
Jieru sampai ke penginapan ketika yang lain sedang makan siang. Perutnya yang sudah kelaparan tak sanggup lihat mie Weiheng, dia langsung mengambil dan menyantap semangkuk mie yang belum sempat disentuh Weiheng itu.
"Apa kau selapar itu?" Sewot Weiheng yang melihat mie miliknya dimakan.
"Diamlah, aku lapar." Kata Jieru
"Paman ini sangat tak tau malu!" Ketus Zhishu yang membuat Jieru tersedak.
"Uhuk uhuk dasar anak nakal! Aku ini ibumu!" Protes Jieru dengan suara pelan.
"Apa? Mengapa suaranya berubah?" Tanya Gu An.
"Rahasia!" Jieru melanjutkan makannya.
"Tunggu, mereka bertiga... Anak siapa?" Jianying bingung.
"Bibi yang siapa? Kami tentu saja anak ibu dan ayah." Jawab Minghao.
"Kau... Jianying, kan?" Tanya Li Wei.
"Kau, bukankah kau dulu sangat membenci Jieru? Mengapa kau malah bersama mereka?" Tanya Jianying.
"Ingatanmu sangat buruk, kau kan tau jika kami sudah berbaikan?" Li Wei balik bertanya.
"Lalu.... Mereka bertiga benar anak Jieru?" Tanya Jianying lagi.
__ADS_1
"Gu An adalah putriku, dia ayahnya." Jawab Li Wei sambil menunjuk Gu An dan Gu Cheng.
"Kau bukannya tabib Gu?!" Tanya Jianying lagi.
"Jelaskan nanti, jangan banyak bertanya sekarang!" Kata Jieru.
"Ya, kau terlalu banyak bertanya." Timpal Weiheng.
Jianying terdiam dan duduk disamping Jieru, "Cih, jahat sekali kalian. Bukankah wajar jika aku bertanya? Ini sudah bertahun-tahun, pasti banyak yang sudah terjadi, kan?" Batinnya.
"Ceritakan semuanya, juga dimana nyonya? Mengapa tidak ikut bersama kalian? Dimana nyonya sekarang? Kapan kalian tiba disini?" Jianying mulai menginterogasi ketika mereka sudah selesai makan.
"Ibu...." Jieru kembali teringat kejadian sebulan lalu, saat ibunya mengorbankan diri.
"Ibu? Aku bertanya tentang nyonya, mengapa kau mengucap kata 'ibu'?" Jianying bingung.
"Nyonya.... Bagaimana...." Jianying mengepalkan tangannya.
"Mereka membuat kehidupan kami tak tenang, kami akan menghancurkan mereka!" Kata Gu Cheng.
"Tapi bagaimana kalian melakukannya? Bukankah sangat sulit untuk menghancurkan mereka?" Tanya Jianying.
"Kau akan masuk dalam rencana. Reuni kecil ini membantuku. Kau masuklah ke istana dan lakukan sesuai perintahku." Kata Jieru.
"Aku akan melakukan apapun untuk nyonya! Bahkan aku bisa membunuh mereka! Aku tak perduli jika aku sampai mati!" Kata Jianying.
__ADS_1
"Bibi sangat naif. Tak perlu mengorbankan nyawa, gunakan saja kepintaran." Kata Zhishu.
"Aku rasa bibi perlu banyak belajar dari kami!" Kata Minghao.
"Kalian memang sama seperti ibu kalian. Omongan selalu pedas sekali." Kata Jieru.
"Kami ini anak-anak hebat, walau masih kecil kemampuan kami lebih banyak dari bibi. Bibi adalah yang paling lemah disini." Kata Zhishu sambil tersenyum manis.
"Benar-benar menusuk. Kalian memang keturunan." Batin Jianying.
"Anak nakal, jangan mempermalukan dia." Kata Li Wei sambil tertawa kecil.
"Sebenarnya kau senang, kan?" Jianying menatap Li Wei sinis.
"Kita bicarakan rencana malam ini. Li Wei dan Gu Cheng mengawasi sekitar. Jianying, aku akan menceritakan semua dikamar." Kata Jieru.
Jieru kembali kekamar bersama Jianying sementara yang lain melakukan tugas. Anak-anak? Tidur siang yang terpaksa.
.........
"Begitulah, kami mengalami banyak hal selama beberapa tahun ini. Walau sedikit sulit, anak-anak menjadi penyemangat kami. Walau mereka sedikit kekurangan kebahagiaan masa kecil karena harus mengimbangi pelajaran dari kami dan bermain, setidaknya mereka tak mengeluh. Mereka tertarik dengan seni beladiri dan seni pedang, kemampuan mereka dalam pengobatan juga cukup baik. Mereka lebih hebat dari kami." Jieru mengakhiri cerita.
Jianying mengangguk-angguk setelah mendengar semua cerita Jieru, "Aku tak tau jika nyonya akan pergi dengan cara ini. Aku sangat berharap bisa melihatnya."
"Besok kau menyelinap ke istana, temui Bao-yu. Katakan jika seseorang yang dia kenal berada di rumah bordil, dia akan menyesal jika tidak pergi kesana. Setelah mengatakan itu segera pergi, jangan sampai terlihat orang lain dan tertangkap." Kata Jieru.
__ADS_1
Bersambung...........