
Vivian masih cemas, apa yang akan dia katakan jika Rein mengungkit masalah terlahir kembali?
"Astaga!!! Kak Rein, kenapa bisa gini?!" Tanya Alvian melihat pipi Rein.
"Heh, anak kecil! Kakak kamu ga ditanyain? Aku juga lebam, tau?!" Ketus Vivian.
"Kak Vian mah ga usah di khawatirin, palingan cuma jatuh." Jawab Alvian.
"Dasar bocah tengik! Ga ada sopan santunnya sama kakak sendiri! Huh!" Vivian pergi dengan hentakan kaki kasar.
"Vivian! Kamu itu udah dewasa, kenapa masih bersikap kekanak-kanakan? Sama adik sendiri sikap kamu begitu, gimana sama orang lain?" Ketus Rein.
"A... Apa? Kamu... Kamu kenapa? Kamu sakit?" Vivian berlari kearah Rein dan menempelkan punggung tangannya dikening Rein, "Ga panas kok?"
Rein menepis tangan itu dengan kasar, "Apa-apaan, sih kamu?!"
Vivian terkejut, "Kamu kenapa, sih? Kok aneh gini?" Tanyanya bingung.
"Kamu yang kenapa!? Udah dewasa tapi tingkahnya kayak anak kecil! Kekanak-kanakan!" Jawab Rein kasar.
Vivian bingung, "Tadi siang masih perhatian, kenapa sekarang jadi galak gini, sih? Apa jangan-jangan..... Dia marah gara-gara aku ga jelasin soal tadi pagi?" Batinnya.
"Vian, kamu malam ini tidur sama kakak aja." Kata Rein.
"Iya, kak." Jawab alvian, sebenarnya dia juga bingung kenapa Rein tiba-tiba berubah sekasar itu.
Vivian meninggalkan mereka, dia masih bingung dengan sikap Rein yang tiba-tiba itu. Karena terlalu memikirkan hal itu dia sampai sulit tidur, "Vivian.... Vivian.... Kenapa harus mikirin hal yang ga penting, sih?!" Protesnya dalam hati.
Berulang kali dia mencoba menutup mata, tapi matanya seakan-akan sedang menjahilinya.
__ADS_1
"Sebenarnya Rein kenapa? Tadi siang...." Vivian melihat jam dinding menunjukkan pukul 2 pagi, "Kemarin siang masih biasa aja, masih perhatian. Kenapa kemarin malam jadi galak gitu?" Vivian terus memikirkan hal yang sama sampai pagi.
"Kak Vian kok keliatan ga semangat? Kayak habis begadang semalaman lagi, kakak ga apa-apa?" Tanya Alvian yang melihat keanehan di wajah kakaknya.
Vivian menggeleng, "Dari tadi kenapa dia diam aja, sih? Apa masih marah? Sebenarnya dia marah gara-gara apa? Apa ini sifat aslinya?" Vivian terus menatap Rein tanpa memperhatikan pekerjaannya, "Aww... Aduh..." Tangannya tersiram air panas.
"Makanya, kalau melakukan sesuatu itu harus fokus, jangan melamun!" Ketus Rein.
"Dia kenapa, sih?" Vivian memberi isyarat pada Alvian.
Alvian mengangkat kedua bahunya, "Mana aku tau?" Begitu kira-kira artinya.
Vivian memutar bola matanya, dia langsung pergi ke kamar dan mengobati tangannya.
"Sebenarnya dia itu kenapa?! Tiba-tiba jadi galak, jadi dingin. Ish... Kayak lagi PMS! Bahkan aku pas PMS aja ga gitu! Huh! Dasar ngeselin! Dia itu kenapa, sih?! Aaarrrggghhh!!!!! Aneh banget! Mending pulang ngantar Vian sekalian aja beliin pembalut buat dia! Dasar cowok PMS!! Bikin kesal!! Cowok PMS ngeselin!!!!" Vivian terus memaki dalam hati.
.......
Waktu istirahat
"Rein!! Apa-apaan sih, lu?! Dari pagi lu tuh aneh tau ga?!" Frengky menarik kerah baju Rein kuat.
"Apa-apaan kalian ini? Kenapa ribut-ribut? Ada masalah apa?" Tanya Vivian ketika melihat Frengky dan Rein bertengkar.
"Frengky main gitarnya ga benar, aku jadi kehilangan konsetrasi gara-gara dia!" Jawab Rein.
"Heh! Lu aja yang ga bisa nyanyi! Udah bagus lu diterima disini, kalo ga lu pasti tinggal dijalanan sekarang!" Frengky terlihat sangat-sangat marah.
"Ok! Kalo lu ga mau gue disini, gue pergi sekarang juga!!" Rein pergi begitu saja meninggalkan restoran.
__ADS_1
"Ga baik kalau Rein pergi sendirian, biar aku susul dan tenangin dia." Kata Clara.
"Aku ikut." Adiftiya menyusul Clara.
"Sebenarnya ada apa sih ini? Kenapa kalian tiba-tiba berantem? Bukannya kalian yang paling kompak?" Tanya Vivian.
"Dia itu ga bisa nyanyi, tapi malah nyalahin orang!" Ketus Frengky.
Sudah hampir 2 jam, namun Clara dan Adftiya belum juga kembali. Vivian memutuskan untuk menelfon Clara.
"Halo, bos? Ada apa?" Tanya Clara.
"Rein udah ketemu belum?" Tanya Vivian.
"Maaf, bos. Kita masih kehilangan jejak. Tadi dia naik bus, trus kita kehilangan jejak gara-gara lampu merah sama macet. Bos jangan khawatir, kita pasti nemuin dia." Jawab Clara. Dia terdengar sedang kelelahan.
"Ya udah, kalian hati-hati dijalan." Kata Vivian.
"Siap, bos." Jawab Clara. Telfon terputus. Vivian memutuskan untuk menjemput Alvian karena jam menunjukkan pukul 14.15
"Maaf, tapi semua siswa sudah pulang sejam yang lalu. Hari ini ada rapat guru, jadi siswa pulang cepat. Memang Alvian tidak bilang?" Kata wali kelas Alvian ketika Vivian bertanya.
"Apa? Sejam yang lalu? Baik, terima kasih. Permisi, bu." Vivian menuju tempat parkir dan menyusuri jalan menuju rumah, namun dia tak menemukan Alvian bahkan saat tiba dirumah.
"Vian.... Kamu kemana sebenarnya? Jangan bikin kakak khawatir gini, dong! Vian.... Dimana kamu?" Hati Vivian tak tenang, dia kembali menyusuri jalan.
Dia bertanya kepada orang-orang yang ada di sepanjang jalan, namun tak seorang pun yang mengenali foto Alvian. "Dimana kamu dek.... Jangan bikin kakak khawatir. Kalau kakak masih ga bisa ngelindungin kamu, buat apa kakak terlahir kembali? Ga akan ada gunanya kalau kamu tetap dalam bahaya." Vivian sampai menangis.
Sudah hampir jam 4 sore, Vivian kembali ke restoran dengan hati yang gelisah dan takut. Alvian tak ditemukan, tak ada yang mengenalinya.
__ADS_1
Bersambung......