KEMBALINYA SANG AKTRIS

KEMBALINYA SANG AKTRIS
Dikejar Gaissss


__ADS_3

Di suatu hari yang sangat cerah, Valencia yang memang sering datang ke perpustakaan dikagetkan dengan dua penampakan.


"Mel, Sa, kayaknya aku ngeliat hantu!" Kata Valencia yang sedang terbelalak.


"Hus.... jangan ngomong sembarangan!" Tegur Anisa memukul lengan Valencia.


"Tapi..... kayaknya aku liat hantu juga, Sa!" Kini Amelia yang ikut bengong mengarah ke dalam perpustakaan.


"Eh, kalian itu baru aja baikan! Mau kalian berantem lagi?" Tanya Anisa.


Bagaimana bukan penampakan hantu?! Rian dan Tomi yang tak pernah sekalipun datang ke perpustakaan tiba-tiba duduk di dalam sana dan dengan ekspresi murung, tatapan mereka tampak kosong seperti tanpa jiwa. Biasanya yang datang ke perpustakaan itu Derik, tapi sekarang kenapa Rian dan Tomi? Dimana Derik?


"Hoiiii!!!" Valencia menggebrak meja.


"Mama!! Ada nenek gayung! Eh nenek gayung! Nah kan nenek gayung!" Tomi yang dari tadi termenung entah memikirkan apa malah latah sambil menunjuk-nunjuk Valencia dengan nada takut dan wajahnya disembunyikan di dada Rian.


"Kampr*t!!! Cewek secantik ini lo bilang nenek gayung?!?! Mata lo rabun apa buta?!" Valencia menarik telinga Tomi dengan sangat kuat.


"Eh eh eh! Jangan ribut disini, dong! Ntar dimarahin ama penjaga perpus!" Kata Amelia.


"Perpustakaan lagi sepi! Penjaga perpus juga lagi ga ada! Ga perduli! Beraninya bilangin aku makhluk halus berwujud nenek-nenek!!" Valencia menarik telinga Tomi semakin kuat.


"Woi woi woi!! Lepasin!! Mau lepas nih!! Ampun nyai...." Tomi kesakitan.


"Minta maaf!!!" Valencia menekan kata-katanya dan menatap Tomi dengan tatapan menyeramkan, dia seperti ingin memakan Tomi yang hanya salah panggil.


"I... iya... ampun... maaf!" Tomi menyatukan kedua telapak tangannya dan memohon pengampunan.


"Pergi lari ke kantin tanpa membeli apapun, harus balik lagi ke sini dalam waktu 2 menit!" Perintah Valencia.


"Kan kantin jauh dari sini!!! Ga cukup 2 menit!!!" Protes Tomi.


"3 menit!! Ga ada tawar menawar lagi!!" Valencia melepas tangannya yang sedari tadi menempel di telinga Tomi.


"Cewek kejam!!" Gumam Tomi yang langsung berlari keluar. Valencia mendengar ucapan Tomi tapi hanya diam saja.


"Kalian, awasin dia!" Perintah Valencia pada dua sahabatnya. Amelia dan Anisa langsung keluar dan mengawasi Tomi.


"Ngerjain orang tuh seru, ya? Lo sebenarnya ga marah dan cuma mau ngerjain dia, kan?" Rian berbicara dengan santai sambil bersandar di sandaran kursi dan memejamkan matanya.


"Cih! Baru kenal beberapa hari, ga usah sok tau!" Valencia duduk disamping Rian.

__ADS_1


"Jadi sebenarnya kita disini tuh lagi kebingungan, Soalnya Derik dari kemarin ga masuk sekolah. Kita yang tau gimana keadaan ekonomi dia ya jadi khawatir, kita ga mau kalo dia harus putus sekolah dan full kerja." Kata Rian menjelaskan.


"Aku belum jawab, loh!?" Valencia bingung.


"Nanya!!" Rian menyentil kepala Valencia.


"Dasar adkel ga tau sopan santun!" Ketus Valencia sambil mengusap tempat yang Rian sentil.


"Makanya kalo ngomong yang bener!" Cuek Rian yang sebenarnya agar sedikit tak enak dengan sikapnya tadi.


"Kalian tau dimana dia tinggal, kan?" Tanya Valencia.


"Tau ya tau, tapi kita udah agak lupa. Kita pernah pergi lebaran ke rumah dia tahun lalu, tapi sekarang cuma ingat jalan dan ga inget rumahnya yang mana." Jawab Rian.


"Kita datang aja kesana, nanti tinggal tanya sama orang sekitar." Valencia membaca sebuah buku yang dari tadi tergeletak di atas meja, Rian hanya bisa menatap aneh ketika melihat Valencia membaca buku itu secara terbalik.


Pulang sekolah


"Udah mau pergi?" Tanya Valencia yang menghampiri Rian dan Tomi di parkiran.


"Kalian beneran mau ikut?" Tanya Rian meragukan.


"Ya beneran, lah!" Jawab Amelia agak ngegas.


"Dasar orang kaya!" Ketus Rian yang senang dalam hati.


"Buruan!" Valencia memukul ringan bahu Rian yang baru saja duduk di depannya.


"Sabar wahai tuan putri!!!" Rian menekan kata "tuan" dan kata "putri" memberi sinyal bahwa dia mulai kesal. Kesal di luar yah, bukan kesal di dalam.


Setelah sekitar 50 menit akhirnya mereka tiba di sebuah gang sempit, saking sempitnya bahkan motor pun tak bisa masuk.


"Mau titip di warung depan?" Tanya Valencia sambil menunjuk sebuah warung di seberang jalan.


"Sekitar 300 meter dari sini ada cafe kakak sepupu gue, kita numpang parkir di sana aja." Jawab Tomi.


"Oh, ok!" Valencia langsung menyetujui tanpa melihat ekspresi Amelia yang menyedihkan.


"Hah?! Seriusan masa iya aku harus jalan 300 meter pas matahari terik begini?!" Protes Amelia.


"Ga bakal mati!" Valencia menatap Amelia kesal.

__ADS_1


"Kita jalan sekarang, makin cepat makin bagus." Rian kembali menyalakan motornya dan langsung melaju kencang.


"Haa!!!! Woiii!!! Santai aja!! Kamu kalo sayang sama Tuhan jangan ajak-ajak aku buat ketemu Tuhan di usia muda!!! Aku masih belum ketemu ibu sama kakak!! Aku belum sukses dan nikah!!!" Valencia hanya bisa teriak sepanjang jalan karena Rian mengemudi dengan kecepatan tinggi.


"Kalau mau mati jangan ngajak-ngajak, dong!!" Valencia yang sedikit mual dan rambut yang berantakan memukul keras bahu Rian.


Mereka melanjutkan perjalanan, mereka menelusuri gang-gang sempit itu. Setelah beberapa lama mereka melihat sebuah lapangan yang ukurannya cukup kecil.


Grrr..... grrr.....


"Yan... denger juga ga?" Tanya Valencia yang meremas lengan baju Rian kuat saat mendengar sebuah suara.


"Tetap tenang, jangan ada yang gerak sedikitpun!" Perintah Tomi yang tau apa yang ditakutkan oleh Valencia.


"Lo yakin kita bakal selamat?" Tanya Amelia yang ikut memegang lengan baju Rian.


"Yakin, semua harus tenang dan jangan ada yang lari!" Tegas Tomi yang suaranya agak bergetar.


"Berapa lama?" Tanya Valencia yang semakin ketakutan melihat dua makhluk di depannya.


"Mama!!!!! Ada anjing yang ngejar!!!!!" Tomi dengan kecepatan tinggi ngacir.


"Haaa!!!!!!" Yang lainnya langsung ikut lari sekencang mungkin ketika dua anjing besar itu mulai mengejar setelah Tomi berlari.


"Dikejar gaisss!!!! Dikejar!!!! Walau dia betina gua ga mau ama dia!!! Mama!!! Tolong!!! Ada betina galak!!!" Teriak Tomi yang super ketakutan.


Guk!!! Guk!!!! Guk!!!!


Dua anjing besar itu terus mengejar secara brutal dan menampakkan gigi-gigi mereka yang menyeramkan. Valencia paling takut dengan anjing karena dia pernah dikejar sampai nyebur ke sungai.


"Manjat pohon gaiss!!!!" Teriak Rian yang melihat sebuah pohon mangga yang cukup tinggi dan cukup untuk mereka berempat bertengger.


"Amel buruan naik!!!" Valencia mendorong tubuh Amelia agar dia memanjat lebih dulu.


"Haa!!! Ibu!!!" Teriak Valencia yang berada di paling bawah dan dekat dengan anjing-anjing yang entah sejak kapan malah bertambah menjadi 7 ekor.


"Lo takut sama anjing?" Tanya Rian yang tubuhnya dipeluk oleh Valencia yang sedang ketakutan secara spontan.


"Aku pernah dikejar sampai nyebur ke sungai, sekarang jadi takut~~~" Jawab Valencia.


"Tuhan.... makasih atas nasib buruk berujung berkah yang telah kau berikan pada hamba!!" Rian bersyukur dan senang dalam hati. Walau wajahnya terlihat kesal tapi hatinya bersorak.

__ADS_1


Bersambung......


__ADS_2