KEMBALINYA SANG AKTRIS

KEMBALINYA SANG AKTRIS
Persetujuan dan penolakan


__ADS_3

"Saya mau kamu dan Rein untuk segera menikah setelah adik kamu sembuh total." Ibu Rein langsung bicara ke intinya.


"Apa?!" Rein dan Vivian bingung.


"Hah?! Kak Vivian akan jadi bibi aku?!" Gea, keponakan Rein tiba-tiba muncul.


"Iya, kenapa? Kamu ga setuju?" Tanya ibu Rein pada cucunya itu.


"Jangan di tanya dong, nek. Ya udah pasti setuju! Daripada sama si centil Sherly itu." Gea menyilangkan tangannya di dada.


"Sherly?" Vivian bingung.


"Iya. Bentar, aku kasih liat fotonya." Gea mengutak-atik ponselnya, "Nih!" Gea memperlihatkan foto Sherly.


"Ka... Kamu kenal sama sepupu aku, Rein?" Tanya Vivian.


"Sepupu? Aku ga tau kalau dia yang kamu maksud waktu itu, yang namanya mirip kan banyak?" Jawab Rein.


"Jadi dia sepupu kakak? Kalian ga punya sifat yang sama, kan? Ga sama-sama matre, kan?" Tanya Gea.


"Vian ga gitu! Justru Sherly yang udah nipu dia, semua harta Vian dia ambil. Ga cuma itu, bahkan dia ngerebut pacar Vian!" Bela Rein.


"Mending kalian cepetan nikah deh." Sahut Justin, kakak kedua Rein.


"Iya, Rein. Diantara kalian cuma kamu sendiri yang masih melajang, kamu mau jadi perjaka tua?" Kata ibu Rein.


"Tapi Vian ga mungkin nikah sama aku. Perempuan mana yang mau nikah dan merawat orang buta seumur hidup?" Rein tetap menolak.


"Setelah 6 bulan kamu tetap ga suka sama aku, ya? Padahal aku udah terlanjur sayang." Batin Vivian sedih.

__ADS_1


"Ga seumur hidup, kok. Setelah dapat pendonor, kamu bisa liat lagi. Memangnya kamu ga mau lihat seberapa cantik istri kamu ini?" Kata ibu Rein.


Vivian dan Rein terdiam. Tak lama Vivian membuka suara, "Saya setuju."


"Nah, Vivian aja setuju, kamu masih nolak?" Tanya Justin.


"Pertama aku ibu buang, sekarang ibu maksa aku nikah. Apa nanti ibu juga akan maksa aku cerai?!" Protes Rein.


Mereka semua terdiam. Vivian menggenggam erat tangan Rein.


"Itu... Memang salah ibu. Tapi setelah itu ibu sadar, ibu cari kamu kemana-mana. Sampai akhirnya Gea liatin video kamu lagi nyanyi di restoran, ibu langsung pergi ke sana. Ibu lihat kamu bahagia disana, jadi ibu putuskan untuk biarin kamu. Maafin ibu, nak. Ibu yang salah." Ibu Rein menangis.


"Setiap hari ibu pergi pagi-pagi untuk ngeliat kamu. Selalu ngikutin kamu kemana pun. Rein, keluarga ini sepi selama kamu pergi. Tolong terima permintaan ini." Kata Justin.


"Vivian, kamu udah yakin untuk nikah sama dia, kan?" Tanya ibu Rein.


"Vian, bawa aku ke atas. Belok kiri trus pergi ke kamar paling ujung." Kata Rein.


Vivian mengikuti arahan Rein, mereka sudah didepan pintu. Tertulis nama Rein di pintu itu, Vivian menuntun Rein masuk.


"Vian, kalau kamu setuju untuk balas budi, lebih baik jangan. Ga seharusnya kamu mempermainkan perasaan kamu sendiri." Kata Rein.


"Jadi kalau aku setuju karna memang suka, itu juga jangan?" Tanya Vivian.


Rein terdiam, dia masih mencerna pertanyaan Vivian tadi.


Vivian memeluk Rein, "Salah kalau aku suka kamu?" Tanyanya lagi.


"Cukup! Kamu ga seharusnya berbohong dengan perasaan kamu sendiri, Vian! Kamu ga perlu berbuat gini demi balas budi karena ibu udah bantu kamu." Rein melepas pelukan Vivian.

__ADS_1


"Rein, walau kamu ga percaya tapi aku serius sama kamu." Batin Vivian.


"Kalau kamu ga ada perasaan apapun, sebaiknya tolak aja permintaan itu. Aku ini orang buta, masa depan gelap gulita. Kamu bisa dapat yang lebih baik, Vian." Kata Rein.


"Kamu suka sama aku atau ga?" Tanya Vivian.


Rein terdiam. Dia memang menyukai Vivian, tapi dia selalu mencemaskan keadaannya. Vivian orang yang sempurna, tetapi dia buta.


"Jawab dengan jujur, kamu suka sama aku atau ga?" Desak Vivian.


Rein mengangguk, "Tapi itu semua ga penting, kamu bisa dapat yang lebih sempurna dari aku. Jangan terima permintaan itu, aku mohon. Aku ga punya masa....."


Cup....


Rein terdiam mematung, apa? Vivian baru saja....mengecup bibirnya? Pikiran Rein tiba-tiba kosong. Vivian menyeringai, reaksi Rein sangat menggemaskan dimatanya.


"Ka... Kamu...." Vivian menutup mulut Rein.


"Ssttt.... Jangan ngomong lagi, cukup terima permintaan ibu kamu. Aku udah nunggu 6 bulan. Aku pikir cuma aku yang ngerasa, ternyata ini bukan bertepuk sebelah tangan. Setiap orang punya masa depan, termasuk kamu. Jangan putus asa lagi ya, sayang?" Vivian kembali memeluk Rein.


Rein memeluk Vivian erat dan semakin erat, "Bohong kayak gini ga baik! Jangan bohongin aku dan perasaan kamu sendiri, Vian!"


"Aku ga bohong, aku jujur." Kata Vivian.


"Kalau gitu jangan pernah menyesal suatu hari nanti. Kamu sendiri yang memutuskan, jadi kamu ga akan pernah bisa lepas." Rein mengusap rambut panjang Vivian dengan lembut.


"Penyesalan akan hadir kalau ga ada keyakinan di awal. Aku masih punya satu rahasia, ga lama lagi kamu bisa melihat dunia ini lagi." Kata Vivian.


Bersambung.....

__ADS_1


__ADS_2