
4 tahun berlalu, kehidupan tenang para buronan semakin bahagia dengan hadirnya 3 malaikat kecil. Wei Minghao dan Wei Zhishu adalah pasangan kembar buah hati Jieru dan Weiheng, Gu An adalah gadis kecil imut buah hati Wei dan Gu Cheng.
"Nenek!!!!!" Teriak anak-anak kecil ketika melihat 2 wanita paruh baya duduk didepan rumah menunggu cucu-cucunya, anak-anak itu baru saja pulang bermain.
"Kenapa baru pulang? Ini sudah sangat siang, makanan sudah siap sejak tadi." Kata ibu Li Wei.
"Iya, sekarang kalian bersihkan diri, setelah itu makan sebelum makanan dingin." Kata nyonya Jiao.
"Baik, nenek!" Jawab 3 bocah itu serempak sambil tersenyum manis.
"Mereka sangat lucu, benar-benar melepas kekhawatiran." Kata ibu Li Wei sambil melihatmu cucu-cucunya makan dengan lahap.
"Kita beruntung bisa bersama anak, menantu, dan cucu-cucu kita, kita bisa melihat langsung bagaimana mereka tumbuh." Kata nyonya Jiao.
"Bibi!!!" Teriak seorang gadis remaja. Lian Xia, anak kepala desa, usianya hanya satu bulan lebih muda dari Han.
"Xia, mengapa kau berteriak?" Tanya nyonya Jiao.
"Tidak apa-apa, Xia hanya merindukan kalian." Gadis imut itu memeluk dua wanita didepannya.
"Kau ini, didepan orang tua sendiri sangat bijak dan cerdas, mengapa didepan kami malah kekanak-kanakan?" Nyonya Jiao mengelus kepala gadis 17 tahun itu.
"Hehe...... Xia juga tak tau alasannya." Lian Xia melepas pelukannya lalu menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
__ADS_1
"Anak ini, ada-ada saja." Ibu Li Wei mencubit pipi Lian Xia gemas.
"Ah! Mereka sudah makan?! Aku harus cepat atau mereka akan menghabisi semua!" Lian Xia bergegas mencuci tangan dan ikut makan bersama ketiga bocah itu.
Tak lama yang lainya datang, mereka barusan pulang mengurus ladang. Jieru dan Wei nampak kelelahan, Gu Cheng membawa beberapa ikat sayuran yang diberikan oleh teman kepala desa karena telah mengobati anaknya, Han membawa peralatan berkebun, Weiheng? Dia sibuk memperhatikan istrinya yang kelihatan sangat letih sambil tertawa kecil. Kepala desa dan istrinya sudah beberapa hari keluar desa bersama beberapa orang untuk membeli barang.
"Anak-anak sudah pulang?" Tanya Jieru.
"Ya, mereka sedang makan bersama Lian Xia." Jawab nyonya Jiao.
"Lian Xia sudah pulang? Pantas saja tiba-tiba menghilang, ternyata meninggalkan kita!" Kata Han sambil menaruh beberapa cangkul yang dia bawa.
"Sudah, kalian bersihkan diri lalu makan. Han, jangan banyak menggerutu lagi." Kata ibu Li Wei.
..........
"Ayah, besok bisa mengajari kami berlatih pedang lagi?" Tanya Minghao.
"Apa putra kecil ayah ini ingin menjadi kesatria?" Weiheng mengelus kepala Minghao.
"Ya! Aku ingin sehebat ayah, ibu bibi Wei dan paman Cheng!!" Kata Minghao.
"Zhishu juga mau!!" Seru putri kecilnya.
__ADS_1
"Kalian memang anak-anaknya yang sangat ayah sayang. Tetapi jangan gunakan kemampuan bertarung untuk berkelahi dengan teman, ingat?" Nasehat Weiheng.
"Baik, ayah!!!" Kata kedua anak kecil berusia 3 tahun lebih itu.
"Minghao!! Zhishu!! Lihat apa yang bibi Jieru berikan untuk kita!!" Gu An berlari ke arah mereka, gadis kecil itu tampak senang membawa sesuatu.
"Apa itu?" Tanya Minghao.
"Bibi Jieru memberikan pedang kayu untuk kita!! Kita bisa menggunakannya untuk berlatih besok!!" Jawab Gu An semangat.
"Woah!!! Ini sangat cantik!!" Kata Zhishu.
"Paman akan mengajari kami besok, kan?" Gu An berharap.
"Ya! Besok ayah akan mengajari kita menggunakan pedang!!" Zhishu tampak bersemangat.
"Kalian ini, anak perempuan kenapa malah tertarik dengan senjata? Bukankah seharusnya tertarik dengan hal berbau perempuan?" Weiheng geleng-geleng, sementara dua bocah perempuan itu cengar-cengir.
"Hey, kalian!!! Sekarang sudah malam, saatnya kalian tidur!!" Panggil Lian Xia.
"Ya, bibi!!" Anak-anak itu berlari masuk rumah.
"Aku ini masih muda, kenapa malah menjadi bibi?" Lian Xia ikut masuk.
__ADS_1
Keesokan harinya weiheng mengajari anak-anak berlatih pedang, dia memang sering mengajari mereka ilmu bela diri dan seni pedang. Sepanjang hari anak-anak itu berlatih, ketertarikan mereka pada seni bertarung memang menurun dari orang tua.
Bersambung........