KEMBALINYA SANG AKTRIS

KEMBALINYA SANG AKTRIS
Saingan Berat


__ADS_3

Jieru sedang menemani selir Jiao bertemu dengan permaisuri, seperti biasa mereka selalu asik berbincang sambil minum teh.


"Shen memberi salam pada ibunda permaisuri dan selir Jiao." Kata pangeran mahkota. Jieru memberi hormat.


"Jieru, tuangkan teh." Kata selir Jiao.


Jieru menuangkan teh lalu memberikannya pada pangeran mahkota.


"Apa dia pelayan selir Jiao? Mengapa secantik ini? Sangat disayangkan, dia bisa mendapatkan suami kaya namun harus bekerja sebagai pelayan." Batin pangeran mahkota.


"Apa yang membuatmu datang kemari?" Tanya permaisuri.


"Tak ada masalah besar, hanya merindukan ibunda saja." Jawab pangeran mahkota, dia kembali memperhatikan Jieru yang berdiri di depannya.


"Andai saja Weiheng ikut. Baru saja bertemu kemarin, hari ini malah harus berpisah. Rindu datang dengan sangat cepat, astaga....." Batin Jieru.


"Kurasa dia bisa menjadi wanitaku yang ketiga. Wajah cantik juga sangat lembut, benar-benar keberuntungan. Aku akan mulai mengejarnya hari ini juga, tak ada salahnya jika pangeran mahkota menginginkan seorang pelayan cantik sebagai selir, kan?" Pikir pangeran mahkota.


"Weiheng memberi salam pada yang mulia permaisuri, yang mulia selir Jiao, dan pangeran mahkota." Weiheng tiba-tiba datang.


"Weiheng? Mengapa kau datang kemari?" Tanya selir Jiao.

__ADS_1


"Han datang dan memaksa ingin bertemu Jieru, aku sudah kesalahan. Dia sudah menangis seperti bayi." Jawab Weiheng dengan wajah frustasi.


"Pfft.... Baiklah. Jieru meminta izin selir Jiao untuk menemui Han." Kata Jieru.


"Tak perlu!! Aku sudah ada disini!!" Han muncul dan mengagetkan Weiheng.


"Kau anak nakal! Mengapa mengikutiku sampai kesini?!" Mereka berdebat lagi.


Sejak bertemu kemarin Weiheng dan Han tak pernah akur. Weiheng merasa Han terlalu dekat dengan istrinya, Han juga tak menyukai Weiheng yang terkenal berdarah dingin dan takuti para gadis. Mereka bertengkar seperti anak kecil, tak ada yang mau mengalah.


"Hey, kakek tua!!! Kau ini sangat b*d*h!!! Katanya kau sangat hebat, mengapa tak menyadari bahwa aku mengikutimu?!" Ketus Han.


"Untuk apa aku memperhatikanmu?! Kau hanya anak kecil nakal yang mencoba merebut milikku!!!" Mereka mulai adu mulut.


Weiheng mulai geram, "Heh, bocah tengik!!! Aku ini bukan kakek-kakek!!! Siapa yang mau kau jadikan istri?! Jieru hanya akan jadi istriku!!!" Dua bocah mulai ribut.


"Ka~li~an~~~~ diamlah!!!!!!! Apa kalian tidak menghargai permaisuri dan pangeran mahkota?!?!?!?!" Jieru menarik telinga kedua bocah itu dengan kuat.


"Aduh sakit! Sakit! Sakit! Awwww!" Weiheng dan Han meringis.


"Kalian berdua tak sadar umur sama sekali!! Kalian pikir aku barang yang bisa kalian perebutkan?!" Tanya Jieru.

__ADS_1


"Aku hanya tak ingin kau direbut bocah tengik ini!!" Jawab Weiheng.


"Hey, kakek tua!! Kau itu menyeramkan, sangat tidak cocok dengan kak Jieru yang sangat murah hati!! Bleee......" Han menjulurkan lidah mengejek Weiheng.


"Ternyata aku punya dua saingan berat. Yah~~~ aku pasti akan menjadi pemenang. Gadis mana yang tak ingin bersama pangeran mahkota?" Batin pangeran.


"Astaga..... Kalian membuatku seperti memiliki dua anak nakal yang sering bertengkar karena hal kecil." Jieru memijit kepalanya pelan.


"Jieru, kau ibu yang baik karena bisa merawat mereka sampai sebesar ini." Permaisuri tertawa geli.


"Ya, kau ibu yang sangat baik. Kedua anakmu sangat nakal, tapi kau berhasil membesarkan mereka." Selir Jiao tertawa.


"Huhuhu..... Jangan mengejekku lagi. Aku sudah pusing dengan tingkah mereka. Baru bertemu kemarin tapi sudah memiliki permusuhan selama berabad-abad." Kata Jieru.


"Kak Jieru hanya akan menjadi istriku!!!!" Teriak Han.


"Dia hanya akan menjadi istriku!!! Kau bocah tengik terlalu muda dan terlalu lemah untuk melindunginya!!!!" Weiheng tak mau kalah.


"Kalian diamlah!!!!!" Jieru kembali menarik telinga kedua bocah itu.


Selir Jiao secepatnya kembali ke kediamannya karena takut permaisuri merasa terganggu. Sepanjang jalan mereka tetap saja ribut. Jieru sangat jengkel dengan tingkah laku dua bocah itu, sementara selir Jiao terus saja tertawa.

__ADS_1


Bersambung......


__ADS_2