KEMBALINYA SANG AKTRIS

KEMBALINYA SANG AKTRIS
Episode 57


__ADS_3

Pagi hari


"Hoam... mengapa kalian bangun sepagi ini?" Li Wei mengucek mata.


"Dasar b4b1 pemalas! Matahari sudah tinggi, jangan tidur lagi! Kau yang bangun terkahir, bahkan anak-anak sudah segar semua!" Ketus Jieru.


"Walaupun kau lupa ingatan kau masih saja menyebalkan." Kata Li Wei datar.


"Aku malas berdebat, aku akan kembali sekarang." Kata Jieru dingin.


"Aku akan pergi untuk melapor pada putra mahkota dulu, kita akan bertemu di rumah bambu tempat persembunyian kita." Kata Chu Xifeng yang baru selesai makan.


"Em... kakak berhati-hatilah dalam perjalanan." Jieru langsung menghilang.


"Kemana perginya dia?! Dia itu manusia atau hantu?!" Teriak Li Wei.


"Hey, aku masih bisa mendengarnya."


Li Wei menoleh ke atas, ternyata Jieru masih berada disana tetapi diatas pohon.


"Dasar monyet." Kata Li Wei dengan suara pelan.


"Aku bukan monyet, jangan lupa jika aku bisa membaca bibir." Jieru pergi.


"Aku juga akan pergi, kami akan kembali malam ini." Chu Xifeng juga menghilang.


"Mereka sama-sama hantu, langsung menghilang begitu saja. Tak hanya sebagai adik-kakak, kurasa mereka sangat cocok jika menjadi suami-istri." Celetuk Han.


"Katakan sekali lagi dan aku akan memotong lidahmu!" Weiheng mengusap pedangnya sambil menatap tajam ke arah Han.


"Aku tak mengatakan apapun! Sungguh!" Han berlindung dibelakang Lian Xia.


"Pengecut." Kata yang lain bersamaan dan dengan ekspresi yang sama, datar.


......................


"Dia akan segera sampai, cepat!"


"Kita kepung dan serang dia secara bersamaan!"


Jieru menyadari jika ada sesuatu didepannya, "Hm? Mereka kiriman siapa? Kawan atau lawan?"


Tap! Tap! Tap!


Jieru terkepung, orang-orang itu membawa senjata berupa gada.


"Untuk apa mereka menggunakan senjata itu? Tak berniat membunuhku kah?" Batin Jieru.


"Serang!!!"


pertarungan tak seimbang terjadi, namun Jieru menyadari ada sebuah keanehan dari cara mereka menyerang.


"Mereka..... ingin menyerang kepalaku? Tapi untuk apa? Membuatku pingsan? Atau geger otak?" Jieru sedikit penasaran.

__ADS_1


"Cepat serang!!! Kali ini harus berhasil melakukan tugas!!! Jangan sampai dimarahi!!!" Teriak seseorang.


"Kami tau!!! Kami juga sudah lelah dimarih setiap hari!!!" Teriak yang lainnya bersamaan.


"Mereka memang tak berniat untuk me membunuhku, lalu apa tujuan mereka?" Jieru lengah, seseorang memukul kepalanya dari belakang.


"Jadi ini tujuan mereka?" Jieru merasa kepalanya sangat sakit.


Jieru tak menyerah, dia memanfaatkan kelengahan dari orang-orang itu karena mereka sudah berhasil melakukan tugas.


Dalam sekali serang Jieru berhasil melumpuhkan mereka semua, untungnya 'masa depan' mereka masih terselamatkan.


"Hebat! Memang hebat! Tak aneh jika bisa bertahan walau harus menjalani hidup yang sulit!" Seseorang muncul sambil menepuk-nepuk kedua tangannya.


"Oh? Akhirnya aku tau siapa yang ada dibalik mereka, untunglah aku tak membunuh mereka. Jadi.... apa tujuanmu, kakak putra mahkota?" Jieru duduk di tanah sambil menaruh tangannya dipipi.


"Jadi mereka sudah memberitahumu jika aku adalah kakakmu? Hm... jadi, bagaimana kau akan menghukum kakakmu ini?" Tanya putra mahkota.


"Hukuman? Baiklah, akan aku beri kau hukuman! Hukumannya adalah, pijit pundakku!! Sangat melelahkan untuk melawan mereka tadi, jadi pijit pundakku sekarang! Tolong cepat, aku harus segera kembali!" Titah Jieru.


"Apa kau tak tau aku ini siapa?! Aku adalah kakakmu juga seorang putra mahkota!!!" Protes putra mahkota.


"Diamlah, ini ulahmu dan kau harus bertanggung jawab." Jieru tak perduli.


Putra mahkota dengan berat hati maju dan memijit pundak Jieru. Orang-orang bawahan itu berusaha keras untuk menahan tawa, mereka tak menyangka akan bisa melihat putra mahkota diperintah sang adik dan dia tak bisa menolak.


"Apa ini masih putra mahkota kita yang sangat senang memerintah dan marah-marah? Tuan putri adalah orang yang hebat! Sangat hebat! Aku akan mengabdi padanya saja!" Kata salah seorang dari bawahan, dia tetap ingin tertawa walau bagian bawah tubuhnya masih sangat sakit.


"Kau ingin mati? Lihat saja keadaan kita sekarang, jika setiap hari begini masa depan kita akan hancur! Aku masih ingin memiliki keturunan! Aku belum menikah!" Sewot seorang yang lainnya.


"Lakukan lebih keras." Perintah Jieru.


"Ayolah... sangat memalukan dilihat oleh bawahan jika aku melakukan ini!!" Protes putra mahkota.


"Ini adalah hukuman yang sudah aku ringankan karena ingatanku pulih setengah, jangan banyak protes lagi." Jieru memejamkan matanya.


"Apa?! Kau sudah ingat setengah?! Serius?!" Putra mahkota tak percaya ucapan Jieru.


"Aku tak mengingat apapun, lakukan saja perintah yang aku berikan!!" Ketus Jieru.


"Dasar adik jahat!!!" Putra mahkota menggunakan tenaga yang sangat kuat.


"Aw!!! Sudahlah! Aku akan kembali saja! Sam-pai jum-pa!!!" Jieru bangkit dan langsung pergi.


"Tak bisakah sebelum pergi kau memberikan hormat untukku?! Aku ini putra mahkota!!!" Teriak putra mahkota namun Jieru tak memperdulikannya.


"Putra mahkota, kita kembali sekarang?"


"Ya, kembali sekarang!"


Rumah bambu


Jieru terus saja melamun sejak sampai, dia masih bingung dengan apa yang dia lihat sebelumnya.

__ADS_1


Saat kepalanya dipukul tadi, dia kembali mendengar percakapan beberapa orang.


"*Eh eh eh!! Kalian ini, kalo soal ngerjain aku paling jago, yah?! Siniin kuncinya! Aku mau jemput Alvian!"


"Kan udah dibilang, hari ini yang jemput Alvian itu Adiftiya. Sekarang kamu istirahat aja, kan seharian ini udah bolak-balik kepasar buat belanja."


"Iya, bos! Mending istirahat aja, yang lain biar kita yang atur."


"Rein.... balikin dong kuncinya.... janji deh ga jemput Alvian, aku istirahat bakal kok."


"Istirahat dulu baru aku kasih kuncinya, sekarang balik ke ruangan kamu."


"Ish.... iya iya deh! Dasar para anak buah ngeselin! Ga ada takut-takutnya sama bos!!"


"Eh.... Vivian-ku yang imut kok marah, sih? Kan kita gini buat kamu juga, supaya ga sakit lagi kayak waktu itu. Sekarang istirahat dulu, ya manis-ku~~~~"


"Dasar cowok gombal! Huh!"


"Kan aku cuma gombal buat kamu~~ Cuma buat calon istriku yang manis banget ngalahin gula jenis apapun."


"Ngomong lagi pecat! Ga usah dateng buat nyanyi disini lagi!"


"Yang penting bisa liat kamu setiap hari ga masalah, lagian kamu udah ga bisa lari dari pernikahan kita sayang~~~"


"Diam! Aku jijik!"


"Bos jahat banget deh, masa iya sama calon suami begitu?"


"Biarin! Ga perduli! Mau pulang juga gapapa! Blee!!"


"Kalo aku ambil boleh ga? Kebetulan aku masih cari suami, papa udah nuntut-nuntut nyuruh aku nikah nih!"


"Berani ambil aku tenggelamkan kamu di sungai Amazon!!!"


"Ulululu~~~ tenang aja, hati Rein hanya akan untuk Vivian seorang."


"Jangan cubit pipi aku!!!! Sakittt!!!"


"Siapa suruh kamu imut banget."


"Aku ga imut!!!!"


"Bos emang imut dan baik hati~~~"


"Diam atau aku pecat kalian!!!"


"Bos pecat kita restoran ga ada yang ngurus, sekarang cari pekerja yang ga ambil kesempatan buat naik daun susah, loh."


"Berisik*!!!"


"Sebenarnya siapa mereka? Kenapa suara Vivian mirip suaraku? Kenapa juga suara Rein mirip suara Weiheng? Apa.... itu cuma kesalahan?" Jieru bingung.


Sepanjang hari Jieru memikirkan hal itu, dia tak mengerti dengan semua memori yang dia lihat sebelumnya.

__ADS_1


Bersambung......


__ADS_2