
Keesokan harinya sesuai permintaan Tuan Chandra Vivian dan Rein harus menjelaskan apa yang sebenarnya telah terjadi. Tentu saja mereka membutuhkan sebuah penjelasan, karena orang-orang yang diminta untuk menggali kuburan Rein dan Vivian sebelumnya tak menemukan jasad padahal mereka menyaksikan sendiri bagaimana Vivian dan Rein dikubur. Semua yang terjadi seolah-olah adalah sebuah misteri, bagaimana mungkin dua jasad bisa menghilang begitu saja padahal selalu di awasi oleh penjaga makam?
"Menurut penjaga makam yang ada disana tak pernah ada tanda-tanda atau bekas digali disekitar makam mereka, tidak mungkin ada yang melakukan pencurian jasad. Mustahil jika jasad menghilang begitu saja, pasti ada sesuatu yang aneh." Tuan Chandra mengingat informasi yang diberikan bawahannya 13 tahun lalu.
Sejak kemunculan Rein Tuan Chandra memang punya sedikit keraguan, dia tak yakin jika Rein yang muncul saat itu bukanlah Rein yang asli. Dia melakukan banyak penyelidikan dan hasilnya tetap nihil, tak ada hal yang bisa membuktikan identitas Rein yang muncul itu. Dia memutuskan menyuruh orang untuk menggali kuburan Rein dan Vivian, namun informasi yang dia dapatkan justru semakin membuatnya bingung.
Setiap hari Tuan Chandra melihat Rein yang terus menatap sendu sebuah foto, orang yang ada dalam selembar kertas yang menempel indah pada bingkai itu ada Vivian. Terlihat jelas bahwa dia sedang sangat merindukan sosok itu, dia bahkan sesekali memeluk foto itu dan menangis tanpa suara. Tuan Chandra dapat melihat jelas kesedihan dan kerinduan dari mata Rein, bagaimana bisa mereka harus berpisah selama itu?
"Jadi.... penjelasan apa yang akan kalian berikan? Ingatlah untuk menceritakannya dengan jujur." Tatapan mata Tuan Chandra menuntut sebuah kejelasan.
"Ehm.... itu.... anu... itu...." Rein dan Vivian bingung bagaimana cara menjelaskannya.
"Ceritakan sedetail mungkin! Jangan menghilangkan bagian sekecil apapun!" Desak Tuan Chandra.
"Biar aku yang menjelaskan." Michael yang baru saja turun langsung bergabung di ruang keluarga yang berisi para orang dewasa, Gu An mengikutinya dari belakang.
"Oh? Maka jelaskan secara keseluruhan!" Perintah Tuan Chandra.
Michael yang tau jika ayah dan ibunya tak bisa menjelaskan yang sebenarnya langsung menjelaskan apa yang terjadi. Dia tak perduli apakah ceritanya akan dipercaya atau hanya dianggap sebagai omong kosong, dia hanya menceritakan apa yang dia tau dan berdasarkan kebenaran.
Satu jam berlalu, akhirnya Michael selesai dengan ceritanya. Semua orang rumah mengangguk, sebenarnya mereka antara percaya dan tidak percaya dengan yang mereka dengar. Jika berpikir dengan logika pindah dimensi adalah hal yang mustahil, tapi menurut informasi yang mereka dapatkan bisa saja itu benar terjadi.
__ADS_1
"Percaya ataupun tidak, apa yang aku katakan adalah semua hal yang aku ketahui. Aku berkata dengan jujur, Gu An adalah temanku dan Valencia dari zaman kuno di dimensi lain. Namaku adalah Minghao, nama Valencia adalah Zhishu, nama ibu adalah Jieru, nama ayah adalah Weiheng, marga kami disana adalah Wei." Ujar Michael.
"Secara logika pindah ke dimensi lain adalah sebuah hal yang mustahil, dulu aku juga berpikir demikian. Setelah aku tiba di sini aku baru percaya dengan semua cerita itu, karena itu aku berteriak histeris dan menggila saat tiba di sini. Aku, Gu An, bersumpah jika yang baru saja aku dan Wei Minghao atau Michael Chandra katakan adalah sebuah kebenaran, jika kami berbohong maka aku akan mati mengenaskan!" Gu An terlihat serius dengan setiap kata yang keluar dari mulutnya.
"Gu An...." Michael berkata lirih dan menatap kecewa ke arah Gu An, bagaimana bisa dia mengatakan sumpah seperti itu? Jika mereka berbohong bukankah itu akan benar terjadi? Bukankah dia akan kehilangan Gu An selamanya? (Bucin mode).
"Haah.... entahlah, bingung mau percaya atau ngga." Tuan Chandra menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.
Sebuah kejelasan yang sudah dinanti-nantikan malah sebuah hal diluar logika, bikin otak yang sudah mulai berkarat termakan usia itu makin puyeng. Nyonya Chandra sedari tadi diam, dia juga bingung mau percaya atau tidak.
"Kakak! Gu An! Ayo ikut aku berkeliling kota!" Valencia yang baru saja pulang sekolah langsung menarik tangan Michael dan Gu An.
"Hah? Berkeliling kota?" Gu An dan Michael berkata dengan serempak.
"Hey.... pelan-pelan sedikit! Perut Gu An masih sakit!" Protes Michael yang tau jika semalam Gu An kedatangan 'tamu' bulanannya.
"Cih! Dasar tukang pamer! Tak pernah berubah sedikitpun!" Ketus Valencia yang langsung melepas tangan kedua orang itu.
"Diam! Jika perutnya menjadi lebih parah maka kau akan aku beri pelajaran tanpa ampun!" Ancam Michael.
"Yayaya, sekarang kita jalan perlahan saja ke mobil." Valencia meninggalkan kakaknya yang sedang dalam mode bucin Gu An.
__ADS_1
"Benda aneh macam apa ini sebenarnya?" Tanya Gu An yang sudah duduk di dalam mobil.
"Aku akan menjelaskan nanti malam, ingat untuk tidak bertingkah aneh selama perjalanan." Valencia mengingatkan.
"Apa kau takut kami mempermalukan dirimu?" Tanya Michael kesal.
"Tidak, itu karena aku pernah melakukan hal aneh saat diajak berkeliling kota untuk pertama kali. Aku melakukan banyak hal yang memalukan, aku hanya tak ingin kalian melakukan hal yang sama." Valencia memijit kepalanya frustasi ketika mengingat hal memalukan yang dia lakukan beberapa tahun lalu, untung saja dia baru berusia 4 tahun saat itu.
"Oh? Kau perhatian pada kami? Memang tak berubah!" Gu An tersenyum manis sambil menepuk-nepuk pundak Valencia yang duduk disebelahnya.
Rumah Rian
"Tuan muda, apa yang sedang tuan pikirkan?" Tanya seorang pelayan yang pusing melihat Rian mondar-mandir sejak pulang sekolah, tepatnya 3 jam lalu dan masih belum berhenti.
"Diamlah! Bukan urusan kalian!" Ketus Rian yang langsung naik menuju kamarnya, setelah mengunci pintu kamar dia melanjutkan kegiatan mondar-mandir nya.
"Apa aku langsung nembak aja? Tapi gimana kalo dia nolak? Dia itu salah satu cucu keluarga Chandra sedangkan aku cuma dari keluarga yang ada di urutan ke 30 di negara ini, apa dia bakal nerima? Gimana kalau dia udah dijodohkan sama orang lain?" Berbagai pertanyaan muncul di benaknya.
Untuk pertama kalinya Rian merasakan jatuh cinta dan akan menyatakannya, namun entah mengapa hatinya tak tenang. Begitu banyak pertanyaan dan pemikiran yang membuatnya ragu, dia khawatir jika setelah dia menyatakan perasaan lalu ditolak Valencia akan menghindari dirinya.
"Aaarrgghhh!!!!! Kenapa aku harus se pusing ini?!?! Sebenarnya gue kenapa?! Kenapa nih jantung ga bisa berdetak dengan normal, sih?! Aarrgh!!! Bisa gila gue lama-lama!!" Rian menghempaskan kasar tubuhnya ke ranjang. Kacau, itulah kata yang bisa menjelaskan perasaannya saat ini.
__ADS_1
Bersambung......