KEMBALINYA SANG AKTRIS

KEMBALINYA SANG AKTRIS
Rian


__ADS_3

Dua tahun berlalu, Rian yang masih terus mengincar Valencia meski tak kunjung dapat memutuskan untuk masuk ke kampus yang sama dengan Valencia walau berbeda jurusan. Menurutnya jika mengambil jurusan yang sama, selain tak tertarik juga itu akan membuat kecurigaan dalam diri Valencia dan bisa saja dia merasa risih dengan kehadiran Rian.


"Pa, aku berangkat dulu!" Rian pamit pada sang papa dan menaiki motor matic miliknya. Dia tau jika Valencia tidak menyukai motor lamanya karena saat pergi ke rumah Derik untuk pertama kali Valencia mengeluh tak nyaman saat menaiki motornya, jadi dia memaksa sang papa untuk membeli motor baru.


"Ah, hati-hati dijalan! Jangan ngebut! Ingat rambu lalu lintas! Jangan nikung kendaraan besar! Harus hati-hati!" Teriak papa Rian yang sedang membaca koran di ruang keluarga.


"Papa bawelnya ngalahin mama!" Rian langsung melaju.


Kampus


"Bro! Disini!" Panggil Tomi saat Rian selesai memarkirkan motornya.


"Tumben cepet banget? Biasanya lu yang paling lambat?" Tanya Rian yang melihat Tomi.


"Biasa, udah mau ketemu gebetan. Eh, kok lu ganti motor?" Jawab Derik lalu ia bertanya.


"Oh, lebih enak aja pakai yang kayak gini." Jawab Rian.


"Idih! Bilang aja biar si Valen ga protes pas lu ngajakin dia pulang bareng!" Mulut ibu-ibu Tomi mulai.


"Sstt.... orang yang lu sebut muncul tuh!" Derik menyikut Tomi yang di sebelahnya.


"Kenapa malah makin cantik?" Rian bertanya dalam hati sambil tak berhenti menatap Valencia yang sedang berjalan bersama teman-temannya, meski tampilannya sederhana namun tetap memikat hati.


"Hus.... dasar mesum!" Derik menutup mulut Rian yang sedari tadi terbuka.


"Ckckck, emang dasar lu bro. Kalo suka ya tinggal bilang, ngapain juga harus nunggu? Ntar di embat orang, loh!" Goda Tomi.


"Auk! Gua males ngeladenin kalian! Mending langsung cabut!" Rian meninggalkan kedua sahabatnya.


......................


"Va.... " Rian yang hendak memanggil Valencia langsung terdiam ketika melihat sang pujaan hati bertemu seseorang dibelakang kampus.


"Hah? Itu siapa? Kok Valen meluk dia? Mana ini ditempat sepi lagi! Apa...." Rian memperhatikan baik-baik laki-laki yang dipeluk Valencia.

__ADS_1


"Oh, pacarnya. Yah.... wajar sih kalo Valen udah punya pacar, dia itu cantik banget. Cowoknya ganteng banget lagi, ga ada harapan lagi nih." Rian seketika lesu dan pergi dengan hati yang sakit.


"Ckckck, makanya dulu itu jangan dilepas! Sekarang udah ada yang punya, mana lebih ganteng dari lu lagi. Ckckck, mungkin emang takdir lu bukan dia. Dia itu cucu keluarga Chandra, sejak awal lu emang udah ga ada harapan, sih." Tomi bukannya menghibur malah membuat Rian makin galau.


"Alah cuma cewek satu masa udah kayak gitu? Masih banyak Valencia yang lain, bro!" Derik menepuk-nepuk bahu Rian.


"Em.... makasih, Rik. Lu tuh emang sahabat gue yang paliiing baik, ga kayak seseorang!" Rian menatap Tomi datar.


"Hoi! Kalian kuliah di sini juga?" Valencia menghampiri mereka.


"Mending ga usah terlalu sering liat dia, bisa-bisa nanti malah gagal ngelupain kalo sering liat." Batin Rian.


"Eh, kalian ambil jurusan apa?" Tanya Valencia.


"Gue pergi dulu, papa tadi nyuruh langsung pulang kalo udah selesai. Gue cabut dulu, dah!" Rian langsung pergi.


"Hm? Emang papanya galak? Baru aja mau ngobrol malah pergi." Valencia langsung pergi karena supir sudah menunggu di depan gerbang.


Rumah Rian


"Mereka lagi pada sibuk, lagian kalo main terus takut dikatain berandalan yang ga tau pulang." Jawab Rian yang langsung berbalik dan duduk disamping ibunya.


"Mandi dulu sana! Baju sama badan kamu tuh bau banget! Buruan!" Mama Rian mendorong pelan tubuh Rian yang tadinya mencoba untuk bersandar padanya.


"Ish... ma... Rian tuh lagi galau dan butuh sandaran, malah diomelin!" Rian beranjak dari dan langsung pergi ke kamarnya yang ada dilantai dua untuk mandi.


Setelah beberapa menit Rian kembali turun, baju dan tubuhnya sudah wangi karena sudah selesai mandi. Dia duduk dan menyandarkan kepalanya di bahu sang mama.


"Tumben kamu galau? Abis ditolak cewek?" Tanya Mama Rian sambil asik menonton TV.


"Ish.... mama nih kalo ngomong suka gitu! Rian ga ditolak, ngungkapin perasaan aja ga pernah." Rian mengambil cemilan di meja dan menyuapi mamanya.


"Terus kenapa kamu keliatan lesu udah kayak ga makan sebulan gitu?" Tanya Mama Rian lembut.


"Cewek yang Rian suka udah punya pacar. Awalnya sih mau ngejar, tapi ternyata udah keduluan orang lain." Jawab Rian.

__ADS_1


"Pfftt.... Hahahha!! Gitu doang galaunya sampai begini? Hahaha!!" Mama Rian tertawa terbahak-bahak, dia langsung melupakan drama china yang dia tonton saat mendengar jawaban sang anak.


"Hahaha!!!! Makanya masih kecil jangan mikirin cewek dulu!" Seorang wanita muncul dari dapur dan ikut tertawa.


"Nenek lampir ga usah ikut ketawa! Ntar pada kerasukan!" Ketus Rian pada kakak tertuanya, Nandini.


"Idih! Jadi adek kok ga ada sopan santun sama kakak? Huh! Pantes aja ga ada cewek yang mau, ternyata kena karma!" Nandini menarik baju Rian dan menyeretnya pindah ke lantai.


"Baru ditolak cewek aja sampai begini, gimana kalo nanti beneran jadi pengacara? Mungkin kalah terus." Nandini duduk di samping ibunya dan ikut menonton.


"Buku apa tuh?" Tanya Rian sambil menunjuk majalah di tangan Nandini.


"Ini? Kakak liat kamu lumayan juga jadi model, tapi ternyata masih kalah jauh. Model di majalah ini tuh khusus buat kakak, mereka semua peserta laki-laki di audisi pencarian bakat paling terkenal di dalam negeri." Jawab Nandini.


"Lah? Kok khusus buat kakak?" Tanya Rian.


"Semua foto dan data ini kakak ambil sendiri, terus kakak minta temen kakak buat jadiin majalah. Kebetulan dia yang punya tuh perusahaan, jadi kakak minta tolong dia aja." Jawab Nandini. Dia bisa mengambil foto para peserta karena dia adalah pembawa acara dalam audisi tersebut, keuntungan terbesar baginya adalah dia dikelilingi oleh para pria tampan berbakat.


"Mending kamu liat-liat gimana gaya mereka, siapa tau ada yang cocok sama kamu dan bisa kamu pakai buat narik perhatian cewek idaman kamu itu." Saran sang ibu.


"Emang bisa?" Rian cemberut. Diluar rumah Rian kadang dingin dan punya sifat berandalan tukang bikin rusuh, tapi dirumah dia adalah si adik kecil yang manja.


"Baca dulu, nanti malam kakak ambil lagi. Mereka kebanyakan seumuran sama kamu, belum 20 tahun." Nandini menyodorkan majalah edisi super terbatas itu.


"Ya udah aku baca dulu!" Rian langsung mengambil dan membaca majalah itu. Dia dengan serius memperhatikan setiap model sekaligus peserta lomba audisi itu.


"Ini....." Rian menunjukkan salah satu foto pada Nandini.


"Ini? Biasanya sih para fans manggil dia MC. Oh! Dia itu punya fans terbanyak dibandingkan peserta lainnya. Suaranya bagus dan dia itu selalu semangat juga pantang menyerah. Pekerja keras sih nih anak, ganteng pula." Jawab Nandini.


"Pantes aja Valen bisa suka sama dia, ternyata orang yang berbakat dan memulai semua dari awal dengan usahanya sendiri. Ck, kalah telak!" Batin Rian. Dia langsung menutup majalah itu dan meletakkannya di atas meja.


"Udah selesai? Cepet banget?" Tanya Nandini saat melihat Rian menuju ke atas.


"Ga ada yang aku suka, mending tidur aja daripada ngeliatin mereka." Jawab Rian santai dan melanjutkan langkahnya yang sempat terhenti tadi.

__ADS_1


Bersambung......


__ADS_2