KEMBALINYA SANG AKTRIS

KEMBALINYA SANG AKTRIS
Curhat


__ADS_3

Setelah sampai rumah Vivian menuntun Rein menuju kamarnya, "Tempatnya memang kecil, tapi setidaknya masih layak huni." Kata Vivian.


"Vivian, aku boleh tanya?" Rein menahan tangan Vivian.


Vivian duduk disamping Rein, "Boleh, mau tanya apa?"


"Apa aku merepotkan? Aku ini buta, bahkan aku dibuang keluarga sendiri." Tanya Rein.


"Kalau kamu merepotkan, apa kamu akan diterima mereka? Apa mereka mau bercanda sama kamu?" Vivian bersandar di bahu Rein, entah mengapa dia merasa nyaman disana.


"tapi aku bahkan ga bisa melihat." Jawab Rein dengan nada lemah.


"Kamu itu berbakat. Kekurangan kamu ga penting buat kami, karena yang paling penting buat kami itu kebersamaan dan kerja keras. Kamu itu luar biasa. Walaupun kamu ga bisa melihat matahari, hari ini kamu jadi matahari penyemangat kami dan para pengunjung. Walaupun punya kekurangan, kamu tetap semangat untuk bekerja walaupun itu cuma bernyanyi." Kata Vivian sambil menggenggam tangan Rein.


"Tapi kalau kamu ga ada tadi pagi, mungkin aku udah..." Vivian menutup mulut Rein dengan tangannya. Dia berpindah posisi dan duduk didepan Rein.


"Setiap orang punya masalah," Vivian mengusap kepala Rein lembut, "Setiap masalah pasti ada solusinya. Kamu cukup tetap semangat dan terus berjuang. Yakinlah, suatu hari nanti kamu bisa terbang tinggi dan melihat indahnya alam semesta. Jangan nyerah, aku, Clara, Frengky, kami semua akan tetap dukung kamu." Vivian memberikan semangat.


"Tapi bukannya kita semua orang asing yang baru bertemu hari ini." Kata Rein.


"Kita semua memang baru saling mengenal, tapi di restoran kita satu keluarga. Kita akan selalu saling mendukung, ga ada yang merendahkan, mencela, atau menjatuhkan satu sama lain." Vivian tersenyum, walau dia tau Rein tak akan melihat itu.


"Vivian, apa kamu ngomong gitu karena kasihan?" Tanya Rein.

__ADS_1


"Ish... Udah dibilangin juga! Kita ini saling mendukung, mana mungkin kami temenan sama kamu cuma karena kasihan? Ngeyel!" Ketus Vivian.


"Tapi aku ini orang asing, buta, dan dibuang." Rein masih terlihat lemah.


"Jangan gitu dong, kamu ini berbakat. Kamu harus tunjukkan bahwa keluarga kamu salah karena melakukan itu. Jangan pesimis! Semangat!!" Vivian terus menyemangati.


Setelah sekian lama, pertama kalinya ada seseorang yang menyemangatinya. "Permainan hidup, aku ga pernah bisa menebak yang akan terjadi." Batin Rein.


"Kalau boleh tau, kamu kenapa bisa begini?" Tanya Vivian, "Kalau ga mau cerita juga ga apa-apa." Tambahnya.


Rein menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan, "Sebenarnya, aku begini karena kecelakaan 6 bulan lalu." Rein mulai bercerita.


Vivian antusias ingin mendengar, "Lalu?"


"Aku buta dan sikap semua orang berubah, bahkan ibu juga berubah." Lanjut Rein.


"Aku dulu disayang, diperhatikan, semua keperluan disediakan. Tapi setelah kecelakaan, semua itu menghilang sampai tak bersisa. Teman-teman yang dulu selalu bersama juga hilang. Aku baru sadar kalau mereka berteman sama aku cuma karena aku anak bungsu keluarga Chandra, keluarga terkaya ketiga di negara ini." Rein berhenti sejenak.


"Keluarga terkaya di kota ini, ya? Aku ga tau kalau keluarga yang kelihatan luar biasa itu bisa berbuat kayak gini." Batin Vivian.


"Hari ini ibu ngusir aku. Dia nganggap aku sebagai beban, orang buta ga bisa menambah derajat mereka. Aku dibuang gitu aja ke jalanan, ga ada seorangpun yang bantu aku. Aku putus asa, jadi pergi ke jembatan itu, karena itu satu-satunya tempat yang paling aku hafal." Air mata mengalir diwajah tampannya.


Vivian menghapus air mata itu, "Itu pasti sakit, kan?"

__ADS_1


"Kalau hari ini kamu ga ada, besok pasti beritanya tersebar. 'Orang buta bunuh diri di jembatan yang sudah jarang dilewati' akan jadi berita terakhir tentang hidupku." Kata Rein.


"Dan keluarga kamu ga akan pernah menyesal. Kalau itu benar-benar terjadi, sama aja dengan membenarkan tindakan mereka. Mereka akan berpikir kalau kamu memang ga berguna, jadi kamu melakukan itu." Vivian mengusap kepala Rein lagi, juga mencubit kedua pipi lelaki tampan itu pelan.


"Kakak udah pulang, ya?" Tanya Alvian yang terbangun dari tidurnya karena ingin buang air kecil. Dia mendengar percakapan kakaknya dengan seseorang, jadi mencari arah suara.


"Alvian, kenalin ini kak Rein. Dia akan tinggal di sini mulai sekarang." Vivian menarik tangan Rein dan Alvian, mereka bersalaman.


"Halo, kak. Aku Alvian, umur aku 16 tahun. Kalau kakak?" Tanya Alvian.


Rein tersenyum, "Rein, 24 tahun." Jawabnya.


"Kakak yang mau gantiin Alvian buat jaga kak Vian?" Tanya Alvian lagi.


"Maksudnya?" Rein bingung.


Belum sempat Alvian bicara Vivian sudah menarik tangannya, "Ini udah malam, waktunya tidur. Malam Rein, selamat tidur." Vivian menarik Alvian keluar dan menutup pintu dengan cepat.


"Kakak kenapa, sih?! Memangnya kakak ga mau nikah? Lagipula kak Rein keliatan baik kok dari mukanya." Kata Alvian.


"Heh, anak kecil! Kamu itu harusnya mikirin pelajaran, bukan mikirin pernikahan kakak kamu. Sebentar lagi ujian, kan? Mending rajin-rajin belajar. Tidur sana, udah malam." Kata Vivian, dia meninggalkan adiknya.


"Alvian, kakak janji, dikehidupan ini kakak akan jaga kamu dengan baik. Sebelumnya kakak gagal, tapi sekarang kakak punya kesempatan untuk menebus kegagalan itu. Kamu harus tetap hidup, kamu harta kakak yang paling berharga." Batin Vivian.

__ADS_1


"Kakak ipar keliatan baik. Walau kayaknya ga bisa liat, tapi lebih baik daripada Alex cowok brengs*k itu!!" Gumam Alvian pelan sambil cengar-cengir. Saat pulang sekolah dia pernah melihat Alex dan Sherly bergandengan di taman, dia senang kakaknya putus saat itu.


Bersambung.....


__ADS_2