KEMBALINYA SANG AKTRIS

KEMBALINYA SANG AKTRIS
Pindah Dimensi


__ADS_3

Malam hari, kamar Weiheng dan Jieru


"Suamiku, aku merasa jika kita berada di tempat yang tak pernah ada." Kata Jieru sambil memikirkan sesuatu dan terlihat serius.


"Apa maksudmu? Tak pernah ada?" Weiheng bingung.


"Aku baru saja teringat. Nama kaisar, permaisuri, dan semua ini, tak pernah ada dalam sejarah." Kata Jieru lagi.


"Mungkin kau hanya melupakannya? Bagaimana bisa tak ada?" Weiheng duduk di depan Jieru.


"Tidak, tempat ini memang tak pernah ada. Aku sudah mengingat semua dengan jelas, tempat seperti ini seharusnya tidak ada. Apa lagi tahun saat kita baru tiba seharusnya sudah tak ada perang, seharusnya sudah berakhir. Seharusnya tak ada kerajaan. Betapa bod*hnya aku tak mengingat pelajaran ini?" Kata Jieru.


"Jadi maksudmu, kita bukan hanya melintasi waktu?" Weiheng menatap Jieru dengan tatapan yang sulit diartikan, antara bingung atau entah apalah itu.


"" Aku curiga jika kita berada ditempat yang tak berkaitan dengan sejarah dunia kita. Kita tak hanya melintasi waktu, tapi juga melintasi dimensi." Jieru menatap Weiheng dengan penuh keyakinan dan serius.


"Pfftt.... Hahaha!! Bagaimana mungkin? Kau sepertinya terlalu banyak berpikir sampai kelelahan dan berpikir yang aneh-aneh, istirahat saja." Weiheng tertawa.


"Ayolah, aku serius!" Jieru berdiri.


"Aku rasa kau hanya melupakan bagian ini, kau bahkan baru mengingat pelajaran sejarah sekarang, kan? Kau pasti melupakannya." Weiheng memeluk Jieru dari belakang.


Jieru melepas pelukan Weiheng, "Tidak, aku memang tak pernah membaca atau mendengar kerajaan ini atau bahkan nama kaisar. Aku serius! Kita pasti berpindah dimensi!".


" Sudah-sudah, sebaiknya kau pergi tidur. Kau memang terlalu lelah karena banyak berpikir, setelah istirahat semua pikiran itu pasti akan hilang." Weiheng memegang kedua pundak Jieru.


"Tapi aku sangat yakin, kita memang berpindah ke dimensi lain. Apa kau tau tahun berapa ini sekarang? Seharusnya tak ada perang atau kerajaan sejak bertahun-tahun lalu, kita sudah pasti berpindah dimensi!" Jieru tetap kuekuh dengan pendapatnya.


"Putri kecil ibu memang sangat pintar, hanya saja kau sedikit lamban." Sebuah suara muncul, namun orang yang berbicara entah berada dimana.

__ADS_1


"Siapa itu? Keluar!" Perintah Weiheng.


"Ibu?! Ibu dimana?! Aku mohon keluar dan jelaskan semua ini, bu!" Jieru melihat kesana-kemari.


Sebuah cahaya terang menyilaukan muncul didekat mereka, sesosok wanita muda nan cantik muncul ketika cahaya itu menghilang. Wanita itu adalah ibu Jieru didua kehidupan lalu, bisa dibilang versi mudanya.


"Mengapa kami bisa ada disini? Apa tujuan kami yang sebenarnya? Tolong ibu jelaskan!" Desak Jieru.


"Anakku yang manis, ibu akan jelaskan." Wanita dengan pakaiannya tradisional berwarna putih namun memiliki kesan elegan dan mewah itu mendekat.


"Ibu tolong jelaskan! Jangan buat aku semakin tak mengerti, tolong jelaskan tanpa bertele-tele!" Jieru mendesak.


"Sejak kapan kau menjadi pembangkang?! Dasar anak nakal!" Wanita itu mencubit lengan Jieru kuat, namun Jieru tak bereaksi apapaun.


"Aku sudah menjalani hidup penuh penderitaan, apa menurutmu itu setara dengan sakit yang ibu berikan barusan?" Jieru menatap dengan sedih.


"Ibu akan jelaskan. Kalian berdua ditakdirkan untuk bersama, juga untuk menghilangkan keburukan di tempat ini. Setelah kalian berhasil, aku akan memberikan petunjuk agar kalian bisa kembali ke dunia kalian yang sebenarnya, anak-anak kalian juga bisa ikut, jika mau teman-teman kalian juga bisa." Kata ibu Vivian.


"Nyonya tolong katakan maksud dari 'permainan' ini, mengapa harus kami yang berada disini? Kami bahkan harus menikah dua kali karena 'permainan' ini." Weiheng merangkul Jieru.


"Kita memang sangat asing, kau bahkan memanggil aku 'nyonya' dan bukan 'ibu' atau 'ibu mertua. Aku rasa kau lebih senang dan lebih setuju dengan selir Jiao yang menjadi ibunya." Kata ibu Vivian.


"Kita tak pernah bertemu sebelumnya, ditambah lagi sifat nyonya ini tak menunjukkan sifat seorang ibu. Dia pernah bercerita jika nyonya sangat menyayanginya, mengapa yang saya lihat hari ini nyonya malah acuh tak acuh padanya? Nada nyonya berbicara juga seperti orang asing." Kata Weiheng.


"Maafkan aku, tapi semua emosi yang aku miliki juga sudah diambil. Aku tak memiliki emosi sekarang, karena itu aku seperti ini sekarang." Kata ibu Vivian.


"Itu artinya ibu juga salah satu 'pion' dalam 'permainan' ini sama seperti kami. Ibu adalah 'pion' yang paling tau alur 'permainan', beritahu kami apa yang harus kami lakukan untuk menyelesaikan ini secepatnya dan kembali?" Jieru menatap ibunya.


"Aku tak bisa memberitahu secara bersamaan, jika kalian ingin kembali maka kalian selesaikan dulu misi yang diberikan. Saat ini kalian buat saja 'kebusukan' di istana menghilang satu per satu, setelah itu aku akan membantu kalian dengan sedikit petunjuk. Jangan berharap lebih, aku juga harus menjalankan perintah dan mengawasi 'pemain' lain." Kata ibu Vivian.

__ADS_1


"Jadi ada orang selain kami yang mengalami hal yang sama?" Tanya Weiheng.


"Baru 501 pasangan. Sejauh ini belum ada yang berhasil menyelesaikan 'permainan', beberapa harus tinggal selamanya di dimensi lain dan lainnya harus tewas." Jawab ibu Vivian dengan nada datar.


"Berapa banyak yang mengawasi seperti nyonya?" Tanya Weiheng lagi.


"Yang seperti aku ada 15 orang, mereka juga kehilangan emosi dan mengawasi sepasang pasutri dari keluarganya. Mereka hanya bisa bersikap dingin, tak perduli betapa hangatnya mereka dalam kehidupan sebelumnya." Jawab ibu Vivian.


"Aku mengerti, aku akan selesaikan semua secepatnya. Aku harus kembali dan membalas Sherly, Alvian juga harus aku lindungi." Kata Jieru.


"Waktuku habis, sampai jumpa di lain waktu. Kita akan bertemu lagi saat misi kali ini selesai." Lagi-lagi cahaya terang yang menyilaukan muncul.


Jieru membuka matanya, dia segera membangunkan Weiheng yang juga tertidur dilantai. "Suamiku, bangun! Hey, bangun!" Dia mengguncang tubuh Weiheng.


"Uh... Jieru.. Kenapa kita tertidur dilantai? Bukannya kita sedang berbicara dengan ibumu?" Tanya Weiheng sambil mengucek mata.


"Aku juga tak tau, yang jelas kita memiliki mimpi yang sama. Kita bisa kembali, itu berita bagus." Jieru berjalan keluar.


"Mau kemana kau?" Tanya Weiheng.


"Pertanyaan konyol macam apa itu? Sekarang sudah pagi, aku akan keluar melihat anak-anak." Jawab Jieru tanpa berbalik.


Weiheng bangkit dari duduknya lalu mengejar Jieru, "Tunggu aku sebentar, aku juga ingin melihat mereka."


"Jangan lamban, aku bahkan bisa sadar jika kita berpindah dimensi lebih dulu dari kau." kata Jieru.


"Ucapanmu masih saja pedas, benar-benar Jieru istri yang paling judes." Kata Weiheng sambil masih mengejar istrinya yang berpakaian seperti laki-laki.


Pakaian Jieru dan Weiheng tak berganti karena kejadian semalam, mereka bangun dengan pakaian yang sama seperti kemarin.

__ADS_1


Bersambung........


__ADS_2