
Penginapan, siang hari
"Hey, apa kau tak bisa makan perlahan sedikit saja?" Minghao merasa kesal melihat Gu An yang makan berantakan.
"Sudahlah, jika kau merasa risih duduk saja disamping ku." Kata Jieru.
Mereka makan di restoran penginapan yang ada dilantai bawah, mereka selalu keluar dengan penyamaran. Namun hari itu adalah hari yang kurang beruntung bagi mereka, seseorang mengenali wajah mereka.
"Aneh, aku sepertinya pernah melihat wajah pria dan wanita itu? Tapi dimana, ya?" Seorang pria yang baru masuk restoran terus menatap keluarga itu.
"Hey, apa yang kau lihat?" Tanya rekannya.
"Lihat keluarga yang sedang makan siang itu, aku sepertinya pernah melihat dua orang yang duduk disebelah kanan dekat anak laki-laki berbaju biru." Jawabnya.
"Apa kau yakin?" Rekannya terus menatap tempat yang ditunjuk.
"Ah! Aku ingat! Mereka adalah buronan dengan harga 10.000 tael emas perorang!!" Kata pria itu dengan suara keras membuat semua orang disekitarnya menoleh, "Itu mereka!! Mereka buronan yang dicari kaisar selama bertahun-tahun!!" Pria itu menunjuk-nunjuk kearah keluarga itu.
"Tunggu apalagi?! tangkap mereka!!" Seru seseorang.
"Si*l!! Cepat pergi!!" Perintah Jieru
"Jangan sampai tertangkap!!" Teriak Weiheng sambil menyerang beberapa orang bersenjata pisau.
"Berhenti!! Kalian tak akan bisa kabur!!" Para penduduk mengejar mereka, beberapa prajurit bersenjata lengkap yang kebetulan lewat juga ikut mengejar.
"Langsung bunuh target!!" Perintah pemimpin pembunuh bayaran selir Yao.
"Lindungi mereka!!" Perintah pemimpin prajurit bayangan yang dikirim oleh putra mahkota.
"Menyebar!! Kalian masuk ke hutan terlarang! Aku akan menjadi umpan dan kalian bisa terus lari!!" Kata Jieru.
"Apa kau sudah gil*?!?! Jika kau tertangkap bagaimana?!" Protes Weiheng.
__ADS_1
"Aku bisa menyelamatkan diri! Sekarang yang lebih penting adalah menyelamatkan anak-anak!!" Kata Jieru.
"Lalu bagaimana dengan keselamatan dirimu sendiri, hah?!" Li Wei tak setuju dengan Jieru.
"Aku bisa mengurus diri sendiri, kalian cepat pergi ke sana!!" Jieru yang keras kepala.
"Bersumpahlah jika kau akan kembali!!" Kata Weiheng.
"Aku akan kembali!! Jangan khawatir!!" Jieru langsung memisahkan diri ketika mereka berada dekat dengan hutan terlarang.
Jieru berbelok kekiri sementara yang lain tetap lurus dan masuk ke dalam hutan terlarang, para penduduk tal berani masuk jadi mereka hanya mengejar Jieru.
Jieru terus berlari tanpa henti, dia sebenarnya tak tau kemana dia harus pergi. Langkah kakinya terhenti ketika didepannya sudah tak ada jalan. Dia berhenti dan menatap jurang yang sangat dalam dan seperti tak berujung itu.
"Mau kemana lagi kau? Sudah tak ada jalan, sebaiknya menyerah saja!" Kata seorang prajurit.
Para penduduk dan prajurit itu mengepung Jieru, sementara para pembunuh bayaran dan prajurit bayangan sedang bertarung di hutan terlarang.
"Cih! Dilihat dari pakaian, beberapa petani juga ada yang mengejar. Mereka juga masyarakat miskin, bagaimana aku bisa menyerang mereka?" Jieru melamun sejenak.
"Jika kau ikut kami, maka kau akan mati dengan sebuah kebaikan yaitu memberikan 'sumbangan' bagi rakyat miskin." Seseorang lagi mendekat.
"Tidak!! Aku tak boleh tertangkap!! Semoga.... Keberuntungan memihak padaku!!" Jieru berbalik dan berlari sekencang mungkin lalu melompat.
"Bunuh diri?!?! Si*l!!! Sia-sia saja mengejar sampai kesini!!" Ketus seseorang.
"Ya, benar!! Satu terjun ke jurang sementara yang lainnya masuk hutan terlarang. Nyali mereka benar-benar tak bisa diremehkan!! Kemampuan bertahan hidup mereka juga pasti sangat hebat!!" Sahut yang lainnya.
Mereka semua langsung kembali, sementara di hutan terlarang tak ada satupun dari para pria berbaju hitam yang hidup.
"Tidak..... Ibu...." Zhishu hanya bisa menatap dari kejauhan, bulir-bulir bening berjatuhan diwajah imutnya ketika melihat langsung sang ibu melompat ke jurang.
"Ayah, bibi.... Dia masih selamat, kan?" Tanya Gu An sambil menarik baju Gu Cheng.
__ADS_1
"Dia... Harus selamat." Jawab Han lirih.
"Kita harus bersembunyi di hutan terlarang untuk sementara waktu." Kata Weiheng.
"Tapi ayah, bagaimana dengan ibu? Dia kemungkinan selamat, mungkin saja dia sedang terluka sekarang. Ayah, Aku ingin menyelamatkan ibu." Kata Minghao.
"Kembali ke hutan sekarang!!" Perintah Weiheng dengan nada sedikit kasar.
"Aku tau ini berat untukmu. Tapi jurang itu sangat dalam, jika ada kemungkinan selamat itu adalah sebuat anugerah keajaiban." Gu Cheng menepuk-nepuk pundak Weiheng.
"Mengapa... harus begini lagi? Mengapa kita harus berpisah lagi? Kau tau aku tak bisa hidup tanpamu, mengapa kau malah melompat? Apa kau tak memikirkan aku dan anak-anak? Mengapa? Mengapa 'permainan' ini harus selama ini?! Mengapa?!" Weiheng frustasi, batinnya begitu terpukul melihat Jieru terjun.
Mereka semua kembali ke hutan terlarang, untuk sementara mereka terpaksa menjadi 'hewan liar' disana.
Pagi harinya berita menyebar begitu cepat, kaisar syok berat saat mendengar berita yang dibawa kasim, putra mahkota merasa tak berguna sebagai kakak karena tak bisa melindungi adiknya.
Selir Yao kesal sekaligus lega ketika mendengar berita. Dia kesal karena tak bisa membunuh langsung, namun dia lega Jieru sudah mati. Untuk sementara selir Yao bisa bersantai sambil memikirkan cara untuk membuktikan bahwa dia difitnah berhubungan dengan menantunya.
Keberuntungan masih memihak selir Yao, seorang pria datang dan memberikan kesaksian bahwa berita itu disebar oleh Weiheng yang berpakaian wanita. Selir Yao dan Zhang Bingjie lolos dari hukuman, Bao-yu merasa lega dan semakin percaya pada ibu dan suaminya.
Berhari-hari Weiheng lalui tanpa Jieru, hidupnya terasa kosong tanpa kehadiran sang istri. Jieru memang dingin dan cuek, namun saat dia memberikan kehangatan dia bagai sinar mentari. Tak makan dan tak minum, Minghao harus mengancam baru dia akan makan dan minum sedikit.
Sudah dua bulan, keberadaan Jieru masih menjadi misteri. Hidup atau mati tak ada tau. Jieru bagai ditelan bumi, bahwa tak ada petunjuk sedikitpun yang ditemukan.
Para penjahat keji hidup dengan tenang dan damai, sementara para orang baik harus hidup sangat menderita. Dunia dalam dimensi ini begitu kejam, seakan orang baik adalah makhluk langka.
Dunia yang penuh kekejaman dan keserakahan, para pejuang kebaikan harus mengalami rintangan berat. Nyawa orang baik hanya sebesar sebutir pasir di dimensi ini, dimensi yang begitu tak adil.
Yang jahat tanpa merasa bersalah tetap melakukan hal buruk dengan santai, menindas orang miskin, seenaknya dimanapun dan kapanpun. Kekayaan dan pakaian menunjukkan derajat, yang berpakaian sederhana akan dianggap sampah dan tak layak berkumpul.
Weiheng mati jiwanya, Jieru entah hidup atau mati. Minghao merasakan kesedihan ayahnya, Zhishu hanya bisa berdo'a ibunya selamat.
Bersambung......
__ADS_1