KEMBALINYA SANG AKTRIS

KEMBALINYA SANG AKTRIS
Derik


__ADS_3

Entah sudah berapa lama mereka hinggap di atas pohon itu, akhirnya seorang ibu-ibu penjual gorengan melempar beberapa buah batu untuk mengusir kawanan anjing itu.


"Kalian ga papa?" Tanya ibu itu sambil mendongak karena remaja-remaja itu masih berada di atas pohon.


"Fiuh.... iya, ga papa! Makasih, bu!" Valencia sudah bisa menghela nafas lega langsung melompat turun dan memeluk si ibu yang tubuhnya bau keringat.


"Eeh.... jangan! Baju ibu bau kena keringat, nanti baju kamu juga ikutan bau!" Si ibu mendorong pelan tubuh Valencia dengan satu tangan karena tangan lainnya memegang keranjang berisi gorengan yang masih banyak.


"Hehehe..... sekali lagi makasih ibu udah nolongin kita!" Valencia melepas pelukannya dan tersenyum manis, sangatttt manisss.


"Makasih karena udah nolongin kita. Kalo ibu ga ada mungkin kita bakal lebih lama jadi burung yang diincar sama mereka, apalagi disini ada yang takut sama anjing." Rian yang sebelumnya turun setelah Valencia melompat berterima kasih dan menatap Valencia dengan tatapan mengejek.


"Setidaknya aku ga nipu teman dan kabur duluan!" Valencia mendelik tajam ke arah Tomi.


"Kalian kok bisa sampai disini dan dikejar?" Tanya si ibu.


"Ibu.... ibunya Derik, kan?" Tanya Tomi yang menyadari bahwa wajah si ibu mirip dengan temannya.


"Derik? Kalian temannya anak saya?" Tanya si ibu.


"Iya! Kita temannya!" Jawab Rian.


"Tunggu.... kalian berdua yang datang tahun lalu, kan?" Ibu itu menunjuk Rian dan Tomi bergantian.


"Ah, iya! Kita kesini mau nyari Derik!" Jawab Tomi.


"Ya udah, kalian ikut ibu aja." Ajak si ibu dan dibalas anggukan dari empat remaja di depannya.


Mereka berjalan kaki sekitar dua puluh menit sebelum akhirnya sampai di sebuah kontrakan kecil. Lingkungan sekitar cukup bersih walau agak sempit, jalan yang ada juga cukup untuk motor lalu lalang walau harus merapat ke tembok-tembok rumah warga ketika berpapasan.


"Derik ada di dalam, yuk masuk!" Ajak si ibu.


"Ibuuu!!!" Seorang gadis kecil berusia sekitar 5 tahun berlari keluar rumah dan memeluk ibu Derik.


"Emil.... jangan lari-lari, nanti jatuh!" Suara seseorang yang cukup familiar ditelinga Rian dan Tomi terdengar dari dalam, tak lama Derik muncul.


"Derik!! Lo kok ga masuk sekolah?!" Tanya Rian dan Tomi bersamaan.


"Gua sakit, jadi ga bisa masuk. Emang kalian ga tau?" Derik menggendong adiknya, Emil.


"Tau ya tau, tapi ga salah dong kita khawatir? Kita juga sekalian bawain tugas dari sekolah, buruan salin!" Rian merogoh tas sekolahnya yang sejak tadi masih setia di punggungnya, dia mengeluarkan sebuah buku dan memberikannya pada Derik.


"Masuk dulu, lanjut ngobrol di dalam aja." Ibu Derik yang sudah berada di depan pintu mengajak yang lain masuk.

__ADS_1


"Em.... yuk, aku juga sekalian mau duduk istirahat!" Valencia langsung masuk.


"Dasar Valencia, ga ada rasa sungkan sedikitpun!" Ketus Amelia.


Mereka berbincang-bincang sementara ibu Derik membuat teh. Valencia sedari tadi tidak mendengar percakapan teman-temannya, dia sibuk melihat setiap sudut rumah kontrakan kecil itu.


"Hoiii!!!!" Teriak Amelia ditelinga Valencia dan membuatnya kaget.


"Aduuuhh apaan?" Valencia mengusap telinganya.


"Lo denger ga sih pertanyaan Derik tadi?!" Tanya Tomi agak ngegas.


"Hah? Emang dia nanya apa sampai harus neriakin aku?" Tanya Valencia.


"Kok kalian udah ganti baju sedangkan Rian sama Tomi masih pakai seragam?" Tanya Derik.


"Itu doang harus neriakin aku? Bukannya Amelia juga bisa ngejelasin?" Valencia langsung menyeruput teh hangat yang baru saja di suguhkan oleh ibu Derik.


"Huuh.... lo dari tadi celingak-celinguk kagak jelas, makanya kita suruh Amel teriak." Jawab Rian sambil menghela nafas.


"Awalnya kita hari ini mau langsung ke mall setelah pulang sekolah, makanya bawa baju ganti masing-masing. Karena dengar ada yang lagi khawatir sama temannya, ya udah kita ga jadi pergi." Jawab Valencia.


"Tapi sebenarnya kalian ga usah ikut, kenapa jadi ikut?" Tanya Derik.


"Penasaran aja, soalnya kemarin dapat informasi dari orang." Jawab Valencia.


"Kalian kok bisa dikejar-kejar anjing? Kalian lewat jalan sempit itu?" Tanya Derik.


"Iya! Demi lo kita sampai kehilangan nyawa!" Ketus Tomi.


"Hahaha!!! Siapa suruh ada jalan yang lebih aman malah milih jalan yang bahaya? Hahaha!!!" Derik tertawa terbahak-bahak.


"Lo cuma ngasih tau jalan itu doang, makanya kita lewat sana!!!" Rian menggerakkan tangannya seperti ingin menerkam Derik.


"Kalian ga tau? Aku pikir kalian emang milih jalan yang lebih dekat? Kalo kalian ga tau mending aku yang ngarahin tadi." Valencia dengan santai meminum tehnya.


"Lo tau ada jalan lain?!?!" Tanya Rian dan Tomi bersamaan.


"Iya, kenapa?" Tanya Valencia lagi dengan wajah polosnya.


"Andai lo bukan cucu keluarga Chandra, udah gua cincang-cincang badan lo!!!!" Tomi mulai geram.


"Emil cantik! Mau kakak ajak jalan-jalan ke mall ga?" Tawar Valencia.

__ADS_1


"Mauuuu....." Jawab Emil.


"Hari sabtu nanti kakak datang lagi kesini, oke? Kakak jemput Emil terus ajak Emil kesana. Tempatnya baguuus banget, Emil pasti suka!" Valencia mencubit pipi Emil dengan gemas.


"Aku juga ikut!" Sahut Amelia.


"Lo bisa bawa motor?" Tanya Derik.


"Emang kenapa kalo bisa? Salah?" Valencia dan Amelia balik bertanya.


"Ya udah, kita pergi bareng aja. Hari sabtu nanti kita ketemu di depan kediaman Chandra, terus langsung jemput Emil." Kata Rian.


"Gua ga diajakin?" Tanya Derik menunjuk dirinya sendiri.


"Kamu duduk di ban depan aja, gimana?" Usul Valencia yang membuat Derik menatapnya datar.


"Sabtu ini kita bakal datang lagi jam 2 siang, Emil harus Siap-siap!" Valencia kembali mencubit pipi Emil.


"Kita balik dulu, ntar bisa dihajar anak buah keluarga Chandra kalo kelamaan minjem nih permaisuri." Rian melirik Valencia.


"Hm.... yayaya, kita pulang sekarang." Valencia berdiri. Setelah berpamitan dengan ibu Derik, mereka menelusuri jalan yang tak terlalu lebar itu. Setelah hampir 50 berjalan kaki akhirnya mereka sampai di luar gang.


"Katanya lebih jauh, kok rasanya lebih cepat dari yang sebelumnya?" Amelia nampak sedang berpikir.


"Emang lebih dekat, tapi cafe tadi masih agak jauh." Jawab Valencia. Mereka melanjutkan perjalanan menuju cafe, setelah sampai Rian langsung mengantar Valencia sementara Tomi mengantar Amelia.


Hari sabtu


"Kediaman Chandra emang sebesar ini, ya?" Tomi menatap kagum pada bangunan megah didepannya.


"Halo, saya kepala pelayan rumah. Nona Valencia sedang mandi, silahkan masuk dan duduk dulu." Kepala pelayan menyambut Rian dan Tomi dengan ramah.


"Em... iya... iya..." Rian hanya bisa mengangguk dengan senyum canggung sementara Tomi sepanjang jalan hanya bisa mangap melihat setiap bagian kediaman Chandra yang dia lewati.


Setelah menunggu beberapa menit akhirnya Valencia turun dengan pakaian sederhana dan rambut yang dikuncir kuda. Amelia yang sepertinya menginap juga menuruni tangga dibelakang Valencia.


"Berangkat sekarang?" Tanya Valencia.


"Cantiknya...." Bukannya menjawab Rian malah bergumam.


"Hoiii!!!! Berangkat sekarang?!?!" Tanya Valencia dengan suara lebih keras.


"Ah, iya! Be... berangkat sekarang!!" Jawab Rian yang langsung tersadar dari lamunannya.

__ADS_1


Dengan segera mereka pergi ke kontrakan Rian dengan mengendarai motor. Valencia, Tomi, dan Rian mengendarai motor, sementara Amelia dibonceng Tomi.


Sepanjang hari mereka berkeliling mall dan makan di sebuah restoran. Jujur saja Derik tak menyangka bisa makan bersama Valencia yang dikenal sebagai cucu keluarga Chandra, bahkan bisa ditraktir olehnya. Rian dan Tomi terkadang mentraktir dia makan di restoran atau warung makan dan membungkus beberapa jenis makanan untuk dibawa pulang olehnya. Tapi ini pertama kali dia ditraktir perempuan keren dan terkenal, karena semua anak perempuan keluarga kaya yang pernah dia lihat sangat sombong. Keluarga Chandra memang cukup misterius dengan sifat anggota perempuan mereka, jadi wajar jika tak ada yang tau jika mereka bukan perempuan pencinta kemewahan.


__ADS_2