
"Iya~~~ maaf aku ga bisa langsung cari kamu. Begitu sampai aku ada di medan perang, untung aja masih bisa selamat. Waktu itu kamu ga ikut selir Jiao, jadi kamu ga liat aku di istana. Setelah itu aku dapat tugas lagi, maaf." Weiheng mencubit pipi Jieru pelan.
"Aku maafin, tapi jangan ngilang lagi!" Kata Jieru.
"Iya, aku janji. Istri aku ini makin bawel aja." Weiheng mencubit pipi Jieru lagi.
"Biarin bawel!! Kalo ga bawel berarti aku ga sayang!! Itu aja ga ngerti." Ketus Jieru, dia memeluk Weiheng lagi.
Weiheng tersenyum, "Kekanak-kanakan, gimana mau balas kejahatan orang lain kalau begini?"
"Untuk orang yang aku sayang beda dengan orang yang aku benci dan jahat!! Aku udah balas dendam pemilik asli, tinggal balas dendam diri sendiri." Jieru bangga.
"Nona Jieru yang sangat luar biasa, maukah Anda menceritakan tentang kehebatan Anda dalam mengalahkan musuh?" Weih mencium punggung tangan Jieru.
Jieru tertawa kecil, "Ya, akan aku ceritakan." Dia mulai berdongeng. Setengah jam berlalu dan cerita pun selesai.
Weiheng menggenggam tangan Jieru kuat, "Aku.... Ingin bertanya sesuatu." Dia terlihat gugup.
"Bertanya apa?" Tanya Jieru.
Weiheng menarik nafas dalam dan menghembuskannya perlahan, "Bagaimana jika..... Aku bukan 'Rein' yang sebenarnya?" Tanyanya ragu.
"Maksudnya?" Tanya Jieru bingung.
__ADS_1
"Fuh..... Seharusnya aku cerita dari dulu, tapi aku takut kamu...." Ucapan Weiheng tak terselesaikan.
"Kalau gitu cerita sekarang aja." Kata Jieru.
"Aku.... Sebenarnya bukan anak kandung keluarga Chandra." Weiheng menyesali ucapannya.
"Lalu?" Jieru melepaskan genggaman Weiheng karena tangannya terasa sakit.
"Aku cuma anak angkat yang diminta untuk mengisi posisi 'Rein' karena 'Rein' yang sebenarnya meninggal diusia 1 tahun. Waktu itu ibu ****** depresi, jadi ayah adopsi aku dari panti asuhan karena kebetulan usia kami sama." Lanjut Weiheng.
"Hm hm hm.... Lanjutkan." Jieru kembali diam.
"Aku... Baru tau 2 jam sebelum pernikahan kita, kamu sibuk jadi aku belum bisa bilang. Maaf kalau kamu merasa dibohongi. Di zaman ini kita belum menikah, jadi kalau....." Ucapan Weiheng terputus.
"Sejak kapan?! Kenapa ga bilang aku?! Kan aku ga perlu segugup itu jadinya!!! Dasar nakal!" Weiheng mencubit pipi Jieru gemas.
"Iiihhh.... Sakit~~~" Kata Jieru dengan nada manja, "Ibu udah bilang sebulan sebelum pernikahan. Aku awalnya mau bilang kamu, tapi Ibu bilang biar dia aja yang ngasih tau. Sebagai menantu yang baik makan harus menurut pada ucapan mertua, lagipula itu hal yang baik dan bukan hal jahat." Jieru mengusap pipinya pelan.
"Trus, kamu jawab apa waktu ibu bilang gitu?" Tanya Weiheng.
"Ya jelas ga masalah, lah! Buktinya pernikahan kita tetap berlangsung, emangnya aku ini cewek yang mandang harta?! Huh!!" Ketus Jieru.
"Alex melakukan kesalahan sekaligus kebaikan besar dengan ngelepasin kamu. Dia salah besar karena meninggalkan perempuan baik kayak kamu. Dia melakukan kebaikan besar dengan ngasih aku kesempatan untuk milikin kamu seutuhnya. Ketidakberuntungan untuk dia dan keberuntungan untuk aku." Weiheng mencium puncak kepala Jieru.
__ADS_1
"Ya, tuan. Anda benar-benar beruntung mendapatkan berlian sepertiku ini." Kata Jieru bangga.
"Kamu bahkan ga bisa disandingkan dengan berlian. Berlian masih memiliki nilai, tapi kamu ga ternilai. Benar-benar beruntung bisa mencintaimu dan dicintai oleh mu." Kata Weiheng.
"Kamu ini reinkarnasi jadi prajurit atau penyair??? Kata-katanya masih banget, bahkan gula aja kalah." Goda Jieru.
"Eh, jangan salah, aku ini banyak yang naksir, tau?! Cuma pada ga berani dekat, takut semua." Jawab Weiheng.
"Hahahaha........ Makanya jadi orang jangan terlalu cinta mati sama senjata! Ujung-ujungnya ga laku!! Hahahaha!!!!" Ejek Jieru.
"Nasehatin yang asli dong! Kan aku ga cinta mati sama senjata!!" Ketus Weiheng.
"Tapi.... Itu juga bagus! Aku ga punya saingan yang akan deketin kamu! Teruskan itu!" Jieru menjadi seorang ibu kost tukang perintah sesuka hati.
"Laksanakan, istriku~~~~" Weiheng tersenyum.
"Ehem.... Ehem....." Jianying yang baru saja datang berdeham tak tahan melihat dia orang itu.
"Ada apa?" Tanya Jieru.
"Oh, Han datang membawa buah-buahan. Dia mengatakan jika dia baru saja mendapatkan kabar gembira." Jawab Jianying sinis, masih iri dengan sepasang kekasih itu.
Jieru menarik tangan Weiheng dan bergegas meninggalkan Jianying. "Haaaahhh....... Dasar kalian, tak bisakah kalian melihatmu nyamuk kecil seperti aku? Hiks.... Baru saja akan memancing, ikanku sudah ditangkap nelayan lain. Nasib...... Nasib......" Batin Jianying sambil geleng-geleng.
__ADS_1
Bersambung.......