
Kampus
"Valen!" Rian memanggil Valencia yang sedang duduk santai bersama dua sahabatnya di taman kampus.
"Ada apa?" Tanya Valencia.
"I... ibu ayah lo kapan pulang dari negara H?" Tanya Rian dengan nafas tersengal-sengal.
"Seharusnya udah sampai, kenapa?" Jawab Valencia lalu balik bertanya.
"Liat nih!" Rian menyerahkan ponselnya, Valencia mengambil dan membaca berita yang tertulis di sana.
"Pesawat dari negara H menuju negara R mengalami hilang kontak pada pukul 8.30 pagi tadi, hal ini terjadi saat pesawat tersebut sedang melintasi laut yang memisahkan negara S dengan negara H. Diduga pesawat mengalami kesalahan teknis dan jatuh ke laut, saat ini pihak militer angkatan laut sedang melakukan pencarian pada titik terakhir sebelum pesawat mengalami hilang kontak. Diketahui terdapat 50 penumpang warganegara R dan 4 di antaranya adalah anggota keluarga Chandra, Mereka adalah Tuan dan Nyonya Chandra, Rein Chandra dan istrinya Vivian. Mari berdo'a agar seluruh penumpang beserta awak pesawat selamat dan keluarga para korban diberi ketabahan."
"Ga.... ini... ini pasti berita bohong! Ini palsu!" Seluruh tubuh Valencia lemas.
Tring.... tring....
Ponsel Valencia berdering, Michael yang menelponnya, Valencia dengan cepat mengangkat panggilan tersebut.
"Halo... kakak..." Jantung Valencia berdetak kencang, dia takut jika Michael akan menyampaikan jika berita itu adalah kebenaran.
"Valen, kamu.... harus tenang mendengarkan berita ini." Suara Michael seakan tak tega.
"Jangan bilang berita itu beneran, ibu... ayah... ini mustahil! Mustahil! Hiks... hiks... Aku sama ibu berpisah 14 tahun dan baru ketemu belum 5 tahun! Ini mustahil!!!" Valencia tak terima.
"Valen, kamu harus kuat! Ratusan pembunuh bisa kamu hadapi, jadi kamu harus bisa kuat menghadapi cobaan ini! Masih belum ada korban yang ditemukan, kamu harus berdo'a semua ayah, ibu, kakek, juga nenek bisa selamat!" Michael mencoba menyemangati Valencia.
"Tapi... kak... ibu pasti selamat, kan? Kita pasti bisa kumpul lagi, kan?" Suara Valencia bergetar.
"Kamu do'a aja, ya? Mereka pasti selamat, kita bisa kumpul lagi satu keluarga." Jawab Michael terus menyemangati Valencia.
"Aku ga kuat, kak.... aku mau ibu... hiks... Aku cuma mau ibu! Aku ga mau yang lain! Aku cuma mau ibu!" Valencia mulai histeris.
__ADS_1
"Kakak tutup dulu, kamu harus kuat." Michael memutus panggilan.
"Kak? Kak!! Gimana aku bisa kuat kalau kakak sendiri ga ada disamping aku?! Kak.... aku mau ibu.... huhuhu.... ibu..." Valencia menangis seperti anak kecil, untuk pertama kalinya tiga orang itu melihat Valencia menangis tersedu-sedu.
"Valen.... kamu harus kuat! Berdo'a aja mereka selamat, ya?" Anisa mengusap pundak sahabatnya.
"Iya, Valen, kamu harus kuat!" Amelia melakukan hal yang sama.
"Valencia itu kuat, jadi pasti bisa menghadapi cobaan ini! Seorang Valencia ga mungkin nyerah, kan?" Ucap Rian yang mencoba menyemangati Valencia.
"Em... makasih!" Valencia menghapus air matanya, dia mencoba tersenyum meski itu sulit.
"Meski sulit untuk kamu tersenyum sekarang, tapi kamu harus bisa menghadapi dengan tenang dan tetap semangat!" Rian menangkup pipi Rian dengan kedua tangannya.
"Em! Pasti!" Valencia mengangguk semangat.
"Ini baru Valencia yang aku kenal! Semangat!" Ucap Rian sambil tersenyum.
"Mau aku antar pulang?" Tawar Rian pada Valencia.
"Em... boleh!" Valencia mengangguk.
"Yaudah, yuk!" Rian menarik tangan Valencia dan membawanya pergi.
"Ada cewek lupa kawan, dasar Rian!" Ketus Tomi yang melihat Rian pergi bersama Valencia tanpa menemui mereka.
......................
Kediaman Chandra
"Valen! Dia kenapa?!" Tanya Cassandra panik saat melihat Rian menggendong Valencia masuk.
"Waktu mau masuk tadi dia tiba-tiba pingsan, tolong ambilkan minyak kayu putih." Jawab Rian sambil meletakkan tubuh lemah Valencia di sofa.
__ADS_1
"Renata, cepat ambil di kamar mama!" Perintah Cassandra pada putrinya.
"Iya!" Renata dengan secepat kilat menuju kamar Cassandra dan mencari minyak kayu putih, dia langsung memberikannya pada Rian.
"Valen.... bangun, sayang..." Cassandra mengusap wajah Valencia yang masih tak sadarkan diri.
"Ibu.... ibu di mana? Jangan tinggalin aku, bu..." Gumam Valencia, nampaknya dia sedang bermimpi buruk.
"Valencia itu orang yang kuat, jadi dia pasti bangun dan menghadapi kenyataan ini dengan tabah!" Bisik Rian ditelinga Valencia.
"Valencia.... bangun, sayang..." Cassandra mencoba untuk membangunkan Valencia.
"Ibu!!!" Valencia sadar dan berteriak.
"Nona muda, ada panggilan dari tim pencarian." Kata kepala pelayan dengan wajah sedih.
"Apa kata mereka?!" Tanya Valencia tak sabar.
"Satu mayat ditemukan, dikonfirmasi jika itu adalah nona Vivian." Jawab kepala pelayan.
"Bohong!! Itu pasti salah!! Mereka pasti salah!!" Teriak Valencia tak terima.
"Nona muda! Mereka menemukan satu lagi! Itu Nyonya Chandra!" Teriak seorang pelayan laki-laki sambil berlari ke arah mereka.
"Ibu... nenek... mereka... mereka pasti masih selamat! Mereka salah identifikasi! Mereka salah! Rian, mereka salah! Ini ga mungkin!" Valencia tak terima kenyataan yang dia dengar.
"Valen.... kamu yang kuat, ya? Ini semua cobaan untuk kamu." Rian menangkup wajah Valencia.
"Ga! Itu pasti salah! Ibu... ibu masih hidup! Huhuhu.... ibu ga mungkin.... ga mungkin! Itu pasti bukan ibu! Dia orang yang kuat, mana mungkin ini!! Kalian semua bohong! Kalian semua lagi ngerjain aku! Ini ga lucu!" Valencia memeluk Rian sambil menangis tersedu-sedu.
"Valen.... kamu harus kuat!!" Rian mengusap rambut pujaan hatinya yang tengah bersedih itu, dia terus mencoba untuk menenangkan Valencia.
Valencia terus menangis dalam pelukan Rian, dia bahkan sampai tertidur dan terus sesenggukan. Rian menggendong Valencia ke kamarnya, Cassandra menunjukkan kamar Valencia dan membiarkan Rian karena Valencia tak mau melepas tangannya yang menggenggam tangan Rian.
__ADS_1