
Vivian kembali dari dapur membawa dua mangkuk mi, langkahnya terhenti ketika mendengar Rein bernyanyi.
Bulan yang menyinari wajahmu
Menambah indahnya rupamu
Meruntuhkan hatiku
Sekejap aku menatap dirimu
Hatiku yang sedingin es
Mendadak menjadi sehangat mentari pagi
Ribuan bintang dilangit
Tak dapat dibandingkan dengan dirimu
Kau lah yang terindah dalam hidup ku ini
Bertemu dengan dirimu adalah anugerah Tuhan yang terindah
Kau penghancur dinding es ini
__ADS_1
Kau.......
Rein berhenti menyanyi karena menyadari Vivian mendekat.
"Kenapa berhenti?" Tanya Vivian. Rein hanya tersenyum dan menggelengkan kepala.
Vivian menaruh mi di atas meja, "Makan ini dulu." Dia pergi lagi. Rein menunggu Vivian datang baru makan, tak lama Vivian datang membawa dua gelas air putih. Suasana hening, mereka makan dengan tenang.
"Kenapa ga lanjut nyanyi tadi?" Tanya Vivian setelah makan.
"Suaraku kurang bagus, ditambah bernyanyi ga ada gunanya dikeluarga aku." Jawab Rein.
"Kurang bagus? Apanya yang kurang bagus? Oh, ya. Lagu tadi aku belum pernah dengar, itu lagu kamu sendiri?" Tanya Vivian lagi.
"Aku tadi cuma sembarangan nyanyi, aku memang suka dengar musik. Lagipula udah lama aku ga nyanyi. Aku ga tau kenapa tapi liriknya mengalir gitu aja." Jawab Rein.
"Gimana kalau kamu jadi penyanyi disini? Nanti kamu bilang aja judul lagunya, aku cari musik karaokenya di handphone. Gimana?" Kata Vivian.
"Penyanyi? Tapi suara aku ga bagus, aku juga buta. Aku ga yakin kalau pengunjung restoran akan suka, takutnya pengunjung disini malah berkurang. Ditambah lagi disini ga ada mic dan area yang masih kosong, kan?" Jawab Rein pesimis.
"Udah kamu tenang aja, aku yakin mereka pasti suka. Juga masih ada area yang kosong, kok." Vivian terus menyemangati Rein.
"Permisi, ada yang bilang nyanyi di restoran?" Salah satu pegawai restoran datang, Frengky.
__ADS_1
"Iya kenapa?" Tanya Vivian.
Frengky dengan cepat duduk disamping Vivian, "Kalau boleh aku ikutan!! Kebetulan aku bisa main gitar. Oh ya, dirumah juga ada mic juga keperluan lain jadi ga perlu beli. Hari ini juga kita bisa mulai!!" Seru Frengky.
"Aku bisa pulang dan balik kesini lagi 10 menit sebelum restoran buka." Tambahnya.
"Nah, itu lebih bagus!! Kamu main gitar dan Rein yang nyanyi!" Vivian bersemangat.
"Siap, bos!!! Namanya Rein, ya? Selamat bekerja sama Rein!!" Frengky bingung karena Rein tak membalas tangannya yang hendak menyalami. Dia mengibaskan tangannya depan wajah Rein dan memperhatikan wajah itu dengan seksama, dia baru sadar dengan keadaan Rein.
"Bos, kalau dia kayak gini...." Suara Frengky tiba-tiba pelan.
Rein mendengar perubahan nada itu tambah pesimis, "A... Aku... Mending ga usah, nanti kalian malah merugi."
"Merugi apanya?! Restoran ini akan terkenal!!! Ini namanya memanfaatkan bakat terpendam!!! Pengunjung disini pasti tambah banyak kalau ada penyanyi yang ganteng!!!" Seru Frengky tiba-tiba yang membuat Rein bingung, sekaligus kaget.
"Aku pulang dulu ambil keperluan, bos tolong kasih pembatas dipojokan sana. Tempatnya masih kosong dan lumayan luas, nanti kita nyanyi disana aja." Kata Frengky.
"Heh, yang bos itu sebenarnya siapa? Enak aja main perintah?" Vivian menyilangkan kedua tangannya didada.
"Hehehehe.... Maaf bos, terlalu semangat!" Frengky langsung kabur.
Vivian tertawa kecil sambil geleng-geleng melihat tingkah karyawannya itu. Frengky bisa dibilang bukan orang yang membutuhkan pekerjaan seperti ini, tapi dia ingin berjuang dengan kemampuannya sendiri dan tanpa memanfaatkan koneksi keluarga.
__ADS_1
(Frengky anak kedua dari keluarga terkaya ke 5 dikota dan keluarga terkaya ke 10 dinegara itu).
Bersambung.......