
Suatu hari, penjara bawah tanah tempat Zhang Bingjie ditahan. Jieru dengan sengaja datang untuk menemui Zhang Bingjie, dia membuat semua penjaga dan tahanan pingsan. Setelah sampai di sel tempat Zhang Bingjie ditahan, dia memasukkan sebutir pil kedalam mulut orang itu.
"Uh.... apa yang terjadi? Mengapa kepalaku terasa pusing?" Zhang Bingjie memijit-mijit kepalanya pelan.
"Halo~~~ kita bertemu lagi!!" Jieru berbicara dengan nada dan tatapan yang sangat menyeramkan.
"Kau.... kau.... apa yang kau lakukan disini?!" Zhang Bingjie ketakutan dan mundur hingga tubuhnya menempel didinding.
"Apa yang aku lakukan disini? Kau akan segera tau!!" Jieru mengeluarkan sebuah cambuk.
"Kau!!! Jangan mendekat!!! Apa yang kau inginkan?!" Zhang Bingjie semakin ketakutan.
"Apa belum terlihat jelas? Cambuk ada di tanganku, menurutmu apa yang aku inginkan?" Jieru menatap tajam
Ctak!!! Ctak!!! Ctak!!!
"Aakkhh!!!! Tolong!!! Hentikan!! Ampuni aku!!" Teriak Zhang Bingjie.
"Percuma saja kau berteriak!!! Tak akan ada seorangpun yang mendengar teriakan itu!! Kalaupun ada yang tau, mereka akan tetap membiarkan aku mencambuk!!! Kau pantas mendapat rasa sakit yang lebih daripada ini!!" Jieru terus mencambuk, dia dipenuhi dengan emosi yang meluap-luap.
"Tolong!!! Aku mohon!!! Hentikan!! Aku mohon!!" Zhang Bingjie bersujud dan memeluk kaki Jieru meminta pengampunan.
"Hentikan? Kau meminta aku menghentikannya?! Mimpi saja!!! Kau sudah sepantasnya mati!!! Apa kau mengampuni kami bertahun-tahun lalu?! Apa kau melakukannya?! Tidak!! Kau bahkan memerintah banyak pembunuh bayaran untuk menghabisi kami!!! Ibuku tiada karena orang-orang yang kau kirim!!! Kau adalah binatang!!! Bahkan lebih buruk daripada binatang itu sendiri!!!" Jieru menendang Zhang Bingjie dengan kuat sampai lelaki itu kesakitan.
"Aku... mohon... semua... karena... perintah... selir... Yao..." Zhang Bingjie yang tak kuat menahan sakit dari cambuk Jieru langsung pingsan.
"Oh? Semudah itu kau pingsan? Jika kau tak bisa menahan sakit yang hanya segini, mengapa kau melakukan kejahatan besar? Kau tak mampu menahan siksaan ini, kan?" Jieru kembali memasukkan pil kedalam mulut Zhang Bingjie. Dia keluar dan mengunci pintu sel. Setelah beberapa lama semua orang yang tadinya pingsan kembali sadar, para penjaga langsung mengecek apakah ada tahanan yang menghilang.
Beberapa hari kemudian, di taman istana. Beberapa anggota keluarga kerajaan termasuk kaisar dan permaisuri sedang asik berbincang-bincang. Kehangatan yang terjalin tiba-tiba terganggu oleh sebuah cahaya putih menyilaukan.
"Ayah... apa itu? Mengapa sangat menyakitkan mata?" Tanya Minghao.
__ADS_1
"Ini.... seperti ketika ibu Vivian muncul!" Weiheng memeluk Minghao.
Cahaya putih itu menghilang, nampak seorang wanita muda muncul.
"Ibu? Mengapa muncul disini?" Tanya Jieru.
"Ibu?!" Kaisar dan permaisuri bingung.
"Aku tak punya banyak waktu, jadi aku akan bicara langsung pada kesimpulannya. Terdapat peraturan baru dalam 'permainan menjelajah dimensi', kalian bisa kembali ke dimensi kalian sendiri tetapi hanya dua orang. Kalian telah berhasil mengalahkan satu musuh, karena itu kalian mendapat kesempatan untuk kembali hari ini. Tetapi hanya dua orang yang bisa kembali, kalian harus memutuskan dengan cepat karena waktu tak pernah menunggu." Jawab ibu Vivian.
"Apa maksudnya? Hanya dua orang? Tapi... bagaimana dengan anak-anak?" Jieru menggenggam erat tangan Zhishu.
"Kalian ada empat orang, bisa kembali secara bergiliran. Setelah mengalahkan semua 'lalat' penghancur masa modern dimensi ini, maka kalian akan mendapatkan satu kesempatan lagi. Siapa yang ingin kembali duluan? Cepat tentukan pilihan sebelum waktunya habis." Ibu Vivian mendesak agar Jieru dan Weiheng segera membuat pilihan.
"Sebenarnya apa yang terjadi? Nyonya ini siapa? Mengapa Jieru memanggil nyonya 'ibu'? Bukankah ibu Jieru adalah selir Jiao?" Putra mahkota bingung.
"Itu bisa dijelaskan nanti, sekarang cepat katakan apa pilihannya?! Waktu kalian tak banyak!! Kalian hanya memiliki kesempatan sebanyak dua kali!! Cepat!!" Perintah ibu Vivian sambil mengibaskan tangannya, sebuah portal muncul disampingnya.
"Weiheng, kau dan Zhishu kembalilah lebih dulu!" Kata Jieru.
"Aku mohon, waktu kita tak banyak!" Jieru memaksa.
"Tapi bagaimana dengan dirimu sendiri dan juga Minghao?! Apa kau yakin bisa melewati semua ini sendirian?! Apa kau ingin berpisah dengan ku lagi?!" Weiheng tak rela jika harus berpisah dengan Jieru lagi.
"Ayolah.... kita masih punya satu kesempatan lagi, saat itu aku akan kembali ke sana bersama Minghao. Kau tunggu aku di sana, oke?" Jieru berusaha meyakinkan.
"Tapi... kau harus berjanji untuk kembali dan tak mengingkarinya seperti sebelumnya!" Weiheng menatap Jieru.
"Bukankah aku sudah menepati janji itu? Aku kembali, kan? Jadi kali ini percayalah padaku, aku akan menemuimu lagi." Jieru terus membujuk Weiheng.
"Tapi Zhishu masih membutuhkan ibunya, Minghao juga masih membutuhkan ayahnya! Apa sebaiknya kita tetap disini saja?" Usul Weiheng.
__ADS_1
"Tak bisa!" Jieru mendorong Zhishu yang berada di sampingnya masuk ke dalam portal, lalu dia mendorong Weiheng untuk ikut bersama Zhishu.
Wush....
Setelah Weiheng masuk portal itu langsung menghilang, Jieru hanya bisa menatap kepergian suami dan putrinya.
"Selesaikan semua secepat mungkin, aku akan muncul lagi suatu saat. Setiap malam aku akan mempertemukan kalian berempat lewat mimpi, waktunya juga hanya dua jam per malam." Setelah berbicara ibu Vivian juga ikut menghilang diiringi cahaya menyilaukan.
"Sebenarnya apa yang terjadi? Siapa wanita itu? Juga cahaya aneh apa yang dimasuki Weiheng dan Zhishu? Mengapa mereka bisa tiba-tiba menghilang tanpa jejak sedikitpun?" Permaisuri menimpali Jieru dengan banyak pertanyaan karena rasa penasarannya.
"Aku akan jelaskan, sebenarnya... aku dan Weiheng berasal dari dunia modern di dimensi lain." Jawab Jieru.
"Dimensi lain?" Kaisar bingung.
"Weiheng dan Jieru yang asli sudah lama tiada, kami adalah orang yang menggantikan mereka. Namaku adalah Vivian, sedangkan Weiheng adalah Rein. Aku dulunya adalah seorang aktris, seperti... pemain opera. Aku pertama kali terbunuh saat memergoki sepupu dan tunangan ku yang sedang berselingkuh, wajah mereka sangat mirip dengan Zhang Bingjie dan Bao-yu." Jieru mulai menjelaskan.
"Lalu?" Tanya putra mahkota.
"Lalu aku terlahir kembali, aku kembali ke masa tiga tahun sebelumnya. Di kehidupan kedua ku itu aku bertemu dengan Rein, kami bertemu saat Rein berusaha bunuh diri di sebuah sungai. Dia buta saat itu, aku menolongnya karena tak ingin dia menyia-nyiakan nyawa berharga miliknya. Sejak hari itu kami menjadi semakin akrab, dia tinggal bersamaku dan Alvian, adikku. Dia sangat pintar bernyanyi, jadi aku memintanya untuk menjadi penyanyi di restoran milikku. Kami menghabiskan banyak kenangan manis dan beberapa hal menyebalkan disana. Kami sangat bahagia, walau terkadang mantan tunangan ku itu datang untuk mengacau." Lanjut Jieru.
"Apa kalian bersama setelah itu?" Tanya putra mahkota.
"Ya... awalnya dia menolak karena matanya itu, tapi aku terlanjur mencintainya. Aku mencari pendonor yang cocok untuk dia selama beberapa bulan, akhirnya aku berhasil dan orang itu bersedia. Saat dia menolak dengan alasan buta aku memberitahu dia bahwa dia akan bisa melihat lagi, setelah beberapa lama dia melakukan operasi. Pernikahan kami sengaja dibuat sederhana walaupun keluarga angkatnya adalah keluarga terkaya di negara kami. Namun siapa sangka? Di malam pernikahan kami mantan tunangan ku malah membunuh kami. Setelah kami terbunuh kami berpindah dimensi. Weiheng yang asli sudah mati karena racun, sementara Jieru yang asli sudah mati karena tenggelam. Setelah itu seharusnya kalian tau apa yang terjadi." Jieru mengakhiri ceritanya.
"Jadi... putriku memang sudah tiada karena kelalaian ku, aku memang tak berguna sebagai seorang ayah!" Kaisar nampak menahan amarah.
"Sudah terlambat untuk menyesal, sekarang pikirkanlah calon kakak ipar Jieru." Kata Jieru.
"Ah... cucu-cucu sebelumnya sudah menjadi korban selir Yao, sekarang harus memikirkan pernikahan putra mahkota lagi. Aish.... kira-kira wanita mana yang cocok?" Permaisuri berpikir.
"Kalian lanjutkan berpikir, aku akan kembali ke kamarku. Minghao, kau bisa tetap berada disini jika kau mau." Jieru pergi.
__ADS_1
"Em... baiklah, ibu tenangkan pikiran dulu." Minghao asik melahap kue diatas meja.
Bersambung....