
"Berita apa yang ingin kau sampaikan?" Tanya Jieru pada Minghao.
"Bukan hal yang penting, hanya saja aku melihat nenek gayung itu bertemu dengan seseorang." Jawab Minghao santai.
"Hm? Siapa?" Tanya Jieru lagi.
"Hanya seorang pengawal biasa, tapi cukup muda dan tampan." Jawab Minghao yang asik berbaring di atas ranjang.
"Kau tau cara menjebak?" Tanya Jieru lagi.
"Selembar surat saja sudah cukup, kan?" Minghao bangun dan mulai menulis sesuatu di atas kertas dengan tinta.
"Jangan terlalu sering berbicara dengan kaisar, lihatlah dirimu sekarang! Kau selalu melakukan sesuatu dengan sikap dan nada santai, bahkan saat melawan pembunuh juga sangat santai!" Jieru duduk disebelah putranya yang sekarang terlihat gagah dan tampan, berbeda jauh dengan bocah imut bertahun-tahun lalu.
Keesokan harinya
"Hais.... paman, aku sedang bingung sekarang." Minghao duduk di depan meja kaisar yang berisi dokumen-dokumen penting dengan santainya.
"Oh? Minghao juga bisa bingung? Aku pikir kau hanya seorang bocah kecil yang sangat dingin, tak berperasaan, tak bisa takut, kuat, selalu bersikap santai dan tak perduli dengan bahaya di depan mata. Apa yang kau bingungkan?" Kaisar terus mengoceh walau masih tetap fokus dengan semua dokumen itu.
"Paman, jika kau berada di situasi yang membingungkan, apa yang akan kau pilih? Tetap tinggal bersama gadis yang terlanjur kau cintai, atau bersama ibu dan kehilangan dia untuk selamanya?" Tanya Minghao.
"Tentu saja aku akan memilih ibu, dia mengorbankan nyawa demi melahirkan kita." Jawab kaisar yang terus membaca dokumennya.
"Aish.... aku bingung jika suatu hari nanti aku bisa kembali ke dunia ibuku, bagaimana dengan dia?" Minghao yang sehari-hari terlihat cuek dan dingin nampak bingung dan berpikir keras.
"Jadi kau sangat mencintainya?" Tanya kaisar yang berhenti membaca dan menatap Minghao.
"Itu tidak mungkin! Aku sudah menganggap Gu An sebagai adikku sendiri!" Minghao yang ingin berbohong malah melupakan sebuah hal penting.
"Oh? Sejak kapan aku menyebutkan nama Gu An?" Tanya kaisar yang membuat Minghao gelagapan.
"I.. itu... aku... aku pikir paman pasti merujuk pada dia, karena kau merasa jika kami cukup dekat!" Minghao langsung kabur.
"Ckckck, Vivian harus aku beritahu atau tidak, ya? Hm.... beritahu saja!" Kaisar pergi secara diam-diam lewat atap agar tak ada yang mengetahui bahwa dia telah kabur dari ruang bacanya.
__ADS_1
......................
"Sebenarnya ada informasi sepenting apa sampai dia harus mengirim surat dan memintaku untuk datang secepatnya?" Selir Yao menggerutu sambil mengendap-endap menuju suatu tempat.
Dia menyusuri lorong-lorong minim cahaya menggunakan jubah hitam, dia bertindak seperti seorang pencuri. Setelah beberapa lama dia sampai di sebuah paviliun terbengkalai, dia masuk ke dalam sebuah ruangan. Walau diluar terlihat kumuh, tetapi kamar itu sangat bersih dan rapi bahkan ranjang disana juga sangat nyaman dan bagus.
"Sudah sampai atau belum?" Selir Yao melihat sekeliling.
"Kau sudah sampai?" Seorang prajurit muncul dengan jubah hitam yang menutupi tubuhnya.
"Ada masalah apa hingga kau mengirim surat? Bukankah setiap malam kita selalu bertemu?" Tanya Selir Yao.
"Em.... ada sebuah masalah, tapi aku akan memberitahu setelah 'kegiatan rutin' kita." Jawab prajurit itu sambil membuka jubah juga pakaiannya hingga bagian dadanya terlihat.
"Dasar tak sabaran~~~" Selir Yao melanjutkan membuka pakaian si prajurit muda itu.
Brak!!!!
Seseorang mendobrak pintu saat dua orang itu berhubungan, orang itu ada kaisar.
"Kakak tak buruk juga dalam berakting." Jieru yang sedari tadi mengawasi dari atas atap sebuah ruangan yang tak jauh dari TKP memakan pisang dengan santai.
"Ibu, kau tak bisa jauh dari makanan?" Tanya Minghao yang juga melakukan hal serupa dengan Jieru.
"Aku hanya makan buah, ini sehat! Lagipula kau juga makan, kan?" Jieru menatap Minghao seolah-olah mereka bukanlah ibu dan anak melainkan pasangan yang sedang perang dingin.
"Tak bisa mengingat usia? Kalian itu ibu dan anak, jangan bertingkah seperti hubungan lain!" Jianying yang tiba-tiba muncul mengambil buah pisang terakhir dan ikut menonton.
"Itu milikku!!!!" Jieru mengeluarkan belatinya.
"Ambil saja ini dan lanjutkan menonton!" Seseorang datang dan memberikan sekeranjang buah.
"Cih! Bilang saja jika kau ingin melindungi istrimu yang tak punya perasaan padamu ini!" Ketus Jieru sambil mengambil buah dalam keranjang.
"Jika ingin bicara buruk maka jangan makan!" Jianying membaringkan tubuhnya dan menatap langit malam penuh bintang.
__ADS_1
"Hukum mati mereka berdua!!!" Perintah kaisar yang memang sudah direncanakan sejak awal oleh Jieru dan Minghao, kaisar bahkan diberikan sebuah naskah untuk dihafal.
"Ap... apa?! Tidak!! Jangan!!" Selir Yao memohon.
"Enyahlah dari hadapanku!!! Hukum mati dia besok!! Seluruh rakyat ibu kota harus melihat bagaimana dia dihukum gantung!!" Kaisar menendang Selir Yao.
"Tolong ampuni aku!!!" Selir Yao terus memohon.
"Yang mulia!!! Hukum mati saja mereka berdua!!! Jangan beri mereka ampun!! Mereka sudah melakukan hal hina dan menghancurkan nama baik kerjaan ini!!!" Seorang gadis pelayan yang selama ini merupakan pelayan putri kaisar muncul dengan derai air mata. Dia sangat terpukul saat mengetahui bahwa suaminya memiliki hubungan terlarang dengan wanita seperti Selir Yao yang bahkan jauh lebih tua dirinya.
"Kau istrinya, bukan? Kau adalah pelayan putriku dan sikapmu sangat baik, sayang sekali kau memiliki suami seorang baj*ng*n!!" Kaisar pergi.
Keesokan harinya Selir Yao benar-benar dihukum gantung dan disaksikan oleh seluruh rakyat ibu kota, sebelum dieksekusi banyak rakyat yang melempari dengan telur busuk dan batu. Ketika Selir Yao sudah meregang nyawa semua bersorak dan nampak puas.
Bao-yu yang tak sanggup menanggung beban dari perbuatan buruk mereka selama ini nekat bunuh diri, dia ditemukan telah menggantung di dalam kamarnya. Nampaknya dia tak lagi memikirkan putra kesayangannya, jadi dia melakukan hal itu.
"Hais..... mengapa penderitaan mereka sangat mudah? Ini tak menarik sedikitpun!" Jieru nampak kecewa. Bagaimana tidak? Dia harus menderita selama puluhan tahun, tetapi Selir Yao dan Bao-yu mati dengan begitu saja?! Bahkan Zhang Bingjie hanya menjadi gila di dalam penjara bawah tanah yang dingin.
"Aku juga kecewa, mereka mati dengan sangat mudah!! Mereka hanya digantung lalu mati, sangat tidak sepadan dengan penderitaan yang telah mereka timbulkan!! Huh!!" Minghao membuang kasar nafasnya.
"Ckckck, tapi syukurlah putra Bao-yu tau kejahatan mereka dan mendukung kita sejak awal." Gu Cheng muncul secara tiba-tiba.
"Apa kalian tau kapan kalian akan pergi?" Tanya Gu An yang berada di belakang ayahnya.
"Masih belum tau, mungkin secepatnya?" Jieru menaiki pembatas jembatan.
"Bibi, dibawah sana adalah sungai yang dalam, Kau tak takut jatuh? Sejak terjatuh di lembah itu kau jadi takut kedalaman dan tak bisa berenang, bagaimana jika kau jatuh?" Gu An menarik tangan Jieru.
"Ckckckck, yayaya aku akan turun!" Jieru hendak turun namun kakinya tergelincir dan jatuh ke dalam danau.
"Ibu/Bibi!!!" Gu An dan Minghao segera masuk ke dalam air untuk menyelamatkan Jieru.
"Ah.... mengapa aku harus takut kedalaman dan tak bisa berenang disaat seperti ini? Aish.... mungkin Rein dan Valencia hanya akan bertemu dengan Minghao alias Michael." Jieru mulai kehilangan kesadaran.
"Gu An! Minghao! Jieru!" Gu Cheng panik.
__ADS_1
Bersambung.....