
Sudah 4 bulan mereka mengembara sejak persembunyian mereka ketahuan, perjalanan sulit mereka tempuh agar nyawa mereka terselamatkan.
Suatu malam, saat rombongan akan istirahat setelah berburu di sore hari.
"Tidak!! Tolong jangan ambil uang kami! Aku mohon! Sangat sulit bagi orang desa kami untuk mendapatkan uang!! Aku mohon!!" Terdengar suara ribut-ribut tak jauh dari tempat mereka berhenti.
"Cheng, sepertinya ada yang dirampok bandit?" Li Wei menyenggol tangan tabib Gu.
"Aku juga mendengar suara ribut-ribut itu, aku rasa mereka berasal dari desa yang kita tuju. Gu Cheng tetap disini jaga yang lain, aku dan Jieru akan melihat apa yang terjadi.
Gu Cheng mengangguk, Weiheng dan Jieru mengendap-endap, Han menyiapkan api unggun, dan para wanita membakar ikan hasil berburu di sungai yang tak jauh dari sana.
"Wah.... Dihutan ini ternyata ada bandit? Sepertinya mereka membutuhkan pertolongan, apa kau punya rencana?" Tanya Jieru.
"Aku ini orang cerdas, tentu saja....." Weiheng bicara dengan nada bangga.
"Sudah ada rencana? Hebat juga kau?" Jieru kagum.
"Tentu saja ga punya rencana!" Lanjut Weiheng masih dengan nada bicara yang sama.
__ADS_1
"Aku rasa aku memilih pasangan yang salah, sebaiknya aku pergi sendiri." Jieru beranjak semakin mendekati kerumunan itu.
"Istriku memang hebat dan luar biasa!!" Weiheng mengikuti.
"Hey~~~ kalian ini tidak punya malu, ya? Berani sekali kalian merampok di wilayah ini? Ini adalah wilayah kekuasaan ku!!" Kata Jieru yang bersembunyi dibalik pohon.
"Huh!! Seluruh hutan ini adalah wilayah kekuasaan ku!! Tunjukkan dirimu jika kau memang hebat!!" Kata pemimpin bandit.
Jieru keluar diikuti Weiheng dibelakangnya, "Halo, kalian para bandit pasti mengenalku, kan?" Jieru menyapa sambil tersenyum.
"Bos! Dia dan orang dibelakangnya adalah buronan dengan harga tinggi!! Satu orang saja seharga 1500 tael emas!!! Mereka semua ada 7 orang, bayangkan jika kita berhasil menangkap mereka semua? Mereka berdua, pasti sisanya ada disekitar sini!!" Kata salah satu bandit sambil melihat selembar kertas.
"Weiheng, apa semua sudah diposisi?" Tanya Jieru.
"Tenang saja, semua dalam kendali." Jawab Weiheng menepuk bahu Jieru.
Tanpa basa basi Jieru dan Weiheng menyerang secara brutal, tak ada satupun yang selamat. Jika satu orang saja yang selamat maka keamanan mereka akan terancam, akhirnya Weiheng membunuh mereka semua.
"Te... Terima kasih!!!" Seorang pria tua bersujud sambil ketakutan.
__ADS_1
Jieru dengan cepat membantunya berdiri, namun orang itu makin gemetaran. "Hahah... Jangan khawatir, kami hanya membunuh orang jahat. Walau kami buronan, kami tak akan membunuh rakyat biasa seperti kalian ini." Kata Jieru ramah.
"Ah... Ma... maaf!! Kami sangat berterima kasih pada kalian, jika kalian tak membantu mungkin kami akan pulang dengan tangan kosong." Pria itu memberi hormat.
"Ayolah, kami ini buronan bukan pejabat. Jangan seperti itu, kami hanya ingin membantu." Kata Jieru.
"Kalian adalah orang baik, mengapa kaisar menjadikan kalian buronan dengan bayaran besar?" Tanya seorang pria lain.
"Kami hanya difitnah dan kaisar mempercayai fitnah itu. Kami hanya bisa menjadi pengembara agar bisa terus hidup dan tak terbunuh, tak ada tempatnya bernaung bagi kami." Jawab Jieru.
"Jika kalian tidak keberatan kalian bisa tinggal di desa kami. Kami dari desa yang terpencil dan sulit dijangkau, kalian pasti aman disana!" Seru pria lainnya.
"Ah... Terima kasih banyak!! Keluarga kami ada didekat sini, ikut kami beristirahat." Kata Jieru.
Sekelompok pria itu mengikuti Weiheng dan Jieru, tak lama kemudian mereka sampai. Ikan tangkapan cukup banyak jadi mereka bisa berbagi. Rombongan penduduk itu juga membawa makanannya yang cukup.
Pagi harinya mereka melanjutkan perjalanan, setelah berhari-hari menempuh jalan yang sulit akhirnya mereka sampai di desa. Tempat itu sangat indah, sungai-sungai juga mengalir tenang dengan air yang jernih. Mereka tinggal bersama kepala desa, tuan Lian Ye. Kepala desa memiliki seorang anak gadis yang seumuran dengan Han dan istrinya sakit-sakitan, untungnya ada Gu Cheng yang membantu mengobati.
Di desa itu banyak tanaman herbal, namun karena tak ada yang memiliki ilmu pengobatan tanaman-tanaman itu malah dianggap tak berguna. Dengan tanaman herbal Gu Cheng meracik obat untuk istri kepala desa, dia juga menjadi satu-satunya tabib di desa itu. Setiap ada yang sakit mereka akan kerumah kepala desa, Gu Cheng mengobati dengan gratis hanya saja penduduk biasanya memberikan bahan makanan untuk mereka.
__ADS_1
Bersambung..........