KEMBALINYA SANG AKTRIS

KEMBALINYA SANG AKTRIS
Kamar Penginapan yang Panas


__ADS_3

Penginapan, kamar Weiheng dan Jieru


"Ah..... su... suamiku~~~~"


"Sstt.... Diam. Anak-anak ada di sebelah, apa kau ingin mereka datang dan melihat kita?"


"Mmhh..... ta... tapi..... ah...."


"Sstt... Diam, atau aku akan melakukannya dengan lebih keras!"


"Jangan~ sakit~"


"Diamlah! Ini kesalahanmu sendiri!"


"Aku tak melakukan apapun, mengapa kau sangat kasar melakukannya? Ini sakit."


"Kau bahkan tak sadar telah melakukan kesalahan? Baiklah, aku akan melakukannya dengan lebih kasar! Ini hukuman untukmu!"


"Aahh..... Sakiiittt!!!" Jieru hanya bisa berteriak dengan suara tertahan ketika Weiheng menekan luka dilengan kanannya.


"Apa kau masih belum tau kesalahanmu?!" Tanya Weiheng sambil menatap Jieru kesal.


"Apa kesalahan yang aku lakukan?" Jieru balik bertanya, "Aku hanya melindungi suamiku! Me-lin-du-ngi! Itu bukanlah sebuah kesalahan!" Jawab Jieru.


Setengah jam yang lalu


"Apa keadaan sudah aman?" Tanya Jieru.


"Kurasa cukup aman, kita kembali ke penginapan sekarang." Jawab Weiheng.


baru beberapa langkah mereka berdua tiba-tiba dikepung sekelompok pembunuh.


"Yang sebelumnya sudah terbunuh, sekarang masih saja mengirim? Pengecut!" Kata Jieru.

__ADS_1


"Ikut dengan kami secara baik-baik atau secara paksa?" Tanya salah satu pembunuh.


"Tangkap saja kami kalau bisa!" Weiheng dan Jieru mengarahkan para pembunuh ke tempat sepi.


Pertarungan tak seimbang terjadi untuk kesekian kalinya. Para pembunuh berhasil dihabisi walau Jieru harus terluka karena melindungi Weiheng yang hampir saja terbunuh.


"Jangan lakukan lagi, anak-anak akan khawatir jika mengetahuinya." Weiheng mencubit pipi Jieru gemas.


"Tolong buka jendelanya sebentar, kamar ini terasa panas sekali." Pinta Jieru dengan nada manja.


"Bicaramu sangat manis ketika menginginkan sesuatu, kebiasaan yang sulit hilang." Weiheng membuka jendela sesuai permintaan.


"Kenapa panas sekali?! Hey, kipasi aku! Cepat!" Perintah Jieru.


"Hey, kau ini sangat aneh. Angin dari jendela sudah cukup membuatku kedinginan, kau masih kepanasan?" Weiheng mengambil kipas diatas meja.


"Apa kau tak mendengar perintahku? Kipasi aku!" Ketus Jieru karena Weiheng memberikan kipas itu padanya.


"Baik, istriku." Kata Weiheng sambil tersenyum, "Aku rasa pedang itu beracun, racun yang sangat hebat. Kalau tidak beracun mengapa dia menjadi aneh seperti ini? Cuaca dingin begini dia malah kepanasan?" Batin Weiheng sambil melakukan perintah istrinya.


"Sejak kapan istriku ini menjadi seorang pembaca pikiran?" Weiheng berhenti mengipasi Jieru.


"Istrimu ini selalu tau apa yang kau pikirkan. Terus kipasi aku, jangan berhenti." Kata Jieru tanpa membuka matanya.


"Bolehkah aku menutup jendelanya? Sangat dingin." Kata Weiheng.


"Aku sudah bilang disini panas! Jangan tutup jendelanya sebelum aku tidur!" Jawab Jieru.


"Memang ramuan apa yang kau minum? Apa efeknya? Apa spesialnya?" Tanya Weiheng.


"Suaraku akan berubah, ini sangat berguna untuk rencanaku besok." Jawab Jieru.


"Memang apa rencanamu?" Tanya Weiheng lagi.

__ADS_1


"Rumah bordil. Aku akan pergi ke sana besok." Jawab Jieru.


"Untuk apa pergi ke sana? Apa.... apa kau sekarang menyukai perempuan?! Hey, kau sudah punya suami! Jangan melenceng hanya karena kau terbit menggunakan pakaian pria!!" Weiheng terkejut dan panik sendiri.


"Entah mengapa aku bisa menikahimu? Hilang ke mana kepintaran yang kau miliki?" Jieru membuka matanya dan menatap Weiheng sinis.


"Apa? Kau ingin pergi ke rumah bordil! Kau pikir aku tak tau tempat apa itu?! Tak akan aku izinkan kau melenceng!!" Weiheng mengguncang tubuh Jieru kuat.


"Ber... berhenti..... kepalaku pusing....." Kata Jieru.


"Jangan melenceng!!! Ingat kau juga perempuan!!" Weiheng malah mengguncang semakin kuat.


"Aku kesana untuk melihat Zhang Bingjie, aku dengar dia sering kesana. Setelah memastikan aku akan menyamar menjadi pelayan istana dan bertemu Bao-yu, beritau dia tingkah laku suaminya. Kita bisa memanfaatkan keadaan dan membuat mereka saling membenci." Jelas Jieru.


"Oh..... mengapa tak bilang dari kemarin?" Weiheng melepaskan Jieru dan bicara dengan santai.


"Kau saja yang bod*h, aku ingin memberitahu tapi kau sudah tidur kemarin malam. Kau tau sendiri jika dari pagi sampai sore kita sibuk mengajari dan menjaga anak-anak." Kata Jieru.


"Mengapa tidak aku saja yang pergi kesana?" Tanya Weiheng.


"Tempat ini sangat panas, aku sampai ingin memukul orang hingga tewas. Apa kau mau membantuku?" Tanya Jieru dengan senyuman iblis.


"Hoaaam..... Aku mengantuk, aku rasa besok tak akan bisa bangun. Jangan bangunkan aku besok, kau saja yang pergi ke sana." Weiheng yang ingin selamat berpura-pura mengantuk dan tidur.


"Dasar laki-laki!!" Gumam Jieru, "Haaaaahhh...... mengapa panas sekali?! Huh! Aku bahkan harus menunggu besok pagi agar suara bisa berubah, itupun hanya untuk satu hari." Jieru melepas pakaiannya satu per satu setelah menutup jendela.


"Ingin melakukannya?" Tanya Weiheng ketika Jieru memeluknya.


"Ingat anak sudah berapa dan tujuan kita, setelah semua selesai baru kita lakukan." Jawab Jieru yang membenamkan wajahnya di dada sang suami.


"Ini sudah satu tahun sejak terakhir kali, aku harus menunggu berapa lama lagi?" Weiheng memeluk Jieru.


"Tunggu saja, setelah semua berakhir. Jangan lupa untuk menjaga tangan nakal itu." Kata Jieru yang merasakan tangan Weiheng menggeliat ke arah yang salah.

__ADS_1


"Yayaya terserah kau, aku akan menunggu." Weiheng menghentikan tangannya yang semakin turun.


Bersambung..........


__ADS_2