
Dua hari telah berlalu namun mereka tak menemukan cara apapun yang bisa membantu. Hingga malam harinya Weiheng datang secara diam-diam untuk menyelamatkan mereka.
Bruk.......
Satu persatu penjaga pingsan membuat Jieru dan selir Jiao heran. "Uhuk! Uhuk! Ada apa ini?! Mengapa mereka semua tumbang?!" Tanya Jieru yang sedang sakit. Hari itu dia juga terkena senjata beracun, namun dia tak mendapat penanganan segera sehingga racun itu menggerogoti tubuhnya sekarang.
Klek....
Pintu yang terkunci dibuka oleh seseorang, "Apa kalian baik-baik saja?!" Tanya orang itu panik.
"Weiheng?! Ternyata kau! Tolong Jieru, dia terkena senjata beracun! Dia sangat kesakitan sekarang!" Jawab selir Jiao.
"Racun?! Ki.. Kita keluar sekarang juga!!" Weiheng menggendong Jieru dan membawa mereka keluar sebelum para penjaga itu bangun.
Pagi harinya kaisar mendapat kabar jika dua orang itu kabur, lalu menyampaikan pengumuman bahwa siapapun yang menemukan kedua orang itu akan di beri 1000 tael emas untuk satu orang buronan.
"Nenek tua licik itu sangat kejam!! Dia yang melakukan kejahatan tapi malah kalian yang dijadikan kambing hitam!!! Benar-benar tak bisa dimaafkan!!" Kesal Li Wei.
Semalam Weiheng membawa Jieru dan selir Jiao ke kediaman Li Wei, di sana sudah ada tabib Gu yang menunggu. Jieru langsung diperiksa, "Jieru perlu waktu untuk bisa sadar sekarang. Racunnya tidak terlalu berbahaya, namun karena sudah terlalu lama jadi membuatnya sakit dan kehilangan kesadaran." Kata tabib Gu.
Tabib Gu adalah seorang tabib muda juga orang kepercayaan selir Jiao, dia tau betul jika selir Jiao tak akan melakukan kejahatan besar itu.
"Aku harus segera kembali agar tak ada yang curiga, mereka akan bertanya jika aku keluar terlalu lama." Tabib Gu pergi.
__ADS_1
Weiheng mengangguk, "Baik, terimakasih atas pertolonganmu." Kata Weiheng.
"Aku seorang tabib, sedah seharusnya menolong orang yang sedang sakit. Ayahku sudah merawat selir Jiao bertahun-tahun dan sekarang aku menggantikan posisi itu, aku tau betul jika selir Jiao adalah orang baik dan selir Yao adalah ular berbisa." Kata tabib Gu.
"Tabib Gu, silahkan." Li Wei mengantar tabib Gu dengan hati-hati agar tak ada yang melihat mereka.
"Wei..... Weiheng...." Panggil Jieru lemah, tubuhnya terasa tercabik-cabik karena racun itu.
"Jieru!!! Akhirnya kau sadar sekarang!!!" Weiheng memeluk Jieru erat.
"Hey hey hey! Jika ingin menunjukkan kemesraan tolong jangan didepanku!" Ketus Li Wei.
"Sudahlah, jangan menggangu sepasang kekasih yang sedang melepas rindu." Goda ibu Li Wei.
"Ibu..... Apa ibu tak tau jika putrimu ini masih belum memiliki pasang? Dan sekarang mereka malah berpelukan didepanku?! Ayolah..... Kalian menyiksa ku!!" Li Wei pergi.
"K.. Kau... Apa yang kau katakan?! A... Aku tak mengerti!" Wajah Li Wei memerah karena malu.
"Yayaya nona Li Wei yang baik hati karena telah menampung buronan sepertiku dengan ikhlas, aku hanya bercanda." Kata Jieru sambil tersenyum nakal.
"Cih! Aku hanya tak ingin berhutang budi! Ibuku sudah sembuh, jadi aku membantu kalian." Kata Li Wei
"Kalian sebaiknya tinggal disini dan jangan kemana-mana, semua orang mencari kalian untuk mendapatkan uang." Kata ibu Li Wei.
__ADS_1
"Ya, aku tau. Aku tak masalah dihargai dengan 1000 tael emas, aku adalah seorang pelayan biasa. Tetapi selir Jiao adalah orang yang telah bersamanya selama bertahun-tahun, 1000 tael emas bahkan tak bisa membeli dirinya!!" Jieru kesal.
"Jieru sudah bangun? Makanan sudah siap, kita makan siang dulu." Kata selir Jiao.
"Ya! Makanan yang di masak nyonya Jiao dan ibu sangat lezat!!" Seru Han.
"Yang ada di otakmu ini hanya ada makanan, ya?!" Ketus Li Wei.
"Hey, jika kita tidak makan maka kita akan mati kelaparan!" Jawab Han.
"Sudah, jangan bertengkar lagi. Kita makan sekarang saja, aku sudah lapar." Kata Jieru.
"Mereka mengingatkanmu pada adikmu, Alvan, kan? Aku juga, melihat mereka menginginkan aku ketika baru mengenalmu." Bisik Weiheng.
"Ya, aku merindukannya. Aku tak tau bagaimana keadaannya sekarang, semoga dia baik-baik saja." Jawab Jieru.
"Tenang aja, dia pasti dirawat dengan baik." Weiheng mengelus kepala Jieru.
"Hey, apa kau menyesal telah mengenal buronan ini?" Tanya Jieru.
"Aku tak pernah menyesal karena bertemu dengan istriku." Weiheng mengecup puncak kepala Jieru.
"Masih aja gombal, bantu aku keluar sekarang." Jieru mengangkat kedua tangannya mengisyaratkan ingin digendong.
__ADS_1
"Aku hanya akan berkata manis pada istriku yang imut ini." Weiheng menggendong Jieru.
Bersambung........