KEMBALINYA SANG AKTRIS

KEMBALINYA SANG AKTRIS
Nantangin?


__ADS_3

Suatu hari di sebuah SMA elite di kota besar, beberapa orang murid laki-laki berandalan menggangu dua orang murid perempuan yang hendak pergi ke kantin sekolah.


"Cewek, kenalan yuk!" Seseorang menghadang Valencia dan Amelia.


"Ga ada waktu buat kalian, cepat minggir!!" Ketus Amelia.


"Aduh... kok galak banget? Kan kita cuma mau kenalan doang?" Satu orang lagi muncul dibelakang mereka.


"Jangan cuma karena kalian itu anak keluarga kaya kalian bisa mandang rendah kita. Kalian tetap bisa puas sama pelayanan kita, mau cobain?" Seseorang lagi muncul.


"Jangan ganggu kami, pergi sekarang!" Ketus Valencia yang sudah mulai jengkel.


"Kamu.... Valencia? Yang cucu perempuan keluarga Chandra?" Tanya salah seorang dari mereka.


"Kalau udah tau mending minggir atau kalian terima akibatnya!" Valencia menatap dengan tajam.


"Jangan galak-galak dong, sayang~~" Orang pertama tadi mencoba menyentuh wajah Valencia, namun Valencia menepis tangan kotor itu dengan kuat.


"Kamu ga tau kita ini siapa?! Ga ada satu orang pun yang ga tunduk sama kita!!! Beraninya lo nolak gue?!" Bentak murid laki-laki tadi.


"Mereka yang tunduk sama orang kayak kalian pasti matanya rabun, kalo ga ya pasti buta!" Valencia menatap remeh.


"Kurang ajar!!! Lo nantangin?! Jangan kira gue ga berani mukul hanya karna lo cewek!!" Orang dibelakang Amelia menarik rambut gadis di depannya dengan kasar.


"Dasar laki-laki breng**k!!!" Valencia dengan cepat menahan tangan orang itu dan menggenggamnya dengan sangat kuat sampai dia kesakitan.


"Le... lepasin!! Lepasin tangan lo!!!" Teriaknya.


"Dasar ga tau diri!!!" Satu orang lagi hendak memukul Valencia namun berhasil ditahan.

__ADS_1


"Nantangin? Belum tau kemampuan orang, ya?" Valencia memandang rendah lalu hanya dalam sekali serang dua murid itu langsung tamat. Satu orang kepalanya menghantam dinding, dia jatuh tersungkur dan kesakitan. Sementara yang lainnya nyungsep dan kepalanya masuk selokan, untungnya selokan cukup lebar jadi wajahnya tak tergores.


"Kalo ga salah lo itu adkel, kan? Nama lo..... Rian, kan? Jadi.... mau ngerasain yang sama kayak mereka, atau rasa yang lain?" Tanya Valencia sambil tersenyum menyeramkan seperti seorang psikopat profesional.


"Kurang ajar!!!" Rian mencoba melawan Valencia. Dia punya keahlian seni bela diri dan termasuk yang paling ahli disekolah, karena itu dia berani melawan Valencia meski dua temannya berakhir tak baik. Sayangnya Valencia berada seribu tingkat diatasnya, bahkan Valencia sudah terbiasa membunuh sejak usia 3 tahun😏.


"Akh!! Si*l!!! Ga pernah ada yang bisa menang dari gue, kenapa malah kalah ditangan cewek kaya yang sombong begini?!" Pikir Rian. Dia kalah telak dari Valencia yang terlihat lemah lembut itu, rasa malu telah membunuhnya.


"Udah? Segitu doang?" Tanya Valencia yang merasa kurang puas menghajar, dia mencoba untuk memancing emosi Rian. Valencia sudah 14 tahun tak melawan orang, jadi dia sedang dalam mode cari perkara saat ini.


"Dasar sombong!! Liat aja gimana lo dikalahin!!" Rian mengambil posisi, kedua temannya juga melakukan hal yang sama.


"Kalian mau main keroyokan? Hayuk, siapa takut? Tapi kalo kalah jangan nangis, oke?" Valencia nampak berdiri santai tanpa persiapan tertentu.


"Banyak omong!!" Ketiga murid laki-laki itu menyerang Valencia secara bersamaan, mereka mengeluarkan semua tenaga tapi Valencia tetap terlihat santai menepis setiap serangan mereka. Mereka tak punya harga diri atau rasa malu, jadi mereka tak perduli jika yang sedang mereka keroyok adalah seorang gadis cantik.


"Kalian ini bahkan kemampuannya sama dengan kak Minghao waktu umur 3 tahun, mana mungkin aku kalah dari kalian?" Batin Valencia sambil mengingat kakaknya yang sering curang itu.


"Valencia!!!! Rian!!! Tomi!!! Derik!!! Berhenti!!!! Atau saya panggil orang tua kalian!!!" Nenek lampir itu membuat beberapa murid lain yang sebelumnya menonton 'pertunjukan' langsung bubar dan menghilang, lenyap begitu saja.


"Mereka yang mulai duluan!! Mereka mau melakukan kekerasan dan pelecehan!!" Valencia memulai 'pertunjukan' barunya.


"Rian!!! Tomi!!! Derik!!! Kalian mau 'hadiah' baru macam apa sekarang????" Sebuah penggaris kayu sepanjang satu meter nampak berada ditangan sang nenek lampir 'terhormat' itu, tatapan matanya yang tajam dan memberikan membuat Rian ketakutan.


"Ibu.... mereka mau ngelakuin hal ga baik, saya mau membela diri tadi..." Valencia berlari dan bersembunyi dibelakang ibu Sri sambil menatap ketakutan ke arah Rain.


"Mereka itu emang punya niat buruk, bu!! Kita tadi mau ke kantin tapi mereka nahan kita! Untungnya saya cepat cari bantuan, kalo ga Valen pasti diapa-apain sama mereka!!" Amelia yang sudah tau jalan main sahabatnya ikut melakukan 'pertunjukan'.


"Bohong, bu!! Mereka bohong!! Kita cuma mau kenalan doang!! Ga ada niatan lain apalagi sampai pelecehan!! Mereka bohong!" Rian membela diri.

__ADS_1


"Iya, bu!! Mereka bohong!! Kita ga ngelakuin yang macam-macam!!" Timpal Derik.


"Ibu jangan langsung percaya sama omongan mereka!! Mereka ga punya bukti!!" Timpal Tomi.


"Ok! Kalian semua ikut saya ke kantor! Bu Tia yang akan melakukan tindakan selanjutnya pada kalian!!" Kata bu Sri.


"Baik, bu!" Jawab ketiga murid laki-laki itu sambil menunduk. Sakit karena dipukuli Valencia masih belum hilang, sekarang mereka harus ke ruang BK.


"Nantangin? Tetap berakhir dengan sangat 'baik' di tanganku!!" Kata Valencia dalam hati.


"Ibu.... ayah.... nih cewek kok kayak psikopat profesional, ya? Serem banget! Ngeliat matanya aja bikin nyawa melayang!" Rian yang melihat tatapan membunuh Valencia langsung kapok dan menyesali perbuatannya tadi.


Ruang BK


"Valencia, apa bukti yang kamu punya? Kenapa kamu bilang kalo mereka mencoba melakukan pelecehan?" Tanya bu Tia.


"Tadi mereka narik rambut Amelia, terus tangannya tuh dikiiiit lagi nyentuh punya Amelia yang diatas!" Jawab Valencia.


"I... itu ga sengaja! Saya ga ada niatan untuk nyentuh!!" Kata Derik.


"Kalo ga ada niatan kenapa pas ngeroyok aku kamu coba ambil kesempatan buat pegang-pegang?" Tanya Valencia yang telah mengaktifkan mode menyedihkan.


"Itulah juga ga sengaja!! Kita lagi serius buat nyerang, pasti tanpa sadar!!" Kali ini Tomi yang berbicara.


"Sengaja tidak sengaja kalian tetap hampir melakukan pelecehan!" Tegas bu Tia.


"Tapi kita ga nyentuh sedikitpun!" Rian yang tak ingin disalahkan atas perbuatan yang tak dilakukannya terus membela diri.


"Saya bisa melupakan kasus ini dan tak akan membahasnya demi nama baik sekolah. Tapi saya punya sebuah syarat, mereka bertiga harus ngebersihin area parkiran dan mushola!! Saya lihat waktu nunggu teman yang lagi sholat disana banyak sampah, jadi kalian bisa bersih-bersih sambil nambah pahala kalian." Kata Valencia.

__ADS_1


"Setuju!!!" Rian yang mendengar persyaratan Valencia langsung menyetujuinya. Sebenarnya dia sudah lama sangat terganggu dengan sampah yang menggangu pemandangan itu, sesekali dia akan memungut satu dua buah sampah yang dia lihat. Dengan adanya syarat ini dia bisa mengajak dua temannya untuk bersih-bersih, mereka tak bisa menolaknya kali ini.


Bersambung......


__ADS_2