
"Kita harus pergi sekarang!" Kata Jieru dengan wajah panik sambil mengemasi barang.
"Ada apa ini? mengapa tiba-tiba ingin pergi?" Wei bingung.
"Para pembunuh bayaran sudah sampai di desa, mereka akan menemukan kita!" Jawab Jieru yang masih fokus mengemas.
"Si*l!! Mereka cepat sekali? Awalnya ingin menunggu sampai ibu sembuh, tapi mereka malah sampai sekarang?!" Wei ikut mengemasi barang.
"Suamiku, bangunkan anak-anak dan ibu. Kita harus pergi sekarang juga!" Kata Jieru.
"Baik." Kata Weiheng dan langsung bergegas menuju kamar tidur yang lain.
"Ayah.... Mengapa membangunkan kami di malam hari? Apa para penjahat sudah sampai? Mengapa cepat sekali?" Tanya Zhishu yang masih mengantuk.
"Kau tau tentang mereka?!" Weiheng terkejut.
"Hanya tak sengaja mendengar." Jawab Gu An.
"Jika sudah tau sebaiknya pergi sekarang! Kita harus bergerak cepat!" Kata Weiheng.
"Baik, kami akan mengemas beberapa senjata dan uang." Kata Zhishu.
Ketiga bocah itu langsung segar dan menyiapkan semua dengan cepat sementara Weiheng membangunkan ibu Li Wei dan nyonya Jiao.
"Sudah siap berangkat?" Tanya Jieru.
Mereka semua mengangguk, pakaian mereka serba hitam sekarang. mereka mengendap-endap meninggalkan rumah.
"Sstt, Berhati-hati atau mereka akan menemukan kita." Bisik Jieru.
Mereka mencoba menghindari para pembunuh yang sudah mengepung desa, namun karena para pembunuh itu adalah profesional mereka tetap menyadari keberadaan incaran.
"Berhenti dan ikut kami atau kami akan menggunakan kekerasan!" Kata salah satu pembunuh.
__ADS_1
"Menyerah? Ikut kalian? Cih! Itu sama saja dengan berjalan ke kematian!!" Ketus Gu Cheng.
"Cih! Sombong sekali! Lihat bagaimana kalian akan kami kalahkan! Serang!!" Perintah pembunuh itu pada pembunuh lain.
"Lindungi para nenek!!" Jieru langsung menyerang secara brutal.
Pertarungan sengit terjadi, beberapa pembunuh berhasil dilumpuhkan, namun Jieru dan teman-teman juga terluka.
"Turunkan senjata kalian atau aku bunuh dia!!" Teriak seorang pembunuh.
"Ibu! Jangan sentuh ibuku!" Bentak Jieru yang melihat pedang di leher ibunya.
"Turunkan senjata dan dia akan selamat!" Kata pembunuh itu.
"Tidak! Jangan khawatirkan aku! Kalian pergilah! Jangan perdulikan aku! Pergi!" Teriak Nyonya Jiao.
"Tidak...... Ibu..... Jangan sakiti dia...." Lirih Jieru.
"Pergi!!!!!" Nyonya Jiao dengan sengaja menusukkan pedang ke dada tepat ke jantungnya, dia terus menekan tangan pembunuh itu agar pedangnya menancap dan membunuhnya.
"Ibu!!!!!!!! Tidak! Jangan! Ibu!" Jieru panik.
"Pergilah selagi bisa, balas perbuatan mereka pada anak-anak." Kata nyonya Jiao sebelum akhirnya kehilangan kesadaran.
"Siapa kalian?!" Teriak seseorang.
Tak berselang lama para penduduk desa lain keluar rumah sambil membawa berbagai benda tajam untuk berkebun dan memotong kayu.
"Jika mereka semua mati kaisar akan curiga, kita pergi sekarang!" Para pembunuh langsung pergi.
"Ibu!! Tolong buka matamu, ibu!! Jangan menakutiku!! Aku mohon!! Ibu......" Jieru menangis sambil memeluk ibunya yang berlumuran darah.
"Nenek!!! Nenek bangun!! Minghao masih ingin mendengar cerita nenek, masih ingin dipeluk nenek!! Huhuhu..... Huaaa......" Minghao menangis sejadi-jadinya sambil memeluk Weiheng.
__ADS_1
"Nyonya!! Nyonya Jiao, bangun!!" Wei mengguncang tubuh itu.
Gu Cheng memeriksa denyut nadi wanita dalam pelukan Jieru, "Maaf, aku sebagai tabib tak bisa menjaga nyonya tetap sehat. Maafkan aku, nyonya. Aku yang tak berguna!" Gu Cheng tampak frustasi, dia gagal menjalankan perintah ayahnya dan bahkan melihat langsung kematian selir Jiao.
"Ibu..... Aku akan membuat mereka semua mendapat balas setimpal!! Mereka tak akan pernah bisa tidur dengan nyenyak, tak akan bisa makan sampai kenyang, atau berjalan tegap dengan kedua kaki mereka! Aku akan membalaskan dendam ini! Mereka semua harus aku beri 'hadiah khusus'!!!" Batin Jieru.
Mereka melakukan upacara dihari itu. Selir Jiao dimakamkan di tempat khusus, tak ada makam lain di sekitarnya.
"Penghormatan ini, tak akan cukup untuk mu. Putrimu ini bersumpah, akan membuatmu tenang dengan membalaskan dendam!! Menghancurkan orang-orang busuk itu dan mengirim mereka ke neraka!!!" Jieru bertekat dan bersumpah dalam hati.
"Nenek, Minghao berjanji akan menjaga ibu dan Zhishu dengan baik sesuai perintah nenek. Minghao akan membantu ayah dan paman melindungi para wanita. Minghao berjanji akan menjadi anak yang baik dan sehat." Batin Minghao.
"Ibu tenanglah disana, aku akan menjaga keluarga ini dengan jiwaku. Aku akan terus membantu Jieru, juga akan terus merawat anak-anak. Aku berjanji. Kau tak memperlakukanku seperti seorang menantu laki-laki, tetapi seperti putramu sendiri. Wei Minghao, Wei Zhishu, Jiao Jieru, aku akan menjaga mereka. Aku, Weiheng bersumpah akan melindungi keluarga kecil ini! Aku akan membantu istriku membuat ibunya tenang di alam sana." Batin Weiheng.
Keesokan harinya setelah selir Jiao dimakamkan, mereka memutuskan untuk pergi ke istana. Dengan rencana balas dendam mereka melangkahkan kaki meninggalkan desa.
"Masa ketenangan selama 4 tahun sudah berakhir, ini adalah saatnya membalas. Perbuatan salah dan kejam yang mereka lakukan, harus kita balas." Kata Jieru sambil menggenggam pedang dengan erat.
"Ibu.... Kami akan selalu membantu ibu! Walau kami ini masih kecil, kami sangat berguna! Kemampuan kami sudah melebihi anak-anak lain, bahkan pria dewasa didesa." Kata Zhishu.
"Untunglah aku memiliki anak-anak yang kuat seperti kalian. Takdir ini harus kita jalani, takdir kita dalam menghancurkan hati busuk di istana!" Jieru mengelus kepala Zhishu.
"Berangkat sekarang?" Tanya Gu Cheng.
Jieru mengangguk, mereka semua pergi dengan menyamar. Perempuan menyamar menjadi laki-laki, sementara yang laki-laki menjadi perempuan. Jieru tak henti-hentinya tertawa melihat suaminya dan Gu Cheng yang tampak cantik dengan pakai istri mereka, sementara Minghao tetap saja imut dengan pakaian Zhishu.
"Ini tak adil. Mengapa Zhishu tetap terlihat gagah?! Itu kan pakaianku!" Protes Minghao yang melihat Zhishu semakin tampan padahal dia adalah seorang anak perempuan.
Ibu Li Wei dan Han tetap di desa untuk pernikahannya Han dan Lian Xia. Han sebenarnya ingin ikut kakaknya, namum Jieru sudah memberikan perintah dengan tatapan menyeramkan.
Pernikahan mereka dipercepat dan dilakukan dengan sederhana, Han, Lian Xia, dan Ibu Li Wei langsung menyusul di hari ke 6 tepatnya dua hari setelah hari pernikahan.
Bersambung.........
__ADS_1