
"Wah!! Kakek dan nenek sudah sampai!!" Teriak Gu An saat melihat kepala desa dan istrinya.
"Paman Ye sudah sampai?" Wei keluar.
"Nenek!!!!!" Teriak tiga malaikat kecil sambil berlari dan memeluk seorang wanita berumur sekitar 40 tahun.
" Astaga~~~ apa serindu itu pada nenek? Pada kakek tidak rindu?" Seorang pria yang terlihat lebih tua dari wanita itu tampak cemberut.
"Hehe.... Kami juga rindu kakek!!" Tiga malaikat kecil tadi kini memeluk pria itu.
"Dimana ibu dan ayah kalian?" Tanya wanita itu, nyonya Lian Fei, atau sering dipanggil oleh bocah-bocah itu nenek Fei.
"Mereka ada di dalam." Jawab Wei.
"Paman dan bibi sudah pulang? Makan siang baru saja matang, mari makan dulu baru mengobrol." Kata Jieru yang baru saja keluar.
"Ah, baiklah. Setelah makan siang kami akan menyampaikan berita penting untuk kalian, kami yakin kalian pasti akan suka." Kata tuan Ye.
Jieru mengangguk, "Baiklah, ayo kita masuk." Kata Jieru sambil menarik tangan Zhishu.
Setelah makan siang mereka satu keluarga besar berbincang-bincang, anak-anak mendengar nenek Fei yang menceritakan perjalanannya kali ini, sementara para orang tua mendengar berita dari tuan Lian.
"Jadi..... Apa berita bagus yang tuan dapatkan dalam perjalanan kali ini?" Tanya Gu Cheng.
"Ah, begini." Kepala desa menaruh gelas tehnya, "Karena tak ada seorang pun yang bisa menangkap buronan berharga tinggi, akhirnya kaisar mencabut kasus pencarian ini. Saat sedang membeli barang kami melihat para penjaga melepas gambar-gambar kalian. Saat kami bertanya mereka bilang kaisar menutup kasus ini, karena kemungkinan besar para buronan telah mati dimakan binatang buas dihutan jadi tak ada seorangpun yang bisa menemukan mereka." Jelas tuan Lian.
"Ini berita bagus, setelah bertahun-tahun akhirnya mereka menyerah." Kata Jieru.
"Ya! Ini adalah berita bagus! Dengan ini kita tak perlu was-was lagi!" Kata Wei.
__ADS_1
"Ini berita bagus, tetapi jangan sampai membuat kita lengah. Kaisar menutup kasus, tetapi selir Yao pasti tak akan menyerah. Kita harus tetap waspada." Kata nyonya Jiao.
"Ya, itu benar. Kalian harus lindungi anak-anak, jangan sampai orang-orang kejam itu mengancam nyawa mereka." Kata ibu Li Wei.
"Anak-anak sudah aku ajarkan beberapa teknik bela diri dan pedang, semoga saja mereka bisa memahami semua dengan cepat." Kata Weiheng.
"Aku juga mengajari mereka beberapa ilmu pengobatan sederhana. Mereka anak-anak cerdas, dalam beberapa hari sudah bisa menghapal dan membedakan tanaman obat dan tanaman beracun walau mereka baru 3 tahun." Kata Gu Cheng.
"Hidup kita tenang sekali, semoga saja ini terus berlanjut sampai mereka siap." Wei tampak khawatir.
"Tenanglah, anak-anak kita sangat hebat. Aku yakin jika mereka bisa menghadapi masalah yang akan terjadi dimasa depan, juga bisa membantu kita menjatuhkan selir Yao." Gu Cheng menggenggam tangan Wei.
"Ayolah, jangan rusak berita bagus dengan kekhawatiran. Setidaknya kita tenang untuk saat ini, anak-anak juga pasti akan baik-baik saja. Mereka sudah dilatih sejak dini, kecerdasan mereka bahkan bisa mengalahkan aku." Kata Jieru.
"Itu karena kau mudah dikerjai. Setiap hari kau menjadi target kejahilan mereka, usiamu sudah segini tapi masih saja polos dan mudah dikerjai." Nyonya Jiao tertawa kecil mengingat Jieru yang selalu dijahili, entah itu dibuat basah atau tubuh dipenuhi lumpur karena terjatuh selalu saja Jieru yang ditargetkan.
"Kalian membicarakan apa sampai tertawa begitu?" Tanya Zhishu.
"Tak ada apa-apa, kami hanya mengingat bagaimana kalian menjahili ibu kalian." Jawab Wei.
"Ibu memang sangat mudah dikerjai!! Terlalu polos!!" Sahut Minghao.
"Kalian anak nakal! Sangat menyenangkan ya menjahili ibu?" Jieru mengejar dan menggelitik kedua anaknya.
"Jieru benar, jangan merusak berita bagus dengan kekhawatiran. Untuk semenjak kita bisa tenang. Bahkan buronan pun membutuhkan kehidupan tenang." Kata nyonya Jiao.
"Kalian latih saja anak-anak, mereka pasti akan siap sebelum diserang." Kata tuan Lian.
"Gu Cheng, kita harus mengajari mereka dengan serius! Lebih cepat mereka memahami maka akan semakin baik. Anak-anak perempuan kita juga tertarik seni bertarung, jadi mereka semua pasti kuat." Kata Weiheng.
__ADS_1
"Meskipun mereka masih sangat kecil, mereka harus mendapat pelatihan ini. Sedikit sedih, namun inilah yang harus kita lakukan." Kata Gu Cheng.
"Orang tua hebat akan memiliki anak yang hebat juga. Jika mereka sudah terlatih sejak dini mereka akan mampu, selanjutnya biarkan takdir yang menentukan." Kata tuan Lian.
"Apapun takdir itu aku hanya ingin menikah sebelum mati." Kata Han.
Bukk!!!!
"Aduh!!!!!" Han kesakitan karena Wei memukul bahunya dengan sangat kuat, "Aduh duh duh!!!!" Dia semakin kesakitan ketika Jieru dan Weiheng menarik telinganya.
"Bicara itu yang baik! Jangan sembarangan! Kau mau Lian Xia menikahi orang lain?!" Weiheng, Jieru, dan Wei bicara tegas dengan kompak.
"A... Apa?!" Lian Xia bingung.
"Perjodohan kalian, dua bulan lagi kalian menikahlah." Kata Jieru santai.
"Apa!?!?!?!?" Han kaget, "Dari mana kalian tau kalau aku su....." Han langsung terdiam.
"Ayolah, kami ini lebih tua, jadi wajar jika tau." Kata Jieru santai.
"Xia, apa kau menerima perjodohan ini?" Tanya Wei.
Lian Xia mengangguk dan langsung pergi keluar. "Astaga~~~~ apa sekarang masih zaman malu-malu kucing?" Jieru geleng-geleng.
"Akhirnya aku punya jodoh." Kata Han sambil cengar-cengir.
"B*d*h." Kata Wei, keributan terjadi ketika Wei dan Han berdebat. Di hitung-hitung memang sudah lama mereka tak berdebat, sedikit tontonan tak berfaedah dan tak patut dilihat anak-anak itu langsung dihentikan oleh Jieru.
Bersambung......
__ADS_1