KEMBALINYA SANG AKTRIS

KEMBALINYA SANG AKTRIS
Bertemu keluarga


__ADS_3

Dimensi lain, sungai tempat pembunuhan 6 tahun lalu.


"Ayah, apa ibu dan kakak akan kembali?" Tanya Zhishu sambil memandangi Weiheng dengan tatapan sedih.


"Zhishu adalah anak baik, pasti bisa sabar dalam menunggu, kan?" Weiheng berjongkok dan mengelus kepala putri kecilnya.


"Ayah, sebenarnya tempat apa ini? Kenapa ada benda aneh yang bergerak sendiri?" Tanya Zhishu takut karena melihat beberapa mobil yang melintas.


"Zhishu, itu adalah kendaraan yang sama seperti kereta kuda, hanya saja mereka sekarang sudah menggunakan mesin." Jawab Weiheng.


"Mesin? Apa itu bisa dimakan? Zhishu lapar~~~" Zhishu menepuk-nepuk perutnya.


"Baiklah, kita berjalan sebentar dan mencari tumpangan dulu. Kita akan kembali kerumah kakek dan nenek." Weiheng menggendong Zhishu.


"Kakek dan nenek? Apa kaisar dan permaisuri ada disini juga?" Tanya Zhishu.


"Tidak, mereka tidak ada disini. Ayah dan ibu berasal dari dunia yang berbeda dengan mereka, ini adalah dunia kami yang sebenarnya. Ingat, setelah ini kau harus patuh dan jangan gunakan kemampuan bertarung untuk melawan orang lain kecuali dalam keadaan mendesak." Nasihat Weiheng.


"Em... baik, ayah!" Zhishu tersenyum.


"Satu lagi, nama ayah adalah Rein, sementara nama ibu adalah Vivian. Jika ada yang bertanya siapa nama orang tua mu kau tau harus jawab apa, kan?" Tanya Weiheng.


"Em... nama ayahku adalah Rein, nama ibuku adalah Vivian!" Jawab Zhishu sambil tersenyum.


Setelah berjalan beberapa lama ada sebuah mobil yang berhenti didekat mereka,


"Hey, tuan? Perlu tumpangan?" Tanya seorang pria didalam mobil yang duduk di kursi pengemudi.


"Anak kecil yang manis, kalian ingin pergi ke mana?" Tanya wanita disebelahnya.


"Apa kalian bisa mengantar kami ke rumah keluarga Chandra?" Tanya Rein.


"Kebetulan kami akan pergi kesana untuk urusan bisnis, silahkan masuk." Jawab wanita itu ramah.


"Baik, terima kasih!" Weiheng dan Zhishu masuk ke dalam mobil.


"Kalian dari mana? Kenapa menggunakan pakaian tradisional seperti itu?" Tanya pria yang sedang fokus mengemudi.


"Kami sebenarnya sedang mencari tempat yang bagus untuk berfoto, hanya saja kami mengalami hal buruk dan semua barang termasuk pakaian ganti dirampok." Jawab Weiheng.


"Ah... ternyata seperti itu. Adik kecil, siapa namamu?" Tanya wanita didepan.


"Namaku..." Belum selesai Zhishu menjawab Weiheng menyela.


"Valencia, namanya adalah Valencia. Dia putri kesayanganku." Kata Weiheng cepat.


"Valencia, apa kau mau kue?" Tanya wanita didepan.


"Mau mau mau!!" Sahut Zhishu bersemangat.


"Hahaha... anak kecil yang manis, ini untukmu." Wanita itu memberikan sebungkus roti untuk Zhishu.

__ADS_1


"Terima kasih, bibi!" Zhishu langsung melahap roto itu.


"Oh ya, ada urusan bisnis apa hingga kalian datang langsung ke rumah keluarga Chandra?" Tanya Weiheng.


"Ah, kami ingin membahas sebuah proyek. Kami bekerjasama dengan keluarga Chandra untuk membangun sebuah panti asuhan." Jawab wanita itu.


"Kalau boleh tau, siapa kalian?" Tanya Weiheng lagi.


"Kami dari keluarga Anggara, kau bisa memanggil kami tuan dan nyonya Anggara." Jawab wanita didepan.


"Bibi, apa masih ada roti lagi?" Tanya Zhishu/Valencia.


"Ini, ambilah." Nyonya Anggara memberikan sebungkus roti lagi untuk Valencia.


Setelah beberapa lama menyelusuri jalan yang padat dan sempat terjebak macet, akhirnya mereka tiba di rumah keluarga Chandra.


"Kita sudah sampai, ayo masuk!" Ajak nyonya Anggara.


"Valencia, ayo! Kita temui dan beri mereka kejutan!" Rein menggendong Valencia keluar.


Saat mereka memasuki kediaman keluarga Chandra, semua pelayan hanya terdiam dan menatap Rein seolah-olah tak percaya dengan apa yang sedang mereka lihat.


"Nyo.... nyonya!!! Tuan muda!! Tuan muda Rein!!!" Teriak seorang pelayan perempuan.


"Tuan muda?!" Tuan dan nyonya Anggara bingung.


"Kakek!!! Nenek!!! Cepat kesini!!" Teriak seorang anak gadis yang baru saja turun dari tangga dan melihat Rein, dia adalah Gea.


Prang!!!


Seketika piring yang ada ditangan wanita itu jatuh dan pecah hingga berkeping-keping,


"Rein...." Kata wanita itu lirih.


"A... ada apa ini?" Tanya nyonya Anggara.


"Permisi? Saya putra keluarga Anggara, saya terlambat karena...." Seorang pria yang baru saja masuk ikut terdiam saat melihat Rein.


"Firman?" Rein menatap pria berkemeja hitam dan terlihat berwibawa itu.


"I... ini... lo... lo beneran Rein?! Rein yang.... yang kerja bareng gue di restoran Vivian?!" Firman menatap tak percaya.


"Rein.... ini beneran kamu, kan? Kamu... ini bukan mimpi, kan?! Bukannya kamu... kamu udah..." Ibu Rein memeluk Rein dengan sangat erat.


"Iya ibu, ini Rein. Ini bukan mimpi, ini nyata!" Rein memeluk ibunya sambil menangis.


"Ini.... masih ayah yang cuma sedih pas ibu pergi?" Valencia berbicara dalam hati.


"Ibu.... ini... ini Valencia, dia anak aku sama Vivian." Rein menatap Valencia dengan mata yang masih mengeluarkan bulir-bulir bening.


"Valencia? Anak kamu.... sama Vivian?! Cucuku!!" Ibu Rein langsung memeluk Valencia dengan sangat erat, bahkan lebih erat dari saat dia memeluk Rein.

__ADS_1


"Vivian dimana?" Tanya Firman.


"Dia...." Rein bingung bagaimana cara menjelaskannya.


"Kami berpisah dengan ibu dan kakak saat dirampok, sekarang kami tak tau mereka ada dimana." Jawab Valencia.


"Dirampok?! Ka... kalian ga terluka, kan?!" Tanya ibu Rein khawatir.


"Selain berpisah dengan ibu dan kakak, kami tak terluka sedikitpun." Jawab Valencia sambil menggeleng.


"Cepat perintahkan orang untuk cari Vivian, temukan mereka secepatnya!" Perintah ibu Rein.


"Cari Vivian? Bukannya Vivian sama Rein udah meninggal 6 tahun lalu?" Tanya ayah Rein yang baru saja pulang dari kantor, dia belum melihat Rein yang membelakangi nya.


"Kami belum meninggal, ayah." Rein berbalik.


Bruk!!


Tas yang ada ditangan kepala rumah tangga keluarga Chandra langsung jatuh, orang yang selalu menunjukkan wibawanya itu langsung memeluk Rein sambil menangis. Dia sangat merindukan putra angkatnya itu.


"Nak, gimana kamu bisa ada disini? 6 tahun lalu ayah melihat kalian dengan mata kepala ayah sendiri, kalian... kalian udah..." Ayah Rein menatap tak percaya.


"Ceritanya panjang, susah buat aku jelasin. Yang jelas kami masih hidup, juga dikaruniai dua anak kembar." Jawab Rein.


"Ini kakek?" Tanya Valencia pada Rein sambil menunjuk pria tinggi dan tegap didepannya.


"Iya, ini kakek. Mulai sekarang kita akan tinggal disini sambil nunggu ibu dan kakak pulang." Jawab Rein sambil mengelus kepala Valencia.


"Siapa nama kamu?" Tanya ayah Rein pada Valencia.


"Valencia!" Jawab gadis kecil yang imut itu.


"Lalu.... siapa nama saudara kamu yang satunya?" Tanya ayah Rein lagi.


"Oh, namanya kak Mi..." Kalimat Valencia terpotong.


"Michael! Namanya Michael!" Jawab Rein cepat.


"Michael? Dimana dia sekarang?" Tanya ayah Rein.


"Mereka pisah gara-gara dirampok, aku udah suruh orang buat nyari mereka." Kali ini ibu Rein yang menjawab.


"Dirampok?! Kerahkan semua orang yang berpengalaman untuk cari mereka, cepat!" Perintah ayah Rein.


"Ah... tak disangka yang kami bawa adalah putra bungsu keluarga Chandra, maaf karena kami terlambat menyadari status kalian." Kata tuan Anggara.


"Itu bukan masalah, lagipula kalian sudah mau membantu kami." Kata Rein.


"Kalian bersihkan diri dan ganti pakaian dulu. Gea, ambil salah satu pakaian kamu pas kecil dan kasih ke Valencia." Kata ibu Rein.


"Iya, nek. Valencia, ayo ikut kakak." Gea mengulurkan tangannya dan disambut baik oleh Valencia. Gea membawa Valencia ke kamarnya sementara Weiheng naik ke atas menuju kamar lamanya. Ayah Rein dan Keluarga Anggara termasuk Firman membicarakan bisnis di ruang tamu setelah Rein pergi.

__ADS_1


bersambung.....


__ADS_2