
Jieru hendak pergi ke hutan terlarang untuk menemui teman-temannya, namun ditengah jalan dia malah merasa lemas.
Dung!!
"Apa... aku masih belum pulih sepenuhnya? Ah... tubuhku terasa tak memiliki tenaga sedikitpun, sangat lemas." Penglihatan Jieru kabur sedikit demi sedikit.
"Nona cantik, apa kau perlu bantuan?" Seorang pria mabuk mendekatinya.
"Pemabuk! Aku benci pemabuk!" Jieru hanya bisa bicara dalam hati.
"Kalau kau mau, kau bisa tinggal di rumahku malam ini. Aku bisa menjamin jika kau akan aman." Kata pria itu.
"Pergi dari hadapan... ku.... Jangan mendekat.... menying... kirlah..." Jieru semakin sempoyongan, tubuhnya semakin lemas.
"Aiyo... sudah seperti ini masih menolak menerima niat baik seseorang? Tak apa, kau bisa menghangatkan ranjangku yang sudah dingin selama bertahun-tahun malam ini." Kata pria mesum yang tengah mabuk itu.
Tangan kotornya mencoba untuk menyentuh tubuh bagian depan Jieru, namun seseorang datang tepat pada waktunya.
bugh!!!!
"Siapa?! Beraninya menyerangku?!" Pria mabuk itu marah-marah.
"Jangan gunakan tangan kotormu untuk menyentuh istriku!!!! Jika kau berani melakukannya maka aku tak bisa menjamin tanganmu akan tetap menempel pada tubuhmu!!!" Weiheng menatap tajam kearah pria itu.
Pria mabuk tadi langsung lari ketakutan melihat tatapan membunuh itu, dia langsung menghilang dalam sekejap.
"Apa kau baik-baik saja?" Tanya Weiheng sambil memapah Jieru.
"Kau... Weiheng.... suami... ku...." Kata Jieru lemas dan akhirnya pingsan.
"Suami?! Apa kau mengingat sesuatu?! Hey! sadarlah! Jangan membuatku panik!!" Weiheng langsung menggendong dan membawa Jieru pergi.
......................
Hutan terlarang
"Apa dia baik-baik saja?!" Tanya Weiheng khawatir.
__ADS_1
"Dia perlu istirahat untuk sementara waktu, tubuhnya sangat lemah sekarang ini." Jawab Gu Cheng.
"Syukurlah, ibu harus cepat sembuh!" Kata Gu An.
"Hey, sejak kapan ibu kami menjadi ibumu juga?!" Protes Minghao.
"Sejak..... tadi?" Gu An menjulurkan lidahnya.
"Ayah, apa ibu akan mengingat semuanya secepat mungkin? Zhishu ingin dipeluk seperti duku~~~" Zhishu tampak sedih.
"Tenanglah, ibumu pasti akan baik-baik saja. Sekarang sebaiknya kalian kembali tidur, besok ibu kalian pasti akan sadar." Kata Weiheng.
"Baik, ayah." Kata Minghao dan Zhishu bersamaan, mereka melanjutkan mimpi indah mereka yang sempat terputus tadi.
"Dia benar-benar lemah saat ini, aku tak pernah melihat dia yang selemah ini." Gu Cheng menggeleng.
"Dia pernah terlihat lemah sebelumnya, namun kalian tak akan pernah menganggap jika hal ini adalah sebuah kenyataan." Kata Weiheng sambil mengelus kepala Jieru dengan lembut.
"Apa?! Dia pernah selemah ini?! Sakit apa yang menyebabkan dia seperti itu?!" Tanya Gu Cheng sedikit tak percaya.
"Maksudmu?" Li Wei bingung.
"Maksudku adalah.... kami bukan berasal dari dunia ini. Kami berasal dari dunia modern yang ada di dimensi lain. Kami melakukan perjalanan waktu dan dimensi." Jawab Weiheng.
Li Wei dan Gu Cheng terdiam sejenak, mencerna ucapan Weiheng.
"Bagaimana bisa ada hal yang se mustahil itu?! Kau jangan bercanda! Itu tak mungkin! Dimensi lain? Perjalanan waktu? Dari dunia modern? Itu tak masuk akal!" Gu Cheng tak percaya.
"Sayangnya itu adalah sebuah kenyataan. Aku dan Jieru dalam kehidupan sebelumnya bernama Vivian dan Rein, kami bertemu di sebuah jembatan saat aku sedang mencoba untuk bunuh diri karena frustasi." Weiheng menceritakan semua kisah mulai dari A sampai Z.
Setelah hampir 1 jam kisahnya berakhir. Gu Cheng dan Li Wei masih sedikit tak percaya dengan apa yang diceritakan, namun benda-benda yang disebutkan Rein memang tak pernah mereka dengar atau jumpai. Aktris? Ponsel? Motor? Semua benda itu terdengar sangat aneh.
"Uh.... dimana ini? Apa yang aku lakukan disini?" Jieru sadar, namun tubuhnya terlalu lemah sekarang.
"Kau sadar? Apa kau merasakan sesuatu yang tidak enak? Apa ada yang sakit?" Tanya Weiheng khawatir.
"Aku tak apa, hanya sedikit pusing." Jawab Jieru.
__ADS_1
"Baiklah, kau sebaiknya istirahat dulu. Ini masih tengah malam, sebaiknya kita tidur sekarang." Weiheng merasa lega.
"Em.... selamat tidur." Gu Cheng menarik tangan Li Wei dan kembali ke area tidur mereka yang dilapisi dedaunan.
"Kau sebaiknya tidur sekarang, tubuhmu sangat lemah. Aku akan tidur disamping anak-anak, kau tidurlah dengan tenang." Weiheng berdiri, namun Jieru menarik tangannya.
"Bisa... bisakah kau tetap... disamping... ku?" Tanya Jieru sedikit gugup.
"Apa kau yakin? Sebelumnya kau terlihat sangat membenciku, mengapa sekarang ingin aku menemani kau tidur?" Tanya Weiheng dengan niat menggoda Jieru.
"I... itu memang kesalahanku, maafkan aku. Aku dimanfaatkan oleh mereka karena aku lupa ingatan, maaf atas semua kata-kata buruk yang aku katakan sebelumnya. Aku memang bodoh hingga dimanfaatkan, aku tak bisa mengingat siapa keluarga dan musuhku hingga aku membantu musuhku dan berusaha menghancurkan keluargaku. Aku minta....." Ucapan Jieru terhenti karena Weiheng menutup mulutnya dengan tangan.
"Sudahlah, ini hanya sebuah kecelakaan, jangan terlalu bersedih atau merasa bersalah." Weiheng memeluk Jieru.
"Tapi aku bahkan tak mengingat kalian, aku menyerang kalian saat itu, aku menyerangmu! Menyerang suamiku sendiri!" Jieru merasa sangat bersalin dan bodoh atas kejadian sebelumnya.
"Kau tenanglah, kami tak menyalahkanmu! Kami tau jika mereka telah menipumu, dan kau yang kehilangan ingatan pasti akan mempercayai mereka. Tenangkan dirimu dan tidur lah." Weiheng membaringkan tubuh Jieru.
"Em.... baiklah." Jieru menurut dan memejamkan matanya, sementara Weiheng berbaring telentang menatap langit malam yang tak berbintang.
"Aku tak seharusnya memeluk dia saat ini, dia pasti akan merasa risih." Batin Weiheng. Biasanya Jieru selalu memeluknya saat tidur, namun dia merasa tak enak untuk memeluk Jieru karena Jieru masih hilang ingatan.
"Itu..... bolehkah... aku memelukmu?" Tanya Jieru sedikit malu-malu.
"Dia.... ingin aku memeluknya?" Weiheng dengan cepat langsung memeluk Jieru dengan erat, sudah lama dia tak memeluk istrinya itu.
"Ternyata.... terasa nyaman. Apa ini pelukan suami yang tulus? Sangat hangat, juga sangat menenangkan hatiku." Jieru membenamkan wajahnya ke dada Weiheng dan mengeratkan pelukannya.
"Aku harap ibu cepat pulih, sudah lama aku tak melihat wajah ayah yang tersenyum." Batin Minghao yang sebenarnya masih belum tidur dan mendengar dari kejauhan sejak tadi.
"Satu lagi ingatan yang pulih, aku harus cepat pulih dan kembali pada keluargaku tanpa ada yang berbeda sedikitpun." Batin Jieru.
"Setelah selama ini berpisah, akhirnya aku bisa kembali memeluk dengan erat. Aku tak akan membiarkan kau lepas lagi. Aku hanya akan mengikatmu dalam pelukanku, tak ada yang aku izinkan untuk memiliki atau memanfaatkan dirimu lagi." Weiheng merasa sangat senang malam itu.
Jieru yang masih kehilangan ingatan terus berusaha untuk sembuh. Cintanya pada keluarga itu seperti sangat besar, entah apa yang mereka lakukan sebelumnya hingga ada ikatan yang begitu besar ini.
Bersambung......
__ADS_1