
"Ayah mau ke mana?" Tanya Minghao ketika melihat sang ayah seperti sedang menyiapkan sesuatu.
"Ini sudah malam, paman dan ayah mau pergi ke mana?" Tanya Gu An yang sebelumnya juga melihat ayahnya melakukan hal yang sama.
"Beberapa hari lalu kami menerima laporan bahwa ada sekelompok bandit di jalan menuju desa kecil disebrang, mereka bahkan sampai membunuh target." Kata seorang pria dengan penutup wajah.
"Malam ini kami akan mengawasi dan mengatasi mereka. Sudah ada 4 orang yang mereka bunuh, dan 2 diantara mereka semua adalah penduduk desa ini." Seorang pria asing dengan penampilan serupa muncul.
"Paman-paman ini siapa? Apa yang akan kalian lakukan?" Tanya Minghao.
"Tampaknya kalian benar-benar tak menyayangi kami." Orang yang pertama muncul itu menyentuh dadanya, lalu melakukan gerakan seolah-olah dadanya tertusuk.
"Kalain bahkan memanggil kami paman? Kalian benar-benar tak bisa mengenali kami! Anak macam apa kalian ini?! Ibu sendiri saja tak dikenal?" Orang dibelakangnya melipat kedua tangannya di dada.
"Mengapa kalian menjadi seorang pria?!?!?!" Teriak ketiga bocah mungil itu bersamaan.
"Bukankah sudah ibu katakan?" Jieru membuka penutup wajahnya.
"Hey, seharusnya kalian tak perlu terkejut melihat Jieru mengenakan pakaian pria. Dia itu memang datar, jadi mudah untuk menyamar sebagai pria." Ledek Wei sambil menepuk punggung wanita didepannya.
"Jangan mengejekku, kau yang datar!!!" Ketus Jieru.
"Kau yang datar!!!!" Wei tak terima dikatai datar. Sejujurnya memang tak ada yang datar diantara mereka.
"Sudah, jangan ribut lagi. Kalian berdua harus bekerja sama dengan baik. Han tidak bisa ikut kali ini karena masih sakit dan perlu istirahat." Kata Gu Cheng sambil menaruh beberapa belati dan jarum diatas meja.
"Apa kami boleh ikut membasmi para serangga kecil itu?" Tanya Zhishu dengan tatapan penuh harapan.
"Kalian jangan ikut, ini berbahaya!" Tegas Weiheng sambil menaruh pedangnya disamping pinggang.
"Tapi aku ingin menjadi pahlawan seperti ayah dan ibu~~~~" Kata Zhishu dengan nada manjanya.
"Ayolah~ kami ingin ikuuuuuuut" Kata Gu An.
"Kalian tetap dirumah. Lagipula ini sudah malam, waktunya kalian tidur." Kata Wei.
__ADS_1
"Itu benar, kalian sebaiknya tetap dirumah karena ini adalah hal berbahaya!" Tegas Jieru.
"Baiklah......" Anak-anak tampak sedih.
"Sudah larut, sebaiknya kalian segera tidur. Kami akan berangkat sekarang." Kata Jieru sambil memasang penutup wajahnya.
Anak-anak dengan lesu menuju kamar mereka, sementara para orang tua pergi keluar untuk menjalankan misi.
Tengah hutan, ±300 meter dari perbatasan desa.
"Hahahaha!!! Hasil jarahan kali ini sangat banyak!! Para penduduk desa itu sangat lemah" Kata pemimpin bandit yang hampir mabuk itu.
"Ya, tuan! Mereka benar-benar tak berguna! Memang orang rendahan tak berguna, hahahah." Sahut salah satu anggotanya.
"Jieru, Weiheng, sesuai rencana." Bisik Wei.
"Baiklah, sebaiknya kita serang saat mereka mabuk berat." Kata Jieru.
Keempat pengintai itu sedang berada di atas pohon dekat kemah para bandit, mereka terus mengawasi tiap pergerakan.
"Ck, kita serang sekarang saja. Menyebar!" Perintah Gu Cheng.
Tap! Tap! Tap! Tap!
Kelompok bandit itu diserang dari empat arah sekaligus, "Serang mereka! Jangan sampai ada yang hidup!" Perintah pemimpin bandit.
Pertarungan tak seimbang terjadi, jumlah bandit sangat banyak. Namun tak ada yang menyerah untuk terus menyerang para bandit itu, justru itu menjadi sebuah kesenangan.
KLANG!!!!
"Gu Cheng!!" Teriak Weiheng.
"Jika ingin teman kalian selamat, maka turunkan senjata kalian dan menyerahlah!!" Kata seorang bandit yang menahan Gu Cheng.
Sebilah pedang berada tepat didekat leher Gu Cheng, mereka kebingungan.
__ADS_1
"Si*l!! Mengapa aku sampai melupakan jarumnya?!" Weiheng mengumpat dalam hati.
Wush!! Crass!! Bruk!!!
Bandit itu langsung tumbang, tak berselang lama beberapa bandit lain langsung ikut tumbang dan tewas.
"A.... Apa yang terjadi?!" Pemimpin bandit kebingungan.
Srak! Srak! Srak! Tap!
Tiga bocah kecil dengan pakaian tertutup serupa dengan para orang dewasa muncul dari semak-semak. "Kalian ini sangat ceroboh! Mengapa bisa melupakan jarumnya?!" Protes salah satu dari mereka sambil berkacak pinggang.
"Itu juga karena kalian!" Kata Jieru yang mengenali suara Minghao.
"Sudahlah, bereskan dulu orang itu!" Kata bocah lainnya. Suaranya berubah menjadi suara bocah laki-laki, namun Jieru tetap tau jika itu adalah Zhishu dari tinggi badannya. Zhishu adalah yang paling tinggi.
Crass!!!
Pemimpin bandit langsung tewas ditempat karena Wei menusuk dadanya.
"Anak nakal yang pintar!!" Kata Weiheng sambil menekan suaranya.
"Tentu saja!! Kami adalah anak yang memiliki kemampuan hebat!" Kata Minghao.
"B*d*h!! Lari sekarang!! Kita akan dipukul!!" Gu An menarik tangan dua rekannya sambil berlari kencang.
Tap! Tap!
Namun mereka gagal melarikan diri karena sudah terkepung dari empat arah. "Maafkan kami, kami hanya ingin mengantarkan jarum yang tertinggal." Kata Gu An.
"Jelaskan saja dirumah!" Gu Cheng mengangkat tubuh Gu An.
Ketiga bocah itu hanya bisa diam sepanjang perjalanan pulang. Setibanya dirumah mereka langsung dihukum, mereka dilarang keluar rumah bahkan hanya untuk ke halaman selama 7 hari. Selama masa hukuman itu para bocah hanya merasakan bosan karena tak dapat bermain dengan teman yang lain, mereka tak bisa menyelinap keluar karena nenek mereka terus mengawasi. Ditambah lagi mereka harus menyalin setumpuk buku tentang pertanian yang dibeli oleh kepala desa dalam perjalanan sebelumnya, mereka tak tertarik dengan pertanian sedikitpun.
Bersambung........
__ADS_1