
Rumah bordil
"Perempuan cantik dimana-mana, pantas aja banyak lelaki yang mau datang. Untung aja Weiheng ga datang bisa-bisa ga pulang nanti dia!!" Batin Jieru.
"Eh.... Tuan, wajah terlihat asing, baru pertama kali kesini?" Tanya seorang wanita.
"Ya, aku baru pertama." Jawab Jieru.
"Ah.... Tuan ini sangat tampan, apa istri tak bisa 'memuaskan'?" Tanya wanita itu.
"Aiya.... Dia sibuk bekerja setiap hari, malam hari tidak punya waktu karena kelelahan bekerja." Jawab Jieru, "Bagaimana bisa aku punya istri jika aku adalah seorang wanita?" Batinnya.
"Sayang sekali, istri tuan sangat tak bersyukur meninggalkan pria setampan tuan. Silahkan lihat-lihat dulu, jika ada yang menarik beritahu saja." Kata wanita itu dengan nada genit sambil menyenggol bahu Jieru, dia berlalu pergi.
"Berkeliling sebentar, siapa tau aku bisa mendapatkan 'kejutan' setelahnya." Batin Jieru lalu mulai melihat-lihat.
Setelah berkeliling beberapa menit Jieru benar-benar mendapat 'kejutan' dari Zhang Bingjie. Pria itu sedang minum ditemani beberapa wanita cantik.
"Tuan..... Apa tidak tuan tidak takut putri marah? Tuan setiap hari datang kemari dan 'dihibur' oleh kami." Tanya seorang wanita sambil mengelus dada pria itu.
"Manis.... Tenang saja, dia tak akan pernah tau. Dia sedang hamil, jadi tak bisa 'menghiburku'. Lagi pula dia itu bodoh, sudah bertahun-tahun tapi masih saja mempercayaiku. Dia bahkan tak sepintar dan semanis kalian, 'suara' kalian juga lebih merdu dan lebih lembut dari dia." Jawab laki-laki hidung belang itu sambil mengarahkan tangannya menelusuri tiap bagian tubuh wanita-wanita didekatnya.
"Dia bodoh, tapi aku tidak. Lihat saja bagaimana aku akan membuatmu tertangkap!" Jieru pergi.
"Tuan, apa susah temukan siapa yang kau inginkan?" Wanita tadi muncul tiba-tiba.
"Jika aku bilang tidak, dia pasti curiga." Batin Jieru, "Aku ingin dia!" Jieru menunjuk seorang penari.
"Tapi dia hanya seorang penari dan tak pernah melayani orang, tuan yakin?" Tanya wanita itu.
"Berikan saja dia." Jieru memberi uang.
__ADS_1
"Ah, baiklah. Sesuai permintaan tuan." Wanita itu memanggil penari yang ditunjuk Jieru.
"Lama tak bertemu, nona." Kata Jieru ketika penari itu mendekatinya dengan takut-takut.
"Ma... Maaf, tuan. Tapi... Aku belum pernah bertemu dengan tuan." Kata penari itu.
"Nona Jianying, ini baru 4 tahun. Apa ingatanmu tak sebagus saat menjadi pelayan? Kita melayani nyonya Jiao bersama. Temanku, Jianying." Kata Jieru mendekatkan wajahnya ke wajah penari itu, Jianying teman lamanya.
"Apa maksud.... Tunggu, kau... Jieru?!" Jianying terkejut.
"Tutup mulutmu atau kita akan mati disini." Jieru menempelkan telunjuknya dibibir Jianying sambil tersenyum.
"Jika sudah tau disini berbahaya, mengapa masih datang? Dan apa-apaan pakaianmu ini?" Jianying menepis tangan Jieru.
"Nona cantik, layani aku hari ini. Aku sudah membayar, lakukan dengan baik." Kata Jieru.
"Aku pasti akan melayani dengan sangat baik." Kata Jianying.
"Ah... Ya... Kau melakukannya dengan baik! Luar biasa! Kau melakukannya lebih baik daripada pasanganku! Ya! Teruskan!" Kata Jieru.
"Berhenti berkata seperti itu, aku hanya memijit punggungmu dan bukan berhubungan dengan kau!" Jianying mencubit punggung Jieru yang terbalut pakaian itu.
"Aw... Sayang... Kau nakal sekali." Goda Jieru.
"Sekali lagi kau bicara dengan nada seperti itu aku akan memecahkan kepalamu!" Ancaman Jianying.
"Pfftt.... Ya baiklah. Tempat ini sangat luar biasa, tak kusangka langsung mendapat dua kejutan di sini. Oh ya, bagaimana kau bisa berakhir di sini?" Tanya Jieru.
"Aku bahkan tak tau mengapa dan sejak kapan aku ada disini. Aku hanya ingin sebulan lalu sekelompok orang menangkapku, saat bangun sudah ada disini. Untung saja aku bisa menari, atau aku akan dipaksa melayani para lelaki hidung belang!" Jawab Jianying.
"Hm.... Aku akan membelimu." Kata Jieru.
__ADS_1
"Kau gila, berapa banyak uang yang akan kau habiskan? Berapa banyak uang yang kau punya? Masih saja bod*h!" Kata Jianying.
"Bersabarlah." Jieru bangkit dari ranjang dan berjalan keluar kamar.
Beberapa menit berlalu, karena Jieru tak juga kembali Jianying keluar kamar dan mencarinya. Saat turun dia melihat Jieru sedang berbicara dengan seorang wanita, dia adalah pemilik tempat ini.
Wanita itu melihat kearah Jianying sebentar, lalu terlihat sedang berpikir. Tak lama dia mengangguk sambil mengambil kantong yang diberikan Jieru. Setelah wanita itu pergi dengan sumringah Jianying mendekati Jieru.
"Apa yang kau bicarakan dengannya?" Tanya Jianying.
"Tak ada, aku hanya membelimu." Jawab Jieru.
"Berapa banyak uang yang kau punya? Dari mana? Dengan cara apa kau mendapatkannya?" Tanya Jianying lagi.
"Selama perjalanan kemari, kami selalu diserang sekelompok pembunuh. Kebetulan mereka membawa uang, jadi kami mengambilnya. Kami juga membantu beberapa desa menghentikan beberapa bandit, mereka memberikan uang untuk kami sebagai tanda terima kasih." Jawab Jieru sambil menarik tangan Jianying.
"Mau kemana?" Tanya Jianying lagi.
"Ke penginapan. Jangan banyak tanya lagi." Kata Jieru.
Penginapan, saat makan siang.
"Ayah, nenek pernah bercerita jika kalian melakukan perjalanan selama beberapa bulan sebelum akhirnya sampai didesa. Lalu mengapa kita hanya perlu waktu sebulan untuk kembali kesini?" Tanya Minghao.
"Itu karena kami beberapa kali menetap di sebuah wilayah untuk berlatih. Biasanya kami tinggal selama sebulan sampai pasokan makanan disana tak mencukupi untuk kami. Kami melewati hutan terlarang agar tak ketahuan." Jawab Weiheng.
"Ibu pergi kemana?" Tanya Minghao lagi.
"Sedang mengawasi sekitar." Jawab Weiheng cepat.
Bersambung.......
__ADS_1