
Suasana hening hingga Derik memulai pembicaraan dengan pertanyaan,
"Selain belajar kamu masih ada kegiatan apa lagi?"
"Bukan hal besar, cuma perusahaan biasa." Jawab Trista.
"Pe.... perusahaan apa?" Tanya Derik.
"Sama kayak Rian, cuma jauh lebih kecil." Jawab Trista.
"Oh....." Derik mengangguk paham.
"Kamu setiap hari kerja paruh waktu?" Tanya Trista.
"Iya, hari minggu libur. Kalau ga kerja adek ga bisa terus sekolah, aku kuliah aja dibantuin beasiswa dan teman. Mereka ga salah bilang aku memanfaatkan teman kaya, mereka memang banyak membantu." Jawab Rian.
"Mereka bantu! Membantu! Kamu ga pernah minta-minta, mereka membantu dengan ikhlas karena pertemanan." Trista menggenggam tangan Derik.
"Tapi....." Derik terlihat pesimis.
"Tapi apa? Kamu itu orang baik." Trista mengusap pundak Derik.
"Aku? Orang baik?" Derik menunjuk dirinya sendiri.
"Derik orang baik!" Trista menangkup wajah Derik dengan kedua tangannya.
Deg!
Jantung Derik berdetak kencang sampai bisa didengar oleh Trista, dia hampir tertawa karena berhasil menggoda Derik. Derik mengalihkan pandangan, wajah Trista terlalu dekat.
"Derik? Deriiiiik....." Trista melambaikan tangannya di wajah Derik.
"Ha? Ah?" Derik tersadar dari lamunan.
"Kok melamun?" Tanya Trista.
"Ga papa ga papa!" Jawab Derik.
Sementara di kejauhan, dua orang sedang memantau menggunakan teropong. Valencia bisa bahasa bibir, jadi dia memantau sambil menterjemahkan.
"Suasananya masih canggung, saatnya beraksi!" Rian memberikan kode pada seorang pengunjung taman.
"Berapa banyak orang sewaan disini?" Tanya Valencia.
"Ga banyak, cuma bagian bunga, balon, tukang sorak, sama tukang dorong." Jawab Rian.
"Ini lagi nge jodohin teman apa kakak?" Valencia geleng-geleng.
"Demi kebahagiaan!" Rian lanjut memantau.
Di seberang
"Kayaknya kita ga seharusnya ada disini, cuma dijadiin alasan supaya mereka bisa berduaan." Keluh Derik.
"Tapi menurutku kita memang seharusnya ada disini, ini tempat yang cocok." Ucap Trista.
"Tempat yang cocok? Cocok buat apa?" Tanya Derik.
"Pernyataan cinta!" Jawab Trista keceplosan membuat dua orang yang sedang memantau tepuk jidat.
"Hah?!" Derik kaget.
__ADS_1
"Em.... Aku.... karena udah keceplosan,.... Aku suka kamu!" Ucap Trista lantang membuat Derik berhenti menghembuskan nafas.
"Permisi, ini buat kalian." Seorang wanita memberikan sebuah buket bunga pada Derik.
"Derik? Derik?" Trista melambaikan tangannya di wajah Derik.
"Hah? Ya? Ini!" Derik terlonjak kaget dan dengan spontan memberikan buket bunga tadi pada Trista.
"Kamu kenapa? Ga pernah liat cewek nyatain perasaan?" Tanya Trista yang hampir tertawa.
"Bukan itu, tapi.... Aku ini dari keluarga miskin sedangkan kamu bahkan udah punya perusahaan sendiri. Keluarga aku bisa terima kamu apa adanya, tapi gimana sama keluarga kamu?" Derik pesimis.
"Aku ga perduli kamu kaya atau miskin, lagipula keluarga angkat aku udah janji ga akan ikut campur urusan kita." Ucap Trista meyakinkan Derik.
"Permisi, balonnya untuk kalian." Seorang laki-laki memberikan seikat balon warna-warni.
"Buat kamu, pegang!" Trista memberikan balon-balon itu.
"Aku curiga kalian kerja sama, ini pasti lagi ngerjain aku." Derik tertawa garing.
Cup.....
Trista mengecup bibir Derik lembut, hal itu membuat sang empunya kaget dan langsung membatu. Di sisi seberang dua orang sedang gemas melihatnya.
"Bisa-bisanya dia inisiatif duluan!" Valencia membanting teropongnya.
"Kenapa?" Tanya Rian.
"Seharusnya cowok yang duluan!" Valencia menghentakkan kakinya.
"Kayak gini?" Rian mengecup bibir Valencia.
"Derik!" Trista berteriak menyadarkan Derik.
"Hah? Apa?" Tanya Derik kaget.
"Diterima apa nggak nih pernyataannya?" Tanya Trista cemberut.
"Aku terima, tapi..... Apa kamu yakin? Aku ini dari keluarga miskin." Ucap Derik.
"Tapi aku beneran diterima, kan?" Tanya Trista meminta kepastian.
"Iya, tapi... Mph!" Belum selesai Derik bicara seseorang sudah mendorongnya, sesuai rencana awal Derik mencium Trista.
"Cieeee......" Orang-orang sewaan Rian beraksi, mereka tak tau apa yang sedang dilakukan oleh orang itu.
"Cih, mereka lebih romantis! Entah mengapa aku mulai merasa menyesal!" Ucap Valencia menghentakkan kakinya sangat kuat.
"Bukannya tadi udah lumayan? Kenapa? Belum puas?" Tanya Rian menggoda Valencia.
"Hus! Lanjut sama misi utama, jangan mesum!" Valencia memukul lengan Rian.
"Kenapa? Baru pertama kali nyium cewek?" Tanya Trista menjahili Derik.
"Ga pernah, kalo cium aspal udah berkali-kali." Jawab Derik sambil tersenyum.
"Jadi.... aku yang pertama dong?" Tanya Trista dengan ekspresi imutnya.
"En, yang ketiga dan mungkin kamu akan menjadi yang terakhir." Jawab Derik mencubit gemas pipi Trista.
"Kenapa mungkin?! Terus, aku bukan yang pertama dong?!" Tanya Trista cemberut yang membuatnya semakin imut.
__ADS_1
"Yang pertama itu ibu, yang kedua nenek. Mungkin aja di masa depan punya anak perempuan?" Jawab Derik mengusap kepala Trista, gadis kecil di depannya itu sangat imut.
"Ibu sama nenek ga dihitung! Aku yang pertama!" Protes Trista.
"Hahaha, iya iya Trista yang pertama." Derik mengalah.
"Ehem!" Sebuah suara berat berdeham.
"A.... ayah?!" Trista terkejut ketika menoleh.
"Tunggu..... kenapa orang ini kelihatan ga asing?" Batin Derik berpikir.
"Halo, Derik." Ayah angkat Trista mengulurkan tangannya.
"Dia..... meski sedikit lebih tua, wajahnya masih bisa aku kenali." Batin Derik sedih.
"Nak? Derik?" Ayah angkat Trista menepuk pundak Derik.
"Maaf!" Derik terlonjak kaget, dia menepis kasar tangan ayah angkat Trista.
"Derik, kamu kenapa?" Tanya Trista yang melihat reaksi aneh Derik.
"Ga papa, aku pergi dulu." Derik melangkah terburu-buru, namun seseorang menarik tangannya.
"Nak.... kamu masih marah?" Tanya ayah angkat Trista.
"Maaf, saya tidak mengganggu pertemuan kalian lagi." Ucap Derik sambil menunduk.
"Derik!" Panggil Valencia dan Rian yang berlari ke arah mereka.
"Derik, kamu kenapa?" Tanya Trista.
"Ga papa, cuma pengen pulang aja." Jawab Derik yang tampak panik.
"Nak... Ayah tau itu salah Ayah, ga seharusnya Ayah ga ninggalin kamu dan ibu kamu waktu itu." Ucap ayah angkat Trista sedih.
"Hidup kami bahagia sekarang, jangan pernah nyakitin ibu lagi." Derik melepas genggaman tangan ayah angkat Trista.
"Ma... maksudnya apa ini? Ayah? Ibu?" Trista bingung.
"Derik, dia.... ayah kandung kamu?" Tanya Valencia sedikit tak enak.
"Masa lalu adalah masa lalu, sekarang kami hidup dengan nyaman." Ucap Derik tak menjawab pertanyaan Valencia.
"Rik, biar gue antar lo pulang." Ucap Rian dan hanya dibalas anggukan Derik, mereka pergi.
"Dia anak kandung Anda?" Tanya Valencia pada ayah angkat Trista, Fa'iz.
"Ya...." Jawab Fa'iz pelan.
"Anda tinggalkan dia demi seonggok harta?" Tanya Valencia lagi.
"Itu penyesalan terbesarku, hal itu seharusnya tak pernah aku lakukan." Ucap Fa'iz penuh penyesalan.
"Hidup mereka menderita karena Anda, dia harus terus berjuang untuk menghidupi ibu dan adik-adik tirinya. Disaat Anda bersenang-senang dengan semua harta itu, dia bekerja sepanjang malam padahal besok pagi dia harus sekolah. Apa Anda tau jika terkadang dia hanya bisa beristirahat selama tiga jam?! Apa Anda tau itu?!" Valencia pergi membawa Trista yang masih termenung menangkap semua kejadian itu.
Fa'iz hanya bisa berdiri di sana, memandang arah perginya putra sulungnya. Penyesalan yang terus dia tolak selama ini, tenyata memang benar adanya. Kesalahan besar yang dia lakukan di masa lalu, adalah kehancuran yang tengah perlahan-lahan menggerogoti dirinya.
Dia mengabaikan air mata anak dan istrinya lalu bercerai, dia pergi demi harta yang tiada arti di mata kebahagiaan. Saat dia mendengar mantan istrinya menikah lagi dia merasa lega, namun ketika tau keadaan yang sebenarnya dia ingin bertindak namun tak bisa melakukan apapun.
Anak yang sangat dia sayang dia tinggalkan begitu saja, membuatnya hidup menderita selama bertahun-tahun. Saat pertama kali bertemu mata anak itu kini penuh dengan kesedihan dan amarah, hal itu membuat penyesalannya semakin dalam. Seorang pria yang tega meninggalkan anaknya hanya demi sekarung kertas dan batu, tak pantas disebut sebagai 'ayah' karena dia adalah seorang pengecut dan pecundang besar.
__ADS_1