalah yang terjadi di restoran saat Valencia sedang berada di kampus, mereka dengan setia melaporkan bahan-bahan yang kurang, kerusakan pada alat masak atau fasilitas pengunjung, Orang-orang yang membuat keributan, dan masalah lainnya. Setelah selesai dengan urusan kampus Valencia akan langsung meluncur ke restoran, jika Michael tak bisa ke perusahaan karena jadwal syuting yang padat maka dia akan langsung ke perusahaan. Valencia tak memiliki pangkat dalam perusahaan, namun perintah dan arahannya setara dengan presdir.
Perusahaan di Filipina mengalami sedikit masalah, jadi Alvian dan Cassandra harus pergi membantu Calvin. Setiap hari kediaman Chandra terasa kosong karena hanya ada kedua anak Alvian, Valencia setiap hari pulang larut malam, Michael jarang pulang ke kediaman karena terlalu sibuk. Suasana sepi menghampiri kediaman Chandra, membuatnya sama seperti kediaman keluarga ternama lainnya.
"Valen! Hari ini ada waktu? Jalan-jalan, yuk!" Ajak Amelia saat kelas berakhir.
"Hari ini ga bisa, lain kali aja." Tolak Valencia yang mengemas peralatannya dengan cepat dan langsung pergi.
"Valencia itu udah ga bisa kayak dulu lagi, dia punya tanggung jawab yang jauh lebih besar sekarang." Ucap Anisa.
"Em.... mungkin perlu waktu lama supaya kita bisa kumpul bareng lagi." Ucap Amelia.
"Dia pergi buru-buru, pasti diperusahaan lagi ada masalah." Ucap Anisa sambil menatap pintu keluar.
"Tadi udah dapat panggilan dari perusahaan, pasti ada yang harus diselesaikan dengan segera. Hah.... kadang aku ngerasa beruntung karna ga kehilangan waktu santai setelah kuliah." Ucap Amelia, mereka berjalan pelan meninggalkan kelas.
__ADS_1
Di parkiran
"Rian! Hari ini masih sibuk?" Tanya Derik.
"Proyek sebelumnya masih belum selesai ditangani, proyek ini harus selesai secepat mungkin." Jawab Rian yang berjalan cepat dan langsung menyalakan motornya lalu pergi dengan cepat.
"Gua ga pernah nyangka Rian bisa seserius ini sama bisnis keluarganya, padahal sebelumnya dia selalu nolak pas papanya nyuruh belajar bisnis." Tomi duduk di atas motornya.
"Setiap orang punya masalah dan tanggung jawab mereka masing-masing, kita beruntung ga menanggung beban seberat mereka. Dengar-dengar Valencia juga jadi makin sibuk bahkan ga punya banyak waktu untuk sekedar kumpul sama dua sahabatnya itu, dia ngawasin restoran sekaligus bantuin kakaknya ngurus perusahaan." Ucap Derik, dia tau karena pernah tanpa sengaja bertemu Anisa dan Amelia di sebuah warung makan pinggir jalan dan mendengar cerita mereka.
"Lo juga harus ke tempat kerja, kayaknya emang gua nih yang paling malas." Ucap Tomi.
"Ikut gua kerja paruh waktu juga mau?" Tawar Derik.
"Emang ada lowongan?" Tanya Tomi.
"Gas! Gua kerja mulai hari ini juga!" Ucap Tomi antusias.
"Tapi lo kan ga perlu kerja juga udah bisa dapat duit, ngapain kerja paruh waktu?" Tanya Derik.
"Orang yang mau berusaha dengan kemampuannya sendiri adalah orang yang dibutuhkan oleh dunia, kalau semua orang cuma mengandalkan kedudukan orang tua maka dunia ini pasti hancur. Manusia yang malas ga dibutuhkan oleh dunia, yang dibutuhkan adalah manusia yang mau berusaha keras dengan kemampuannya sendiri untuk mencapai kesuksesan. Dalam ruang kesuksesan ga ada tempat untuk manusia pemalas, jadi gua mau berusaha dengan kemampuan gua sendiri dan memulai semua dari bawah." Jawab Tomi yang tiba-tiba entah angin dari mana menjadi seorang yang cukup bijak dimata Derik.
"Lu siapa?! Dari mana?! Mau apa?! Cepat keluar dari badan temen gua! Cepat atau gua rukiyah lu!" Ucap Derik sambil berlagak menghadapi orang kerasukan.
"Gua Tomi! Dari bumi! Mau bedah kepala lu! Gua udah diluar! Lu aja yang dirukiyah!" Teriak Tomi tepat ditelinga Derik.
"Gila lu! Sakit!" Pekik Derik sambil mengusap telinganya.
__ADS_1
"Lu mau kerja apa ngga? Kalo ga mau gua pergi sendiri kesana." Ucap Tomi menyalakan motornya.
"Ya hayuk jalan!" Derik dengan secepat kilat duduk dibelakang Tomi.
Disebuah persimpangan
Rian yang sedang menuju kantornya harus terjebak macet yang cukup parah karena sempat terjadi kecelakaan, tak disangka saat sedang menikmati sengatan matahari yang memanggang tubuhnya dia malah bertemu dengan Valencia.
"Eh? Kejebak juga?" Tanya Rian pada gadis cantik di sebelahnya.
"Iya, om, padahal kerjaan lagi numpuk ini." Jawab Valencia yang mulai kesal terjebak macet selama setengah jam, ditambah cuaca panas membuat tubuhnya yang duduk manis di atas motor dipenuhi keringat.
"Idih! Sembarangan kalo manggil orang, gua kagak setua itu!" Ketus Rian.
"Makanya, om, jangan gangguin orang yang lagi sibuk!" Balas Valencia.
"Eh, tumben kita ketemu di jalan, lu dari mana mau kemana?" Tanya Rian.
"Dari restoran mau ke perusahaan, ada proyek yang harus dikerjakan tanpa ada kesalahan sedikitpun." Jawab Valencia sambil mengibaskan tangannya.
"Kayaknya kita emang ditakdirkan jadi pemimpin yang selalu bau keringat tiap kali sampai perusahaan." Ucap Rian sambil tertawa kecil.
"Eits.... ralat dikit, gua bukan pemimpin, tapi perintah gua setara sama presdir." Ralat Valencia.
"Ter-se-rahhh!" Ucap Rian.
Valencia malas meladeni Rian meskipun dia tau jika itu dilakukan oleh Rian untuk mengalihkan pikirannya tentang pekerjaan di kantor, proyek yang harus selesai itu lebih penting karena jika gagal dia akan mengalami kerugian yang tak sedikit. Setelah beberapa lama mereka akhirnya terbebas dari macet dan dengan cepat menuju perusahaan masing-masing, tentu saja mereka langsung disambut para tugas segudang.
__ADS_1