
Suatu hari
"Uh.... Dimana ini?" Jieru membuka matanya perlahan.
"Tunggu.... Apa yang terjadi?!?!?!?!" Teriak Jieru ketika menyadari bahwa dia terbangun dalam keadaan digantung di atap rumah bordil.
"Hey, lihat. Siapa dia?"
"Astaga~~~ dia pasti gadis korban istri orang yang pernah menjadi pelanggannya!"
"Kasihan sekali, padahal dia terlihat cantik."
"Iya, apa kita perlu membantu dia?"
"Membantu? Bagaimana jika orang yang melilit dan menggantung dia disana bukanlah wanita biasa?"
"Tapi.... itu bagus juga, setidaknya mereka bisa melihat salah satu akibat dari merayu suami orang lain."
"Dia digantung di atap rumah bordil, pasti bukan wanita baik-baik! Kita biarkan saja, sangat jarang ada pertunjukan sebagus ini."
Semua orang yang melintas memperhatikan dan mengeluarkan berbagai komentar, terutama para wanita yang suaminya sering datang untuk menghamburkan uang dengan gadis cantik di rumah bordil.
"Siapa yang berani melakukan ini?!?! Apa kakak putra mahkota?! Lihat saja nanti!! Aku akan membalasnya!!!" Batin Jieru.
Dari kejauhan Jieru melihat seseorang yang mencurigakan, "Oh? Jadi si saudari tiri? Ah... ternyata dia, aku kira kakak putra mahkota. Tapi.... mengapa dia melakukan ini? Bukankah dia tau kalau aku sekarang bawahan Zhang Bingjie?" Jieru bingung dan terus berpikir.
Sementara itu, dari kejauhan seseorang menatap Jieru yang sedang menjadi kepompong di atap rumah bordil dengan penuh kebencian.
"Walaupun kau bawahan Bingjie, aku tetap akan memberikan sedikit pelajaran karena telah berani masuk ke kamar pribadi suami orang di tengah malam!!! Walau lupa ingatan, jal*ng tetaplah jal*ng!!!!" Bao-yu menatap tajam ke arah Jieru yang sedang berusaha melepaskan diri.
"Nona, bagaimana hasilnya? Apakah puas?" Tanya seorang prajurit.
"Kerjamu sangat bagus, dia terbalut dengan sempurna. Kau mengikat dia dengan erat atau tidak?" Tanya Bao-yu.
"Jika dia terus bergerak tali akan putus, dia akn langsung jatuh dan mati. Kami juga sudah memasukkan racun ke dalam tubuhnya dan akan segera bereaksi, ini akan dianggap sebagai kecelakaan jika tak ada yang melihat siapa yang menggantung dia disana." Jawab prajurit itu.
"Bagus! Kau melakukan pekerjaan dengan sangat bagus! Ini adalah harga yang layak kau dapatkan!" Bao-yu memberikan sekantung koin kepada prajurit itu.
"Terima kasih, tuan putri!!!" Prajurit itu memberi hormat lalu pergi.
"Pemandangan yang cukup bagus, sayangnya aku tak bisa melihat terlalu lama. Ah.... sayang sekali aku tak bisa melihatmu mati dengan mata kepalaku sendiri." Bao-yu pergi dengan perasaan puas.
"Bao-yu!!!! Aku akan membunuhmu setelah aku berhasil lolos!!!!" Batin Jieru geram.
__ADS_1
Dug!!!
"A... apa yang terjadi?!?!? Mengapa nafasku terasa berat?! Mengapa jantungku terasa sakit?! Kepalaku juga terasa sakit?! Apa dia memasukkan racun ke dalam tubuhku?!" Jieru mulai merasa lemas, dia baru saja sadar dan sekarang harus menahan reaksi racun.
"Weiheng~ cepat tolong aku~ dimana kau sekarang? Bukankah sudah berjanji akan melindungi keluarga? Mengapa kau belum muncul? Kau mau aku mati disini?" Jieru hanya bisa berkata dalam hati, dia sudah tak kuat untuk mengeluarkan tenaga atau untuk bicara.
Wush!!! Set!! Ces!!
Dua orang misterius datang, yang satu memutuskan tali sementara yang satunya menyelamatkan Jieru yang terjatuh.
"Mengapa baru datang? Aku sudah tak sanggup..... Weiheng...." Jieru pingsan setelah jatuh dalam pelukan seseorang.
"Maaf, kita akan kembali sekarang." Weiheng langsung membawa Jieru pergi.
Dalam sekejap mata Jieru menghilang saat sebuah bayangan putih menyelamatkan dirinya, para yang penduduk melihat langsung bagaimana Jieru jatuh dan tiba-tiba seperti terbang melewati setiap atap bangunan yang ada hanya bisa tercengang.
"Apa kau melihatnya? Dia diselamatkan oleh orang atau dewa?!?! Cepat sekali menghilangnya?!?!"
"Mereka sudah pasti bukan orang sembarangan!! Lihat saja bagaimana cara mereka menyelamatkan wanita yang digantung tadi!!!"
"Sudahlah, ayo kita pergi."
"Iya, sudah tidak ada pertunjukan sebaiknya pergi saja."
Hutan terlarang
"Gu Cheng dimana?!?!" Panik Weiheng.
"Dia sedang mengumpulkan beberapa tanaman, ada apa?" Tanya Li Wei.
"Jieru!! Dia.... aku rasa dia diracuni!!!" Jawab Weiheng.
"Apa?! Diracuni?!" Gu Cheng yang baru saja kembali langsung memeriksa keadaan Jieru.
"Apa dia akan baik-baik saja?!" Weiheng tampak sangat khawatir.
"Sudah, dia akan baik-baik saja setelah beristirahat. Untung saja dia belum terkena racun ini lebih dari 6 jam, jadi masih bisa selamat karena racun belum terlalu menyebar di dalam tubuhnya." Jawab Gu Cheng.
"Syukurlah, dia baik-baik saja." Weiheng merasa lega.
"Tenanglah, kau dan istrimu ini pasti ditakdirkan untuk bersama. Lagipula kalian belum kembali ke dimensi kalian, walau aku sedikit tak percaya tapi kalian harus tetap hidup agar bisa kembali ke keluarga kalian yang sebenarnya." Kata Gu Cheng.
"Em... Sekarang dia lupa ingatan, entah kapan dia akan terus begini." Weiheng menunduk.
__ADS_1
"Sampai pagi ini,.... Rein." Jieru membuka matanya perlahan.
"Rein?! Kamu..... udah ingat semuanya?!" Weiheng langsung duduk disamping Jieru.
"Hihi.... untungnya tadi aku diikat Bao-yu diatas atap, jadi tanpa sadar keinget pas aku jatuh." Jawab Jieru.
"Syukur deh kalo kamu udah ingat, aku ga perlu ngerasa ragu lagi buat deketin kamu." Weiheng mengangkat tubuh Jieru hingga dia dalam posisi duduk, Weiheng memeluknya dengan sangat erat.
"Hey.... kau mau memeluk atau membunuhku????" Jieru menepuk-nepuk pundak Weiheng karena merasa sesak.
"Ah... maaf, aku terlalu senang." Weiheng melepas pelukannya.
"Senang sih boleh saja, tapi ingat bahwa Jianying dan Chu Xifeng masih lajang." Sewot Li Wei, rasa iri terlihat sekali dari ekspresinya.
"Kau sudah punya tabib Gu, kenapa masih iri? Jarang dipeluk, ya?" Jieru menuangkan minyak dengan memeluk Weiheng didepan mata Li Wei.
"Gu Cheng, sesekali peluklah istrimu itu agar dia tak merasa iri pada wanita lain." Weiheng membalas pelukan Jieru.
"Kalian benar-benar pasangan hangat yang membuat orang lain iri." Kata Chu Xifeng.
"Itu benar, mereka selalu menunjukkan bagaimana kemesraan mereka didepan orang lain!! Huh!! Dasar tukang pamer!!!" Jianying kesal sekaligus iri melihat pasutri itu berpelukan dengan hangat dan mesra, ingin rasanya dia melakukan hal itu dengan orang yang dicintainya.
"Sudahlah, kau perlu istirahat yang cukup setelah terkena racun itu. Kalian bisa melanjutkan kemesraan kalian setelah kau benar-benar pulih." Kata Gu Cheng.
"Baiklah, aku akan istirahat. Bangunkan aku ketika anak-anak sudah kembali." Jieru mendaratkan kepalanya di paha Weiheng.
Weiheng mengusap-usap kepala Jieru dengan lembut, tak berselang lama Jieru terlelap.
"Benar-benar pasangan romantis! Bermesraan tak ingin orang lain! Huh!" Gerutu Li Wei.
"Sudahlah, lagipula mereka sudah sering seperti itu didepan kita." Gu Cheng mengelus kepala Li Wei.
"Tapi mereka terlalu pamer~~~" Li Wei mengeluarkan nada manja, kode kalau sedang minta di peluk.
"Jangan bicara dengan nada itu didepan orang lain." Gu Cheng bukannya memeluk makah mengecup bibir Li Wei.
"Apa yang kau lakukan?!" Li Wei menarik kepalanya menjauh dari wajah Gu Cheng dan memukul bahu pria tampan didepannya.
"Sekarang baru menjadi kepiting rebus?" Goda Gu Cheng.
Jianying hanya bisa menatap dua pasang pasutri itu dengan iri dan kesal, sementara Chu Xifeng berkhayal kalau dia dan Jianying yang melakukan hal romantis itu.
Bersambung......
__ADS_1