KEMBALINYA SANG AKTRIS

KEMBALINYA SANG AKTRIS
Teror


__ADS_3

Suatu malam


"Ah.... Akhirnya bisa istirahat juga! Syuting kali ini harus lari terus manjat tebing, capek banget!" Yiyi mendaratkan tubuhnya di atas ranjang empuk miliknya, dia baru saja kembali ke apartemen setelah syuting seharian.


Keadaan apartemen cukup hening karena hanya dia yang ada di dalam sana, namun tak lama ketenangannya berubah menjadi ketakutan. Teror itu kembali muncul, hal ini sudah berlangsung selama dua minggu.


Suara desiran air dari arah dapur menjadi pembuka, tak lama suara itu menghilang. Teror berlanjut dengan suara dentingan sendok dan garpu yang diadu, pintu yang diketuk empat kali, suara seperti sesuatu sedang digoreskan di pintu, lampu yang tiba-tiba padam selama beberapa detik lalu kembali menyala.


"Si... siapa itu? Ka... kamu mau apa?! A.. aku tau kamu itu manusia! Cepat keluar! Kalau kamu mau uang aku bisa kasih, berapapun itu!" Yiyi mengambil pensil alis yang ada di dalam tasnya dan menodongkannya.


"Sayang~~~" Suara menyeramkan itu kembali menggema di seluruh kamar.


"Siapa kamu sebenarnya?" Yiyi hampir menangis.


"Sayang~~ aku ini teman kamu~~~" Jawab suara itu.


"Aku tau kamu manusia! Kamu bukan hantu! Cepat keluar atau aku panggil polisi!" Ancam Yiyi yang sudah berkeringat dingin.


"Hahaha! Polisi? Siapa di dunia ini yang bisa menemukanku? Hahaha!" Tawa suara itu, nadanya semakin menyeramkan.


Swush.....


Bayangan hitam melintas dengan kecepatan tinggi, lampu di atas nakas jatuh dan pecah. Keadaan kamar gelap gulita, sebuah senter menyala menerangi sebuah foto. Yiyi berteriak histeris ketika melihat foto dirinya yang dipenuhi cairan berwarna merah, dia berlari luntang-lantung keluar kamar. Dia menabrak semua benda yang menghalangi jalan entah apapun itu, dia bahkan sampai terjatuh beberapa kali.


Pintu kamar terkunci, Yiyi menggedor pintu dengan kuat sambil berteriak-teriak sangat nyaring. Derap langkah kaki mendekatinya, Yiyi hanya bisa terduduk lemas saking takutnya.


Cletak! Cletak!


Lampu kembali menyala dan kunci pintu sepertinya terbuka, dengan cepat Yiyi berlari keluar. Suasana tenang saat Yiyi berada di luar kamar, tak ada suara atau seorang pun disana.


Perlahan Yiyi melangkah memeriksa ruangan lain, dengan langkah gontai dan wajah pucat dia menuju dapur. Saat tiba tak ada apapun di sana, keadaan sunyi dan tenang. Untuk sementara Yiyi bisa merasa lega.


Saat berbalik seseorang dengan topeng menyeramkan mendekat secara tiba-tiba dan sangat cepat, Yiyi berteriak sangat nyaring ketika orang itu sudah berada di depannya padahal sedetik yang lalu jarak mereka masih cukup jauh dan ada peluang untuk kabur.


"Halo~ Yiyi sayang~" Ucap orang itu dengan nada menyeramkan sambil memiringkan kepalanya.


"Hantu!!!!!!!!!!" Yiyi berlari terbirit-birit.

__ADS_1


Orang itu punya kecepatan yang tak biasa, kemanapun Yiyi berusaha kabur dia selalu sampai lebih dulu. Tongkat di tangannya berlumuran cairan seperti darah, hal itu semakin membuat Yiyi ketakutan hingga jatuh terduduk.


"Sayang~~~ ada apa? Kenapa takut? Ini darah musuh-musuhmu, mereka semua mati sebelum bisa menyerang. Kira-kira siapa lagi yang mau kamu musnahkan? Ah.... De-vi-na!" Ucap peneror tersebut.


"G.. Ga! Jangan sampai dia mati! Jangan bunuh dia! Michael sayang sama dia, kalau dia mati sebelum aku berhasil Michael bisa gila! Ga!" Yiyi menggeleng kuat, suaranya bergetar.


"Oh? Itu mudah, bermain bersama ku dan tinggalkan laki-laki itu." Ucap peneror itu semakin mendekat.


"De... dengar, kalau kamu mau uang aku bisa kasih! Berapapun itu akan aku kasih!" Ucap Yiyi semakin mundur.


"Ah... Sayangnya aku tak membutuhkan uang, aku hanya ingin Yiyi-ku." Peneror itu semakin mendekat.


"Tolong lepaskan aku, tolong..... Sebenarnya kamu siapa? Apa mau kamu? Dendam apa yang bikin kamu berbuat sejauh ini?" Tanya Yiyi dengan suara bergetar.


"Siapa aku itu tak penting sedikitpun. Mau ku cuma Yiyi tersayang. Dendam Yiyi dendam ku juga. Aku hanya membantu Yiyi-ku menghancurkan musuhnya. Yiyi tak akan pernah bisa lepas." Ucap peneror.


Dia merogoh saku bajunya, sebuah kotak hitam mungil keluar dari persembunyiannya. Ia melihat Yiyi sekilas, lalu tersenyum misterius. Dibukanya kotak itu lalu menyentuh benda di dalamnya, dia melemparkan isinya dan mendarat tepat di depan Yiyi.


"Haaa!!!!!!" Teriak Yiyi ketika melihat sebuah jari berlumuran darah.


"Hahahaha!!!!!" Peneror itu mengangkat tongkatnya dan melayangkannya ke arah Yiyi.


Blam!


Lampu kembali padam, tak ada pergerakan ataupun suara setelahnya. Tak lama kemudian terdengar pintu didobrak, sekelompok polisi masuk dengan senjata lengkap. Dia memang meminta beberapa anggota kepolisian untuk berjaga di sekitar apartemen dan tepat di depan pintunya sebagai satpam.


"Nona Yiyi, Anda baik-baik saja?!" Tanya seorang anggota kepolisian.


"Ya, ga papa. Ce... cepat cari orang itu! Dia pasti belum jauh!" Ucap Yiyi.


Polisi memeriksa seluruh ruangan, tak ada tanda-tanda atau jejak sama sekali. Semua peralatan yang ditabrak Yiyi sebelumnya sudah kembali ke tempat semula. Bahkan jari berlumuran darah itu juga menghilang, foto Yiyi yang tadi menyeramkan juga sudah kembali normal.


"Lapor, tak ada orang ataupun jejak!" Ucap seorang anggota kepolisian.


Polisi terus berjaga dan melakukan investigasi di apartemen milik Yiyi sepanjang malam, sedangkan sang pemilik memutuskan untuk tinggal di kamar hotel terdekat. Ini sudah yang ke dua belas kalinya dalam dua minggu ini dia harus tidur di hotel.


Teror yang terus berlangsung selama dua minggu berturut-turut itu sangat mengganggu kehidupan Yiyi, anehnya setiap kali polisi muncul peneror itu menghilang bagai ditelan bumi. Entah kemana perginya peneror itu. Datang tak diundang, pulang tak diantar.

__ADS_1


Pindah ke hotel bukan berarti sudah bebas, sesuatu kembali mengganggu Yiyi. Teror itu ternyata masih berlanjut.


Tok tok tok


"Siapa?" Tanya Yiyi saat pintu kamar hotelnya diketuk seseorang.


"Kepolisian, ada sesuatu yang kami temukan." Jawab orang di luar.


Yiyi dengan segera membuka pintu, dia penasaran dengan apa yang ditemukan oleh polisi. Polisi itu menyerahkan sebuah kotak mirip milik peneror itu, tanpa bicara apapun polisi itu langsung pergi. Yiyi menutup pintu dan duduk di sofa, dia agak takut untuk membuka kotak itu.


"Apa ini kotak yang isinya jari tadi?" Tanya Yiyi pada diri sendiri.


"Tapi kalau isinya potongan jari kenapa di kasih ke aku dan bukannya dibawa ke kantor polisi?" Pikir Yiyi lagi.


Awalnya Yiyi enggan membuka kotak itu, namun karena penasaran akhirnya dia membukanya. Dia langsung pingsan tatkala melihat dua potong jari lengkap dengan sebuah cincin di salah satunya. Setelah lebih kurang setengah jam dua orang polisi datang memeriksa keadaan Yiyi, karena tak ada jawaban salah satunya memutuskan untuk mendobrak pintu itu. Mereka langsung berlari ketika melihat Yiyi sudah tak sadarkan diri dan sebuah kotak didekatnya. Satu membawa Yiyi ke rumah sakit, sementara yang lainnya memeriksa penampakan tiga buah jari berlumuran darah. Jari-jari itu ternyata hanya kue yang dibentuk sedemikian rupa dan dilumuri selai stroberi, namun cincin itu adalah cincin berlian asli. Polisi memeriksa seluruh hotel.


Atap gedung di seberang hotel Yiyi, seseorang berpakaian serba hitam berdiri menatap jendela yang memperlihatkan beberapa polisi melirik keluar mencari seseorang.


"Ei? Mau menangkap ku? Kalian terlalu muda ratusan tahun!" Ucap peneror tadi.


"Yiyi.... Yiyi.... Penakut begitu mau berebut denganku? Aish.... Dalam mimpi pun tak akan terjadi!" Ucap Devina melecehkan.


Devina membuka topengnya, dia membuang benda itu ke jalanan ramai. Tak perlu waktu lama bagi topeng menyeramkan itu untuk mendarat dan dilindas mobil-mobil yang lewat.


"Udah dua minggu ga pulang, aku rasa mereka udah kangen!" Devina meregangkan tubuhnya.


"Aish....Lusa aja lah baru pulang, istirahat dulu di pantai besok!" Devina pergi.


Waktu yang sama, kediaman Chandra.


"Kalian udah pulang?" Valencia menyambut kedatangan Michael.


"Kenapa belum tidur?" Tanya Michael mengelus kepala adik kesayangannya itu.


"Hehehe.... Soalnya ada sesuatu yang penting yang mau aku bahas, ga bisa ditunda sampai besok. Iya 'kan, Devina?" Valencia melirik orang yang ada di belakang Michael.


"Iya, resep barunya udah aku ketik di laptop, nanti tinggal kamu salin dan besok bisa kamu coba." Jawab Devina.

__ADS_1


"Dadah, kakakku sayang...." Valencia mengedipkan sebelah matanya dan menarik Devina ke kamarnya.


"Ah.... Dua minggu ini juga sibuk banget, biarin aja deh mereka berduaan." Ucap Michael lalu berjalan menuju kamarnya.


__ADS_2