
"Tuan... sebaiknya aku mengalah saja, putri Bao-yu pasti sudah tau hubungan kita makanya mengirim pesan itu padaku." Jieru memeluk Zhang Bingjie.
"Tidak, jangan katakan itu! Aku lebih mencintaimu daripada dia! Aku menikah dengan dia juga hanya karena terpaksa! Semua karena jabatan ayahku! Tolong jangan katakan jika kau ingin pergi dariku!" Zhang Bingjie menggenggam erat bahu Jieru.
"Tapi... surat itu..." Jieru menunduk lesu.
"Tenanglah, aku akan mencari cara untuk bercerai dengan dia secepatnya!" Zhang Bingjie memeluk Jieru erat.
"Tapi aku takut, kita memiliki status yang berbeda. Tuan adalah anggota keluarga kerajaan, tapi aku hanya seorang bawahan tanpa status tinggi." Jieru mendorong Zhang Bingjie perlahan dan berjalan menjauhinya.
"Mau kemana?" Tanya Zhang Bingjie sambil menarik tangan Jieru.
"Aku harus pergi, aku tak pantas untuk tuan. Sebelum putri melakukan tindakan yang lebih besar dan berbahaya bagi nyawaku, maka aku harus pergi untuk menghindar." Jawab Jieru melepas genggaman Zhang Bingjie.
"Tidak! Aku mohon padamu untuk tetap berada disini! Hanya kau yang mengerti perasaanku, hanya kau yang merawatku di malam hari ketika aku kelelahan setelah bekerja sepanjang hari, kau memijit tubuhku yang lelah dan bukan sekedar meminta kepuasan diri, aku lebih mencintaimu daripada orang lain!" Zhang Bingjie menarik tubuh Jieru kedalam pelukannya.
"Ketahuilah, aku sangat ingin mencabik-cabik tubuhmu!! Beraninya kau memelukku dengan erat?! Beraninya kau menyentuh tanganku dengan tangan kotormu?! Kau baj*ng*n!! Cepat lepaskan aku!!" Jieru menahan amarah.
"Tolong tetap berada disisiku, oke? Aku sangat membutuhkan dirimu! aku mohon!" Zhang Bingjie masih memeluk Jieru.
"Baiklah, aku akan tetap bertahan untuk beberapa lama. Tapi... jika aku kembali mendapat surat itu, aku akan langsung pergi. Saat itu terjadi, maka anggap saja tak pernah ada yang terjadi diantara kita." Jieru mendorong Zhang Bingjie perlahan, tatapan matanya sendu seakan-akan menanggung sebuah beban berat.
"Kita adalah cinta sejati yang sebenarnya, kita tidak akan pernah berpisah." Zhang Bingjie mengecup puncak kepala Jieru.
"Em... baiklah, aku akan kembali. Sampai bertemu lagi di tengah malam berikutnya." Kata Jieru sambil tersenyum pahit.
"Kau tunggu saja aku, semua penghalang akan aku singkirkan secepatnya." Zhang Bingjie mengusap kepala Jieru.
"Em... ini sudah hampir pagi, aku pergi." Jieru keluar dari kamar pribadi lewat jendela setelah memastikan tak ada orang yang melihatnya.
"Aroma tubuh dan sifatmu membuatku terbuai, kau adalah wanita yang benar-benar cocok denganku." Zhang Bingjie mencium tangannya sendiri lalu memeluk tubuhnya seolah-olah sedang memeluk Jieru.
......................
Hutan terlarang
"Apa pakaian dari kakak putra mahkota sudah datang?" Tanya Jieru saat tiba di gubuk bambu.
"Ada didalam, kau bisa langsung berganti pakaian." Jawab Weiheng.
"Em..." Jieru bergegas masuk.
__ADS_1
Weiheng yang melihat wajah kesal Jieru tau jika Zhang Bingjie pasti melakukan hal yang melewati batas, tapi dia tak tau perbuatan seperti apa itu.
"Suamiku, bakar baju ini sekarang juga!!" Perintah Jieru ketika keluar dengan pakaian yang baru.
"Em..." Tanpa menunggu lagi Weiheng langsung memasukkan baju itu kedalam api yang masih menyala.
"Apa yang kau bakar?" Tanya Li Wei dan Lian Xia bersamaan.
"Baju najis!!!" Jawab Jieru kasar.
"Najis?" Li Wei dan Lian Xia bingung.
"Baju yang sudah ternodai tangan dan tubuh Zhang Bingjie, manusia busuk itu! Dia memelukku dengan sangat erat dan hampir membunuhku!!" Jieru duduk dan menghela nafas kasar.
Weiheng yang mendengar jawaban Jieru menambahkan banyak daun kering dan ranting agar api semakin besar. Setiap mendengar Zhang Bingjie menyentuh Jieru harinya terbakar, ingin sekali dia mencabik-cabik dan membakar tubuhnya.
"Ei?! Weiheng, kenapa wajahmu merah?" Tanya Jianying yang baru saja tiba bersama anak-anak dan Chu Xifeng.
"Tak ada!!" Jawab Weiheng kasar.
"Cepat bakar baju itu sampai habis!!! Jangan sampai tersisa sedikitpun!! Buat setiap bagiannya menjadi debu!!" Perintah Jieru.
"Tak perlu kau perintah juga akan aku lakukan!! Aku tak akan membiarkan ada noda dari binatang itu!!" Weiheng lagi-lagi menambah ranting kedalam api.
"Tapi baju itu sudah berbau busuk!!" Bentak Weiheng dan Jieru bersamaan.
"Benar-benar berlebihan!!" Teriak Han.
"Bukan kau yang melakukan dan merasakannya! Kau tak akan mengerti! Huh!" Lagi-lagi pasutri itu berbicara dengan kompak.
"Sudahlah, sebaiknya kita memikirkan langkah selanjutnya." Kata Minghao.
"Iya, sekarang masih belum cukup untuk membuat perpecahan di antara mereka!" Sambung Zhishu.
"Paman dan bibi seperti anak kecil saja!" Sewot Gu An.
"Kalian anak kecil tak akan mengerti! Saat kalian dewasa dan sudah menikah nanti baru kalian akan mengerti!" Ketus Weiheng.
"Aku lapar, apa masih ada makanan?" Tanya Jieru sambil menepuk-nepuk perutnya yang sudah keroncongan.
"Ambil saja bakpao milikku dulu, biar bibi Wei yang memasak untuk ibu." Zhishu memberikan dua buah bakpao.
__ADS_1
"Anak baik!" Jieru dengan cepat mengambil makanan yang ada ditangan Zhishu dan melahap nya. Sepertinya Jieru memang sangat kelaparan, itu terlihat dari betapa cepatnya dia menghabiskan bakpao.
"Aku akan memasak sedikit untukmu." Li Wei menyiapkan beberapa bahan makanan.
"Cepatlah, aku sudah lapar!" Kata Jieru yang sudah memakan habis dua buah bakpao dari anaknya.
"Sementara menunggu kau makan saja milikku." Gu Cheng memberikan bakpao pada Jieru.
"Milikku juga kau makan saja." Ibu Li Wei juga memberikan bakpao miliknya.
"Dengan senang hati." Jieru tersenyum. Jieru yang sudah seperti pengemis kelaparan itu melahap habis bakpao yang diberikan padanya.
"Kalian tidak memberikan bakpao untukku?" Jianying memelas.
"Kau kan sudah punya satu?" Li Wei menunjuk tangan Jianying.
"Hanya satu... dia sudah makan empat..." Jawab Jianying sambil menunjuk Jieru.
"Sekarang siapa yang seperti anak kecil? Ini untukmu, makan saja." Chu Xifeng memberikan bakpao miliknya.
"Karena kau memaksa, aku akan menerimanya dengan terpaksa." Jianying mengambil bakpao ditangan Chu Xifeng sambil tersenyum.
"Makananmu sudah siap, kau masih bisa makan?" Tanya Li Wei sambil memberikan makanan pada Jieru.
"Aku sangat kelaparan, tentu saja masih bisa!" Jieru menyambut makanan ditangan Li Wei dan memakan dengan lahap.
"Pengemis kecil yang malang." Ibu Li Wei menatap Jieru yang makan seperti anak kecil.
Setelah Jieru selesai makan Weiheng langsung bertanya,
"Apa rencanamu selanjutnya?"
"Malam ini aku akan membawa Bao-yu ke kamar pribadi Zhang Bingjie untuk melihat wajah asli ibu dan suami tersayangnya." Jawab Jieru santai.
"Apa Bao-yu sudah cukup curiga? Bisa saja dia masih sangat percaya pada mereka dan tidak pergi, kan?" Weiheng sedikit ragu.
"Ayah tak akan mengerti, wanita itu sangat sensitif. Rasa penasaran dari seorang wanita bisa mengungkap rahasia besar yang sudah tertutup rapat hanya dalam waktu singkat." Kata Minghao.
"Dasar anak kecil sok pintar!" Ketus Weiheng.
"Kau lah yang kurang cerdas!" Ledek Jieru.
__ADS_1
Bersambung.....