
Sejak pagi Jieru terus saja melamun dan tidak fokus, pekerjaannya selalu berantakan. Saat disuruh membersihkan jendela dia malah membuat Jianying bersin-bersin, "Hey!!! Muka aku bukan jendela tau?!?!?! Hachi.... Hachi.... Hachi....." Jianying terus saja protes sambil bersin.
"Pfftt.... Hahaha maaf aku tak sengaja. Hahaha....." Kata Jieru.
"Tertawa saja terus!! Kau memikirkan apa sampai melamun terus!? Ini sudah siang! Jendela yang bersih mau kau bersihkan lagi, terlalu rajin!" Kata Jianying.
"Aku......" Jieru menggantungkan kalimatnya, "Aku hanya merindukan suamiku." Batinnya.
"Hoiii!!! Apa? Mikirin siapa? Lelaki? Calon suami?" Cerocos Jianying.
"Sudahlah, kau tak akan mengerti!" Jieru meninggalkan Jianying begitu saja, "Kau belum menikah, tak kan paham bagaimana rasanya. Baru sehari menikah tetapi harus berpisah, aku bahkan ga tau sekarang dia ada dimana. Udah 3 bulan tapi kami belum ketemu, kenapa harus aku sih yang mengalami ini?" Batin Jieru.
......
"Weiheng memberi salam kepada kaisar, permaisuri, selir Jiao, dan Jendral Yelu." Weiheng yang tadinya sedang ngobrol bersama rekannya langsung menuju taman kediaman Jendral Yelu.
"Selir Jiao, apa kau hanya memerlukan satu prajurit untuk melindungimu?" Tanya kaisar.
Selir Jiao mengangguk, dia memperhatikan Weiheng dengan seksama. "Jieru dan Jianying pasti akan memperebutkan prajurit tampan ini." Batinnya.
Weiheng ikut bersama selir Jiao kembali ke kediamannya, "Apa dengan melakukan ini Vivian bisa aku temukan? Ini udah lama banget, apa dia juga ada didunia ini? Atau jangan-jangan...... Dia malah nemuin cowok lain yang lebih kuat?!" Weiheng memang selalu was-was ketika mengingat Vivian, takut jika Vivian akan menghilang dari hidupnya.
Istana para selir, kediaman selir Jiao.
Jieru masih saja melamun memikirkan suaminya saat Jianying tiba-tiba mengagetkannya, "Jieru!!!! Ada kabar gembira untukmu!!!"
__ADS_1
"Kabar gembira? Rein ada disini?! Dimana?!" Jieru melihat kesana kemari.
"Rein? Rein apa?" Jianying bingung.
Jieru kembali lemas, "Sudahlah, kau tak akan mengerti."
"Jieru, mengapa kau terlihat tak bersemangat?" Tanya selir Jiao menghampiri mereka.
"Jieru memberi salam kepada selir Jiao." Jieru masih terus menunduk.
"Nyonya~~~~ sepanjang hari Jieru tidak fokus bekerja, dia bahkan membuat Jianying bersin-bersin!!" Kata Jianying.
"Apa apa, Jieru? Apa kau punya masalah?" Tanya selir Jiao.
Jieru dengan malas melihat orang disamping selir Jiao, namun dia langsung mematung begitu sosok pujaan hatinya benar-benar ada di hadapannya.
"Jieru, apa kamu yang selama ini aku cari? Atau hanya wajahmu saja yg persis?" Pikir Weiheng.
"Apa aku berhalusinasi? Rein.... Rein ada disini?" Batin Jieru.
"Ehem... Ehem.... Sepertinya ada yang jatuh cinta pada pandangan pertama. Apa nyonya juga melihat?" Jianying bicara dengan nada mengejek.
"Ya~~~~ cara mereka saling menatap seperti sepasang kekasih yang sudah lama tak bertemu." Ejek selir Jiao.
"Memang sudah lama tak bertemu." Batin Jieru.
__ADS_1
"Jianying, bantu aku masuk. Jangan sampai kita mengganggu mereka." Selir Jiao dan Jianying tersenyum nakal lalu pergi.
Cukup lama keadaan heningnya, sesekali angin meniup rambut Jieru dengan lembut.
"Apa.... Tak lelah berdiri?" Tanya Weiheng.
"Ah... Eh.. Itu.. Itu.. Silahkan duduk tuan." Jieru tergagap.
Weiheng tertawa kecil melihat Jieru yang sedang gugup itu, "Terlalu merindukan sampai ga bisa berkata apapun?" Tanyanya.
"Aku... Senang ini beneran kamu..... Aku pikir kita ga akan ketemu lagi, Rein.... Hiks... Hiks...." Jieru mengusap wajahnya yang terkena tetesan bening dari matanya.
Weiheng dengan cepat memeluk Jieru erat, Jieru membalas pelukan itu. Kerinduan yang telah tertampung begitu lama, akhirnya tumpah. Jieru menangis semakin kencang. Perasaannya tak dapat dia ungkapan dengan kata-kata.
"Si cengeng ini, kapan sih berhenti nangis?" Weiheng mengusap wajah Jieru.
"Huaaaa......" Jieru malah menangis semakin kencang lagi, "Kamu yang cengeng!! Kamu juga nangis!! Ga liat apa pipi kamu tuh basah?! Lagian kalau ada disini kenapa ga cari aku?! Capek tau ga nungguin kamu?! Dasar nyebelin!! Trus badan juga makin kurus kenapa?! Ga makan?! Makanya jangan ninggalin istri gitu aja!!!" Jieru memukul dada Weiheng dengan air mata yang terus mengalir deras.
"Iya iya aku cengeng. Udah dong jangan nangis lagi, nanti matanya ga kelihatan, loh." Goda Weiheng sambil menghapus air matanya.
"Mata kamu yang ga keliatan!! Dasar nyebelin!!" Ketus Jieru.
"Iya~~~ maaf aku ga bisa langsung cari kamu. Begitu sampai aku ada di medan perang, untung aja masih bisa selamat. Waktu itu kamu ga ikut selir Jiao, jadi kamu ga liat aku di istana. Setelah itu aku dapat tugas lagi, maaf." Weiheng mencubit pipi Jieru pelan.
Bersambung........
__ADS_1