KEMBALINYA SANG AKTRIS

KEMBALINYA SANG AKTRIS
Paket Kelebihan


__ADS_3

"Aaaaa!!!!!!!!!!!" Teriakan kencang terdengar dari kamar Rein.


"Suara teriakan siapa itu?!" Rein yang sedang berjalan ke arah ruang keluarga langsung naik dan berlari ke kamarnya.


"Aku akan periksa!" Alvian mengikuti Rein.


Brak!!!!


Rein membuka pintu dengan sangat kencang, matanya terbelalak melihat seorang gadis muda berada di atas ranjangnya.


"Apa yang terjadi?! Aku dimana?! Aku siapa?! Tempat apa ini?! Dimana yang lain?!" Panik gadis itu sambil berlari kesana kemari dan membuat kamar Rein berantakan.


"Siapa kamu?! Cepat jelaskan atau kami panggil polisi!" Rein terlihat sangat marah. Selama ini tak ada yang boleh masuk kamarnya sembarangan, sekarang malah ada seorang gadis muda yang mengacak-acak kamar itu.


"Ehh? Paman?" Gadis itu membatu saat melihat Rein.


Brak!!!!


Lagi-lagi ada yang membanting pintu, kali ini pintu kamar mandi Rein.


"Apa yang sebenarnya terjadi?!?!" Teriak seorang wanita yang keluar dari dalam sana, tubuhnya basah kuyup.


Rein yang melihat wanita itu keluar langsung berlari menghampiri dan memeluknya erat, sangat erat.


"Tampaknya setelah mati aku langsung di kirim ke alam lain?" Gumam wanita itu.


"Bodoh! Siapa yang bilang kau sudah mati? Kau tak boleh sebelum aku!" Rein semakin mempererat pelukannya seiring dengan air mata haru sekaligus yang mengalir deras.


"Ha... hahaha... aku rasa aku memang berada di alam lain! Aku bahkan merasa jika suaramu sangat mirip dengan seseorang! Hahahaha..." Wanita itu tertawa canggung, namun tak lama dia ikut berderai air mata dan balas memeluk Rein.


"Hoiii!!! Adakah yang bisa membuka pintu ini?!" Teriak seseorang yang sepertinya berasal dari dalam lemari pakaian.


"Eh? Siapa lagi yang berteriak?" Alvian penasaran dan berjalan menuju lemari dan membukanya.


"Hah.... hah... hah.... mengapa lama sekali?! Aku hampir mati kehabisan oksigen!!!" Seorang remaja laki-laki nampak tersengal-sengal.


"Kamu? Kenapa bisa ada di dalam sini? Kenapa pakai baju laki-laki?" Tanya Alvian yang melihat remaja di depannya.

__ADS_1


"Apa maksudnya? Memangnya aku perempuan?!" Ketus remaja itu lalu keluar.


Bruk!!!


Bukannya mendarat dengan mulus kakinya malah membuat dirinya jatuh tersungkur. Tampaknya dia sedang dalam kondisi lemah akibat terlalu lama berada di dalam lemari.


"Kamu ga papa?" Tanya Alvian sambil membantu Minghao berdiri.


"Kakak tak apa-apa? Apakah perlu pengobatan?" Tanya gadis tadi alias Gu An yang menghampiri mereka dengan wajah khawatir.


"Tak apa, aku baik-baik saja." Jawab Minghao.


"Vian.... masih inget kakak?" Tanya Jieru alias Vivian.


"Kak! Kakak kenapa baru muncul?! Aku khawatir, kak!" Alvian bicara sambil melepas tangannya yang menahan tubuh Minghao dan berjalan cepat ke arah Vivian, dia langsung memeluk kakaknya itu dengan sangat erat seakan tak ingin lepas.


"Tak bisakah mengingatku? Kenapa melepas begitu saja? Kau pikir enak, hah?" Minghao mengusap keningnya yang terbentur siku meja.


"Kamu.... Michael, kan? Maaf, oom ga sengaja." Alvian langsung melepas pelukannya dan membantu Gu An yang hendak menolong Minghao/Michael.


"Kakak?! Gu An?!" Seseorang masuk dan berlari memeluk Gu An, lagi-lagi tubuh Minghao harus menghantam meja di belakangnya.


"Tak bisakah kalian memperhatikan keadaanku?! Tubuhku sudah lemah karena terkurung bersama semua baju itu dan aku harus menghantam meja berapa kali lagi?!" Protes Michael yang menyandarkan kepalanya di bahu Alvian.


"Bukankah kau selalu terkena nasib seperti itu? Untuk apa protes?!" Ketus Valencia.


"Kau tak apa-apa?" Tanya Gu An khawatir.


"Kalian menindas ku....." Michael beralih bersandar pada Gu An.


"Hohoho, kau sangat menyayangi dia? Pantas saja dia bisa menjadi 'paket kelebihan' dan muncul di sini." Valencia melipat kedua tangannya didada dan menatap Michael sinis.


"Hah? Apa maksudnya sama 'paket kelebihan'?" Tanya Alvian.


"Ibu sama kakak memang udah seharusnya pulang, sedangkan Gu An itu ga. Kalau dia ikut kesini juga bisa dibilang 'paket kelebihan', kan?" Valencia sengaja memancing emosi Michael, tentu saja dia berhasil melakukannya.


"Maksudmu dia orang luar?! Dia itu bukan orang luar!! Dia juga bagian dari keluarga!! Ingat kenangan kalian saat kecil bertahun-tahun lalu!! Dia akan menjadi...." Michael yang baru sadar dengan rencana Valencia langsung berhenti bicara.

__ADS_1


"Manjadi apa? Mayat hidup?" Valencia kembali memancing emosi Michael dengan sengaja.


Buk!!!


Gu An langsung bertindak, dia memukul kepala belakang Valencia agak keras. Gu An tak menggunakan setengah dari tenaganya jadi Valencia hanya meringis.


"Benar-benar kakak ipar yang galak!" Gumam Valencia pelan namun masih bisa didengar oleh Gu An.


"Be... berhenti bicara omong kosong!" Gu An kembali mencoba memukul Valencia namun orang licik itu berhasil mengelak.


"Sudah, sekarang lebih baik kalian membersihkan diri dan berganti pakaian. Gu An pakai baju Valen, Michael pakai baju Harie(anak Alvian), Vivian pakai baju Cassandra(istri Alvian)." Kata Rein.


Mereka semua bubar dan membersihkan diri, setelah selesai mereka langsung turun menuju ruang keluarga. Ayah, ibu, Cassandra, Harie, Renata, dan semua pelayan sudah ada di satu ruangan. Gu An yang merasa sebagai orang asing nampak gugup, ditambah lagi mereka semua menatapnya.


"Kenapa aku harus ikut kesini? Bagaimana aku bisa bertahan hidup dengan orang-orang ini? Mereka semua menatapku dengan sangat aneh!" Batin Gu An.


"Jadi ini Michael?" Cassandra bertanya dengan ramah.


"Em... saya Michael." Jawab Michael tenang.


"Terus ini.... siapa?" Tanya Cassandra lagi sambil melirik Gu An.


"Ini Gu An! Orang paling penting di hati kakak!" Celetuk Valencia.


"Adikku ini memang sangat mencintai Tuhan! Aku akan kabulkan keinginannya untuk bertemu Tuhan jika dia berbicara hal yang akan menggangu Gu An lagi!" Batin Michael sambil mendelik tajam ke arah Valencia.


Dimensi lain


"Apa?! Bukankah hanya bisa dua orang?! Mengapa Gu An bisa ikut menghilang?!" Li Wei nampak sangat terkejut saat mendengar kabar dari Gu Cheng, suaminya.


"Itu benar! Saat mereka masuk ke dalam air tiba-tiba sebuah cahaya biru muncul dan menjulang ke langit, setelah cahaya itu menghilang aku langsung masuk ke air tapi tak bisa menemukan mereka. Aku yakin jika mereka bertiga pergi ke dimensi lain!" Jelas Gu Cheng.


"Bibi, kau harus tenang! Jika dia benar-benar menghilang bersama bibi Jieru dia pasti akan baik-baik saja!" Putra Bao-yu mencoba menenangkan Li Wei.


"Itu benar, kau harus tenang." Gu Cheng memeluk istrinya.


"Em... baiklah, semoga dia baik-baik saja disana." Li Wei mulai tenang.

__ADS_1


"Minghao, jaga dia baik-baik disana. Aku tak bisa menang darimu, jadi aku akan melepaskan dia. Jika kau tak bisa menjaganya dengan baik maka di kehidupan selanjutnya aku akan merebutnya!" Batin putra Bao-yu. Dia sudah cukup lama menyukai Gu An, hanya saja dia tau jika dia sudah tak memiliki kesempatan.


Bersambung.....


__ADS_2